Lebih dari Sekadar Tradisi! Sejarah Makan Bubur Asyura Ternyata Penuh Makna

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Saat tanggal 10 Muharram tiba, banyak masyarakat Indonesia, terutama umat Muslim, mempersiapkan sebuah hidangan spesial bernama bubur Asyura. Namun, tahukah Anda bahwa makan bubur Asyura bukan sekadar soal menyantap makanan tradisional? Di balik kelezatannya yang khas, tersimpan nilai-nilai historis, spiritual, dan sosial yang begitu dalam. Makan bubur Asyura ternyata merupakan bagian dari ritual penuh makna yang diwariskan sejak zaman Nabi Nuh AS dan terus dilestarikan hingga kini. Apa sebenarnya yang membuat bubur ini begitu istimewa? Mari kita telusuri lebih jauh sejarah dan filosofi di balik tradisi makan bubur Asyura, melalui penjelasan berikut. Asal Usul dan Sejarah Makan Bubur Asyura Makan bubur Asyura tidak muncul begitu saja. Tradisi ini bermula dari kisah luar biasa Nabi Nuh AS saat menghadapi banjir besar yang melanda seluruh bumi. Setelah air surut dan kapal Nabi Nuh bersandar di atas Gunung Judi, beliau bersama para pengikutnya mengumpulkan sisa bahan makanan yang ada di kapal. Semua bahan itu dimasak bersama menjadi bubur sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan yang diberikan Allah SWT. Sejak saat itu, umat Islam mengenang momen penting ini setiap tanggal 10 Muharram dengan membuat dan makan bubur Asyura. Di Indonesia, tradisi makan bubur Asyura berkembang seiring dengan masuknya Islam ke berbagai wilayah. Di Aceh, misalnya, ulama-ulama pada abad ke-16 menyebarkan ajaran Islam sekaligus memperkenalkan nilai sosial melalui kegiatan memasak dan berbagi bubur Asyura. Bubur ini bukan hanya makanan, melainkan simbol ajaran Islam yang menekankan pentingnya syukur, berbagi, dan kebersamaan. Makna yang Terkandung dalam Tradisi Makan Bubur Asyura Makan bubur Asyura bukan hanya urusan perut. Tradisi ini memuat banyak nilai dan pelajaran berharga yang dapat memperkuat spiritualitas serta hubungan sosial antarindividu dalam masyarakat. 1. Simbol Rasa Syukur Momen makan bubur Asyura adalah kesempatan bagi umat Muslim untuk mengingat dan mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat hidup, keselamatan, dan rezeki yang diberikan. Seperti halnya Nabi Nuh dan para pengikutnya yang bersyukur setelah selamat dari banjir besar, tradisi ini menjadi pengingat bahwa dalam setiap cobaan selalu ada berkah yang patut disyukuri. 2. Menjalin Kebersamaan Proses pembuatan bubur Asyura biasanya melibatkan banyak orang. Di sinilah tercipta kebersamaan yang erat antar anggota keluarga, tetangga, bahkan komunitas. Makan bubur Asyura secara bersama-sama menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan harmonis. Kegiatan ini pun sering kali disertai dengan doa bersama atau pengajian, menambah nilai spiritual dalam kebersamaan tersebut. 3. Semangat Gotong Royong Nilai gotong royong sangat terasa dalam tradisi makan bubur Asyura. Setiap orang membawa bahan makanan, ikut serta dalam proses memasak, hingga membagikannya kepada orang lain. Ini mencerminkan kuatnya rasa kepedulian dan tanggung jawab sosial dalam masyarakat. Makan bubur Asyura menjadi momen untuk saling membantu, mempererat persaudaraan, dan menciptakan solidaritas sosial. 4. Wujud Kepedulian dan Berbagi Tradisi membagikan bubur Asyura kepada tetangga atau masyarakat sekitar menggambarkan pentingnya saling berbagi, khususnya kepada mereka yang membutuhkan. Dalam ajaran Islam, berbagi rezeki kepada sesama adalah bentuk ibadah yang mulia. Makan bubur Asyura mengajarkan bahwa nikmat makanan tidak akan lengkap tanpa adanya kepedulian terhadap orang lain. 5. Simbol Keberagaman dalam Harmoni Uniknya, bubur Asyura dibuat dari beragam bahan seperti biji-bijian, kacang-kacangan, sayuran, hingga rempah-rempah. Keanekaragaman bahan ini melambangkan pluralitas dalam masyarakat yang tetap bisa bersatu dan hidup harmonis. Makan bubur Asyura pun menjadi simbol bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk menciptakan persatuan, melainkan kekayaan yang harus dirawat bersama. Tradisi Makan Bubur Asyura di Berbagai Daerah 1. Kudus Di Kudus, bubur Asyura menjadi bagian dari budaya kuliner yang sarat nilai religi. Masyarakat menyambut 10 Muharram dengan kegiatan memasak bubur secara massal, lalu membagikannya kepada warga sekitar sebagai bentuk syukur dan amal jariyah. 2. Kalimantan Di Kalimantan, makan bubur Asyura dilakukan dalam nuansa kekeluargaan yang sangat kental. Biasanya, keluarga besar berkumpul dan memasak bubur secara bergotong royong. Setelah matang, bubur dimakan bersama sambil memanjatkan doa-doa dan harapan untuk tahun yang lebih baik. 3. Aceh Di Aceh, makan bubur Asyura tidak hanya menjadi kegiatan kuliner, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi. Warga berkumpul di meunasah (surau) atau masjid untuk memasak dan membagikan bubur kepada masyarakat. Tradisi ini tetap dilestarikan dari generasi ke generasi sebagai bentuk pelestarian nilai budaya dan ajaran Islam. Makan bubur Asyura bukan sekadar kebiasaan turun-temurun yang dilakukan setiap 10 Muharram. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan pengingat akan sejarah perjuangan Nabi Nuh AS, simbol rasa syukur atas nikmat Allah, dan wujud kepedulian sosial dalam bingkai kebersamaan. Di tengah modernitas yang semakin mengikis nilai-nilai tradisional, menjaga dan meneruskan tradisi makan bubur Asyura menjadi sangat penting. Karena dari satu mangkuk bubur, kita bisa merasakan hangatnya kebersamaan, nikmatnya berbagi, dan indahnya hidup dalam keberagaman. Penulis : Ainun Maghfiroh Editor : Toto Budiman

Read More

Makna Hijrah di Era Digital, Hijrah Fisik atau Hati?

