hukum khalwat

Hukum Khalwat Menurut Al Qur’an dan Hadist! Muslim Wajib Paham dan Waspada Diri!

Mayoritas ulama sepakat bahwa khalwat dilarang dalam Islam Bandung – 1Miliarsantri.net – Di tengah kesibukan kerja, studi, hingga hubungan sosial zaman sekarang, isu khalwat (خلوة) atau berduaan antara laki-laki dan perempuan non-mahram sering jadi pertanyaan besar bagi banyak Muslim. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam soal hukum khalwat ini? Apa batasannya? Dan bagaimana cara menerapkannya di era digital seperti sekarang? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Artinya, khalwat bukan sekadar soal duduk berdua di ruang tertutup, tapi juga terkait kondisi yang membuka peluang munculnya fitnah atau godaan. Apa Itu Khalwat? Secara bahasa, khalwat berarti menyendiri atau menyepi. Bahkan, dalam makna spiritual, khalwat bisa berarti menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ sendiri pernah melakukan khalwat di Gua Hira sebelum turunnya wahyu. Nabi Musa ‘alaihis-salam juga melakukan khalwat dengan beribadah dan berdoa, begitu pula Maryam ‘alaihas-salam yang menyendiri untuk beribadah. Namun, ketika konteksnya laki-laki dan perempuan non-mahram, khalwat punya hukum berbeda. Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, maka setanlah yang menjadi orang ketiganya.” (HR. Tirmidzi) Inilah sebabnya ulama menegaskan bahwa berduaan yang benar-benar tertutup, tanpa bisa dilihat atau dimasuki orang lain, sangat berbahaya bagi iman dan bisa membuka jalan dosa. Khalwat di Zaman Sekarang Nah, tantangannya makin besar di era modern. Banyak yang bertanya: Para ulama menjelaskan bahwa khalwat baru terjadi jika: Jadi, ngobrol lewat grup, bertemu di ruang publik, atau berdiskusi di kelas terbuka tidak termasuk khalwat. Tapi tetap, adab Islam harus dijaga dan bicara seperlunya, menundukkan pandangan, dan menjaga batasan. Baca juga: Memasak jadi Ibadah? Yuk Terapin Halal Home Cooking dari Sekarang! Contoh Kasus dari Al-Qur’an Kisah Nabi Yusuf ‘alaihis-salam jadi pelajaran penting. Beliau pernah digoda istri pembesar Mesir yang menutup pintu rapat-rapat. Allah ﷻ abadikan kisah ini dalam Al-Qur’an: ﴿وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۖ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ﴾ “Dan perempuan yang tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya. Ia menutup pintu-pintu rapat-rapat lalu berkata: ‘Marilah mendekat kepadaku.’ Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah! Sesungguhnya tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.’” (QS. Yusuf: 23) Kisah ini menunjukkan betapa bahayanya khalwat, bahkan untuk seorang nabi sekalipun. Baca juga: Lagi Jalan-jalan? Awas! Jangan Sampai Paspor Ada di Koper Kabin, Ini Alasannya! Khalwat dalam Konteks Modern Untuk bisa terus berjaga-jaga diri, cobalah memahami konteks khalwat yang ada di zaman modern, dan sudah sering terjadi di lingkungan kita sehari-hari: Komunikasi antar lawan jenis sebaiknya seperlunya. Kalau bisa, pilih ruang publik seperti perpustakaan atau kelas terbuka. Banyak lembaga Islam juga memasang pembatas di ruang belajar agar lebih terjaga. Meeting bisa dilakukan di ruang kaca atau tempat umum. Kalau makan siang bersama tim, selama suasana terbuka dan bukan berduaan saja, insyaAllah tidak termasuk khalwat. Komunikasi boleh lewat chat atau video call, tapi sebaiknya ada wali yang di-CC atau ikut memantau. Kalau bertemu, pilih tempat umum seperti restoran atau museum, bukan ruang tertutup. Hati-hati dengan DM, komentar, atau obrolan tanpa tujuan jelas. Tanyakan pada diri sendiri, “perlu nggak aku ngobrol ini?” Kalau sekadar basa-basi, lebih baik ditahan. Khalwat bukan sekadar aturan kaku, tapi bentuk perlindungan Allah untuk menjaga kehormatan dan keselamatan kita. Islam bukan ingin menyulitkan, tapi justru menjaga kita dari fitnah dan dosa yang bisa berawal dari hal kecil. Dengan memahami batasan khalwat lewat Al-Qur’an, Sunnah, dan nasihat para ulama, kita bisa tetap berinteraksi dengan lawan jenis secara sehat, profesional, dan tetap sesuai syariat. Semoga bermanfaat! Penulis : Zeta Zahid Yassa Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi sumber: muslimmatters.org

Read More
Paspor

Lagi Jalan-jalan? Awas! Jangan Sampai Paspor Ada di Koper Kabin, Ini Alasannya!

