Berjilbab Tapi Baju Ketat: Gaya Kekinian atau Makna yang Tertinggal?

Surabaya – 1miliarsantri.net : Di era digital yang penuh dengan pengaruh media sosial, fashion Muslimah mengalami perkembangan yang luar biasa. Hijab bukan lagi hanya simbol keimanan seseorang, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas visual kekinian. Sayangnya, trend ini juga melahirkan fenomena yang cukup kontras, banyak muslimah yang mengenakan jilbab namun memadukannya dengan pakaian ketat, transparan, atau membentuk lekuk tubuh. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar, apakah ini ekspresi kebebasan berbusana atau makna hijab yang sejatinya mulai tertinggal? Pakaian yang membentuk lekuk tubuh, meskipun menutup kulit, tetap bertentangan dengan prinsip menutup aurat dalam Islam. Banyak yang berpikir bahwa selama rambut sudah tertutup, maka kewajiban berhijab sudah terpenuhi. Padahal, dalam pandangan Islam, hijab bukan hanya penutup kepala, tetapi juga mencakup keseluruhan cara berpakaian dan bersikap seorang muslimah. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur ayat 31: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” Ayat ini menegaskan bahwa hijab harus menutup dada dan tidak memperlihatkan bagian tubuh yang termasuk aurat. Begitu pula dalam QS. Al-Ahzab ayat 59, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan kepada para istri dan wanita mukmin agar mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka agar mereka lebih mudah dikenali dan tidak diganggu. Pesan utama dari kedua ayat ini adalah menjaga kehormatan, bukan sekadar menutup rambut. Sayangnya, banyak hijabers masa kini yang menganggap hijab hanya sebagai kewajiban simbolik, bukan spiritual. Mereka mengenakan kerudung, namun mengenakan pakaian ketat seperti skinny jeans, atasan pas badan, hingga dress yang membentuk siluet tubuh. Hal ini seringkali dipicu oleh pengaruh trend global dan tuntutan tampil modis di media sosial. Dalam konteks ini, hijab mulai kehilangan makna utamanya sebagai pelindung aurat dan refleksi ketakwaan. Tidak bisa dimungkiri bahwa media sosial memiliki pengaruh besar terhadap persepsi wanita muslim terhadap fashion. Sosok-sosok influencer muslimah dengan jutaan pengikut kerap menjadi panutan dalam berpakaian. Namun, sebagian dari mereka mempopulerkan gaya berpakaian yang hanya sekilas tampak syar’i, namun sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Potret OOTD – Outfit of the Day, artinya pakaian yang dikenakan hari ini, dengan pakaian yang ketat, kerudung yang hanya formalitas, dan gaya berlebihan menjadi normalisasi baru dalam budaya muslimah urban. Di sisi lain, kita juga perlu memahami bahwa banyak wanita yang sedang berada dalam proses hijrah. Mereka mungkin baru mulai mengenakan jilbab dan belum memahami sepenuhnya esensi menutup aurat secara syar’i. Oleh karena itu, pendekatan yang diperlukan adalah edukasi, bukan penghakiman. Islam tidak datang untuk ‘menghukum’ orang yang belajar, melainkan membimbing mereka menuju pemahaman syariah yang lebih baik. Berikut adalah beberapa prinsip modest fashion yang sesuai syariat namun tetap bergaya: 1. Menutup aurat dengan sempurna Prinsip utama dalam modest fashion syar’i adalah menutup aurat sebagaimana yang diperintahkan dalam Islam. Bagi perempuan Muslim, aurat mencakup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Jadi, pakaian harus cukup panjang untuk menutup bagian dada, lengan, hingga kaki, termasuk penggunaan hijab yang menutupi rambut dan leher secara sempurna. 2. Pakaian tidak ketat dan membentuk tubuh Walaupun menutup kulit, pakaian yang ketat atau membentuk lekuk tubuh tetap tidak sesuai syariat. Modest fashion menekankan pada potongan pakaian yang longgar, tidak transparan dan tidak mencolok bentuk tubuh. Gaya tetap bisa ditampilkan dengan memilih desain seperti A-line, oversized, atau flare yang anggun dan elegan. 3. Tidak Berlebihan dan Tidak Mencolok (Tabarruj) Ajaran Islam menganjurkan kesederhanaan dalam berpakaian. Modest fashion yang sesuai syariat tidak tampil mencolok dengan warna terlalu terang atau aksesori berlebihan. Pilihlah warna-warna netral atau earth tone, dan desain yang anggun namun tetap menarik. Motif pun sebaiknya dipilih yang sederhana dan tidak terlalu ramai. 4. Tidak Menyerupai Pakaian Lawan Jenis Modest fashion Islami menjaga agar busana perempuan tetap mencerminkan feminitas dan tidak menyerupai pakaian laki-laki. Oleh karena itu, potongan, gaya, dan aksesoris yang digunakan tetap perlu mencerminkan identitas sebagai perempuan muslimah. 5. Menggabungkan Gaya dan Nilai Berpakaian secara syar’i tidak berarti harus membosankan. Banyak gaya dan desain yang tetap sesuai syariat namun tetap trendi. Layering, pemilihan warna yang serasi, pemakaian outer, atau padu padan aksesoris simpel bisa memberi kesan modis tanpa melanggar aturan. Dengan prinsip tersebut, muslimah tetap bisa tampil trendi dan representatif tanpa mengorbankan nilai-nilai agama. Banyak figur publik muslimah yang mampu menjadi contoh inspiratif mereka tetap fashionable, namun tidak keluar dari batasan syariat. Mereka membuktikan bahwa syar’i bukan berarti kuno, melainkan bisa menjadi identitas yang elegan dan penuh makna. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang mendukung proses hijrah para muslimah. Daripada menertawakan atau mencibir mereka yang berpakaian belum sempurna, alangkah lebih baik jika kita mendoakan, menasihati dengan lembut, dan memberi contoh yang baik. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim). Fenomena jilbab dan pakaian ketat seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua. Bahwa tugas berhijab bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi juga menghidupkan kembali makna spiritual dalam berbusana. Hijab adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri, tanda ketaatan kepada Allah, dan perlindungan dari pandangan yang tidak semestinya. Kontributor : Nofi Triyanti Editor : Toto Budiman

Read More

Konsumsi Minyak Zaitun: Menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW Melalui Makanan