Surabaya – 1miliarsantri.net : Di era digital dan hiruk pikuk media sosial seperti sekarang, istilah hijrah kembali menggema. Hijrah tidak hanya soal tempat, seperti saat Rasulullah SAW berpindah dari Mekkah ke Madinah. Tetapi lebih pada perubahan sikap, hati, dan arah hidup menuju yang lebih baik. Dimaknai sebagai perjalanan batin dari gelap menuju terang, dari lalai menuju taat.  Fenomena hijrah kini semakin populer di kalangan anak muda. Banyak yang sudah mulai tertarik menggali nilai-nilai Islam, memperbaiki diri, dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang dianggap kurang bermanfaat. Namun muncul pertanyaan kritis, apakah hijrah cukup dilakukan lewat unggahan di sosmed, gaya busana, dan berkumpul bersama komunitas hijrah? Masa kini kita hidup di zaman yang serba canggih. Semua hal bisa diakses dari genggaman tangan lewat smartphone. Informasi agama, ceramah, kajian, bahkan komunitas hijrah bisa ditemukan dengan mudah di media sosial. Tapi di balik kemudahan itu, ada juga tantangan yang besar. Makna hijrah di era digital tidak hanya soal memulai pakai pakaian syar’i atau follow akun dakwah. Lebih dari itu, hijrah hari ini berarti bagaimana kamu bisa menjaga hati dan niat di tengah derasnya arus informasi. Tak jarang hijrah sejati justru terletak pada perubahan hati dan komitmen yang tersembunyi di balik layar. Terkadang kita semangat belajar agama, tapi di waktu yang sama, kita juga tergoda scroll video yang tidak bermanfaat berjam-jam lamanya hingga tak terasa. Itulah kenapa sangat penting bagi kita untuk memahami makna hijrah secara menyeluruh. Hijrah di era digital seperti sekarang ini merupakan perjalanan spiritual yang penuh dengan tantangan. Mungkin kamu tidak berjalan kaki dari satu kota ke kota lain, tapi kamu sedang berjalan dari zona nyaman ke jalan kebaikan yang baru. Mengendalikan jari untuk tidak mengetik komentar yang buruk, menjaga waktu agar lebih produktif, dan menggunakan media sosial untuk menyebar kebaikan. Hal itu semua merupakan bentuk dari hijrah. Jadi, ketika kamu merasa lelah atau kehilangan arah, harus selalu ingat bahwa setiap perubahan yang kecil ke arah yang lebih baik, itu merupakan bagian dari hijrah. Dan semua itu bernilai besar di sisi Allah, asal niatnya lurus. Hijrah Fisik atau Hati? Mana yang Lebih Penting? Ketika balik ke sejarah, hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah tidak hanya soal pindah tempat. Tapi merupakan langkah besar untuk menyelamatkan iman dan menata kehidupan baru yang lebih Islami. Di sinilah pentingnya memahami bahwa makna hijrah tidak selalu soal fisik. Justru, hijrah hati bisa menjadi lebih menantang. Misalnya, kamu bisa saja tampil Islami di luar, tapi masih menyimpan iri, dengki, atau sombong di dalam hati. Sebaliknya, ada juga yang belum berubah penampilan, tapi hatinya terus berusaha dekat dengan Allah. Hijrah hati berarti meniatkan dari hati, pikiran, dan perasaan ke jalan yang benar. Kamu belajar memaafkan kesalahan, belajar sabar, dan mulai menghindari dari hal-hal yang menjauhkan dari Allah. Hal tersebut suatu proses yang tak terlihat, tapi dampaknya luar biasa besar. Makna hijrah yang sesungguhnya adalah ketika fisik dan hati berjalan beriringan. Perubahan dari dhohiriyah tentunya juga penting, tapi akan jauh lebih bermakna jika dibarengi dengan perubahan dari batiniyah. Jadi, jika kamu lagi dalam proses hijrah, jangan terburu-buru untuk menilai diri sendiri atau orang lain hanya dari penampilan. Fokus saja ke niat dan langkah kecil yang kamu ambil setiap hari. Hijrah tidak tentang siapa yang lebih awal memperbaiki diri, tapi siapa yang tetap istiqamah di jalan yang benar. Makna hijrah akan selalu relevan di setiap zaman, termasuk di era digital sekarang ini. Baik itu hijrah dari fisik maupun dari hati, semua terfokus pada keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Media sosial menjelma jadi panggung utama hijrah masa kini. Dari unggahan kajian, kutipan ayat, hingga perubahan penampilan, semuanya bisa diabadikan dan disebarluaskan dalam hitungan detik. Tak sedikit yang merasa lebih dekat dengan agama setelah mengikuti akun-akun dakwah digital. Namun, di balik semua itu, muncul kekhawatiran: apakah hijrah hanya berhenti pada tampilan luar dan eksistensi di dunia maya? Hijrah digital memang mempermudah akses ilmu dan komunitas, tetapi juga mengandung jebakan: riya digital, merasa cukup dengan simbol, atau terjebak dalam tren tanpa pemahaman mendalam. Padahal, hijrah sejati adalah perjalanan berkelanjutan yang menuntut muhasabah diri, perbaikan akhlak, dan komitmen dalam menjalankan perintah Allah, bukan hanya citra diri. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari & Muslim). Inilah yang menjadi kunci utama: hijrah dimulai dari hati. Bukan berarti penampilan dan komunitas tidak penting, tetapi tanpa niat yang lurus dan perubahan dalam diri, semua hanya akan menjadi formalitas. Hijrah hati mencakup kejujuran pada diri sendiri, perjuangan melawan hawa nafsu, dan konsistensi meskipun tanpa sorotan publik. Di sinilah tantangan terbesar era digital: menjaga keikhlasan di tengah dunia yang serba terlihat. Yang perlu diingat, hijrah bukan tujuan akhir tapi perjalanan yang seumur hidup. Kamu boleh capek, boleh jatuh, bahkan boleh ragu, tapi jangan pernah berhenti melangkah. Karena setiap langkah kecil yang diambil menuju Allah, akan ia balas dengan kebaikan yang tak terduga. Jadi, buat kamu yang sedang memaknai hijrah atau baru memulai langkah, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Nikmati prosesnya, pelajari makna hijrah lebih dalam, dan terus perbaiki diri. Semoga hijrahmu bukan sekadar tren, tapi benar-benar jadi titik baik menuju kehidupan yang lebih berkah. Penulis : Iffah Faridatul H Editor : Toto Budiman