Bandung 1Miliarsantri.net – Paspor adalah dokumen paling penting saat bepergian ke luar negeri. Tanpa paspor, seorang traveler bisa kesulitan melewati imigrasi, bahkan terancam ditolak masuk ke negara tujuan. Karena itu, menyimpan paspor dengan aman adalah hal yang wajib diperhatikan setiap Muslim yang melakukan safar. Banyak orang beranggapan aman-aman saja menyimpan paspor di koper kabin. Padahal, pakar perjalanan menegaskan bahwa itu kesalahan besar. Apalagi bila koper kabin harus dititipkan di bagasi mendadak (gate-check) karena aturan maskapai. Lalu, apa bahayanya dan bagaimana sebaiknya Muslim traveler menyikapinya? Yuk, kita cari tahu bersama melalui penjelasan di bawah ini! 1. Risiko Tertahan di Imigrasi Proses imigrasi biasanya dilakukan sebelum penumpang bertemu kembali dengan bagasi. Jika paspor berada di koper kabin yang dititipkan, Anda bisa ditolak masuk, dikenai denda, atau kehilangan penerbangan lanjutan. Dalam Islam, safar bukan sekadar perjalanan, tapi juga amanah. Menjaga dokumen penting seperti paspor berarti menjaga amanah agar perjalanan tetap lancar dan bernilai ibadah. Baca juga: Meningkatnya Perceraian, Benarkah Menikah Itu Menakutkan atau Jalan Terbaik Untuk Ibadah? 2. Ancaman Kehilangan & Pencurian Meski jarang disadari, pencurian di dalam pesawat memang terjadi. Jika koper kabin disimpan jauh dari pandangan, risiko kehilangan meningkat. Bahkan yang lebih sering terjadi adalah lupa mengambil barang di kabin karena terburu-buru. Paspor adalah tanggungan pribadi kita yang wajib dijaga. 3. Menghindari Masalah Biaya & Waktu Kehilangan paspor bukan hanya memakan biaya besar untuk mengganti, tapi juga memerlukan waktu panjang untuk mengurus dokumen baru. Dalam perjalanan, hal ini bisa merusak tujuan safar, baik itu untuk ibadah, bisnis, maupun wisata. Menaruh paspor di tempat aman adalah bentuk ikhtiar untuk menghindari mudarat. Baca juga: Memasak jadi Ibadah? Yuk Terapin Halal Home Cooking dari Sekarang! 4. Simpan Paspor Dekat dengan Diri Solusi paling aman adalah menyimpan paspor di tas kecil yang selalu melekat di tubuh, misalnya sling bag, belt bag, atau tas selempang dengan resleting. Jangan letakkan di saku terbuka. Dengan begitu, paspor mudah dijangkau saat melewati pemeriksaan, naik pesawat, atau di pos imigrasi. Ini sesuai dengan ajaran Islam tentang ihtiyath (kehati-hatian), agar sesuatu yang penting tidak hilang atau merugikan. Perjalanan seorang Muslim seharusnya tidak hanya aman secara fisik, tapi juga memberi ketenangan batin. Dengan menjaga paspor di tempat yang benar, kita bukan hanya menghindari masalah teknis, tetapi juga menjaga nilai safar sebagai ibadah yang diridhai Allah SWT. Semoga bermanfaat! Penulis : Zeta Zahid Yassa Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi sumber : https://www.travelandleisure.com/why-you-should-never-put-your-passport-in-your-carry-on-11752877

Read More
liburan

Jangan Lupkan Hal Ini Ketika Liburan! Dijamin Perjalanan Lebih Menyenangkan!

Bandung – 1Miliarsantri.net – Bagi seorang Muslim, perjalanan (safar) untuk liburan bukan sekadar berpindah tempat, tapi juga bagian dari ibadah. Rasulullah SAW bahkan memberi banyak adab safar, mulai dari doa keluar rumah hingga menjaga akhlak dan kebersihan selama perjalanan. Namun, salah satu hal yang sering terlupakan ketika akan bepergian adalah di mana kita menaruh koper saat menginap di hotel. Meski terlihat sepele, ternyata hal ini berhubungan erat dengan kebersihan, kesehatan, bahkan keberkahan safar kita. Dan selain itu, agar perjalanan lebih menyenangkan dan tetap dapat pahala, maka ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan, seperti: 1. Kebersihan Sebagian dari Iman Islam menekankan pentingnya menjaga kebersihan, baik badan, pakaian, maupun tempat. Rasulullah SAW bersabda: “Kebersihan itu sebagian dari iman.” (HR. Muslim). Meletakkan koper di lantai hotel yang penuh jejak sepatu, kotoran, atau bekas tumpahan, bisa membuat pakaian kita ikut tercemar. Padahal, pakaian yang kita kenakan bukan hanya untuk jalan-jalan, tapi juga untuk shalat. Menjaga kebersihan koper berarti menjaga pakaian tetap suci agar ibadah tidak terganggu. Baca juga: Wujud Cinta kepada Allah! Self Love dalam Islam Sangat Dianjurkan! 2. Hindari Najis dan Hal yang Mengganggu Shalat Lantai hotel, terutama yang berkarpet, bisa menyimpan banyak hal najis atau kotoran yang tak kasat mata. Jika koper kita terkena itu lalu pakaian di dalamnya terkontaminasi, bisa jadi tanpa sadar kita shalat dengan pakaian yang kotor. Dalam fiqih, kebersihan pakaian termasuk syarat sah shalat. Dengan menghindari lantai, kita sudah menjaga agar ibadah tetap sah dan terjaga dari hal-hal yang merusak. 3. Waspada “Penumpang Gelap” yang Merugikan Kutu kasur (bed bugs) atau serangga kecil sering bersembunyi di lantai dan bisa masuk ke koper. Jika terbawa pulang, bukan hanya merepotkan, tapi juga bisa mengganggu ketenangan rumah. Islam mengajarkan agar rumah menjadi tempat yang bersih, nyaman, dan menenangkan hati untuk beribadah. Membawa pulang hama tentu berlawanan dengan itu. Baca juga: Keutaman Syukur Bagi Umat Islam! Jangan Sampai Lalai, Ya! 4. Menjaga Barang Aman dan Tertib Rasulullah SAW mencontohkan kerapian dalam segala hal. Menaruh koper di tempat yang semestinya, seperti rak, lemari, atau bahkan bathtub jika darurat, yang merupakan bentuk tanzhim (pengaturan) agar barang lebih aman, terjaga, dan tidak tercecer. Barang yang tertata rapi juga memudahkan kita saat bersiap shalat, tidak membuat waktu habis mencari perlengkapan ibadah yang tercampur dengan pakaian lain. Sampai di sini, maka kita wajib sadar bahwa perjalanan seorang Muslim bukan hanya perjalanan biasa, tapi juga harus membawa manfaat, pengalaman baru, sekaligus menjaga hubungan dengan Allah SWT. Dengan langkah kecil seperti tidak meletakkan koper di lantai hotel, kita bukan hanya melindungi barang, tapi juga menjalankan nilai-nilai Islami: kebersihan, ketertiban, dan kehati-hatian. Semua itu membuat safar terasa lebih berkah dan menenangkan. Semoga informasinya bermanfaat! Penulis : Zeta Zahid Yassa Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi sumber : https://www.travelandleisure.com/why-you-shouldn-t-leave-luggage-on-hotel-floors-11794220

Read More
syukur

Keutaman Syukur Bagi Umat Islam! Jangan Sampai Lalai, Ya!