Surabaya – 1miliarsantri.net : Tubuh kita adalah amanah dari Allah SWT untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Supaya tubuh dapat menjalankan fungsinya secara optimal, maka harus dijaga kesehatannya. Tubuh yang sehat dan prima akan mampu mendukung aktivitas seperti mencari nafkah, beribadah, menuntut ilmu, hingga berdakwah. Sebaliknya, tubuh yang sakit akan kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain itu tak jarang tubuh yang sakit dapat memengaruhi kesehatan mental dan kehidupan sosial seseorang. Kesehatan tubuh sangat berkaitan dengan diet yang dijalani. Diet tersebut mulai dari pemilihan makanan, pola makan, hingga cara mengolah makanan tersebut. Dalam Islam, selain kandungan gizi, yang paling utama adalah kehalalan makanan tersebut. Salah satu contoh diet Islami ala Nabi Muhammad SAW yang cukup menonjol adalah rutin mengonsumsi minyak zaitun. Rasulullah sangat menyukai minyak zaitun dan menjadikannya bagian dari menu harian. Selain itu beliau juga menganjurkan kepada umatnya untuk mengonsumsi minyak zaitun. Hal ini ternyata selaras dengan hasil penelitian modern yang menunjukkan banyak manfaat kesehatan dari minyak zaitun. Sehingga para ahli kesehatan dan ahli gizi menganjurkan untuk mengonsumsinya secara rutin. Penggunaan minyak zaitun bukanlah hal baru. Masyarakat Mediterania seperti Romawi, Yunani, dan Timur Tengah telah menggunakan minyak zaitun sejak ribuan tahun lalu, baik untuk diet, ritual keagamaan, obat-obatan, maupun bahan bakar penerangan. Nilai spiritual dan simbolis minyak zaitun telah diakui sejak lama, dan kini masyarakat dunia semakin menyadari manfaatnya bagi kesehatannya. Minyak Zaitun dalam Perspektif Islam Allah SWT menyebutkan secara langsung nama zaitun sebagai satu jenis tanaman dalam firman-Nya di dalam Al Qur’an  Surat At-Tin ayat 1: وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ Artinya : “Demi (buah) tin dan (buah) zaitun” Ayat tersebut menunjukkan bahwa tanaman zaitun memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh tanaman lain. Tanaman zaitun dalam Al Qur’an juga bermakna sebagai tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT yang diberikan kepada manusia dengan berbagai manfaat yang terkandung di dalamnya. Selain itu pasti ada keberkahan bagi siapapun yang memanfaatkan tanaman zaitun tersebut. Rasulullah SAW. dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bersabda: “Jadikanlah zaitun sebagai lauk dan minyakilah dengannya, karena sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.” Hadist ini menunjukkan bahwa minyak zaitun bukan hanya memberikan dampak kesehatan secara fisik, tetapi juga mengandung keberkahan spiritual. Dalam Islam, konsumsi minyak zaitun merupakan bagian dari sunnah yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Para ulama menjelaskan, sumpah ini menunjukkan pentingnya ciptaan Allah yang menjadi sumber gizi, obat, dan kesejahteraan manusia. Selain itu, sebagian ahli tafsir menafsirkan bahwa penyebutan tin dan zaitun juga merujuk kepada tempat-tempat yang diberkahi, yakni kawasan yang subur dan penuh ketenangan. Ayat ini menjadi pengingat agar seorang Muslim mensyukuri nikmat alam, memeliharanya, dan menjadikannya sarana untuk merenungkan keagungan Sang Pencipta. Minyak Zaitun dari Perspektif Kesehatan Penelitian modern menunjukkan bahwa minyak zaitun kaya akan nutrisi penting di antaranya lemak tak jenuh tunggal, antioksidan, dan vitamin E. Asam lemak tak jenuh tunggal terbukti dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan menjaga kadar kolesterol dalam tubuh. Antioksidan membantu melindungi sel dari radikal bebas dan memperlambat penuaan sel. Vitamin E mendukung kesehatan kulit dan rambut, serta berperan dalam fungsi otak dan sistem pencernaan. Karena manfaat tersebut, banyak pelaku diet sehat mengganti minyak goreng biasa dengan minyak zaitun. Bahkan, studi ilmiah menyarankan konsumsi rutin minyak zaitun sebagai bagian dari pola makan sehat. Penggunaan Minyak Zaitun dalam Islam Tidak ada aturan khusus dalam Islam tentang cara penggunaan minyak zaitun. Namun merujuk pada hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, minyak ini dapat dikonsumsi langsung maupun digunakan secara topikal. Minyak zaitun juga bisa dijadikan dressing salad atau dicampur dengan madu, cuka, atau habbatussauda. Untuk menggoreng, tersedia jenis khusus seperti refined olive oil atau light olive oil, sedangkan extra virgin olive oil lebih cocok untuk konsumsi langsung atau salad. Dalam perspektif Islam yang paling utama dalam penggunaan minyak zaitun adalah dari segi kehalalannya. Makanan yang halal sudah tentu akan memberikan keberkahan secara jasmani maupun rohani. Yang kedua adalah prinsip wasathiyah (keseimbangan), yaitu prinsip penggunaan secara tidak berlebihan dan dalam batas wajar. Prinsip keseimbangan penting dilakukan karena segala yang dikonsumsi secara berlebihan pasti menimbulkan dampak buruk bagi tubuh. Makna Filosofis dan Nilai Islam Konsumsi minyak zaitun dalam diet sehari-hari secara tidak langsung adalah tindakan yang menghidupkan sunnah melalui makanan. Mengingat bahwa Rasulullah SAW, juga mengonsumsi minyak zaitun secara rutin dan menganjurkannya bagi umatnya. Anjuran yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya pasti memiliki manfaat dan keberkahan bagi yang mengikutinya. Mengonsumsi minyak zaitun adalah upaya untuk merawat tubuh agar tetap sehat dan kuat. Merawat tubuh adalah upaya untuk menjaga apa yang telah dititipkan Allah SWT kepada kita. Mengonsumsi minyak zaitun seharusnya bisa menumbuhkan kesadaran bahwa makanan bisa menjadi sarana untuk ibadah. Sehingga mengonsumsi minyak zaitun bukan hanya membuat kita sehat secara jasmani, namun juga memberikan keberkahan rohani. Kontributor : Leo Agus Hartono Editor : Toto Budiman