Read More

5 Fase Penulisan Al-Qur’an Sejak Masa Rasulullah Hingga Saat Ini

Bekasi – 1miliarsantri.net: Al-Qur’an adalah kalam Allah, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui Malaikat Jibril. Al-Qur’an bukanlah ciptaan manusia, melainkan wahyu illahi yang menjadi pedoman hidup bagi umat manusia, khususnya seluruh umat Islam. Banyak yang bertanya, apakah Al-Qur’an saat ini sama dengan Al-Qur’an saat diterima Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam ataukah berbeda? Baca juga : Investasi Akhirat ‘Bantu Bebaskan Lahan’ Untuk Pondok Pesantren Al Quran Fajar Ashshiddiq Patut diketahui, secara prinsip Isi Al-Qur’an sejak Rasulullah menerima wahyu pertama hingga saat ini adalah sama. Firman Allah yang diterima Nabi Muhammad selama 23 tahun itu tercatat dengan baik dari masa ke masa dan dalam pemeliharaan Allah. “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9). 5 Fase Penulisan Al-Qur’an Sejak pertama kali Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad, terdapat 5 (lima) fase penulisan kitabullah yang perlu dipahami. Tidak ada perbedaan isi Al-Qur’an, yang berbeda hanya cara penulisannya. Fase Pertama: Penulisan Langsung, yang mana penulisan setiap potongan ayat saat itu juga ketika wahyu diturunkan, Rasulullah ﷺ kemudian memanggil para sahabat untuk menuliskan dihadapannya. Ada 4 sahabat nabi yang menuliskan ayat-ayat Allah yang diterima oleh Nabi Muhammad, diantara mereka ada yang merupakan penghafal Al-Qur’an. Para sahabat itu, Zaid bin Tsabit, Muawiyah Ibn Abi Sufyan, Ubaid bin Ka’ab (penghafal qur’an) dan Zubair Nawab. Baca juga : ‘Spirit Mencetak Pemimpin Qurani Menuju Indonesia Emas 2045’, Dipilih Jadi Tema ‘Wisuda Akbar Ke-XI’ Ponpes Darul Hijrah se Jawa Timur Zaid bin Tsabit mengatakan, Rasul mendiktekan Al-Qur’an dan meminta sahabat membaca sesudahnya, lalu Rasulullah mengkoreksi bacaannya/tulisannya. Lalu diijinkan untuk disampaikan kepada sahabat-sahabat dan kaum muslimin Madinah saat itu. Pada fase tersebut, ayat-ayat Qur’an ditulis dalam bentuk potongan pada media seperti pelepah kurma, papan, batu, kulit binatang dan lainnya, belum dalam bentuk buku yang tersusun rapi seperti saat ini. Fase Kedua: Pengumpulan tulisan-tulisan sebelumnya dalam 1 shuhuf, kemudian ditulis ulang dalam lembaran kertas dikumpulkan menjadi satu / mushaf induk. Kegiatan penulisan tersebut dilakukan zaman Abubakar Siddik Radhiyallahu’Anhu (atas saran Umar Bin Khattab Radhiyallahu’Anhu). Baca juga : Ikatan Keluarga Minangkabau ‘IKM’ Ende Buka Taman Pendidikan Al-Qur’an ‘Al Istiqomah’ Fase Ketiga: Disalin Ulang, Mushaf induk zaman Abubakar, mushaf induk tersebut disalin ulang, atau diperbanyak istilah sekarang dicopy menjadi mushaf-mushaf yang banyak. Kegiatan tersebut berlangsung pada masa sahabat Utsman Bin Affan Radhiyallahu’Anhu. Kemudian mushaf-mushaf dikirim atau disebar ke negeri-negeri atau kota-kota kaum muslimin bersama qari yang mutkin (mumpuni keilmuannya). Seperti kota Makkah, Syam, Basyrah, Kuffah dan lainnya. Fase Keempat: Kaum Muslimin Menulis Ulang / Memperbanyak Mushaf. Mushaf yang dikirim dari Madinah bersama qari yang mutkin, misal ketika ada di Syam kemudian diperbanyak lagi / ditulis ulang (disalin) dan berlanjut seterusnya, namun tetap terjaga keasliannya. Baca juga : Gratis! ‘Pelatihan Guru Ngaji’ Pusat AlQuran Indonesia, Terbatas Untuk 100 Orang Fase Kelima: Muncullah Kitab-kitab yang ditulis para Ulama yang memberikan penetapan tentang kekhususan-kekhususan penulisan Qur’an (Ilmu Rasmil Masail). Mushaf meskipun dalam bahasa Arab ada pembahasan kaidah-kaidah antara penulisan dan pembacaannya. misalnya ayat “Maalikiyaumiddin” dalam penulisan tidak ada alif (hanya Mim, Lam, Kaf), namun mim dibaca panjang, ada yang juga yang dibaca pendek. inilah yang disebut kaidah-kaidah penulisan mushaf. Inilah lima fase penulisan Al-Qur’an, semoga artikel ini menjadi salah satu literasi bagi kaum muslimin bahwa Al-Qur’anul Karim ditulis dalam beberapa fase hingga saat ini.** Sumber: Catatan Pribadi Redaksi Dalam Kelas Khusus Tajwid Mushawwar Batch 4, Qothrunnadaa Learning Center (https://qothrunnadaa.id/). Penulis dan Editor : Thamrin Humris Foto : Ilustrasi