Bandung – 1Miliarsantri.net – Pernahkah kamu merasa suasana hati langsung berubah hanya karena satu ucapan sederhana, “terima kasih”? Rasa syukur kecil bisa membuat hidup terasa lebih ringan. Dalam Islam, syukur bukan sekadar sopan santun, melainkan kekuatan besar yang memengaruhi emosional, sosial, dan spiritual kita. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an: ﴿لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ﴾ “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7). Janji ini menunjukkan bahwa syukur membuka pintu keberkahan hidup, bukan hanya harta, tetapi juga ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah. Makna Syukur dalam Islam Syukur berarti mengakui nikmat Allah dengan hati, lisan, dan perbuatan. Hati yang bersyukur membuat kita sadar bahwa semua kebaikan datang dari-Nya. Dari sinilah tumbuh ketenangan, iman yang kuat, dan rasa dekat dengan rahmat Allah. Sebaliknya, kufur nikmat menjadikan hati keras, gelap, dan jauh dari keberkahan. Inilah yang sering dijadikan celah oleh syaitan, dengan menanamkan rasa iri, dengki, serta ketidakpuasan. Baca juga: Wujud Cinta kepada Allah! Self Love dalam Islam Sangat Dianjurkan! Manfaat Syukur bagi Kehidupan Mengapa kita diwajibkan untuk bersyukur? Karena dengan bersyukur, kita akan mendapatkan beberapa manfaat, seperti: 1. Menenangkan Hati dan Pikiran Dengan bersyukur, fokus kita bergeser dari kekurangan menuju kelimpahan. Setiap pagi saat mengucap alḥamdulillāh, hati lebih ringan, dan hari terasa penuh semangat. 2. Meningkatkan Iman dan Kedekatan dengan Allah Syukur memperkuat keyakinan bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Hal ini menumbuhkan cinta, tawakal, dan kerendahan hati dalam beribadah. 3. Menjadi Perisai dari Bisikan Syaitan Syaitan berusaha melemahkan manusia dengan menumbuhkan rasa iri dan tidak puas. Dengan syukur, hati terlindung dari penyakit tersebut. 4. Memberi Dampak Psikologis Positif Penelitian modern membuktikan bahwa orang yang rajin bersyukur lebih bahagia, tenang, dan sehat secara mental. Mereka juga memiliki hubungan sosial yang lebih harmonis. 5. Menyebarkan Energi Positif ke Sekitar Syukur itu menular. Saat kita menghargai orang lain, energi positif ikut menyebar dan membuat suasana lebih hangat serta penuh kebersamaan. Baca juga: Memasak jadi Ibadah? Yuk Terapin Halal Home Cooking dari Sekarang! Cara Melatih Syukur dalam Kehidupan Sehari-Hari Dan agar lebih mudah untuk melatih syukur, yuk mari kita terapkan beberapa cara di bawah ini untuk tetap istiqomah melatih syukur tiap hari: Dengan langkah kecil ini, hati lebih lapang, hubungan lebih erat, dan iman semakin kuat. Jadikan Syukur sebagai Gaya Hidup Syukur dalam Islam bukan sekadar ucapan, tetapi latihan, pilihan, dan ibadah. Setiap kali kita mengucap alḥamdulillāh dan menghargai nikmat yang ada, kita sedang membangun hidup penuh keberkahan. Sebaliknya, kufur nikmat hanya menutup pintu rahmat Allah. Mulai sekarang, mari biasakan melihat sekitar, temukan nikmat sekecil apa pun, lalu ucapkan syukur. Dengan begitu, Allah akan menambahkan kebaikan bukan hanya pada apa yang kita miliki, tapi juga pada siapa diri kita menjadi. Semoga informasi ini bermanfaat, dan membuat kita selalu istiqomah dalam menjaga syukur! Penulis : Zeta Zahid Yassa Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi sumber : https://www.islamicity.org/105610/the-ripple-of-gratitude-how-thankfulness-transforms-your-life/

Read More
halal home cooking

Memasak jadi Ibadah? Yuk Terapin Halal Home Cooking dari Sekarang!

Bandung – 1miliarsantri.net: Pernahkah terpikir kalau dapur rumahmu bisa jadi tempat ibadah? Bayangkan, setiap kali mengupas bawang dengan niat baik, menyebut nama Allah sebelum memasak, hingga menyajikan makanan dengan penuh cinta, semua itu bisa bernilai pahala. Inilah konsep halal home cooking, sebuah tren yang makin banyak digemari muslim di berbagai belahan dunia. Banyak orang menganggap halal itu sekadar tidak makan babi, tidak minum alkohol, atau memastikan daging sudah disembelih sesuai syariat. Padahal, dalam Al-Qur’an, halal selalu berdampingan dengan kata ṭayyib (طَيِّب), yang artinya suci, baik, dan penuh kebaikan. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 168: يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168) Artinya, makanan halal bukan hanya tentang “boleh dimakan,” tapi juga harus tayyib, tidak merusak tubuh, tidak mencemari lingkungan, tidak berasal dari penipuan, dan tidak diproduksi dengan cara yang zalim. Baca juga: Teladan Mulia Nabi Memberantas Korupsi dalam Islam untuk Menegakkan Keadilan Mengapa Halal Home Cooking Semakin Populer? Kini, makin banyak muslim yang mulai berhati-hati dengan makanan. Meski restoran halal semakin banyak, kepercayaan sering goyah. Ada yang memakai daging halal tapi dimasak di panggangan yang sama dengan bacon, atau restoran cepat saji yang masih diragukan pemasoknya. Karena itulah, banyak keluarga muslim memilih kembali ke dapur. Dengan memasak sendiri, mereka bisa lebih tenang: tahu asal bahan, memastikan semua halal, dan mengawali masakan dengan bismillah. Selain lebih aman, ini juga jadi sarana mendidik anak-anak. Anak belajar bahwa halal bukan cuma label, tapi juga gaya hidup dan nilai yang dijalani setiap hari. Jujur saja, halal home cooking butuh usaha ekstra. Harus teliti baca label, mengenal kode bahan tambahan seperti E120 (pewarna dari serangga), memastikan keju tidak mengandung rennet haram, bahkan terkadang rela meninggalkan es krim favorit karena kandungan emulsifier yang meragukan. Tapi, setiap usaha itu bernilai ibadah. Ketika niatnya untuk Allah, membaca label pun bisa jadi zikir. Membersihkan peralatan masak agar bebas najis juga menjadi bagian dari menjaga ṭaharah (kesucian). Salah satu sunnah yang jarang dihidupkan kembali adalah memberi makan orang lain. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa memberi makan tetangga, menjamu tamu, atau berbagi makanan sederhana sekalipun adalah amalan besar. Baca juga: Meningkatnya Perceraian, Benarkah Menikah Itu Menakutkan atau Jalan Terbaik Untuk Ibadah? Dengan halal home cooking, setiap orang bisa menghidupkan sunnah ini. Bayangkan, semangkuk sup buatan rumah yang dibagikan ke tetangga atau makanan sederhana untuk tamu bisa membawa keberkahan yang luas. Inilah sisi paling indah dari halal home cooking, yakni memasak bisa menjadi ibadah. Ketika setiap potongan sayur dipersiapkan dengan dzikir, ketika hati dipenuhi syukur saat masakan jadi, atau ketika anak-anak belajar arti halal lewat hidangan keluarga, semua itu menjadikan dapur rumah sebagai ruang spiritual. Rasulullah ﷺ sendiri pernah membantu pekerjaan rumah, termasuk menyiapkan makanan. Jadi, memasak bukan sekadar pekerjaan domestik, tapi juga bagian dari meneladani sunnah beliau. Penulis : Zeta Zahid Yassa Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi sumber : https://www.halaltimes.com/what-is-halal-home-cooking/