Read More

Bukan Sekadar Healing, Inilah Manfaat Wisata Alam Bagi Seorang Muslim

Surabaya – 1miliarsantri.net : Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, wisata alam sering dianggap sekadar sarana healing untuk melepas penat. Padahal, bagi seorang Muslim, menikmati keindahan ciptaan Allah Ta’ala bukan hanya soal relaksasi semata. Lebih dari itu, wisata alam memiliki manfaat spiritual yang mendalam—menguatkan rasa syukur, menumbuhkan kesadaran akan kebesaran-Nya, hingga menjadi momen refleksi diri yang menenangkan hati. Artikel ini akan mengulas berbagai manfaat wisata alam yang tidak hanya menyegarkan jasmani, tetapi juga memperkaya iman dan ketakwaan. Melakukan perjalanan wisata merupakan salah satu cara untuk melepas penat dari rutinitas. Pekerjaan yang terasa berat, jadwal kuliah yang sangat padat, atau kondisi lingkungan sekitar yang acap kali yang membuat stres merupakan beberapa alasan seseorang ingin traveling terutama ke tempat-tempat outdoor (luar ruangan). Di masa sekarang, orang-orang lebih mudah mengalami stres terutama di kalangan anak muda. Menurut hasil survei yang dilaporkan oleh American Psychological Association, anak muda, dalam hal ini generasi Z (gen Z), memiliki kesehatan mental yang lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Dalam laporannya, 90 persen gen Z yang mengikuti survei tersebut mengalami sedikitnya satu gejala baik itu fisik atau emosional karena stres, dan dari jumlah tersebut, hanya setengahnya yang mampu mengatasi perasaan tertekan itu dengan baik. Menanggapi kondisi tersebut, banyak orang kemudian melakukan traveling atau melakukan perjalanan wisata untuk melepas penat dan meredakan stres mereka. Istilah healing (meski makna awalnya berbeda) saat ini semakin marak digunakan oleh anak muda yang ingin terbebas sesaat dari rutinitas mereka yang dirasa melelahkan dan kerap membuat stres. Dalam sebuah studi di Ekuador, sekelompok mahasiswa yang mengalami gejala depresi, kecemasan, serta stres diteliti untuk mengukur perubahan kondisi mental mereka sebelum dan setelah melakukan wisata alam di sebuah hutan lindung Tinajillas Rio Gualaceno. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan penurunan signifikan pada gangguan mental dengan efek yang besar dan berskala klinis. Kendati demikian, setelah melakukan evaluasi ulang dalam rentang waktu enam bulan, terlihat efek positif tersebut tidak lagi mencapai tingkat yang signifikan. Hal tersebut menandakan bahwa wisata alam memiliki andil dalam peningkatan kesehatan mental yang efektif hanya dalam jangka pendek, dan agar memiliki efek jangka panjang, maka interaksi dengan alam perlu dilakukan secara rutin. Jadi, berwisata merupakan salah satu cara yang baik untuk mengurangi stres, meningkatkan kesehatan fisik serta mental dan juga mampu memperluas wawasan kita.  Selain itu, bagi umat Islam, melakukan wisata alam mampu menjadi ibadah, asalkan niatnya jelas untuk menyegarkan pikiran, belajar, dan memperkuat iman. Manfaat Wisata Alam Bagi Seorang Muslim Dalam perspektif Islam, melakukan perjalanan termasuk wisata alam bukan hanya sebagai media hiburan semata, melainkan juga sebagai sarana ibadah, edukasi, dan refleksi jika dilakukan dengan niat dan cara yang baik. Pada surat Al-Ankabut ayat 20, Allah SWT berfirman: “Maka berjalanlah kamu di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana permulaan penciptaan”. Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan kita untuk melakukan perjalanan dan merenungi kebesaran Allah SWT yang ada di semua ciptaan-Nya. Ayat tersebut sebenarnya tidak secara spesifik memerintahkan kita untuk berwisata dalam konteks masa kini. Namun, jika kita melakukan perjalanan wisata dengan tujuan beribadah dan merenungkan kebesaran Allah SWT melalui semua ciptaan-Nya, maka hal itu selaras dengan makna ayat tersebut. Bagi umat Islam, berwisata bukan hanya kegiatan untuk melepas penat (stress release), atau sekadang ajang untuk bersenang-senang, melainkan juga memiliki beragam manfaat, antara lain: 1. Menjadi Hamba Allah yang Senantiasa Bersyukur Bagi seorang muslim, wisata alam merupakan salah satu kegiatan untuk merenungkan dan memahami semua ciptaan Allah. Tadabur alam bukan sekadar kegiatan menikmati pemandangan, melainkan juga sebagai sebuah ajang perenungan. Dengan mengamati fenomena alam yang ada di langit, laut, gunung, atau pada makhluk hidup lainnya, kita diajak untuk menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah sehingga semakin memperkuat keimanan, memiliki rasa rendah diri di hadapan Pencipta, dan menambah rasa syukur kita kepada-Nya. Selain itu, wisata alam juga membantu kita menenangkan jiwa, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai amanah manusia yang merupakan khalifah fil-ardh. 2. Meningkatkan Keilmuan Manusia cenderung memiliki rasa keingintahuan yang tinggi dan oleh karenanya, dalam Islam, menuntut ilmu itu merupakan kewajiban kita yang dilakukan seumur hidup. Mengunjungi hutan, pegunungan, laut, atau pun situs sejarah akan membuat keingintahuan kita terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di sana semakin kuat dan kita secara alami akan mencari tahu lebih banyak lagi mengenai hal tersebut. 3. Meningkatkan Kesabaran dan Adab Selama melakukan wisata alam, adakalanya kondisi lingkungan sekitar tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang kita akan dihadapkan pada berbagai situasi yang menuntut kesabaran, seperti menghadapi cuaca yang tiba-tiba berubah menjadi ekstrem, medan yang sulit atau terjal, menghadapi berbagai macam orang, atau bahkan mendapati beragam fasilitas yang sangat terbatas. Momen tersebut akan menguji kita, apakah kita mampu untuk menghadapi semuanya dengan tenang dan sabar, atau malah menjadi kecewa dan marah bahkan sampai emosi kita meledak-ledak? Saat berwisata pun, seorang muslim tidak boleh memperlihatkan adab yang buruk. Sebaliknya, kita dituntut untuk memiliki adab yang baik entah itu terhadap manusia, hewan, dan alam itu sendiri. 4. Memperkuat Kesadaran Lingkungan Dalam Islam, kesadaran lingkungan merupakan bagian pokok dari tanggung jawab manusia sebagai khalīfah di muka bumi, yang sudah seharusnya menjaga ekosistem bumi agar senantiasa seimbang dan harmoni.  Islam sendiri memerintahkan umatnya untuk tidak merusak lingkungan sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 56 : وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ Artinya:“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (akan azab) dan penuh harap (akan rahmat-Nya). Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” Ayat ini mengajarkan kepada kita agar menjaga kelestarian bumi, tidak merusak alam yang telah Allah ciptakan dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya setiap Muslim diperintahkan untuk memelihara lingkungan dan memanfaatkannya secara bijak, karena di dalamnya terkandung tanda-tanda kebesaran Allah. Dengan menjaga alam dan merenungi keindahannya, kita pun terdorong untuk berdoa dengan rasa takut dan harap, sekaligus mendekatkan diri kepada rahmat-Nya. Dengan melakukan wisata alam, kita disadarkan pada kondisi bumi saat ini. Apalagi jika melihat semakin banyak kerusakan alam yang terjadi di mana-mana. Sebagai muslim kita wajib menjaganya, agar senantiasa layak untuk dihuni. Islam memerintahkan umatnya mengembangkan norma dan etika menjaga lingkungan seperti dalam pengelolaan limbah, perlindungan satwa, hingga konservasi air. Selain kebaikan alam bumi itu sendiri, manfaatnya  bisa dinikmati oleh generasi-generasi selanjutnya.. Menjadikan wisata alam sebagai bagian dari gaya hidup seorang Muslim bukan hanya bentuk ikhtiar menjaga kesehatan fisik dan mental, tetapi juga wujud penghayatan…

