hukum khalwat

Hukum Khalwat Menurut Al Qur’an dan Hadist! Muslim Wajib Paham dan Waspada Diri!

Mayoritas ulama sepakat bahwa khalwat dilarang dalam Islam Bandung – 1Miliarsantri.net – Di tengah kesibukan kerja, studi, hingga hubungan sosial zaman sekarang, isu khalwat (خلوة) atau berduaan antara laki-laki dan perempuan non-mahram sering jadi pertanyaan besar bagi banyak Muslim. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam soal hukum khalwat ini? Apa batasannya? Dan bagaimana cara menerapkannya di era digital seperti sekarang? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Artinya, khalwat bukan sekadar soal duduk berdua di ruang tertutup, tapi juga terkait kondisi yang membuka peluang munculnya fitnah atau godaan. Apa Itu Khalwat? Secara bahasa, khalwat berarti menyendiri atau menyepi. Bahkan, dalam makna spiritual, khalwat bisa berarti menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ sendiri pernah melakukan khalwat di Gua Hira sebelum turunnya wahyu. Nabi Musa ‘alaihis-salam juga melakukan khalwat dengan beribadah dan berdoa, begitu pula Maryam ‘alaihas-salam yang menyendiri untuk beribadah. Namun, ketika konteksnya laki-laki dan perempuan non-mahram, khalwat punya hukum berbeda. Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, maka setanlah yang menjadi orang ketiganya.” (HR. Tirmidzi)

Read More
Paspor

Lagi Jalan-jalan? Awas! Jangan Sampai Paspor Ada di Koper Kabin, Ini Alasannya!

Bandung 1Miliarsantri.net – Paspor adalah dokumen paling penting saat bepergian ke luar negeri. Tanpa paspor, seorang traveler bisa kesulitan melewati imigrasi, bahkan terancam ditolak masuk ke negara tujuan. Karena itu, menyimpan paspor dengan aman adalah hal yang wajib diperhatikan setiap Muslim yang melakukan safar. Banyak orang beranggapan aman-aman saja menyimpan paspor di koper kabin. Padahal, pakar perjalanan menegaskan bahwa itu kesalahan besar. Apalagi bila koper kabin harus dititipkan di bagasi mendadak (gate-check) karena aturan maskapai. Lalu, apa bahayanya dan bagaimana sebaiknya Muslim traveler menyikapinya? Yuk, kita cari tahu bersama melalui penjelasan di bawah ini! 1. Risiko Tertahan di Imigrasi Proses imigrasi biasanya dilakukan sebelum penumpang bertemu kembali dengan bagasi. Jika paspor berada di koper kabin yang dititipkan, Anda bisa ditolak masuk, dikenai denda, atau kehilangan penerbangan lanjutan. Dalam Islam, safar bukan sekadar perjalanan, tapi juga amanah. Menjaga dokumen penting seperti paspor berarti menjaga amanah agar perjalanan tetap lancar dan bernilai ibadah.

Read More
liburan

Jangan Lupkan Hal Ini Ketika Liburan! Dijamin Perjalanan Lebih Menyenangkan!

Bandung – 1Miliarsantri.net – Bagi seorang Muslim, perjalanan (safar) untuk liburan bukan sekadar berpindah tempat, tapi juga bagian dari ibadah. Rasulullah SAW bahkan memberi banyak adab safar, mulai dari doa keluar rumah hingga menjaga akhlak dan kebersihan selama perjalanan. Namun, salah satu hal yang sering terlupakan ketika akan bepergian adalah di mana kita menaruh koper saat menginap di hotel. Meski terlihat sepele, ternyata hal ini berhubungan erat dengan kebersihan, kesehatan, bahkan keberkahan safar kita. Dan selain itu, agar perjalanan lebih menyenangkan dan tetap dapat pahala, maka ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan, seperti: 1. Kebersihan Sebagian dari Iman Islam menekankan pentingnya menjaga kebersihan, baik badan, pakaian, maupun tempat. Rasulullah SAW bersabda: “Kebersihan itu sebagian dari iman.” (HR. Muslim). Meletakkan koper di lantai hotel yang penuh jejak sepatu, kotoran, atau bekas tumpahan, bisa membuat pakaian kita ikut tercemar. Padahal, pakaian yang kita kenakan bukan hanya untuk jalan-jalan, tapi juga untuk shalat. Menjaga kebersihan koper berarti menjaga pakaian tetap suci agar ibadah tidak terganggu.