Read More
Perceraian

Meningkatnya Perceraian, Benarkah Menikah Itu Menakutkan atau Jalan Terbaik Untuk Ibadah?

Surabaya – 1miliarsantri.net: Beberapa waktu lalu di media sosial berseliweran  kabar perceraian beauty vlogger Tasya Farasya. Dia sering mewarnai konten kecantikan dengan tampilan yang anggun bak bidadari, karirnya melejit dan keluarga harmonis. Kehidupannya  sangat diidamkan oleh banyak netizen. Namun nyatanya rumah tangga berakhir di meja pengadilan. Bagi penulis yang berada di usia produktif untuk menikah, jadi overthinking untuk menikah. Bahkan muncul dialog-dialog dilematis “Kalau artis sekelas Tasya  yang cantik, mandiri saja bisa bercerai, bagaimana dengan kita yang biasa-biasa saja?. Pertanyaan itu wajar muncul, hingga akhirnya berkembang jadi ketakutan, dan timbullah tag line menikah itu menakutkan. Tapi apakah benar menikah itu menakutkan?. Fitrah Manusia untuk Mencintai Di era meningkatnya perceraian, membuat banyak orang bertanya-tanya, pentingkah menikah kalau akhirnya menderita.  Padahal dalam fitrahnya, pernikahan adalah kebutuhan manusia. Ia menjadi wadah untuk menyalurkan hasrat dengan cara yang aman, menjaga kelangsungan generasi, dan menumbuhkan kasih sayang.  Selain itu Islam memandang pernikahan bukan sekadar formalitas sosial, melainkan ibadah. Rasulullah pernah bersabda: “Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang sudah sanggup untuk menikah, maka hendaklah ia menikah. Karena menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Namun siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat meredakan syahwatnya.” (HR. Bukhari No. 4703) Hadis itu memberikan perspektif bahwa menikah adalah jalan terbaik untuk menyalurkan fitrah syahwat manusia. Islam tidak menutup mata terhadap kebutuhan biologis, justru memberikan jalan yang terhormat agar manusia tidak terjerumus pada zina. Puasa pun disediakan sebagai alternatif pengendalian diri bagi yang belum mampu menikah. Disisi lain dalam Al-Qur’an memberikan perspektif bahwa pernikahan adalah bentuk untuk memenuhi kebutuhan psikologis kasih sayang. وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ Artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. Ayat ini memberi pesan bahwa pernikahan adalah tanda kasih sayang Allah. Rumah tangga yang dibangun di atas mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang) akan menjadi tempat berlabuh dari kerasnya kehidupan. Namun jika nilai-nilai itu luntur, maka pernikahan bisa kehilangan ruhnya. Di balik perceraian selebriti di media sosial, kita sebaiknya kembali berefleksi bahwa pernikahan bukan sekadar tren sosial atau simbol status. Menikah adalah fitrah, ibadah, dan jalan kasih sayang. Baca juga: Yuk Cobain! Bisnis Sampingan (Side Hustle) Halal Ini Bikin Dompet Tebal Tanpa Takut Riba! Teladan Rasulullah Menikah itu Mendamaikan Dibalik banyaknya berita menikah itu menakutkan, masih ada realitas menikah itu memberikan ketenangan seperti yang pernah dialami oleh Aisyah yang ditanyai oleh Urwah. “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah jika ia bersamamu di rumah?”. Aisyah menjawab: “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya; ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.” (HR. Ibnu Hibban) Dari hadist diatas jadi belajar bahwa dalam menjalani biduk rumah tangga dibutuhkan saling kerjasama antara istri dan suami dalam mengurus kehidupan agar terasa lebih mudah/tidak membebani. Dan dalam membangun keharmonisan tidak selalu ditunjukkan lewat hal besar, tapi bisa seperti sikap Nabi Muhammad yang memberikan kepedulian terhadap hal kecil sehari-hari. Aisyah juga meriwayatkan: “Bahwa Rasulullah tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, tidak pada perempuan (istri), tidak juga pada pembantu, kecuali dalam perang di jalan Allah. Nabi ﷺ juga ketika diperlakukan sahabatnya secara buruk tidak pernah membalas, kecuali kalau ada pelanggaran atas kehormatan Allah, maka ia akan membalas atas nama Allah.” (HR. Muslim No. 6195) Hadis ini mengajarkan bahwa rumah tangga harus dibangun dengan kasih sayang, bukan kekerasan. Rasulullah tidak pernah menjadikan tangan sebagai alat untuk melukai, melainkan untuk menebar kelembutan. Cinta yang Menguatkan Sejarah mencatat banyak pasangan yang menjadikan pernikahan sebagai jalan berkarya dan tumbuh bersama menjadi manusia seutuhnya. Pasangan Habibie dan Ainun menjadi simbol cinta sejati  yang selalu setia hingga maut memisahkan. Habibie, yang dikenal sebagai ilmuwan besar, selalu menyebut Ainun sebagai mata air kehidupannya. Hingga akhirnya, ketika Ainun berpulang, Habibie tetap setia menunggu pertemuan di akhirat. Ada pasangan Hanung Bramantyo dan Zaskia Mecca yang saling mendukung dalam kebaikan. Ada satu cerita ketika Zaskia terjun menjadi relawan di negeri konflik. Hanung tidak menghalangi, justru memberi izin dengan doa dan restu karena ia percaya kebaikan istrinya adalah bagian dari jalan hidup mereka bersama. Ada pula Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, merupakan pasangan yang saling bertumbuh dalam karya. Mereka berdua berkolaborasi  menulis novel yang sering best seller bahkan difilmkan dan menjadi inspirasi banyak orang untuk lebih mengenal Allah dan islam. Keharmonisan mereka hadir bukan semata dari cinta, melainkan dari semangat berbagi visi dan misi hidup. Kisah rumah tangga mereka membuktikan memberikan sudut pandang baru bahwa  pernikahan bisa menjadi energi yang melahirkan banyak kebaikan. Baca juga: Wujud Cinta kepada Allah! Self Love dalam Islam Sangat Dianjurkan! Jadi, Apakah Menikah Masih Menakutkan? Memang benar, angka perceraian meningkat. Memang benar, ada pernikahan yang penuh luka. Tapi itu bukan alasan untuk takut menikah. Justru, Islam mengajarkan kita menyiapkan diri dengan iman, memilih pasangan dengan bijak, dan meneladani akhlak Rasulullah. Menikah bukan sekadar status, melainkan ibadah yang menyelamatkan. Ia wadah kasih sayang, tempat belajar sabar, dan jalan melahirkan generasi penerus yang lebih baik. Penulis : Iftitah Rahmawati Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
Self Love dalam Islam