Read More

Menjelajahi Keindahan Wisata Halal di Eropa yang Tak Disangka Ramah Muslim

Surabaya – 1miliarsantri.net : Mendengar kata Eropa, banyak orang langsung membayangkan gereja-gereja tua, kota-kota penuh sejarah, dan makanan khas yang unik. Namun, siapa sangka bahwa benua yang identik dengan budaya Barat ini juga menyimpan beragam destinasi wisata halal yang memikat hati para pelancong Muslim? Tidak hanya menyediakan makanan halal, beberapa kota bahkan memiliki fasilitas ibadah yang lengkap, serta komunitas Muslim yang ramah dan inklusif. Dalam artikel ini, kita akan mengungkap lima kota di Eropa yang cocok menjadi destinasi wisata halal. Ada yang tersembunyi, ada pula yang sudah populer namun belum banyak diketahui memiliki fasilitas halal. Yuk, perhatikan selengkapnya dan temukan inspirasi untuk perjalanan halal berikutnya! 1. Valletta, Malta Sebagai ibu kota negara kecil Malta, Valletta mungkin tidak langsung terlintas di benak para wisatawan Muslim. Namun, kota ini layak disebut sebagai destinasi wisata halal yang menawan. Terletak di tepi Laut Mediterania, Valletta menawarkan pemandangan laut yang eksotis, bangunan bersejarah yang memukau, serta atmosfer kota tua yang menenangkan. Meski tidak sebesar kota-kota lain di Eropa, Valletta memiliki pilihan restoran halal seperti Millenium Kebab dan Ali Baba yang menyajikan hidangan Timur Tengah hingga Mediterania. Tidak hanya itu, wisatawan Muslim juga dapat menemukan tempat salat di beberapa lokasi strategis atau menginap di hotel yang ramah Muslim. Jika Anda mencari destinasi wisata halal yang tenang namun tetap menyuguhkan keindahan luar biasa, Valletta adalah jawabannya. 2. Wina, Austria Wina terkenal sebagai pusat seni dan musik klasik di Eropa. Namun di balik kemegahan gedung opera dan istana megahnya, ibu kota Austria ini juga menyediakan fasilitas wisata halal yang sangat memadai. Wina menjadi contoh nyata bahwa budaya Eropa bisa berjalan harmonis dengan kebutuhan wisatawan Muslim. Kota ini memiliki delapan masjid yang aktif, termasuk Islamic Centre of Vienna yang megah dan bersih. Untuk urusan kuliner, para wisatawan bisa menikmati hidangan halal di restoran Demi Tass dan Kent Restaurant yang sudah terkenal di kalangan Muslim lokal. Tak hanya menikmati makanan, Anda bisa berjalan-jalan ke pusat kota yang bersejarah atau menikmati sore di tepi Sungai Donau dengan tenang. 3. Budapest, Hungaria Budapest, ibu kota Hungaria, dikenal sebagai Jantung Eropa karena lokasinya yang strategis dan pesona sejarah yang kuat. Kota ini merupakan perpaduan unik antara arsitektur klasik dan kehidupan modern. Sebagai destinasi wisata halal, Budapest mulai dilirik oleh para pelancong Muslim karena akses halal yang semakin berkembang. Wisatawan bisa menjelajahi ikon kota seperti Buda Castle, Chain Bridge, dan Opera House, lalu menyantap hidangan lezat di restoran halal seperti Szeraj dan Mughal Shahi. Budapest juga memiliki sembilan masjid, salah satunya adalah Hungarian Islamic Community yang menyediakan tempat ibadah yang nyaman. Meskipun belum sepopuler kota-kota besar lainnya, Budapest menawarkan pengalaman wisata halal yang memuaskan dan berbeda dari yang lain. 4. Roma, Italia Siapa yang tidak mengenal Roma? Kota ini adalah saksi sejarah peradaban Romawi dan menyimpan banyak situs penting seperti Colosseum, Trevi Fountain, dan Pantheon. Walaupun mayoritas penduduknya adalah Katolik, Roma juga sangat terbuka terhadap wisatawan Muslim. Roma memiliki sekitar 30 masjid dan mushala, termasuk Islamic Cultural Centre of Italy yang menjadi pusat kegiatan umat Islam di kota ini. Pilihan tempat makan halalnya pun beragam, seperti Himalaya’s Kashmir dan Chicken Hut yang cocok untuk dinikmati setelah seharian berkeliling kota. Jika Anda ingin merasakan nuansa klasik Roma tanpa khawatir soal kehalalan, kota ini adalah destinasi wisata halal yang tak boleh dilewatkan. 5. Paris, Prancis Paris adalah kota penuh pesona yang tidak hanya dikenal karena Menara Eiffel dan seni modenya, tetapi juga karena komunitas Muslimnya yang besar. Wisata halal di Paris sangat berkembang, dengan lebih dari 100 restoran halal dan berbagai lingkungan yang ramah Muslim seperti Belleville, Myrha Street, dan Goutte d’Or. Restoran seperti Le Taj Mahal dan Sahil menyajikan menu halal yang menggugah selera. Tak hanya itu, masjid-masjid besar seperti Grand Mosque of Paris menjadi tempat yang nyaman untuk beribadah dan mengenal budaya Islam di Prancis. Berjalan-jalan di taman-taman kota, berbelanja di butik halal, hingga menikmati hidangan khas Timur Tengah, semua bisa Anda lakukan di Paris dengan tenang. Siapa bilang berwisata halal di Eropa itu sulit? Lima kota yang telah dibahas di atas menunjukkan bahwa Eropa juga bisa menjadi destinasi wisata halal yang menyenangkan dan penuh kenyamanan. Dengan fasilitas halal yang lengkap, suasana yang ramah, serta keindahan arsitektur dan budaya yang luar biasa, wisata halal di Eropa kini semakin mudah dijangkau oleh para pelancong Muslim dari seluruh dunia. Jika Anda merencanakan liburan ke benua biru, jangan ragu untuk mempertimbangkan destinasi yang telah disebutkan di atas. Selamat menjelajah dan semoga perjalanan Anda membawa pengalaman yang bermakna dalam dunia wisata halal! Penulis : Ainun Maghfiroh Editor : Toto Budiman

Read More

Anggun & Syar’i! Ini Tutorial Hijab Pashmina yang Menutup Dada Tapi Tetap Modis

Dalam dunia fashion muslimah, gaya berhijab yang syar’i kini menjadi pilihan utama banyak wanita. Salah satu model hijab yang paling populer adalah pashmina karena fleksibel, mudah dikreasikan, dan cocok untuk berbagai bentuk wajah. Namun, masih banyak yang bingung bagaimana cara memakai pashmina agar tetap modis sekaligus menutup dada. Menjaga hijab yang anggun dan syar’i merupakan bagian penting dari ketaatan seorang Muslimah kepada Allah SWT, sekaligus perwujudan identitas dan kehormatan diri. Dalam Al-Qur’an, Allah secara tegas memerintahkan perempuan beriman untuk menutup aurat dengan sempurna agar terjaga dari fitnah dan dikenal sebagai wanita yang terhormat. Firman-Nya dalam Surat Al-Ahzab ayat 59 berbunyi, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal dan tidak diganggu.” Nah, melalui artikel ini, kami sajikan tutorial hijab pashmina yang bukan hanya praktis dan elegan, tapi juga memenuhi syariat. Dan berikut beberapa gaya hijab pashmina yang tak hanya menutupi dada, tapi juga tetap terlihat modern dan elegan. Setiap gaya dapat kamu sesuaikan dengan jenis acara, jenis bahan, hingga bentuk wajahmu. 1. Pashmina Lilit Depan: Sederhana Tapi Tetap Elegan Untuk kamu yang menginginkan tampilan sederhana namun tetap anggun, gaya lilit depan ini bisa jadi pilihan. Tutorial hijab pashmina ini cocok digunakan sehari-hari, ke kampus, kantor, atau bahkan saat hangout. Dan langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: Dengan teknik ini, kamu bisa tetap bergerak aktif tanpa khawatir hijab tersingkap. 2. Pashmina Layer Menutup Dada yang Cocok untuk Kondangan Model ini memberi kesan glamor dan mewah, sangat cocok untuk acara formal seperti kondangan atau pesta keluarga. Tutorial hijab pashmina ini membuat bagian depan terlihat bertingkat dan jatuh anggun di dada. Adapun caranya, ikuti langkah-langkah berikut ini: Model ini tidak hanya menutupi dada dengan sempurna, tapi juga memberi kesan mewah yang elegan. 3. Pashmina Menjuntai Simetris yang Praktis dan Rapi Gaya ini cocok buat kamu yang tidak suka ribet tapi ingin hasil akhir yang tetap rapi. Tutorial hijab pashmina model simetris ini sangat cocok digunakan untuk ke kantor atau acara semi formal lainnya. Dan langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: Meskipun simpel, model ini tetap memberikan perlindungan maksimal dan kesan elegan pada tampilanmu. 4. Pashmina Menutup Dada dengan Bros Aksen Buat kamu yang ingin menambah sentuhan manis pada tampilan, gaya ini menggunakan bros sebagai aksen tambahan. Bros juga membantu menjaga posisi pashmina agar tidak mudah bergeser. Untuk tutorialnya, ikuti langkah-langkah ini: Selain cantik, bros juga menambah keunikan dari gaya berhijabmu. Tutorial hijab pashmina ini sangat disukai oleh mereka yang ingin tampil sedikit lebih menonjol tapi tetap anggun. Dengan berbagai pilihan gaya di atas, kini kamu tak perlu bingung lagi mencari model hijab pashmina yang bisa menutup dada dan tetap stylish. Setiap model memiliki keunggulan masing-masing, tinggal kamu sesuaikan dengan kebutuhan dan karakter pribadimu. Jangan lupa untuk memilih bahan pashmina yang lembut, jatuh, dan tidak terlalu licin agar mudah dibentuk. Jadi, apakah kamu sudah siap tampil lebih percaya diri dan anggun? Yuk, mulai praktikkan tutorial hijab pashmina di atas dan temukan gaya hijab favoritmu sendiri. Karena tampil syar’i tak pernah berarti membosankan, justru penuh dengan pesona dan keanggunan! Penulis : Ainun Maghfiroh Editor : Toto Budiman