Read More
syukur

Keutaman Syukur Bagi Umat Islam! Jangan Sampai Lalai, Ya!

Bandung – 1Miliarsantri.net – Pernahkah kamu merasa suasana hati langsung berubah hanya karena satu ucapan sederhana, “terima kasih”? Rasa syukur kecil bisa membuat hidup terasa lebih ringan. Dalam Islam, syukur bukan sekadar sopan santun, melainkan kekuatan besar yang memengaruhi emosional, sosial, dan spiritual kita. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an: ﴿لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ﴾ “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7). Janji ini menunjukkan bahwa syukur membuka pintu keberkahan hidup, bukan hanya harta, tetapi juga ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah. Makna Syukur dalam Islam Syukur berarti mengakui nikmat Allah dengan hati, lisan, dan perbuatan. Hati yang bersyukur membuat kita sadar bahwa semua kebaikan datang dari-Nya. Dari sinilah tumbuh ketenangan, iman yang kuat, dan rasa dekat dengan rahmat Allah. Sebaliknya, kufur nikmat menjadikan hati keras, gelap, dan jauh dari keberkahan. Inilah yang sering dijadikan celah oleh syaitan, dengan menanamkan rasa iri, dengki, serta ketidakpuasan. Baca juga: Wujud Cinta kepada Allah! Self Love dalam Islam Sangat Dianjurkan! Manfaat Syukur bagi Kehidupan

Read More
halal home cooking

Memasak jadi Ibadah? Yuk Terapin Halal Home Cooking dari Sekarang!

Bandung – 1miliarsantri.net: Pernahkah terpikir kalau dapur rumahmu bisa jadi tempat ibadah? Bayangkan, setiap kali mengupas bawang dengan niat baik, menyebut nama Allah sebelum memasak, hingga menyajikan makanan dengan penuh cinta, semua itu bisa bernilai pahala. Inilah konsep halal home cooking, sebuah tren yang makin banyak digemari muslim di berbagai belahan dunia. Banyak orang menganggap halal itu sekadar tidak makan babi, tidak minum alkohol, atau memastikan daging sudah disembelih sesuai syariat. Padahal, dalam Al-Qur’an, halal selalu berdampingan dengan kata ṭayyib (طَيِّب), yang artinya suci, baik, dan penuh kebaikan. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 168: يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168) Artinya, makanan halal bukan hanya tentang “boleh dimakan,” tapi juga harus tayyib, tidak merusak tubuh, tidak mencemari lingkungan, tidak berasal dari penipuan, dan tidak diproduksi dengan cara yang zalim.

Read More
Perceraian

Meningkatnya Perceraian, Benarkah Menikah Itu Menakutkan atau Jalan Terbaik Untuk Ibadah?

Surabaya – 1miliarsantri.net: Beberapa waktu lalu di media sosial berseliweran  kabar perceraian beauty vlogger Tasya Farasya. Dia sering mewarnai konten kecantikan dengan tampilan yang anggun bak bidadari, karirnya melejit dan keluarga harmonis. Kehidupannya  sangat diidamkan oleh banyak netizen. Namun nyatanya rumah tangga berakhir di meja pengadilan. Bagi penulis yang berada di usia produktif untuk menikah, jadi overthinking untuk menikah. Bahkan muncul dialog-dialog dilematis “Kalau artis sekelas Tasya  yang cantik, mandiri saja bisa bercerai, bagaimana dengan kita yang biasa-biasa saja?. Pertanyaan itu wajar muncul, hingga akhirnya berkembang jadi ketakutan, dan timbullah tag line menikah itu menakutkan. Tapi apakah benar menikah itu menakutkan?. Fitrah Manusia untuk Mencintai Di era meningkatnya perceraian, membuat banyak orang bertanya-tanya, pentingkah menikah kalau akhirnya menderita.  Padahal dalam fitrahnya, pernikahan adalah kebutuhan manusia. Ia menjadi wadah untuk menyalurkan hasrat dengan cara yang aman, menjaga kelangsungan generasi, dan menumbuhkan kasih sayang.  Selain itu Islam memandang pernikahan bukan sekadar formalitas sosial, melainkan ibadah. Rasulullah pernah bersabda: “Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang sudah sanggup untuk menikah, maka hendaklah ia menikah. Karena menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Namun siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat meredakan syahwatnya.” (HR. Bukhari No. 4703) Hadis itu memberikan perspektif bahwa menikah adalah jalan terbaik untuk menyalurkan fitrah syahwat manusia. Islam tidak menutup mata terhadap kebutuhan biologis, justru memberikan jalan yang terhormat agar manusia tidak terjerumus pada zina. Puasa pun disediakan sebagai alternatif pengendalian diri bagi yang belum mampu menikah. Disisi lain dalam Al-Qur’an memberikan perspektif bahwa pernikahan adalah bentuk untuk memenuhi kebutuhan psikologis kasih sayang. وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Read More
Self Love dalam Islam