Read More

Semangat Koperasi Membangun Dunia yang Lebih Baik

Jakarta – 1miliarsantri.net: Sebuah catatan singkat penuh makna dalam semangat Hari Koperasi Sedunia 5 Juli 2025 dan menjelang Perayaan Hari Koperasi Nasional 12 Juli 2025. Catatan tentang Gerakan Koperasi dengan kekuatan tersembunyinya dan harapan masa depan yang lebih baik. Catatan ini patut dijadikan literasi bagi insan perkoperasian di Indonesia dan dunia, disajikan dengan judul “Semangat Koperasi Membangun Dunia yang Lebih Baik”, oleh seorang wartawan senior dan pegiat/tokoh gerakan koperasi, Irsyad Muchtar. International Day of Cooperatives/CoopsDay Di tengah antusiasme masyarakat koperasi Indonesia merayakan Hari Koperasi Nasional pada bulan ini, tepatnya 5 Juli 2025, para pegiat koperasi di seluruh dunia juga turut memperingati Hari Koperasi Internasional dengan semangat tinggi. Tahun ini, perayaan tersebut mengusung tema yang sangat progresif: “Driving Inclusive and Sustainable Solutions for a Better World — Mendorong Solusi Inklusif dan Berkelanjutan untuk Dunia yang Lebih Baik.” Peringatan Hari Koperasi Internasional (International Day of Cooperatives/CoopsDay) tahun ini menjadi lebih bermakna karena bertepatan dengan perayaan Tahun Koperasi Internasional 2025 yang telah dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tema yang diangkat mencerminkan peran strategis koperasi sebagai penyedia solusi nyata terhadap berbagai tantangan global—mulai dari kemiskinan, krisis iklim, ketimpangan sosial, hingga inklusi ekonomi. CoopsDay 2025 bukan sekadar seremoni simbolik, tetapi menjadi panggilan bagi dunia untuk kembali menyadari kekuatan model usaha koperasi yang berpijak pada solidaritas, partisipasi, dan keberlanjutan. Presiden International Cooperative Alliance (ICA), Ariel Guarco, menyebut CoopsDay 2025 sebagai tonggak penting dalam sejarah gerakan koperasi internasional. “Sekarang adalah waktunya untuk memperkuat dampak kita dan memperluas jangkauan aksi kolektif—yang berakar pada prinsip dan nilai-nilai koperasi. Berkat identitas ini, koperasi tetap kuat secara global dan dapat beradaptasi dengan konteks lokal untuk menawarkan solusi nyata bagi tantangan global,” ujar Guarco. ICA meyakini bahwa koperasi bukan sekadar entitas bisnis, melainkan gerakan berbasis nilai—di mana demokrasi ekonomi, pemerataan kesejahteraan, dan partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan menjadi pondasi utamanya. Di tengah ketidakpastian global, nilai-nilai tersebut terbukti relevan dan mampu memperkuat ketahanan komunitas. Kekuatan Ekonomi yang Tersembunyi Koperasi hadir di hampir semua sektor ekonomi—mulai dari pertanian, keuangan, perdagangan, energi, perumahan, kesehatan, hingga pendidikan. Saat ini, terdapat lebih dari 3 juta koperasi aktif di seluruh dunia yang menyediakan lapangan kerja atau peluang usaha bagi sekitar 280 juta orang, atau sekitar 10% dari populasi global. Selain itu, 300 koperasi terbesar dunia mencatat omzet gabungan mencapai USD 2,4 triliun, menjadikannya kekuatan ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam Laporan Sekretaris Jenderal PBB tahun 2023, koperasi disebut sebagai aktor pembangunan sosial yang berhasil menjangkau kelompok rentan dan memperkuat ketahanan masyarakat. Sekjen PBB António Guterres, dalam pernyataannya pada peluncuran Tahun Koperasi Internasional 2025, menyampaikan bahwa koperasi telah berkontribusi signifikan dalam mengatasi kemiskinan, memperkuat ketahanan pangan, serta membuka akses pasar global bagi pelaku usaha lokal. Perayaan di Tanah Kelahiran Gerakan Koperasi CoopsDay 2025 turut dimeriahkan dengan Festival Koperasi di Manchester dan Rochdale, Inggris—tempat lahirnya gerakan koperasi modern pada abad ke-19. Festival ini diselenggarakan oleh The Co-operative Group dan Co-operatives UK, sekaligus memperingati 130 tahun berdirinya ICA. Beragam kegiatan digelar, termasuk kunjungan ke koperasi-koperasi ikonik seperti FC United of Manchester, Unicorn Grocery, dan Museum Rochdale Pioneers. Acara ini menjadi momen reflektif dan inspiratif yang menunjukkan bahwa semangat koperasi masih menyala terang di tanah kelahirannya—dan terus berkembang ke berbagai penjuru dunia. Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik CoopsDay 2025 mengingatkan kita bahwa koperasi bukan sekadar sistem usaha alternatif, tetapi jawaban konkret atas kebutuhan zaman. Di tengah berbagai tantangan global, koperasi menawarkan solusi yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan. Di tangan gerakan koperasi—dan para anggotanya—tersimpan harapan akan masa depan ekonomi yang lebih adil, hijau, dan manusiawi. Seperti semboyan ICA yang kembali digaungkan tahun ini: “Cooperatives Build a Better World.” Semangat yang didengungkan oleh para pegiat koperasi di Manchester dan Rochdale ini bak angin segar di tengah carut-marut perang tarif global, melambatnya pertumbuhan ekonomi, dan disrupsi di berbagai sektor industri. Semoga semangat ini tak berhenti di jalan, dan mampu sampai ke seluruh penjuru dunia—termasuk ke koperasi-koperasi di Indonesia.** Penulis : Irsyad Muchtar, Pegiat/tokoh gerakan koperasi dan wartawan senior Foto istimewa Editor : Thamrin Humris

Read More

Doa Bukan Sekedar Rutinitas, Ini Peran Doa Dalam Kehidupan

Situbondo – 1miliarsantri.net: Doa dalam Islam merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak hanya sebagai alat untuk mencapai sebuah tujuan, melainkan juga merupakan sebuah cara untuk berkomunikasi antara hamba dengan Allah. Buya Yahya mengatakan bahwa doa merupakan suatu ibadah (mukhul ibadah) yang agung dan penting. Terkadang di tengah kesibukan dan tekanan hidup, kita lupa bahwa ada satu kekuatan sederhana yang efeknya luar biasa, yakni peran doa dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bukan hanya tradisi atau rutinitas yang dilakukan saat butuh saja, doa sebenarnya bisa menjadi jembatan yang menguatkan batin, membimbing langkah, dan memberi ketenangan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Doa tidak hanya tentang kata-kata yang bagus dan seberapa panjang kata-kata yang diucapkan. Melainkan lebih pada seberapa dalam kita membuka hati dan menyambungkan diri dengan Tuhan. Nah, dalam artikel ini, kita membakal dua sisi menarik dari peran doa dalam kehidupan sehari-hari. Apa saja itu mari kita simak bersama! Ketika Hati Penat, Doa Menjadi Tempat Pulang Dalam hidup, kita sering kali terjebak dalam rutinitas yang padat, bangun, bekerja, pulang dan tidur. Lalu terulang lagi besok. Di tengah pola yang terus berputar itu, terkadang hati menjadi lelah. Bukan cuma fisik saja, tapi mental juga ikut terkuras. Di saat seperti itu, kita butuh tempat untuk “pulang”. Doa hadir sebagai pelabuhan jiwa. Sebuah ruang sunyi yang mana kita bisa jujur, tanpa perlu takut dihakimi. Peran doa dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya soal permintaan, tapi lebih dari itu, doa adalah bentuk komunikasi yang intim antara manusia dan Penciptanya. Dalam doa kita bisa membicarakan tentang apa pun, rasa takut, harapan, syukur, bahkan kebingungan. Menariknya, doa bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Tidak perlu menunggu suasana religius atau waktu khusus. Justru ketika kita menjadikan doa sebagai bagian dari keseharian, misalnya seperti sebelum memulai aktivitas, saat menghadapi tantangan, atau bahkan hanya untuk mengucap terima kasih atau rasa syukur karena hari berjalan dengan baik, di situlah kita bisa merasakan kedekatan yang nyata dengan Tuhan. Dan hebatnya, ketika kita telah terbiasa berdoa, kita pun belajar untuk lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih peka terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya penuh makna. Karena doa tidak mengajarkan kita untuk sekedar meminta, tapi juga belajar untuk menerima dan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Doa Sebagai Penyeimbang di Era Yang Serba Cepat Mengingat kita hidup di zaman yang serba cepat. Apa-apa harus instan. Informasi datang tanpa henti. Semua berlomba mengejar target, mimpi, dan pencapaian. Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya “Apa kabar hatiku hari ini? Inilah salah satu alasan mengapa peran doa dalam kehidupan sehari-hari itu penting. Di tengah arus kehidupan yang deras, doa berfungsi sebagai jangkar yang menjaga kita tetap tenang dan tidak hanyut. Ketika dunia luar ramai dan penuh distraksi, doa menciptakan ruang hening yang menenangkan. Doa merupakan ruang hening dalam sujud dan ketika tangan menengadah ke hadapan Allah sang Pencipta dengan harapan dikabulkan segala permohonan dalam kepasrahan, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Mu’min ayat 60, “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” Doa Merawat Kesehatan Mental Bagi banyak orang, doa juga menjadi cara untuk merawat kesehatan mental. Saat anxiety menyerang, pikiran overthinking setiap saat, khawatir atau ketika segalanya terasa tidak pasti, doa bisa menjadi perisai batin yang luar biasa kuat. Bahkan secara psikologis, orang yang rutin berdoa cenderung akan lebih tenang, lebih optimis, dan lebih mampu untuk mengatasi stres. Yang menarik, berdoa bukan berarti menghindar dari kenyataan. Justru sebaliknya, dengan doa, kita diajak untuk menghadapi hidup dengan lebih berani dan penuh kesadaran. Doa bukan alat untuk lari dari hidup itu sendiri, tapi justru menjadi penuntun hidup yang kadang tak terduga arahnya. Bahkan, ketika doa kita belum dijawab atau tidak sesuai harapan, tetap ada pembelajaran besar di dalamnya, baik itu tentang keikhlasan, keteguhan, dan ketenangan. Karena setiap doa yang tulus, pada akhirnya, tanpa disadari akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan berserah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”, QS. Al-Baqarah (2:186). Doa Tidak Mengenal Batas Waktu Dan Tempat Pada akhirnya, hidup memang tidak selalu mudah. Ada kalanya kita merasa sendirian, kecewa, gagal, terpuruk, lelah tanpa alasan atau kesal yang tidak jelas. Tapi, satu hal yang bisa terus menemani dan menenangkan kita ialah doa. Ia tidak mengenal batas waktu dan tempat. Ia tidak menuntut syarat rumit. Ia hanya butuh hati yang terbuka. Peran doa dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya soal rutinitas saja. Lebih dari itu, ia adalah sebuah cara untuk menyambungkan hidup dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Ketika doa menjadi bagian dari keseharian, kita akan merasa lebih tenang, lebih kuat, dan lebih penuh makna. Jadi, jika selama ini doa hanya dijadikan rutinitas yang biasa kita lakukan, mungkin sekarang saatnya memberi ruang lebih untuknya. Karena di balik kesunyian doa, ada kekuatan yang bisa mengubah wajah hidup dari yang penuh tekanan, menjadi perjalanan yang penuh harapan. Mulai dari hari ini coba kita terapkan doa dalam setiap langkah dan aktivitas kehidupan dengan penuh ikhlas dan serius, agar apa yang menjadi tujuan hidup tidak hanya tercapai melainkan membawa berkah dalam kehidupan kita. Coba terapkan dan buktikan sendiri betapa besarnya peran doa dalam kehidupan sehari-hari.** Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Thamrin Humris dan Toto Budiman Foto ilustrasi Meta AI