Wujud Cinta kepada Allah! Self Love dalam Islam Sangat Dianjurkan!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Di tengah tekanan hidup, standar sosial yang tinggi, dan pandangan orang lain yang kerap membuat kita ragu pada diri sendiri/tidak mencintai diri sendiri.  Dampak  ragu pada diri sendiri akan membuat potensi diri kurang semangat, membuat diri insecure terhadap penilaian orang lain, dan merasa menjadi manusia yang tidak berguna. Bahkan pada level tertentu bisa membuat diri mudah meremehkan orang lain. Misalnya ketika diri insecure dengan fisik (kegendutan, kekurusan dll), kita bakalan mudah menjudge kekurangan fisik orang lain.  Jadinya ketika diri kita tidak bisa menerima kekurangan atau kelebihan diri maka akan susah menerima kekurangan orang lain. Hal itu membuat sulit terjalin hubungan yang sehat. Kebanyakan  diantara kita mencari makna self love. Namun, seringkali mencintai diri sendiri dianggap egois karena lebih mementingkan kebahagiaan pribadi.  Padahal, dalam Islam, self love justru memiliki makna yang lebih dalam: menjaga diri, mengembangkan potensi, dan menjadi manusia yang bermanfaat. Baca juga: Teladan Mulia Nabi Memberantas Korupsi dalam Islam untuk Menegakkan Keadilan Self Love Wujud Cinta Kepada Allah Mencintai diri dalam Islam merupakan sikap mencintai Allah. Hal itu telah dipertegas dalam hadis Qudsi yang populer di kalangan sufi. “Barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.”(Yahya bin Muadz Ar-Razi Pernyataan itu memperkuat logika bahwa Allah menciptakan manusia secara sempurna dengan penuh kasih sayang. Ketika kita menghargai ciptaan-Nya (diri sendiri, orang lain atau makhluk hidup), berarti kita sudah mencintai Allah. Begitupun ketika kita meremehkan ciptaan-Nya, secara tidak langsung kita menyepelekan Allah. Tugas kita sebagai manusia yang sudah dianugerahi Allah dengan tubuh, jiwa, dan akal yang sempurna itu maka kita wajib  merawat dan mengembangkan diri, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Al-Qur’an menegaskan: وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِۗ وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ Artinya: “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (Luqman: 12) Rasa syukur inilah yang mendorong seorang muslim untuk terus belajar, bekerja, dan berkarya yang bukan semata demi diri sendiri  melainkan agar ilmunya, karyanya, dan tenaganya dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Dan dalam Islam self love bukanlah soal memanjakan diri berlebihan atau hidup sesuka hati. Imam Al-Ghazali pernah berpesan ”menyayangi diri berarti menyelamatkan diri dari azab Allah dengan menjauhi dosa, bertaubat, beramal saleh, dan ikhlas sebelum menyelamatkan orang lain.” Artinya self love  bukan berhenti pada kepentingan pribadi, melainkan jalan untuk membangun pribadi yang kuat, sehat, dan siap berbuat baik bagi orang lain. Baca juga: Me Time Ala Islam! Nggak Cuma Santai, Tapi Bisa Jadi Ladang Pahala! Dari Self Love Menuju Kebermanfaatan Sosial Banyak yang salah kaprah menganggap self love sama dengan egois. Egois hanya memikirkan diri, sementara self love yang benar adalah upaya menghargai, mengembangkan, dan memaksimalkan potensi diri agar lebih bermanfaat. Seperti ungkapan dr. Grace (dokter yang fokus ke health and live motivator), “Self love yang benar adalah yang bukan narsis dan egois, namun lebih ke bagaimana cara kita untuk mengembangkan potensi diri agar dapat berkontribusi positif ke orang lain.” Islam memandang setiap mukmin sebagai agen kebaikan di bumi. Self love menjadi pondasi penting agar seseorang mampu melaksanakan perannya. Ketika seseorang belajar mencintai diri maka ia tidak lagi sibuk dengan rasa iri dengki, insecure melainkan fokus mengembangkan kapasitas untuk menebar manfaat. Rasulullah SAW bersabda:  “Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan karena setiap perkaranya itu baik. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR. Muslim). Hadis ini menggambarkan bagaimana self love mengarahkan seorang muslim untuk bersyukur dan bersabar. Dua sikap yang membuatnya mampu bertahan sekaligus berkontribusi dalam setiap keadaan. Self love dalam Islam bukanlah tentang egois, melainkan langkah awal untuk mengembangkan diri agar siap memberi manfaat. Dengan mencintai diri, kita belajar menjaga amanah Allah, mensyukuri setiap nikmat, serta memaksimalkan potensi untuk kebaikan bersama. Self love sejati adalah ketika cinta pada diri membuat kita semakin dekat kepada Allah dan semakin besar kontribusi kita bagi masyarakat. Inilah jalan menuju kebahagiaan yang hakiki. Penulis : Iftitah Rahmawati Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
korupsi dalam Islam