Read More

Menelusuri 4 Jenis Makanan Halal yang Bisa Anda Temukan di Bali

Bali – 1miliarsantri.net : Dalam ajaran Islam, memperhatikan kehalalan makanan bukan sekadar soal pilihan selera, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah SWT dan wujud penjagaan terhadap kesucian jiwa serta kesehatan tubuh. Makanan halal memberi keberkahan, menjauhkan diri dari dosa, dan menjadi salah satu syarat diterimanya ibadah seorang Muslim. Oleh karena itu, setiap individu yang beriman dituntut untuk selektif dalam memastikan apa yang dikonsumsi berasal dari sumber yang halal dan baik (thayyib), sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 168: يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ Terjemahan: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” Bali, yang dikenal sebagai pulau dewata dengan sejuta pesonanya, bukan hanya kaya akan keindahan alam dan budaya, tetapi juga menyimpan kekayaan kuliner yang menggoda selera. Banyak orang mengira sulit menemukan makanan halal di Bali, mengingat mayoritas masyarakatnya bukan Muslim. Namun, tahukah Anda bahwa ada 4 jenis makanan halal yang tidak hanya lezat, tetapi juga aman untuk dikonsumsi oleh umat Muslim? Nah jika belum tahu, tenang! Artikel ini akan mengajak Anda menjelajahi empat hidangan halal khas Bali yang wajib dicoba saat berkunjung ke pulau eksotis ini. Siapkan diri Anda untuk menemukan kelezatan tersembunyi yang mungkin belum pernah dibayangkan sebelumnya. Tanpa berlama-lama lagi, inilah 4 jenis makanan halal yang umum ditemukan di Bali: 1. Ayam Betutu Salah satu kuliner khas Bali yang cukup terkenal di kalangan wisatawan adalah Ayam Betutu. Makanan ini sangat populer dan telah banyak tersedia dalam versi halal. Ayam Betutu merupakan sajian ayam utuh yang dimasak dengan bumbu khas Bali, seperti lengkuas, kunyit, bawang merah, bawang putih, cabai, dan berbagai rempah lainnya. Setelah dibumbui, ayam kemudian dibungkus menggunakan daun pisang dan dimasak dengan cara dikukus atau dipanggang hingga empuk. Proses memasak yang lama membuat bumbu meresap sempurna ke dalam daging ayam, memberikan rasa yang begitu mendalam. Banyak restoran halal di Bali kini menyajikan versi Ayam Betutu yang menggunakan bahan dan proses pengolahan sesuai standar halal. 2. Sate Lilit Selanjutnya dalam daftar 4 jenis makanan halal yang dapat ditemukan di Bali adalah Sate Lilit. Sate ini berbeda dari sate pada umumnya karena dagingnya tidak ditusuk dalam potongan utuh, melainkan dicincang terlebih dahulu dan kemudian dililitkan pada batang serai atau bambu. Daging yang digunakan bisa berupa ayam atau ikan, yang kemudian dibumbui dengan campuran kelapa parut, bawang putih, bawang merah, jahe, dan serai, sehingga menghasilkan cita rasa yang khas dan harum. Karena beberapa jenis Sate Lilit menggunakan daging non-halal, penting untuk memilih tempat makan yang memang menyediakan versi halal, biasanya menggunakan ayam atau ikan dan tanpa campuran bahan haram lainnya. 3. Nasi Campur Bali Nasi Campur Bali adalah salah satu sajian paling populer yang menggambarkan kekayaan kuliner pulau ini. Hidangan ini terdiri dari nasi putih yang disajikan dengan beragam lauk pauk tradisional, seperti ayam suwir berbumbu, urap sayur, sate lilit halal, telur balado, sambal matah, dan kerupuk. Menariknya, setiap warung atau rumah makan memiliki versi Nasi Campur Bali yang berbeda-beda tergantung dari bahan dan lauk yang digunakan. Jika Anda mencari versi halal, pilihlah tempat makan yang mencantumkan sertifikasi halal atau yang secara khusus menyajikan makanan Muslim-friendly. Nasi Campur Bali versi halal termasuk salah satu dari 4 jenis makanan halal yang cukup mudah ditemukan di berbagai wilayah seperti Denpasar, Ubud, hingga Kuta. 4. Tipat Cantok Tipat Cantok mungkin belum seterkenal tiga makanan sebelumnya, namun justru itulah daya tariknya. Makanan ini termasuk dalam kategori 4 jenis makanan halal karena seluruh bahan yang digunakan adalah nabati dan tanpa kandungan daging. Tipat Cantok terdiri dari ketupat (tipat) yang dipotong-potong lalu dicampur dengan sayuran segar seperti kangkung, tauge, dan kacang panjang. Seluruhnya disiram dengan saus kacang khas Bali yang gurih dan sedikit pedas. Mirip seperti gado-gado, tetapi dengan bumbu dan aroma lokal yang lebih kuat. Hidangan ini cocok untuk Anda yang mencari menu ringan, sehat, dan pastinya halal selama berwisata di Bali. Berkunjung ke Bali tidak berarti Anda harus khawatir soal makanan halal. Dengan pengetahuan tentang 4 jenis makanan halal di atas, Anda bisa lebih tenang dalam memilih hidangan yang aman dan sesuai dengan syariat Islam. Pastikan untuk mencari tempat makan yang terpercaya atau memiliki label halal. Alternatif lainnya, Anda bisa bertanya langsung kepada penjual mengenai bahan-bahan yang digunakan. Sebagai destinasi wisata dunia, Bali juga telah banyak berbenah untuk menyambut wisatawan Muslim. Mulai dari hotel syariah, tempat ibadah yang mudah ditemukan, hingga makanan halal yang kini semakin mudah diakses. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak menikmati wisata kuliner di Bali, apalagi setelah Anda mengenal 4 jenis makanan halal yang telah dijelaskan di atas. Dengan begitu, pengalaman kuliner Anda di Bali akan lebih menyenangkan, lezat, dan tentunya tetap sesuai dengan nilai-nilai kehalalan. Selamat menikmati perjalanan dan kelezatan kuliner halal Bali! Penulis : Ainun Maghfiroh Editor : Toto Budiman

Read More

Peduli Teknologi Ramah Lingkungan: Gaya Hidup Berkah yang Sudah Hadir Di Sekitar Kita