Read More

In Memoriam ‘KH. Syafi’ Misbah’ Pengasuh PP Alhidayah Ketegan Sidoarjo

Surabaya – 1miliarsantri.net: Gus Mujab sapaan akrab KH. Ahmad Mujab Muthohhar, dalam tulisannya mengisahkan tentang “SOSOK KIAI YANG SEDERHANA”, In Memoriam ‘KH. Syafi’ Misbah’ Pengasuh PP Alhidayah Ketegan Sidoarjo. Mas Syafi’ kami biasa memanggil, beliau masih keluarga istri yang di Ampel Surabaya, sosok yang sangat sederhana, sebagai pengasuh yang membersamai ribuan santri, yang menyebar di beberapa cabang di wilayah Sidoarjo dan Pacet Mojokerto. orang yang pernah sowan beliau pasti tahu bagaimana cara berpakaian, bertutur dan selalu bicara apa adanya tanpa basa basi. KIAI YANG RAJIN SILATURRAHMI Beliau adalah benar-benar diantara kiai yang sangat ringan kakinya melangkah untuk silaturrahmi kepada saudara-saudaranya, para santrinya dan undangan dimanapun, kecuali ada udzur syar’i, yang mengenal beliau pasti tahu bagaimana beliau dalam satu hari bisa di beberapa kota dan bahkan di pondok mau ada acara, beliau masih menyempatkan hadir di undangan-undangan saudara dan santri-santrinya. KIAI TELADAN DALAM MENCETAK KADER DI MASYARAKAT Sudah dua tahun ini, di pondok yang kami rintis bersama istri yaitu Darut Ta’lim Annawawi beliau beri Guru Khidmah. Masih terngiang kalimat yang terucap dari beliau: ” Ayo dek semangat didik santri tak ewangi guru, mbak-mbak santri teko ketegan iso bantu ngajar Kitab di Program Diniyah”. Urusan mencetak kader, beliau ahlinya, semangatnya tak pernah padam dalam memotivasi kami dalam urusan Khidmatul Ummah melalui Thoriqoh Atta’lim Watta’alum, bagi beliau kedua konsep itu untuk santri harus beriringan. TOTALITAS KHIDMAH JAMA’AH HAJI Haji 1446 H ini beliau masih istiqomah berkhidmah kepada Jama’ah haji KBIHU yang beliau pimpin yaitu Assyumaisy, hari ini, Jum’at 10 Dzulhijjah 1446/6 Juni 2025 beliau wafat setelah tuntas Wukuf, Mudzalifah dan Lempar Jumroh Aqobah. Dua hari yang lalu sebelum prosesi Wukuf, kami sempat bersapa, dan akan bertemu setelah prosesi Haji, kebetulan hotel kami tidak berjauhan, tapi hari ini, saat kami juga membersamai tamu-tamu Allah, di group PPIH kloter Jatim ada Info beliau ditimbali kaleh Pengeran. Begitu mulia engkau mas, keihlasanmu dalam melayani tamuNya, totalitasmu dalam berkhidmah kepada tamu-tamuNya disaksikan oleh banyak orang mas, video itu sudah viral, engkau yang secara fisik sudah lelah, capek, masih mendorong jama’ah dengan kursi roda saat menuju jamarot. MasyaAllah. Ya Allah, beliau begitu mulia disisi-Mu, Engkau panggil beliau dalam kondisi masih berihram dan belum sempat berganti baju biasa setelah Tahallul Awal. Engkau ambil beliau disaat beliau setelah menyelesaikan wukuf, yang dalam Sabda kekasih-Mu Dosa-dosa Engkau ampuni semua, dan seperti bayi yang baru lahir dari rahim Ibunya. Mas, dalem bersaksi panjenengan Piyantun sae, masih teringat belum sampai 20 hari lalu, panjenengan menjadi perwakilan keluarga saat prosesi keberangkatn jenazah mertua kami, Ibu Nyai Hj. Iffat Nawawi Ampel, panjenengan Ngimami sholat jenazah, panjenengan ikut mengantarkan ke Pemakaman di Ampel, MasyaAllah….Matur suwun sanget mas. Semoga Allah memberi kedudukan yang mulia di sisi-Nya. Aamiin.*** Penulis : KH. Ahmad Mujab Muthohhar ‘Gus Mujab’, Pengasuh Pondok Pesantren Darut Ta’lim An Nawawi Ampel. Editor : Toto Budiman dan Thamrin Humris Foto istimewa.