Teladan Mulia Nabi Memberantas Korupsi dalam Islam untuk Menegakkan Keadilan

Surabaya – 1miliarsantri.net: Beberapa bulan ini pemberitaan di sosial media maupun televisi diramaikan dengan kasus korupsi yang diluar nalar dan kemanusiaan. Bayangkan korupsi telah merajalela di birokrasi haji bahkan nahasnya di lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi berakhlak mulia. Tak bisa dipungkiri jika para pemimpin rakyat saja korupsi, maka tindakan itu bisa menyulut praktik serupa di lapisan masyarakat bawah. Korupsi akhirnya dianggap “biasa”, padahal sesungguhnya ia adalah penyakit yang menghancurkan keadilan. Di sinilah pentingnya kita menengok kembali teladan Nabi Muhammad. Bagaimana beliau bersikap tegas terhadap segala bentuk pengkhianatan amanah, bahkan sekecil jarum sekalipun. Semoga teladan beliau menjadikan pondasi bertindak adil dan  anti korupsi dalam dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Korupsi dalam Pandangan Islam Dalam bahasa Arab, istilah yang mendekati korupsi adalah ghulul (penggelapan harta amanah). Allah berfirman: وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ اَنْ يَّغُلَّۗ وَمَنْ يَّغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۚ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ Artinya: Tidak layak seorang nabi menyelewengkan (harta rampasan perang). Siapa yang menyelewengkan (-nya), niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang diselewengkannya itu. Kemudian, setiap orang akan diberi balasan secara sempurna sesuai apa yang mereka lakukan dan mereka tidak dizalimi. (Ali Imran:161) Yang perlu kita renungkan kembali bahwa perjalanan manusia tidak berhenti hanya di dunia. Manusia akan dikembalikan ke akhirat, entah itu neraka dan surga. Mungkin saat ini dunia, kejahatan kita tidak berdampak buruk, tapi jangan sampai menyesal jika di hari kiamat maupun akhirat semua perbuatan jahat akan dibalas dengan hal setimpal. Pada surat Ali Imran  menegaskan bahwa pengkhianatan terhadap amanah, sekecil apa pun, akan dimintai pertanggungjawaban. Baca juga: Bolehkah FOMO dalam Islam? Intip Hukumnya di sini Yuk Biar Lebih Bijak! Sikap Tegas Nabi terhadap Korupsi Bayangkan suasana saat itu, ketika kaum Muslim baru saja memenangkan peperangan di Khaibar. Rampasan perang yang terkumpul begitu banyak, lalu Rasulullah ﷺ menunjuk beberapa sahabat untuk membagi dan mengelola harta tersebut. Semua orang menunggu dengan sabar, karena mereka yakin Rasulullah ﷺ adalah teladan keadilan. Namun, dari sekian banyak sahabat yang diberi tugas, ada seorang bernama Ibnul Lutbiyah. Ia pulang membawa bagian untuk umat, tetapi juga menyimpan sebagian untuk dirinya. Ia beralasan, “Ini bukan bagian dari rampasan, melainkan hadiah pribadi yang diberikan kepadaku.” Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, wajah beliau berubah. Dengan suara lantang, beliau mengumpulkan kaum Muslimin dan bersabda: “Mengapa ada orang yang kami tugaskan, lalu ia berkata: ‘Ini untukmu, dan ini hadiah untukku?’ Mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya, lalu lihatlah apakah ia akan diberi hadiah atau tidak?” (HR. Bukhari dan Muslim) Suasana hening. Semua yang hadir memahami pesan Rasulullah ﷺ: seorang pemimpin atau pejabat publik tidak boleh mencampuradukkan amanah umat dengan kepentingan pribadi. Apa yang disebut “hadiah” itu sejatinya adalah bentuk korupsi. Nabi ﷺ tidak menutup mata, apalagi mencari alasan pembenaran. Beliau menegur dengan tegas di hadapan banyak orang, agar menjadi pelajaran bagi siapa pun yang diberi amanah. Bagi Rasulullah ﷺ, keadilan tidak boleh ditawar, meski pelakunya adalah sahabat dekat sekalipun. Sikap ini menunjukkan betapa seriusnya beliau menjaga integritas. Rasulullah ﷺ ingin memastikan bahwa masyarakat Muslim tumbuh dengan budaya jujur dan adil, bukan budaya kompromi terhadap kecurangan. Nabi Muhammad juga pernah bersabda “Barang siapa yang kami tugaskan untuk mengerjakan suatu urusan, lalu ia menyembunyikan jarum atau lebih, maka itu adalah ghulul (penggelapan). Ia akan datang pada hari kiamat dengan membawanya.” (HR. Muslim) Hadis ini menunjukkan betapa seriusnya Nabi menegaskan larangan terhadap segala bentuk korupsi, bahkan sekecil jarum sekalipun. Baca juga: Diangkat Dari Kisah Nyata! Ini Tantangan Tak Terduga Dalam Merawat Orang Tua Sakit! Refleksi Diri Korupsi adalah racun yang merusak sendi-sendi kehidupan. Rasulullah telah menunjukkan teladan, bahwa kejujuran dan ketegasan adalah kunci menjaga amanah. Mari kita renungkan, setiap rupiah yang dikorupsi bukan hanya merugikan negara, tetapi juga mengurangi hak orang miskin, jamaah haji, dan generasi muda yang haus pendidikan. Seperti cahaya Nabi yang tak pernah padam, semoga kita mampu menyalakan pelita kejujuran di hati sendiri. Sebab memberantas korupsi bukan hanya tugas hukum, melainkan juga jihad moral bagi setiap muslim. Penulis : Iftitah Rahmawati Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
FOMO dalam Islam