Bondowoso – 1miliarsantri.net: Pernahkah Anda membayangkan bagaimana dunia kita 10 tahun ke depan jika tidak ada perubahan terhadap gaya hidup dan cara kita memanfaatkan teknologi? Isu lingkungan yang makin mendesak memaksa manusia untuk tidak hanya berpikir maju, tapi juga bertindak bijak. Di sinilah teknologi ramah lingkungan mengambil peran besar. Gaya hidup seorang Muslim sejati tidak hanya berorientasi pada ibadah ritual, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab terhadap alam semesta. Dalam era modern, kepedulian terhadap teknologi ramah lingkungan menjadi bagian penting dari gaya hidup Islami. Menggunakan energi terbarukan, mengurangi sampah elektronik, hingga memilih perangkat hemat daya adalah langkah konkret yang menunjukkan kepedulian terhadap bumi—amanah Allah yang harus dijaga. Bukan sekadar tren atau jargon industri, teknologi ini menjadi jawaban konkret atas krisis perubahan iklim, polusi, dan kelangkaan sumber daya alam.  Dalam beberapa dekade terakhir, para ilmuwan dan insinyur telah berlomba-lomba menciptakan teknologi yang tidak hanya efisien, tetapi juga mampu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Islam mendorong umatnya untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56) Selain itu, Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pribadi yang hemat, bersih, dan bijak dalam menggunakan sumber daya, meskipun dalam kelimpahan. Teknologi ramah lingkungan sejatinya sejalan dengan prinsip hidup Islami yang mengajarkan kesederhanaan, efisiensi, dan keberkahan dalam pemanfaatan nikmat dunia. Teknologi ramah lingkungan hadir dalam berbagai bentuk dan bidang, mulai dari energi hingga transportasi, dari konstruksi hingga gaya hidup sehari-hari. Dan dalam pembahasan khusus ini, kami akan memberikan penjelasan contoh dari teknologi ramah lingkungan yang sudah hadir di sekitar kita. Apa saja? Ini dia penjelasan lengkapnya! 1. Panel Surya Panel surya menjadi contoh paling populer dari teknologi ramah lingkungan. Teknologi ini kini semakin efisien dan terjangkau, serta dapat dipasang di berbagai lokasi, baik rumah tinggal, gedung perkantoran, hingga kendaraan listrik. Penggunaan panel surya secara signifikan dapat mengurangi emisi karbon karena menggantikan peran bahan bakar fosil dalam menghasilkan listrik. Selain itu, penggunaannya mampu menekan biaya listrik jangka panjang, yang membuatnya semakin diminati oleh masyarakat. Pemerintah dan sektor swasta juga mulai mendorong penggunaan teknologi ini dalam skala besar melalui program insentif dan proyek energi bersih nasional. 2. Kendaraan Listrik Kendaraan listrik merupakan inovasi besar dalam bidang transportasi yang mengadopsi teknologi ramah lingkungan. Berbeda dengan kendaraan konvensional yang mengandalkan bahan bakar fosil dan menghasilkan emisi gas buang, kendaraan listrik digerakkan oleh baterai yang dapat diisi ulang dengan energi bersih. Teknologi ini membantu menurunkan tingkat polusi udara, terutama di kota-kota besar dunia. 5 negara produsen kendaraan listrik teratas di pasar global adalah Cina, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Jerman. Sayangnya belum satupun negara muslim yang masuk sebagai produsen. Infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian daya juga terus dikembangkan untuk mendukung pertumbuhan kendaraan tanpa emisi ini di masa depan. 3. Bangunan Hijau Bangunan hijau atau green building merupakan penerapan teknologi ramah lingkungan di sektor konstruksi. Konsep ini mengedepankan penggunaan bahan bangunan yang ramah lingkungan seperti kayu daur ulang, bambu, atau batu alam. Selain itu, desain bangunan dirancang agar memaksimalkan cahaya alami dan ventilasi udara, sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap listrik untuk pencahayaan dan pendingin ruangan. Beberapa gedung bahkan dilengkapi dengan atap hijau atau taman vertikal yang berfungsi sebagai penyerap karbon sekaligus pendingin alami. Bangunan hijau tidak hanya berkontribusi pada lingkungan, tetapi juga memberikan kenyamanan dan kesehatan bagi penghuninya. 4. Pengolahan Limbah Modern Teknologi ramah lingkungan juga diaplikasikan dalam pengolahan limbah modern. Salah satu contohnya adalah teknologi biogas yang memanfaatkan limbah organik seperti sisa makanan dan kotoran hewan untuk diubah menjadi energi. Selain itu, terdapat mesin pemilah sampah otomatis yang mampu mengelompokkan sampah berdasarkan jenisnya untuk mempermudah proses daur ulang. Dan beberapa inovasi lain bahkan mampu mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif atau bahan bangunan. Inovasi-inovasi ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang mencemari lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru dari limbah yang sebelumnya tidak berguna. 5. Peralatan Rumah Tangga Hemat Energi Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga dapat menemukan teknologi ramah lingkungan dalam bentuk peralatan rumah tangga hemat energi. Perangkat seperti lampu LED memiliki efisiensi energi yang jauh lebih tinggi dibandingkan lampu pijar konvensional, serta masa pakai yang lebih panjang. Mesin cuci, kulkas, dan AC dengan teknologi inverter mampu menyesuaikan penggunaan daya sesuai kebutuhan, sehingga menghemat konsumsi listrik. Tak hanya itu, beberapa peralatan dapur pintar kini dirancang agar lebih efisien dalam penggunaan air, seperti keran otomatis atau mesin pencuci piring yang hemat air. Pilihan-pilihan ini memungkinkan masyarakat turut berkontribusi dalam menjaga lingkungan dari rumah sendiri. Melihat berbagai contoh nyata di atas, jelas bahwa teknologi ramah lingkungan bukan lagi sekadar konsep masa depan, ia telah hadir dan tumbuh di sekitar kita. Dunia yang lebih hijau hanya akan tercipta jika manusia mau beradaptasi dengan inovasi yang mengedepankan keberlanjutan. Mulai dari skala industri hingga rumah tangga, teknologi ini memberi peluang besar untuk hidup lebih baik tanpa merusak alam. Kesadaran akan pentingnya menjaga bumi harus berjalan seiring dengan adopsi teknologi yang mendukungnya. Saatnya kita semua berperan aktif, bukan hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai penjaga lingkungan lewat pilihan teknologi yang bijak. Karena pada akhirnya, masa depan bumi sangat bergantung pada keputusan kita hari ini, termasuk dalam memilih teknologi ramah lingkungan. Dengan mengadopsi teknologi ramah lingkungan, umat Islam tidak hanya menunjukkan kepedulian terhadap masa depan bumi, tetapi juga merealisasikan ajaran Islam secara menyeluruh. Inilah saatnya Muslim lifestyle menjadi contoh gaya hidup modern yang tidak hanya trendy, tetapi juga bertanggung jawab secara spiritual dan ekologis.** Penulis : Ainun Maghfiroh Editor : Toto Budiman

