Kota Makassar Masuk Kategori Kota Terbahagia di Dunia

Makassar — 1miliarsantri.net : Kota Makassar menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang ditetapkan masuk dalam kategori Kota Terbahagia di dunia berdasarkan Happy City Index. “Satu-satunya dari Indonesia ialah Makassar. Lebih bagus dari beberapa kota di dunia,” ungkap Wali Kota Makassar Moh Ramdhan, Sabtu (22/6/2024). Happy City Index menempatkan Kota Makassar di rangking ke-234 dari 250 kota di seluruh dunia sebagai Kota Terbahagia. Pomanto menyampaikan rasa syukur karena Makassar sudah dapat tiga kategori secara internasional. Pertama City Index pada posisi ke-157 di dunia, kedua Smart City Index posisi ke-115 di dunia, dan ketiga adalah Happiness Index masuk sebagai salah satu dari 250 kota di dunia dari 10 ribu yang dianggap sebagai Kota Terbahagia. Kata Danny, predikat ini sekaligus menepis pandangan Makassar sebagai kota demo dan pandangan lainnya yang tidak terbukti. “Termasuk makin membenarkan survei bahwa Happiness Index Kota Makassar Makassar mencapai 82,9 persen. Artinya ini terbukti secara dunia,” sambungnya. Indeks Kota Terbahagia itu dihitung berdasarkan beberapa indikator, seperti City 207,1, Government 225,8, Economy 322,9, Environment, 230,6, dan Mobility 244,3. Dari semua penilaiannya itu, kota dengan julukan Anging Mammiri ini memperoleh skor 1230,7. (ndro) Baca juga :