Bolehkah FOMO dalam Islam? Intip Hukumnya di sini Yuk Biar Lebih Bijak!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Pernahkah kamu merasa gelisah ketika tidak ikut tren yang sedang ramai dibicarakan? Misalnya, ketika semua temanmu sudah mengganti foto profil dengan latar tertentu, menghadiri konser viral, atau mencoba makanan yang sedang hits, lalu kamu merasa ada yang “kurang” dalam hidupmu? Fenomena inilah yang disebut FOMO (Fear of Missing Out). Dalam konteks kekinian, FOMO dalam Islam menjadi tema yang penting dibicarakan. Sebab, rasa takut tertinggal bisa menjadi jebakan yang melelahkan, tetapi juga dapat berubah menjadi dorongan positif bila diarahkan pada hal-hal yang benar. Hakikat FOMO dan Kaitannya dengan Kehidupan Sehari-hari Sebelum memahami lebih dalam, mari kita bahas terlebih dahulu apa itu FOMO. FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yang artinya rasa takut tertinggal atau kehilangan momen yang dialami orang lain. Di era media sosial, FOMO semakin terasa karena hampir setiap saat kita melihat orang lain memamerkan pengalaman, pencapaian, atau tren terbaru. Dalam psikologi, FOMO sering disebut sebagai bentuk kecemasan sosial. Gejalanya mulai dari tidak bisa lepas dari ponsel, terus-menerus memeriksa notifikasi, hingga merasa minder saat tidak bisa mengikuti tren yang sedang ramai. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa membuat produktivitasmu menurun dan pikiran terasa penuh dengan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Namun, dalam pandangan Islam, FOMO tidak sekadar gejala sosial biasa. FOMO dalam Islam mengajarkan kita untuk memilah: mana yang termasuk kesia-siaan, dan mana yang bisa menjadi ladang amal. FOMO Sebagai Ancaman FOMO dalam Islam bisa menjadi ancaman jika rasa takut tertinggal itu hanya berhubungan dengan dunia dan kesenangan sesaat. Bayangkan, kamu rela begadang demi tidak ketinggalan live streaming artis, merasa iri saat melihat teman traveling ke luar negeri, atau bahkan stres karena tidak punya barang branded yang sama dengan orang lain. Islam menegaskan, sifat iri dan membandingkan diri secara berlebihan dapat merusak jiwa. Allah berfirman dalam Q.S. An-Nisa ayat 32: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain…” Ayat ini menegaskan bahwa kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain hanya akan membawa kegelisahan. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan, iri hati dapat mengikis pahala seperti api yang melahap kayu bakar. Jadi, jika FOMO hanya membuatmu sibuk mengejar tren tanpa arah, ia justru menjadi sumber penderitaan. Baca juga: Udah Coba Belum? 7 Kebiasaan Sehat Islami Ini Bikin Hidup Kamu Lebih Bahagia Lho! FOMO Sebagai Motivasi Meski berbahaya, FOMO dalam Islam tidak selalu bernuansa negatif. Jika diarahkan dengan benar, FOMO bisa menjadi motivasi untuk berbuat baik. Misalnya, takut tertinggal dalam menuntut ilmu, merasa rugi jika melewatkan shalat berjamaah, atau ingin selalu terlibat dalam kegiatan sosial. Habib Jafar pernah menyebutkan, FOMO bisa menjadi energi spiritual bila diorientasikan pada amal shalih. Allah berfirman dalam Q.S. At-Taghabun ayat 16: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” Ayat ini mengajarkan kita untuk bersemangat mengikuti perkembangan, namun tetap dalam batas kemampuan dan ketakwaan. Dengan begitu, FOMO tidak lagi menjadi beban, melainkan dorongan agar kamu terus tumbuh dalam hal positif. Mengubah Pengalaman FOMO Menjadi Jalan Spiritual Ada banyak kisah nyata bagaimana FOMO bisa diarahkan pada kebaikan. Misalnya, saat seseorang melihat konten tentang jamaah umroh yang membagikan makanan di Tanah Suci, lalu timbul perasaan, “Aku juga ingin melakukan hal yang sama.” Rasa takut ketinggalan itu kemudian berubah menjadi semangat berbagi, hingga melahirkan kebahagiaan batin. Di sinilah letak perbedaannya. FOMO pada tren dunia sering kali hanya menghasilkan kelelahan, sementara FOMO dalam ibadah justru membawa kedamaian. Saat kamu merasa takut tertinggal dalam amal shalih, itulah tanda bahwa jiwa sedang diarahkan menuju ridha Allah. Baca juga: Yuk Cobain! Bisnis Sampingan (Side Hustle) Halal Ini Bikin Dompet Tebal Tanpa Takut Riba! Bijak Menyikapi FOMO dalam Islam Pada akhirnya, FOMO dalam Islam adalah pengingat bagi kita semua. Jika ia membuatmu sibuk mengejar dunia, maka hati akan lelah tanpa henti. Tetapi jika ia membuatmu takut tertinggal dalam kebaikan, maka itu adalah motivasi yang mendekatkanmu kepada Allah. Kamu tidak perlu ikut semua tren hanya demi pengakuan. Yang lebih penting adalah bagaimana memastikan diri tidak tertinggal dalam perjalanan menuju Tuhan. Karena ketenangan sejati tidak datang dari kepuasan dunia, melainkan dari ketulusan dalam berlomba-lomba melakukan kebaikan. Penulis : Iftitah Rahmawati Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
merawat orang tua sakit