Read More

Cara Menjaga Konsistensi Ibadah Di Tengah Kesibukan Dunia

Gresik – 1miliarsantri.net: Kita semua pastinya pernah berada di fase semangat beribadah yang membara, lalu mendadak redup karena kesibukan harian yang seolah tak memberi jeda. Mungkin kita pernah merasa waktu terasa sempit untuk sekadar meluangkan diri untuk shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, atau berzikir dengan tenang. Padahal, hati kecil tetap ingin dekat dengan Allah, tetap ingin merawat hubungan dengan-Nya. Di sinilah pentingnya memahami dan menerapkan cara menjaga konsistensi ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia yang penuh hiruk-pikuk, menjaga konsistensi ibadah bukanlah hal yang mudah. Tapi bukan berarti mustahil. Jika dilakukan dengan niat ikhlas yang kuat dan komitmen dalam hati, maka kita bisa tetap istiqamah dalam beribadah tanpa harus mengorbankan pekerjaan, keluarga, atau aktivitas lainnya. Ibadah yang konsisten justru bisa menjadi penyeimbang dari segala kesibukan duniawi yang kadang tak pernah selesai dan sangat melelahkan. Niat yang ikhlas akan menjadi bahan bakar untuk terus istiqomah meski sibuk. Konsistensi Dimulai dari Langkah Kecil yang Disadari Ketika kalian merasa ibadah mulai tidak teratur, jangan langsung menyerah apalagi merasa gagal. Seringkali kita terbebani dengan keinginan untuk langsung “sempurna” dalam beribadah. Padahal, dalam Islam sendiri, amalan yang kecil tapi teratur, lebih dicintai Allah dibanding yang besar tapi hanya sesekali. Salah satu cara menjaga konsistensi ibadah adalah dengan memulainya dari hal yang sederhana namun berkelanjutan. Kita bisa mulai dari membiasakan shalat tepat waktu, memperbanyak istighfar setiap pagi, atau membaca satu halaman Al-Qur’an setelah Subuh. Niatkan semua itu sebagai bagian dari rutinitas, bukan beban tambahan. Sisihkan waktu khusus untuk ibadah dalam agenda harian, layaknya kita menjadwalkan rapat atau aktivitas penting lainnya. Coba pikirkan ini, kita seringkali bisa konsisten mengecek media sosial setiap harinya, atau menonton film di waktu senggang. Itu terjadi karena kita menjadikannya bagian dari kebiasaan yang menyenangkan. Sama halnya dengan ibadah, ketika kita berhasil menanamkan rasa cinta dan kenyamanan di dalamnya, maka konsistensi pun akan tumbuh tanpa dipaksa. Bagi yang sibuk bekerja, menyelipkan ibadah di sela aktivitas bisa menjadi solusi cerdas. Misalnya, shalat Dhuha bisa dilakukan sebelum rapat pagi, Zikir sambil berkendara, bahkan mendengarkan kajian singkat sembari melakukan aktifitas, baik itu memasak atau menyiram tanaman, hal ini juga bisa menjadi bentuk pengisian rohani. Intinya jangan menunggu waktu luang, karena waktu luang kadang hanya ilusi jika kita tidak bisa menggunakannya sebaik mungkin. Justru dengan menyisipkan ibadah dalam rutinitas padat, kita akan merasakan energi positif yang berbeda. Kamu juga bisa membuat jadwal pribadi untuk ibadah tambahan yang ingin dipertahankan. Misalnya, malam Jumat membaca Surah Al-Kahfi, atau setiap malam sebelum tidur menyempatkan shalat witir. Ketika ibadah mulai menjadi kebiasaan, kita tidak lagi merasa itu kewajiban yang berat, tapi justru kebutuhan jiwa. Selain itu, cara menjaga konsistensi ibadah juga erat kaitannya dengan lingkungan. Lingkungan yang suportif akan sangat membantu kamu tetap terjaga secara spiritual. Bergabung dalam komunitas kajian, grup pengingat dzikir, atau sekadar punya teman dekat yang saling menyemangati dalam ibadah, bisa membuat semangatmu terus menyala. Kita tidak bisa terus kuat sendirian. Sesekali, butuh dorongan dari orang lain yang satu visi. Hal ini sejalan dengan Hasan Al-Bashri dalam Kitab Ma’alimut Tanzil yang berkata, “Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.” Akhiri Hari dengan Refleksi dan Niat Baru Setiap hari adalah ladang baru untuk memperbaiki diri. Di malam hari sebelum tidur, kita bisa mengingat kembali ibadah apa yang sudah kita lakukan hari ini. Jangan fokus pada yang terlewat, tapi syukuri apa yang berhasil kamu jaga dan niatkanlah untuk melakukan ibadah yang lebih baik lagi di hari esok. Cara menjaga konsistensi ibadah bukanlah perjalanan sehari dua hari. Ia adalah proses panjang yang terus dilatih. Ada hari di mana kita sangat bersemangat, ada juga saat-saat kita merasa lelah. Tapi itulah letak nilai perjuangannya. Selama kamu tidak berhenti berniat untuk terus dekat kepada Allah, maka langkahmu selalu berada di jalan yang benar. Sesekali, beri hadiah untuk dirimu sendiri ketika berhasil menjaga konsistensi ibadah dalam seminggu atau sebulan, sebagai bentuk rasa syukur bahwa kamu sedang tumbuh menjadi pribadi yang lebih terarah dan terjaga secara spiritual. Dalam dunia yang penuh tuntutan, konsistensi beribadah adalah bentuk keberanian. Kamu memilih untuk tetap terhubung dengan Tuhan, meski dunia mencoba menarik perhatianmu ke arah lain. Itulah mengapa, perlu melatih secara perlahan agar konsistensi dalam beribadah tetap terjaga, dengan penuh kesungguhan. Semoga dengan niat yang tulus dan usaha yang terus dijaga, kita bisa menjadi pribadi yang tidak hanya sibuk perihal dunia, tapi juga tenang dalam mendekat pada-Nya. Karena pada akhirnya, ibadah yang terjaga adalah sumber ketenangan dan kekuatan sejati di tengah hiruk-pikuknya kehidupan. Jika kamu sudah sampai di sini, artinya kamu punya niat kuat untuk memperbaiki kualitas hubunganmu dengan Allah. Mintalah kepada Allah agar dimudahkan untuk tetap taat di tengah rutinitas dunia yang padat. “Ya Muqallibal Qulub, tsabbit qalbi ‘ala diinika”(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu) Mulailah sekarang, dari yang paling sederhana, dan rasakan sendiri perubahan besar yang akan datang dalam hidupmu. Menjaga konsistensi ibadah di tengah kesibukan dunia memang bukan hal yang mudah, namun bukan pula sesuatu yang mustahil. Dengan niat yang tulus, perencanaan yang baik, serta dukungan lingkungan yang positif, setiap Muslim dapat tetap istiqamah dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ingatlah bahwa sekecil apa pun amal kebaikan yang dilakukan secara rutin akan sangat bernilai di sisi-Nya. Semoga langkah-langkah kecil yang kita upayakan setiap hari menjadi jalan menuju ketenangan hati dan keselamatan akhirat.** Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman

Read More

Bagaimana Gen Z Mengonsumsi Fashion, Gaya Hidup atau Gaya Pikir?

Gresik – 1miliarsantri.net: Fashion sudah bukan sekadar soal baju atau celana saja. Bagi Generasi Z atau yang biasa disebut sebagai Gen Z, saat ini fashion sudah menjadi sebuah identitas, ekspresi diri, bahkan alat komunikasi yang tidak perlu disampaikan dengan kata-kata. Kalian mungkin salah satu dari mereka yang memilih outfit dengan teliti karena tahu apa yang dipakai bisa mencerminkan siapa dirimu. Berbicara tentang fashion, kali ini kita akan membahas bagaimana Gen Z mengonsumsi fashion, sebagai alat untuk gaya hidup ataukah sebagai gaya pikir? Untuk menjawab pertanyaan itu simak artikel ini sampai selesai. Pembahasan ini akan dikembangkan berdasarkan hasil survei UMN Consulting. Hasil survei ini memberikan gambaran soal bagaimana Gen Z di Indonesia mengonsumsi fashion. Yuk, kita ulik lebih dalam! Gen Z Lebih Suka Beli Sedikit Tapi Tepat Jika kalian berpikir bahwa anak muda zaman sekarang doyan belanja pakaian terus-terusan, maka perlu kalian ketahui jika pernyataan itu tidak selalu benar. Dari data yang dikumpulkan UMN Consulting terhadap 1.047 responden, mayoritas Gen Z (62,37%) hanya membeli 1–5 pakaian dalam setahun. Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z makin selektif dalam memilih fashion. Nggak asal beli, tapi lebih mikirin kualitas dan kebutuhan. Ada juga 26,46% yang membeli 6–10 pakaian, dan cuma 11,17% yang belanja lebih dari 10 pakaian per tahunnya. Hal ini, bisa jadi karena mereka mulai sadar akan pentingnya konsumsi berkelanjutan atau mungkin juga karena pengaruh tren mix and match yang membuat satu item bisa dipakai berkali-kali dengan gaya berbeda. Ini bukti nyata bahwa fashion tidak selalu tentang kuantitas, tapi lebih ke arah strategi dan kecerdasan dalam memilih. Apa Yang Jadi Pertimbangan Gen Z Saat Belanja Fashion? Sebelum kita masuk toko atau buka e-commerce buat belanja baju, pasti ada banyak hal yang kita pertimbangkan. Nah, hasil survei ini juga memberikan pertimbangan utama Gen Z sebelum memutuskan untuk membeli fashion item tertentu. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, aplikasi LiLi Style telah hadir dan telah menempati peringkat 10 teratas aplikasi e-commerce di playstore Indonesia. Bersamaan dengan itu, aplikasi ini telah mengumumkan misinya sebagai platform dengan jutaan pengguna, untuk mendukung dan meningkatkan penjualan para pelaku bisnis fashion lokal di Indonesia. LiLi Style merupakan platform aplikasi fashion wanita yang mengandalkan teknologi AI (artificial intelligene) tercanggih, dalam proses kurasi item lebih dari 1.000 toko lokal yang telah disesuaikan dengan preferensi setiap pengguna. Alih-alih menawarkan brand-brand besar yang telah didistribusikan secara luas, aplikasi fashion ini memanfaatkan teknologi AI untuk mempromosikan produk-produk toko fashion lokal yang unik dengan panduan segmentasi dan personalisasi style pengguna.  Tidak heran, jika desain menjadi alasan nomor satu dengan persentase tertinggi, yakni 98,85%. Siapa sih yang tidak ingin tampil kece?, apalagi jika sesuai dengan selera dan kepribadian. Apalagi di era media sosial seperti sekarang ini, dimana penampilan menjadi salah satu bentuk ekspresi yang paling kelihatan. Di posisi kedua ada “harga” dengan nilai 97,52%. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun desain itu penting, harga tetap menjadi penentu utama. Dengan angka ini dapat kita simpulkan bahwa Gen Z cerdas dalam memilih fashion, mereka mau tetap stylish tapi tetap sesuai dengan isi dompet. Selanjutnya ada faktor “brand yang populer” dengan angka mencapai 49,38%, bahan yang ramah lingkungan (38,87%), dan influencer (15,38%). Yang menarik di sini adalah tingkat kepedulian Gen Z terhadap keberlanjutan. Hampir 40% dari mereka mempertimbangkan apakah pakaian yang mereka beli ramah lingkungan atau tidak. Ini sinyal positif buat brand fashion agar lebih peduli terhadap lingkungan dan etika produksi. Menyeimbangkan Gaya, Harga, Dan Nilai Jika kalian termasuk orang yang menyukai fashion, maka sudah pasti kalian mengetahui tantangan terbesar dalam dunia fashion, yaitu menyeimbangkan antara gaya, harga, dan nilai. Nah, Gen Z ternyata sudah mulai memiliki kesadaran tinggi akan hal ini. Mereka tidak membeli hanya karena mengikuti tren saja, tapi juga telah memikirkan dampaknya baik itu secara sosial maupun lingkungan. Pilihan kita untuk lebih bijak dalam belanja fashion bisa menjadi contoh buat generasi lainnya. Misalnya, beli dari brand lokal, dukung usaha kecil, atau milih bahan yang lebih sustainable. Ini bukan cuma soal gaya, tapi juga sebagai bentuk tanggung jawab. Fashion buat Generasi Z sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Bukan cuma soal kelihatan keren, tapi juga soal nilai, makna, dan pilihan yang berdampak. Dari survei ini, kita bisa melihat jika fashion tidak hanya soal penampilan saja. Melainkan juga soal kepribadian, prinsip, dan kadang bahkan statement sosial. Terkadag desain yang unik, harga yang masuk akal, dan nilai yang dibawa oleh sebuah brand bisa menjadi pertimbangan penting dalam setiap pembelian. Jadi, jika kalian adalah salah satu bagian dari Gen Z, sudah pasti relate banget dengan hal ini. Fashion bisa menjadi cara untuk menunjukkan siapa dirimu sebenarnya bukan hanya dari luar, tapi juga nilai-nilai yang kamu pegang di dalam. Dan buat kalian yang punya brand fashion atau pengen masuk ke dunia fashion, pahami dulu karakteristik Gen Z ini. Mereka nggak gampang dibujuk hanya dengan iklan. Mereka juga mencari makna, dan kalian harus bisa menyediakannya. Bagi gen Z fashion sudah berubah wujud menjadi bahasa baru. Dan kalian, sebagai bagian dari generasi ini, punya peran besar untuk terus membuat fashion menjadi lebih bijak, lebih personal, dan tentunya lebih berdampak.*** Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman

Read More

Gen Z Taat: Anti Skip Sholat Saat Nongkrong

Surabaya – 1miliarsantri.net: Di tengah gaya hidup Gen Z yang lekat dengan nongkrong, ngopi, dan hangout bareng teman, tetap ada sosok-sosok keren yang nggak pernah lupa kewajiban utama: sholat. Mereka membuktikan bahwa asyik nongkrong nggak harus bikin lalai ibadah. Justru, di balik gaya kasual dan celoteh santai, ada komitmen kuat untuk tetap taat. Inilah cerita tentang Gen Z Taat — generasi yang memilih anti skip sholat, bahkan saat lagi seru-serunya kumpul bareng. Seseorang yang lahir antara tahun 1997-2013 tergabung dalam kelompok generasi Z atau istilah kerennya yaitu Gen Z. Gen Z seringkali dikenal dengan generasi yang sangat aktif, ekspresif, dan memiliki gaya hidup dinamis. Mereka sangat familiar dengan kemajuan teknologi, dan suka sekali untuk melakukan eksplorasi ke tempat-tempat baru, dan tentunya hobi banget yang namanya nongkrong. Akan tetapi, di tengah-tengah mereka sibuk nongkrong di cafe, mall, atau tempat-tempat nongkrong lain, muncul satu pertanyaan penting: “Mereka masih menjaga sholatnya ga sih?”, atau “Mereka gimana ya menjalankan kewajiban ibadah sholatnya?” Dan jawabannya: “ya bisa banget dong!” Saat ini makin banyak Gen z yang sadar bahwa keren itu bukan cuma dari outfit, akan tetapi juga soal ketaatan. Ketaatan kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Sholat tetap yang utama, meskipun lagi di luar rumah atau nongkrong pun tetap harus dan wajib hukumnya untuk menjaga sholat. Adapun dalil tentang perintah Sholat dalam Al-Quran Surat An Nisa Ayat 103: اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا Artinya: “Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (Q.S. An Nisa: 103). Pada ayat tersebut menjelaskan tentang pentingnya mengingat Allah SWT di manapun dan kapan pun serta melaksanakan kewajiban ibadah sholat dengan sempurna atas waktu yang telah ditentukan sebagai orang-orang yang beriman. Nah, biar tetap istiqomah, yuk simak tips simple tapi powerfull untuk tetap jaga sholatmu! 1. Cari Tempat yang Menyediakan Musholla. Sebelum berangkat nongkrong atau hangout, pastikan dulu tempat yang dituju menyediakaan fasilitas ibadah seperti musholla atau lokasinya yang berdekatan dengan masjid. Lantas, bagaimana cara kita tahu tempatnya ada mushollanya atau tidak? Teknologi sudah canggih, manfaatin sosial mediamu buat cari tau di cafe itu ada mushollanya atau tidak? Tidak ada salahnya juga untuk tanya melalui DM (Direct Message) ke adminnya “Kak, di situ ada mushollanya ga ya?” Untuk cara lain yaitu cek di google maps, tempatnya kira kira dekat dengan masjid apa ya. 2. Atur Waktu Keberangkatan. Supaya tidak mengganggu waktu sholat, kalau bisa berangkat setelah menjalankan ibadah sholat. Misalnya, berangkat setelah Sholat Maghrib, supaya tidak ketinggalan waktu sholat Maghrib. Atau lebih baik lagi, menunggu sampai waktu Sholat Isya, jadi bisa hangout dengan tenang tanpa kepikiran terdapat ibadah yang belum ditunaikan. Lantas, kalau mau nongkrong siang atau sore bagaimana? Jawabannya: Pastikan selalu untuk menjaga sholat dzuhur atau ashar tetap on time ya. Jangan sampai meninggalkan kewajiban  hanya untuk urusan duniawi, apalagi kalau itu nongkrong. 3. Bawa Peralatan Sholat Sendiri. Ini merupakan sebuah life hack, terutama buat para muslimah. Membawa mukena travel size yang ringkas dan dapat dilipat hingga berbentuk kecil sehingga mudah dimasukkan ke dalam tas. Selain menjaga kehigienisan diri sendiri, membawa mukena sendiri membuat diri tenang apabila terdapat tempat sholat yang tidak menyediakan mukena. Contohnya pada saat wabah Covid-19 kemarin, tempat-tempat umum tidak menyediakan mukena karena ditakutkan dapat menjadi media penularan virus. Maka dari itu sangat penting bagi para Muslimah untuk membawa mukena sendiri untuk tetap menjaga kebersihan diri sendiri. Dan untuk laki-laki, pastikan selalu mengenakan celana panjang yang nyaman ya, agar lebih memudahkan diri sendiri dan tidak kebingungan menutup aurat saat Sholat. Nah, jadi sholat itu bukan sebuah pengahalang untuk kita para Gen Z untuk pergi nongkrong atau hangout loh. Namun, justru menjadikan pengingat bahwa kita tetap berkomitmen kepada Allah di manapun kita berada agar menjadi hamba yang taat. Dengan kita melakukan sedikit persiapan, kita dapat tetap menajalani gaya hidup aktif tanpa meninggalkan kewajiban kita sebagai umat Muslim. Karena pada kenyataannya, Gen Z yang keren itu bukan cuma dilihat dari stylenya saja yang keren, tetapi juga cara mereka menjaga keistiqomahannya dengan tetap menunaikan sholat tanpa skip, kapan pun dan di mana pun.** Penulis : Yunika Hastiwi Editor : Toto Budiman

Read More