Read More

Viral Video Jamaah Haji Meminta Uang Didepan Ka’bah

Mekah — 1miliarsantri.net : Viral beredar video seorang jamaah haji menepuk-nepuk dinding Ka’bah di Masjidil Haram sambil berteriak-teriak “Duit, duit, Ya Allah.” Jamaah yang belum diketahui identitasnya tersebut diduga tengah berdoa meminta uang di hadapan Ka’bah. Sebelumnya, seorang jamaah haji asal Afrika juga kedapatan terekam video tengah berdoa di depan Ka’bah sambil berteriak, “Fulus,fulus.” Ka’bah yang sudah berusia berabad-abad merupakan pusat ritual ibadah haji. Saat mengunjungi Ka’bah, ada sejumlah adab yang harus dilakukan jamaah haji atau umrah di hadapan bangunan kubus yang dibangun Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As tersebut. Dr Thariq As-Suwadan dalam bukunya Rahasia Haji dan Umrah mengungkapkan, setiap kali melihat Kabah, maka hendaknya jamaah haji atau umroh segera mengangkat tangan dan mengucapkan doa: اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شَرّفَهُ وَكَرّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ وَاعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَكْرِيمًا وَتَعْظِيمًا وَبِرًّا “Ya Allah tambahkanlah untuk rumah-Mu ini kemuliaan, keagungan, dan kehormatan serta kewibawaan. Dan tambahkan juga bagi orang-orang yang memuliakannya, mengagungkannya baik mereka yang melakukan ibadah haji atau umroh, dengan kemuliaan keagungan dan kehormatan, serta kebaikan.” Setelah itu kata Dr Thariq boleh dilanjutkan dengan doa apa saja yang disukai demi kebaikan dunia dan akhirat. Inilah Kabah Al Musyarrafah, rumah Allah yang dimuliakannya. Rumah inilah yang menjadi tujuan setiap jamaah haji yang berangkat dari negerinya dengan segenap jiwa. “Jika telah memenuhi panggilan-Nya dan melihat Ka’bah secara langsung dengan mata kepalanya maka harus benar-benar besimpuh bersimpuh kepada-Nya di depan Kabah,” kata dia. Jadikanlah diri kita menghadirkan hatin dan untuk menanamkan keikhlasan yang tulus dalam setiap amalan serta ibadahnya. Agara ketika ada di depan Kabah , semua kerinduan menemui peraduannya, dan tercapailah semua tujuan yang hendak dicapai. “Jadi itulah puncak perpaduan dari kesucian rohani dan lezatnya keimanan di dalam hati,” katanya. Ketika serius bersimpuh kepada Allah di depan Kabah, mereka yang melaksanakan ibadah haji akan merasakannya dengan penuh ketenangan, dan merasakan betapa rahmat Allah sedang bertebaran. Pastinya air mata pun akan menetes membasahi pipi sebagai tanda kesucian atas pertemuan ini. “Dan hari-hari yang dilalui terasa begitu singkat. Setiap saat dan waktu, akan selalu berkeinginan melakukan tawaf dengan penuh ketenangan dan penuh ketundukan kepada Allah,” katanya. Mereka melakukan tawaf dengan hati yang telah tersadarkan, teringat akan segala dosa, tunduk kepada Allah memohon ampunan-Nya, dan berharap agar dia mengasihi dan mengampuni atas segala kelemahan yang dimilikinya. Inilah Kabah, tempat yang paling Agung untuk melakukan peribadatan kepada Allah. “Sebuah tempat yang akan selalu ramai dikunjungi orang terus menerus setia,” katanya. Maka dari itu datanglah ke Kabah dengan penuh keikhlasan dan penuh penguasaan terhadap Allah. Karena itulah yang akan selalu dilakukan orang-orang yang konsisten dengan ajaran agamanya. Ada beberapa tempat tertentu di sekitar Ka’bah, Masjidil Haram, Arab Saudi, yang diyakini memiliki keutamaan khusus untuk berdoa. Jika berdoa di tempat-tempat tersebut, doa tersebut dianggap lebih mudah terkabul. Mantan Mufti Mesir Syekh Ali Jum’ah menguraikan, ada tiga area doa yang dianggap paling mustajab di Masjidil Haram, yaitu Hijr Ismail, Rukun Yamani dan Maqam Nabi Ibrahim. Hijr Ismail yang dimaksud, mengacu pada sebuah area yang berada di bawah talang atau saluran air yang terletak di bagian atas Ka’bah. Namun, Syekh Jum’ah juga menyampaikan, tidak ada dalil yang secara pasti menyatakan bahwa doa di Hijr Ismail itu mustajab. Adapun Hijr Ismail diyakini sebagai tempat doa yang paling mustajab karena banyak jamaah yang melaporkan pengalaman pribadi mereka. Dengan kata lain, keyakinan ini lebih didasarkan pada pengalaman jamaah. Terkait dalil keutamaan Hijr Ismail, mengacu pada beberapa riwayat hadits. Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad bersabda, “Ya Abu Hurairah, di pintu Hijr Ismail ada malaikat yang selalu mengatakan kepada setiap orang yang masuk dan sholat dua rakaat di Hijr Ismail, (lalu) dosa-dosamu telah diampuni. Maka mulailah dengan amalanmu yang baru.” Dalam riwayat lain, dari Aisyah RA, dikatakan bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Sholatlah di sini (Hijr Ismail) jika kamu ingin sholat di dalam Ka’bah, karena ini termasuk sebagian dari Ka’bah.” Riwayat lain menyebutkan, Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Ibnu Abbas RA pernah mendengar, Rasulullah SAW bersabda, “Multazam adalah satu tempat dikabulkannya doa. Tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah SWT di tempat itu, kecuali doanya diterima.” Diriwayatkan dari sebagian ulama bahwa Multazam adalah bagian antara Rukun Yamani dan pintu Ka’bah bagian barat. Hasan Bashri pernah menulis surat untuk orang-orang Makkah. Surat berisi tentang 12 tempat doa paling mustajab di sekitar Ka’bah. Kedua belas itu ialah; ketika Thawaf; ketika di Multazam; di bawah Mizab (talang); di dalam Ka’bah; ketika di sumur Zamzam; ketika di shafa dan marwa; ketika berlari di antara Shafa dan Marwah; Maqam Ibrahim; Padang Arafah; Muzdalifah; Mina; dan ketika melempar Jumrah di tiga tempat. Syekh Maulana Muhammad Zakarriya Al-Kandahlawi memaparkan, di dalam kitab Durrul-Mantsur ada riwayat bahwa tempat mustajab itu adalah Multazam, di bawah Mizab, Rukun Yamani, Shafa, Marwah, tempat di antara Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim, di dalam Ka’bah, Mina, Muzdalifah, Arafah, dan tiga tempat melempar syaitan. Sebagian ulama juga menyebut tempat-tempat lain yang mustajab untuk berdoa. Antara lain ialah ma’thaf (tempat thawaf), ketika memandang Ka’bah, Hathim, dan tempat antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani. Sejatinya seluruh area Tanah Suci Kabah merupakan tempat doa yang paling mustajab terkabul. Saat pertama kali melihat Kabah pun, atau ketika berada di depan pintu Ka’bah, doa yang dipanjatkan menjadi doa yang paling mustajab dikabulkan Allah SWT. Secara ringkas, berdasarkan pemaparan tersebut, berikut ini tempat-tempat yang mustajab untuk berdoa di sekitar Ka’bah: (dul) Baca juga :