Read More

5 Tren Pendidikan Masa Depan yang Harus Diketahui Untuk Menghadapi Perubahan Global Dalam Dunia Pendidikan

Surabaya – 1miliarsantri.net: Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan perkembangan teknologi dan globalisasi yang terus berkembang pesat, dunia pendidikan pun harus ikut beradaptasi dengan perubahan tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwa tren pendidikan masa depan akan sangat berbeda dengan apa yang kita alami saat ini. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami tren-tren tersebut agar dapat menghadapi perubahan global dalam dunia pendidikan dengan lebih siap. 5 Tren Pendidikan Masa Depan Yang Harus Diketahui : 1. Teknologi dalam Pendidikan Penggunaan teknologi dalam pendidikan akan semakin mendominasi di masa depan. Dengan adanya internet dan berbagai aplikasi pembelajaran online, siswa tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu untuk belajar. Guru pun harus mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran mereka agar dapat memfasilitasi proses belajar mengajar yang lebih efektif. Selain itu, teknologi juga dapat membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menarik bagi siswa. 2. Pembelajaran Berbasis Keterampilan Di era digital seperti sekarang ini, keterampilan seperti kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi menjadi sangat penting. Oleh karena itu, pendidikan masa depan harus fokus pada pengembangan keterampilan-keterampilan ini agar siswa dapat siap menghadapi tantangan di dunia kerja yang semakin kompleks. Pembelajaran pun harus lebih berorientasi pada penerapan keterampilan dalam situasi nyata daripada sekadar menghafal teori. 3. Kurikulum Fleksibel Kurikulum pendidikan juga harus menjadi lebih fleksibel agar dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sistem pendidikan yang kaku dan terlalu terpaku pada standar-standar tertentu tidak akan mampu mengikuti perubahan yang begitu cepat. Guru dan sekolah harus lebih terbuka untuk melakukan inovasi dalam kurikulum mereka agar dapat memberikan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan siswa dan dunia kerja. 4. Pembelajaran Kolaboratif Kolaborasi antara siswa, guru, orang tua, dan komunitas menjadi semakin penting dalam pendidikan masa depan. Siswa harus diajarkan untuk bekerja sama, berbagi ide, dan belajar dari satu sama lain. Pembelajaran kolaboratif dapat membantu meningkatkan keterampilan sosial siswa serta mempersiapkan mereka untuk bekerja dalam tim di masa depan. Guru pun harus berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi proses pembelajaran kolaboratif ini. 5. Pendidikan Inklusif Di era globalisasi seperti sekarang ini, pendidikan inklusif menjadi sangat penting. Setiap individu, tanpa terkecuali, harus memiliki akses yang sama terhadap pendidikan yang berkualitas. Guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan inklusif bagi semua siswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Pendidikan inklusif dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih beragam dan toleran. Dengan memahami dan mengikuti tren-tren pendidikan masa depan yang telah disebutkan di atas, kita dapat lebih siap menghadapi perubahan global dalam dunia pendidikan. Guru, orang tua, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan harus bekerja sama untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih adaptif, inklusif, dan relevan dengan tuntutan zaman. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa generasi masa depan akan siap menghadapi tantangan dan peluang di era yang terus berkembang pesat ini. Dalam kesimpulan, penting bagi kita untuk terus memantau perkembangan dunia pendidikan dan mengikuti tren-tren yang sedang berkembang. Dengan mempersiapkan diri dan mengadaptasi pendidikan kita sesuai dengan kebutuhan masa depan, kita dapat menciptakan generasi yang lebih siap menghadapi perubahan global dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Mari kita bersama-sama bekerja menuju masa depan pendidikan yang lebih baik dan lebih inklusif untuk semua. Semoga artikel ini dapat memberikan wawasan dan inspirasi bagi pembaca untuk terus berperan aktif dalam dunia pendidikan.** Penulis = Andriko, S.Pd.I, M.Pd. Penulis merupakan seorang pengelola lembaga pendidikan yang antusias dengan dunia digital, berpengalaman sejak 2013 di bidang digital marketing khususnya untuk pendidikan dan UMKM, serta aktif mengeksplorasi teknologi AI, pengembangan website, dan strategi konten kreatif di media sosial. Editor : Toto Budiman dan Thamrin Humris Gambar istimewa