Wujud Cinta kepada Allah! Self Love dalam Islam Sangat Dianjurkan!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Di tengah tekanan hidup, standar sosial yang tinggi, dan pandangan orang lain yang kerap membuat kita ragu pada diri sendiri/tidak mencintai diri sendiri.  Dampak  ragu pada diri sendiri akan membuat potensi diri kurang semangat, membuat diri insecure terhadap penilaian orang lain, dan merasa menjadi manusia yang tidak berguna. Bahkan pada level tertentu bisa membuat diri mudah meremehkan orang lain. Misalnya ketika diri insecure dengan fisik (kegendutan, kekurusan dll), kita bakalan mudah menjudge kekurangan fisik orang lain.  Jadinya ketika diri kita tidak bisa menerima kekurangan atau kelebihan diri maka akan susah menerima kekurangan orang lain. Hal itu membuat sulit terjalin hubungan yang sehat. Kebanyakan  diantara kita mencari makna self love. Namun, seringkali mencintai diri sendiri dianggap egois karena lebih mementingkan kebahagiaan pribadi.  Padahal, dalam Islam, self love justru memiliki makna yang lebih dalam: menjaga diri, mengembangkan potensi, dan menjadi manusia yang bermanfaat. Baca juga: Teladan Mulia Nabi Memberantas Korupsi dalam Islam untuk Menegakkan Keadilan Self Love Wujud Cinta Kepada Allah Mencintai diri dalam Islam merupakan sikap mencintai Allah. Hal itu telah dipertegas dalam hadis Qudsi yang populer di kalangan sufi. “Barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.”(Yahya bin Muadz Ar-Razi

Read More
korupsi dalam Islam

Teladan Mulia Nabi Memberantas Korupsi dalam Islam untuk Menegakkan Keadilan

Surabaya – 1miliarsantri.net: Beberapa bulan ini pemberitaan di sosial media maupun televisi diramaikan dengan kasus korupsi yang diluar nalar dan kemanusiaan. Bayangkan korupsi telah merajalela di birokrasi haji bahkan nahasnya di lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi berakhlak mulia. Tak bisa dipungkiri jika para pemimpin rakyat saja korupsi, maka tindakan itu bisa menyulut praktik serupa di lapisan masyarakat bawah. Korupsi akhirnya dianggap “biasa”, padahal sesungguhnya ia adalah penyakit yang menghancurkan keadilan. Di sinilah pentingnya kita menengok kembali teladan Nabi Muhammad. Bagaimana beliau bersikap tegas terhadap segala bentuk pengkhianatan amanah, bahkan sekecil jarum sekalipun. Semoga teladan beliau menjadikan pondasi bertindak adil dan  anti korupsi dalam dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Korupsi dalam Pandangan Islam Dalam bahasa Arab, istilah yang mendekati korupsi adalah ghulul (penggelapan harta amanah). Allah berfirman: وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ اَنْ يَّغُلَّۗ وَمَنْ يَّغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۚ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ Artinya: Tidak layak seorang nabi menyelewengkan (harta rampasan perang). Siapa yang menyelewengkan (-nya), niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang diselewengkannya itu. Kemudian, setiap orang akan diberi balasan secara sempurna sesuai apa yang mereka lakukan dan mereka tidak dizalimi. (Ali Imran:161)