Read More

Mekah Sempat Diguyur Hujan

Mekah — 1miliarsantri.net : Kota Makkah Al Mukarramah tepatnya di Mina diguyur hujan setelah sebelumnya sempat muncul peringatan cuaca panas ekstrem yang akan berlangsung pada Senin siang (17/6/2024) waktu Arab Saudi. Hujan berlangsung sekitar pukul 16.00 WAS. Sontak jamaah yang tengah berada di Mina untuk melaksanakan lempar jumrah langsung merayakannya dengan suka cita. Tak sedikit mereka yang langsung melangitkan doa dan bersyukur. Jamaah yang berada di tenda-tenda Mina langsung berlarian keluar dan mereka yang sebelumnya berjalan di tengah terik matahari langsung terdiam, serta membiarkan rintik-rintik hujan menghantam muka mereka. Hujan berlangsung sekitar 15 menit dengan intensitas rendah. Kendati demikian, hujan membuat suhu luar ruangan menjadi tak begitu panas. Sebelumnya, suhu sempat menyentuh angka 46 derajat Celsius. “Alhamdulillah senang banget, doa terkabul. Tadi ada peringatan enggak boleh keluar karena cuaca panas, tapi Allah langsung mengirimkan hujan,” ujar salah satu petugas haji Indonesia, Hikmah Romalina, di Makkah. Saat mendengar suara gemercik hujan, Hikmah beserta petugas haji lain yang saat itu berkumpul di hotel langsung turun ke luar ruangan dan mengabadikan suasana Kota Makkah kala diguyur hujan. Kebahagiaan Hikmah juga dirasakan pula oleh petugas haji lain, Henri Lukmanul Hakim. Ia langsung pergi ke luar hotel dan mengabadikan suasana kota diguyur hujan. “Alhamdulillah, akhirnya bisa merasakan hujan di Kota Suci. Jawaban dari doa-doa kita saat ada info gelombang panas,” kata dia. Sebelumnya, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) meminta jamaah Indonesia untuk melontar jumrah pada sore hari atau setelah pukul 16.00 waktu Arab Saudi guna menghindari cuaca panas. “Merujuk pada imbauan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, kami meminta jamaah untuk tidak melontar jumrah sebelum pukul 16.00 waktu Arab Saudi,” kata Staf Khusus bidang Media dan Komunikasi Publik Wibowo Prasetyo. Menurut Wibowo, imbauan ini dikeluarkan mengingat suhu yang tinggi serta untuk menghindari tekanan panas atau heat stroke bagi jamaah. “Di Mina saat ini suhunya mencapai 45 derajat. Ini harus jadi perhatian jamaah untuk menghindari heat stroke,” pungkas Wibowo. (drus) Baca juga :