Read More

Qurban Menggunakan Ayam, Bolehkah? Ini Penjelasan Lengkapnya

Qurban adalah suatu ibadah yang hukumnya sunnah mu’akkad “sunnah yang dikuatkan” bagi orang yang mampu (umat Islam), maka makruh hukumnya meninggalkan ibadah qurban bagi orang yang mampu. Siapakah yang dikatakan “orang yang mampu”? Syaikh Abu Bakar Syattho mengatakan dalam kitabnya ; وَالْمُرَادُ بِهِ مَنْ يَقْدِرُ عَلَيْهَا فَاضِلَةً عَنْ حَاجَتِهِ وَحَاجَة مُمَوَّنِهِ يَوْمَ الْعِيدِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ لِأَنَّ ذَلِكَ وَقْتُهَ “Dan yang dimaksud ‘orang yang mampu’ adalah orang yang mampu berqurban sebagai kelebihan dari kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya pada hari Idul Adha dan hari-hari Tasyrik karena itu merupakan waktu berqurban.” Orang yang mampu adalah orang yang mempunyai kelebihan harta untuk kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya pada hari raya ‘iedhul adha dan hari-hari tasyriq ( 10-13 Dzulhijjah ), maka hukum sunnah mu’akkad berlaku bagi orang tersebut. Hewan Qurban Dan untuk afdholiyyahnya hewan qurban itu ulama’ berbeda pendapat, Imam Malik berpendapat bahwa yang paling utama adalah kambing atau domba, kemudian sapi, lalu unta. Sedangkan Imam al-Syafi’i berpendapat sebaliknya, yaitu yang paling utama adalah unta, disusul kemudian sapi, lalu kambing. Lalu bagaimana dengan orang yang mempunyai kelebihan harta untuk kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya pada hari raya ‘iedhul adha dan hari-hari tasyriq, akan tetapi kelebihan tersebut hanya dapat dibelikan seekor ayam. Apakah masih bisa dikatakan qurban? Dalam menanggapi hal ini, Imam an-Nawawi dalam al-Majmu Syarh Muhadzzab-nya menjelaskan bahwa hewan yang diperbolehkan adalah hanya hewan ternak, yakni unta, sapi dan kambing serta hewan-hewan yang sejenis. Dalam hal ini, Imam an-Nawawi berpedoman pada Al-Qur’an surat al-Hajj ayat 34: وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ Artinya: Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap bahimatul an’am (binatang ternak) yang telah direzekikan Allah kepada mereka. (QS. Al Hajj: 34). Untuk menjelaskan ayat tersebut, Imam an-Nawawi kemudian menyebutkan: فشرط المجزئ في الاضحية أن يكون من الانعام وهي الابل والبقر والغنم سواء في ذلك جميع أنواع الابل من البخاتي والعراب وجميع أنواع البقر من الجواميس والعراب والدربانية وجميع أنواع الغنم من الضأن والمعز وانواعهما ولا يجزئ غير الانعام من بقر الوحش وحميره والضبا وغيرها بلا خلاف Artinya: Syarat diperbolehkannya hewan kurban adalah hewan tersebut merupakan hewan ternak, yaitu unta, sapi dan kambing. Termasuk segala jenis unta, seperti al-bakhati (unta yang memiliki dua punuk) atau al-‘irab (berpunuk satu), juga segala jenis sapi, seperti kerbau, al-‘irab, al-darbaniyah (sapi yang tipis kuku dan kulitnya serta memiliki punuk), begitu juga dengan segala jenis kambing, seperti domba/biri-biri, atau kambing lain. Dan tidak diperbolehkan berkurban selain dengan hewan-hewan ternak yang telah disebutkan, baik berupa hasil kawin silang antara sapi dan keledai ataupun hewan lain. Hal ini tidak diperdebatkan oleh para ulama. (lihat: An-Nawawi, al-Majmū’ Syarḥ Muhazzab, Beirut, Dâr al-Fikr, tt., j. 8, halaman: 392). Dari pernyataan Imam An-Nawawi tersebut sudah dijelaskan bahwa menyembelih kurban selain tiga hewan tersebut dan jenis-jenisnya tidak diperbolehkan. Lalu bagaimana dengan ayam, bukankah ayam termasuk hewan ternak? Bolehkah berkurban dengan ayam? Dalam bahasa Arab, sebenarnya ayam bukanlah termasuk kategori al-an’âm. Dalam beberapa mu’jam Al-Qur’an, seperti Mu’jam Kalimat Al-Qur’an dijelaskan bahwa kata al-anʽâm dalam ayat Al-Qur’an hanya mencakup al-ibil (unta), al-baqar (sapi), dha’n (domba atau biri-biri) dan al-maʽiz (kambing). Namun dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan cukup menyembelih dengan ayam jika tidak memiliki kambing di saat hari raya dan hari tasyrik. Sebenarnya pendapat Ibn Abbas ini dalam konteks aqiqah, namun menurut al-Maidani hukum kurban dalam hal menggunakan ayam diqiyaskan dengan kasus aqiqah. (lihat: al-Baijuri, Hasyiyah al-Baijuri, Beirut, Dâr al-Kutb, 1999, j. 2, halaman: 555). Syaikh Ibrahim al-Bajuri dalam Hasyiyah-nya memaparkan ; وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يَكْفِي إِرَاقَةُ الدَّمِ وَلَوْ مِنْ دَجَاجٍ أَوْ إِوَزٍّ كَمَا قَالَ الْمَيْدَانِيُّ وَكَانَ شَيْخُنَا رَحِمَهُ اللهُ يَأْمُرُ الْفَقِيرَ بِتَقْلِيدِهِ وَيُقِيسُ عَلَى الْأُضِحِيَّةِ العَقِيقَةَ وَيَقُولُ لِمَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ عَقَّ بِالدِّيَكَةِ عَلَى مَذْهَبِ ابْنِ عَبَّاسٍ “Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya qurban itu cukup dengan mengalirkan darah walaupun dari ayam atau angsa sebagaimana yang dikemukakan al-Maidani. Sedangkan guru kami rahimallahu menganjurkan orang fakir untuk bertaklid kepada pendapat tersebut. Beliau menganalogikan aqiqah dengan qurban, dan mengatakan boleh bagi orang yang memiliki anak untuk beraqiqah dengan ayam jantan menurut madzhab Ibnu Abbas.” Diperbolehkan berqurban menggunakan ayam bagi orang yang hanya mampu membeli seekor ayam, karna Sayyidina Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu berpendapat bahwa qurban itu cukup dengan mengalirkan darah walaupun dari seekor ayam atau angsa. Sayyidina Ibnu ‘Abbas dan Sayyidina Bilal Radhiyallahu ‘anhuma adalah dua sahabat nabi yang sering menyembelih ayam pada hari raya ‘iedhul adha dan membagikannya kepada faqir miskin, ما لا يدرك كله لا يترك كله “Bila tidak mampu mendapatkan ( mengerjakan ) semuanya, maka jangan tinggalkan seluruhnya.” Pendapat Gus Baha Kyai Baha’uddin Nursalim, atau yang kerap dipanggil Gus Baha’ menjelaskan mengenai hal ini. Beliau mengatakan bahwa tanggal 10 itu kesunnahanya menyembelih apa saja asal halal, supaya menghilangkan rasa thoma’, karena pada hari itu adalah يوم أكل و شرب hari makan dan minum. Beliau mengatakan demikian karna salah kaprahnya orang-orang saat ini mengenai qurban. Tidak bisa menyembelih kambing malah tidak menyembelih sama sekali dan ini akan menimbulkan sifat thoma’, kalau tidak kebagian jatah daging yang disalahkan panitia. Jadi kalau tidak bisa nyembelih kambing, beli daging sekilo, kalo tidak bisa daging beli ayam, kalo tidak bisa ayam beli lele, yang penting supaya keluarga itu tidak thoma’. Beliau juga mengatakan, ingatlah kaidah fiqih ini; ما لا يدرك كله لا يترك كله “Bila tidak mampu mendapatkan ( mengerjakan ) semuanya, maka jangan tinggalkan seluruhnya.”** Penulis : Imam Zakaria Editor : Thamrin Humris dan Toto Budiman Foto istimewa