Diangkat Dari Kisah Nyata! Ini Tantangan Tak Terduga Dalam Merawat Orang Tua Sakit!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Seiring usia lanjut, orang tua pasti mengalami penurunan kesehatan. Cepat atau lambat, setiap anak akan menghadapi situasi di mana mereka harus merawat orang tua yang sakit.  Sakitnya orang tua di usia senjabukan sekedar sakit ringan, tapi bisa berupa penyakit serius yang membutuhkan pendampingan penuh. Terkadang proses sembuh lama bahkan tak ada harapan untuk sembuh. Merawat orang tua sakit bukan sekadar tugas, tetapi perjalanan panjang yang sarat tantangan dari sisi emosional, finansial, waktu, hingga kesehatan mental.  Islam sendiri telah memberi pedoman agar anak tetap sabar dan berbakti selama merawat orang tua sakit. Hal itu juga karena merawat orang tua juga memiliki tantangan yang tidak main-main, seperti jenis tantangan yang akan kita jelaskan di bawah ini: 1. Ujian Kesabaran Menghadapi Orang Tua yang Rewel Saat sakit, orang tua sering kali menjadi lebih sensitif dan muncul sifat kekanak-kanakannya. Penulis pernah ada di posisi merawat bapak stroke setengah badan. Ada satu momen yang masih membekas, saat itu habis membersihkan rumah dan menyelesaikan deadline kerja (WFH), bapak minta makan. Lalu berusaha menyuapi makanan, karena bapak nggak sanggup makan sendiri. Tiba-tiba bapak ngomel karena makannya tidak hangat dan terasa tidak enak. Hingga akhirnya ketika suapan kedua, bapak menolak dan menumpahkan piring yang aku pegang. Jujur saat itu hati terasa ngilu, hembusan nafas amarah muncul, mata pun berair dan rasanya mau memecahkan piring. Tapi apa daya, hanya bisa membersihkan tumpahan itu. Dan langsung ke kamar untuk shalat, saat sujud baru bisa melampiaskan teriakan amarah karena lelah menghadapi rewelnya bapak. Untuk bisa mengendalikan emosi itu karena ingat firman Allah dalam surat  Al-Isra’ ayat 23: وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” Ayat ini menegaskan bahwa kesabaran dalam menghadapi sikap orang tua, bahkan ketika mereka rewel karena sakit adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. 2. Tantangan Finansial yang Berat Tidak sedikit keluarga yang kesulitan dengan biaya pengobatan. Saat bapak di diagnosa stroke dan jantung lemah, dokter menyarankan operasi ring jantung dengan biaya ratusan juta rupiah.  Saat itu tidak memiliki BPJS, asuransi kesehatan atau tabungan. Hal itu membuat keluarga hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Allah agar diberi keajaiban atau kemudahan. Atas izin Allah, bapak terlepas dari masa kritis itu. Walaupun tidak jadi operasi, Allah  masih diberi kesempatan hidup beberapa tahun. Sungguh Maha Besar Allah kepada hambanya yang lemah dan meminta pertolongan. Dari situ sebagai seorang anak mulai sadar untuk mengurus BPJS bahkan menyisihkan uang untuk tabungan darurat untuk kesehatan bapak.  Teringat Dulu orang tua masih sehat, ketika anaknya sakit, apapun dikorbankan orang tua. Kini giliran anak berjuang untuk kesembuhan orang tua, walau sungguh berat ujian ini. Rasulullah SAW bersabda:  “Cukuplah seseorang berdosa bila ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud) Hadis ini menegaskan pentingnya tanggung jawab anak, termasuk dalam aspek finansial. Kalau meniatkan kerja untuk orang tua, insyaallah ada saja rezeki datang tak disangka dan di waktu tak terduga. Baca juga: Wow Ini Daftar Masjid Terbesar di Dunia! No 1 Paling Indah! 3. Membagi Waktu Antara Studi, Bekerja dan Merawat Orang Tua Sakit Membagi waktu juga menjadi tantangan besar. Pernah suatu kali bapak masuk ICU tepat saat ujian praktik kuliah semester delapan. Tragedi itu membuat bimbang antara mengurus ayah atau menunda kuliah. Namun setelah shalat malam, muncul energi baru untuk menyelesaikan tugas di sela-sela kelelahan. Alhamdulillah tahun 2019 (sebelum covid)  bisa lulus kuliah tepat waktu dan bisa melihat bapak senyum bangga atas kelulusan anaknya. Dan ketika mulai berkarir pun setelah pulang kerja berusaha pulang tepat waktu, meminimalisir untuk nongkrong. Pulang kerja sibuk menyuapi, bersih-bersih, mengaji bareng dan mengajak ngobrol bapak agar tidak kesepian. Mungkin merawat orang tua membatasi aktivitas. Tapi hal itu lebih baik daripada menanggung rindu ketika orang tua tiada.  Rasulullah SAW pernah bersabda tentang pentingnya berbakti kepada orang tua bahkan dibanding jihad yang diriwayatkan di hadis HR. Bukhari dan Muslim. Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Ia bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Ia bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Hadis ini memberi gambaran bahwa mendampingi orang tua, bahkan saat kita sibuk dengan studi atau pekerjaan, tetap menjadi amal besar yang tidak boleh diabaikan. Baca juga: Me Time Ala Islam! Nggak Cuma Santai, Tapi Bisa Jadi Ladang Pahala! 4. Stres dan Kelelahan Menghadapi Keputusasaan Merawat Orang Tua Merawat orang tua sakit yang tak kunjung sembuh dapat menimbulkan kelelahan fisik dan mental.  Ada masa ketika bapak terlihat diam, putus asa, dan enggan melakukan terapi. Kondisi ini membuat keluarga yang merawat ikut kehilangan semangat. Pernah suatu kali, penulis memberanikan diri curhat melalui DM kepada Ayu Kartika Dewi, seorang aktivis toleransi yang juga mantan staf khusus Presiden Jokowi. Beliau terkenal   responsif dan friendly kepada followernya.  Waktu itu curhat seputar keputusasaan merawat bapak yang tak kunjung sembuh.  Beliau membalas DM dengan kalimat yang berhasil mengisi kekosongan hati penulis saat itu:  “Merawat orang tua yang menua dan sakit memang bukan urusan sederhana, apalagi jangka panjang. Kalau kamu dan Ibu lelah, coba gantian ‘cuti’ beberapa hari supaya ada jeda istirahat. Karena kita tidak bisa menuang dari teko yang kosong. Kita harus cukup kuat supaya bisa menopang orang lain.” Pesan ini membuka mata, bahwa kesehatan mental anak yang merawat juga harus dijaga. Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda:  “Sesungguhnya tubuhmu punya hak atasmu.”(HR. Bukhari) Artinya, anak tidak boleh mengabaikan dirinya sendiri. Menjaga emosi, beristirahat, bahkan mencari waktu sejenak untuk mengisi ulang energi adalah bagian dari ibadah. Sebab, bagaimana mungkin bisa memberi semangat pada orang tua yang sakit kalau diri sendiri sudah kehabisan tenaga? Merawat orang tua sakit memang melelahkan, terasa seperti perjalanan panjang tanpa ujung. Namun dibalik letih itu, ada pelajaran berharga, tentang kesabaran yang ditempa, tentang cinta yang diuji,…

Read More