Read More
FOMO dalam Islam

Bolehkah FOMO dalam Islam? Intip Hukumnya di sini Yuk Biar Lebih Bijak!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Pernahkah kamu merasa gelisah ketika tidak ikut tren yang sedang ramai dibicarakan? Misalnya, ketika semua temanmu sudah mengganti foto profil dengan latar tertentu, menghadiri konser viral, atau mencoba makanan yang sedang hits, lalu kamu merasa ada yang “kurang” dalam hidupmu? Fenomena inilah yang disebut FOMO (Fear of Missing Out). Dalam konteks kekinian, FOMO dalam Islam menjadi tema yang penting dibicarakan. Sebab, rasa takut tertinggal bisa menjadi jebakan yang melelahkan, tetapi juga dapat berubah menjadi dorongan positif bila diarahkan pada hal-hal yang benar. Hakikat FOMO dan Kaitannya dengan Kehidupan Sehari-hari Sebelum memahami lebih dalam, mari kita bahas terlebih dahulu apa itu FOMO. FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yang artinya rasa takut tertinggal atau kehilangan momen yang dialami orang lain. Di era media sosial, FOMO semakin terasa karena hampir setiap saat kita melihat orang lain memamerkan pengalaman, pencapaian, atau tren terbaru. Dalam psikologi, FOMO sering disebut sebagai bentuk kecemasan sosial. Gejalanya mulai dari tidak bisa lepas dari ponsel, terus-menerus memeriksa notifikasi, hingga merasa minder saat tidak bisa mengikuti tren yang sedang ramai. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa membuat produktivitasmu menurun dan pikiran terasa penuh dengan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Namun, dalam pandangan Islam, FOMO tidak sekadar gejala sosial biasa. FOMO dalam Islam mengajarkan kita untuk memilah: mana yang termasuk kesia-siaan, dan mana yang bisa menjadi ladang amal. FOMO Sebagai Ancaman

Read More
merawat orang tua sakit

Diangkat Dari Kisah Nyata! Ini Tantangan Tak Terduga Dalam Merawat Orang Tua Sakit!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Seiring usia lanjut, orang tua pasti mengalami penurunan kesehatan. Cepat atau lambat, setiap anak akan menghadapi situasi di mana mereka harus merawat orang tua yang sakit.  Sakitnya orang tua di usia senjabukan sekedar sakit ringan, tapi bisa berupa penyakit serius yang membutuhkan pendampingan penuh. Terkadang proses sembuh lama bahkan tak ada harapan untuk sembuh. Merawat orang tua sakit bukan sekadar tugas, tetapi perjalanan panjang yang sarat tantangan dari sisi emosional, finansial, waktu, hingga kesehatan mental.  Islam sendiri telah memberi pedoman agar anak tetap sabar dan berbakti selama merawat orang tua sakit. Hal itu juga karena merawat orang tua juga memiliki tantangan yang tidak main-main, seperti jenis tantangan yang akan kita jelaskan di bawah ini: 1. Ujian Kesabaran Menghadapi Orang Tua yang Rewel Saat sakit, orang tua sering kali menjadi lebih sensitif dan muncul sifat kekanak-kanakannya. Penulis pernah ada di posisi merawat bapak stroke setengah badan. Ada satu momen yang masih membekas, saat itu habis membersihkan rumah dan menyelesaikan deadline kerja (WFH), bapak minta makan. Lalu berusaha menyuapi makanan, karena bapak nggak sanggup makan sendiri. Tiba-tiba bapak ngomel karena makannya tidak hangat dan terasa tidak enak. Hingga akhirnya ketika suapan kedua, bapak menolak dan menumpahkan piring yang aku pegang. Jujur saat itu hati terasa ngilu, hembusan nafas amarah muncul, mata pun berair dan rasanya mau memecahkan piring. Tapi apa daya, hanya bisa membersihkan tumpahan itu. Dan langsung ke kamar untuk shalat, saat sujud baru bisa melampiaskan teriakan amarah karena lelah menghadapi rewelnya bapak. Untuk bisa mengendalikan emosi itu karena ingat firman Allah dalam surat  Al-Isra’ ayat 23: وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Read More