Read More

Serba-Serbi ‘Qurban’ Yang Perlu Kamu Ketahui

Surabaya – 1miliarsantri.net: Umat Islam disegenap penjuru bumi bergembira menyongsong Hari Raya Qurban atau Iedul Adha, hari raya yang di dalamnya ada ritual ibadah yang sangat mulia yaitu berqurban, menyembelih hewan qurban terbaik sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, sebagaimana telah dicontohkan dan dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Pengertian Qurban Qurban menurut etimologi diambil dari bahasa Arab قربا-يقرب -قرب   yang artinya “dekat”, sedangkan secara syara’ adalah “Mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya.” Bisa juga dikatakan أضحية  “hewan sembelihan”, sedangkan secara syara’ adalah “Hewan yang dikurbankan pada hari tertentu ( 10-13 Dzulhijjah ) dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Maka kita biasa menyebutnya dengan ‘Iedhul Qurban/’Iedhul Adha. Kapan awal disyariatkannya qurban? Sebenarnya qurban sudah disyariatkan mulai zaman Nabi Adam ‘alaihissalam, yaitu ketika Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan Qobil dan Habil untuk mengkorbankan hartanya. Maka Qobil yang seorang petani dia memberikan hasil panennya yang biasa-biasa saja, sedangkan Habil yang seorang peternak dia memberikan domba ternak terbaik yang dimilikinya. Setelah mereka berkumpul untuk memberikan qurbannya, Allah menerima dan mengangkat qurban yang diberikan oleh Habil ke langit, yang nanti domba ini akan diberikan kepada Nabi Ibrahim ‘alahissalam sebagai ganti putranya ( Nabi Ismail ‘alahisalam ) untuk diqurbankan. Akan tetapi syari’at qurban dengan menyembelih hewan ternak pertama kali ini dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alahissalam atas perintah Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana yang dikisahkan dalam Qs. as-Saffat ayat 102-107. Dan qurban pertama kali disyariatkan kepada ummat Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wasalam pada tahun 2 Hijriyah, bersama dengan sholat ‘Ied dan zakat maal. Hukum berqurban Allah Subhanahu wata’ala berfirman; فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ “Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!” Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wasalam juga bersabda ; عَنْ َأبِي هُرَيْرَة: َأنَّ رَسُوْل اللهِ صلى الله عليه وسلم قال : مَنْ كَانَ لهُ سَعَة وَلمْ يَضَحْ فَلا يَقْربَنَّ مُصَلَّانَا (رواه احمد وابن ماجه) Artinya: “Dari Abu Hurairah, “Rasulullah SAW telah bersabda, barangsiapa yang mempunyai kemampuan, tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami,” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).Maka Syaikh Abu Bakar Syattho mengatakan dalam kitabnya; يسن متأكدا لحر قادر تضحية “Menyembelih hewan qurban itu sunnah mu’akkad bagi orang yang merdeka dan mampu.” Keutamaan berqurban عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا Artinya: “Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya”.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117). Ketentuan Hewan Qurban dan Waktu Penyembelihan Syarat hewan qurban ; – Kambing kibas usia 1 tahun atau yang sudah copot giginya meskipun belum genap setahun- kambing kacang usia 2-3 tahun. – Sapi usia 2 tahun. – Unta usia 5 tahun. Hewan-hewan tersebut tentu harus dalam kondisi yang sehat dan tidak ada cacat sedikitpun, dan hewan qurban disembelih dengan niat qurban karna Allah.Adapun waktu penyembelihan yaitu mulai naiknya matahari tanggal 10 Dzulhijjah sampai akhir dari hari tasyrik ( 13 Dzulhijjah ).** Penulis : Imam Zakaria / @aliif.miiim Editor : Thamrin Humris dan Toto Budiman

Read More

Mauidhoh Hasanah, Sebuah Catatan Tentang Orang Yang Bersabar Dan Dicukupkan Pahala Tanpa Batas

Bekasi – 1miliarsantri.net: Sahabat Fillah Diah Dewi Wiharti, menggoreskan sebuah catatan dengan tema ‘Mauidhoh Hasanah’, dengan judul “Hanya Orang Yang Bersabar Akan Dicukupkan Pahala Tanpa Batas.” Teruntuk saudaraku, Maha Suci Allah yang telah menciptakan rasa bahagia dan rasa sedih. Dua hal yang akan selalu menyertai manusia di dunia hingga ujung kehidupan di akhirat kelak. Allah Azza wa Jalla melarang kita bersedih, وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 139). Sesungguhnya kesedihan di dalam hati dan lemahnya badan hanyalah akan menambah musibah dalam jiwa. Tidak seharusnya seorang muslim itu bersikap lemah dan bersedih hati, karena mereka adalah orang-orang yang paling tinggi keimanannya dan harapan mereka terhadap balasan dari Allah Azza wa Jalla sangat besar. Maka tidak sepantasnya seorang Mukmin yang mengharapkan balasan akhirat dan juga dunia yang telah dijanjikan oleh Allah Azza wa Jalla, untuk bersedih dan lemah. (Taisiru Karimir-Rahman). Kecewa, Sedih Dan Tersakiti Adalah Ketetapan Allah Bukanlah kita tidak boleh bersedih hati atas sesuatu yang telah digariskan-Nya kepada kita, merasa kecewa dan tersakiti, bahkan hal itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Dalam sebuah potongan hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح، ويؤمر بأربع كلمات: بكتب رزقه، وأجله، وعمله، وشقي أم سعيد “…Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan dan kebahagiaannya…” Bukan berarti seorang hamba itu dipaksa untuk menjalani takdir ini, tetapi hal itu menunjukkan bahwa keilmuan Allah Azza wa Jalla itu mencakup segalanya, termasuk kebahagiaan dan kesedihan seorang hamba. Semuanya telah diketahui oleh Allah Azza wa Jalla, dan Allah Azza wa Jalla tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertaqwa… (Syarah hadits ar Ba’in). Tertawa Dan Menangis Allah berfirman dalam Al-Qur’an, Surah An-Najm: 40-44: وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا Syaikh Sa’di menjelaskan ayat tersebut dalam tafsir Taisiru Karimir-Rahman bahwa Allah Azza wa Jalla lah yang menjadikan sebab seseorang itu tertawa dan juga menangis, yaitu kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan kesedihan serta kegalauan dan kesedihan. Dan Allah Azza wa Jalla mempunyai hikmah yang sempurna di dalamnya. Jadikanlah semua itu sebagai cambuk hati untuk lebih mendekatkan diri kepada Rabb yang hati kita itu berada di antara jari-jemari-Nya. Tetap bersabar dengan kesabaran yang indah dalam setiap perkara yang dihadapi, karena Allah Azza wa Jalla tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bersabar dan akan memberikan balasan yang manis atas kesabarannya.. . Sebagaimana dalam firman-Nya, dalam Surah Az-Zumar, ayat 10, قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Rabb-mu’. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Syaikh As Sa’di mengatakan, bahwa ini berlaku umum untuk semua jenis kesabaran. Kesabaran atas takdir Allah Azza wa Jalla sehingga tidak marah dengan apa yang terjadi. Kesabaran atas maksiat dengan tidak melakukannya dan kesabaran dalam ketaatan kepada-Nya dengan menunaikannya… Allah Azza wa Jalla menjanjikan (dan janji Allah Azza wa Jalla itu akan teringat) kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang tiada batas, artinya tidak ada batasan dan ukuran. Hal tersebut dikarenakan keutamaan dan kedudukan sifat sabar di sisi Allah Azza wa Jalla dan hal itu selalu ada dalam setiap perkara…(Tafsir Taisiru Karimir-Rahman). Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menambatkan hati kepada Allah Azza wa Jalla, Dzat Penggenggam Kebahagiaan, Kesedihan dan Pengabul Doa untuk meraih ridha-Nya…Aamiin Ya Rabb.** Sumber : Goresan pena Sahabat Fillah Diah Dewi Wiharti. Ditulis ulang oleh : Oom Komariah Editor : Thamrin Humris Gambar ilustrasi

Read More