Read More

Toron, Tradisi Masyarakat Madura yang Masih Ada

Surabaya — 1miliarsantri.net : Merayakan Idul Adha, ada tradisi unik yang dilakukan masyarakat Madura, dengan tradisi mudiknya yang dikenal dengan tradisi Toron. Tradisi ini lebih heboh dibanding saat mudik Idul Fitri. Dosen Ilmu Sejarah, Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Moordiati SS MHum memberi penjelasan soal tradisi tersebut. Ia menerangkan, Toron memiliki dua arti yaitu turun atau kembali ke kampung halaman, dan Toron Tana atau kembali ke kampung halaman. “Toron memiliki dua arti, yang pertama yaitu turun, orang Madura yang bermigrasi pulang ke kampung halamannya. Kedua adalah Toron Tana, yaitu orang Madura pulang ke kampung halaman untuk menyambangi keluarga dan kerabatnya,” terang Moordiati kepada 1miliarsantri.net, Rabu (19/6/2024). Konteks menyambangi keluarga ini, lanjut Moordiati, orang Madura tidak hanya menyambangi keluarga dan kerabatnya yang masih hidup. Akan tetapi, juga kerabat yang sudah meninggal dunia melalui ziarah di makamnya. Moordiati melanjutkan, dalam sejarah masyarakat Madura, tradisi Toron merupakan kebiasaan yang telah dilakukan sejak lama. Namun, belum ada sumber primer yang menjelaskan secara spesifik kapan tepatnya asal muasal tradisi itu. “Tidak ada catatan khusus dari peninggalan kolonial tentang kapan awal mulanya tradisi ini ada. Namun, berdasarkan orang Madura yang bermigrasi ke luar daerah, sebenarnya sudah mereka mulai sejak jauh sebelum abad ke-19,” lanjut Moordiati. Kemudian, Moordiati mengatakan bahwa Toron memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Madura. Toron menjadi salah satu tradisi yang masih lestari. Tradisi ini bertujuan untuk meningkatkan tali persaudaraan dan rasa cinta terhadap keluarga, kerabat, teman, dan tanah kelahiran. “Toron menjadi seperti obat rasa rindu dan semangat pembangun motivasi bagi masyarakat perantau dari Madura. Hal ini juga menjadi momen yang hangat dan meningkatkan rasa persaudaraan dan cinta tanah kelahiran bagi masyarakat Madura,” tutur Moordiati. Dalam segi sosial dan ekonomi, Toron juga berdampak positif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Madura. Hal tersebut pula yang menjadikan tradisi Toron terus lestari. “Kebanyakan perantau sukses, ketika pulang membuat masyarakat Madura lainya termotivasi, sehingga terjadi diaspora dan tradisi Toron terus lestari,” pungkasnya. (har) Baca juga :

Read More

Mengambil Makna Dari Wukuf di Arafah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pada tanggal 9 Dzulhijjah, seluruh jamaah haji yang datang dari berbagai belahan dunia sejak tadi malam sudah mulai berdatangan ke Arafah untuk melaksanakan wukuf. Seperti diketahui, di Padang Arafah ini terdapat sebuah bukit yang bernama Jabal Rahmah. Dalam sejarah dikisahkan di bukit inilah Nabi Adam dan Siti Hawa bertemu setelah diturunkan oleh Allah SWT dari surga ke bumi. Mereka diturunkan oleh Tuhan di tempat yang berbeda sehingga cukup lama mereka saling mencari. Akhirnya, berkat rahmat Allah, mereka bisa kembali dipertemukan. Dalam pertemuan itu, mereka berdua sama-sama menyadari bahwa mereka telah berbuat kesalahan sehingga mereka tidak henti-hentinya meminta ampun kepada Allah SWT. Demikian juga semestinya yang dilakukan oleh para hujjaj tersebut. Lewat kegiatan wukuf yang mereka lakukan, mereka berusaha merenungkan dengan baik tentang arti hidup dan kehidupan serta melakukan introspeksi diri apakah hidup dan kehidupan yang mereka jalani selama ini sudah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya atau belum. Apalagi bila diingat, di Padang Arafah ini Nabi Muhammad SAW dalam Haji Wada’ pernah berkata kepada umatnya, “Aku tinggalkan untuk kalian dua hal, jika kalian berpegang teguh kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” Kata-kata Nabi inilah hendaknya yang benar-benar harus bisa dicamkan baik-baik oleh para hujjaj yang sekarang ini sedang berkumpul di Padang Arafah. Mereka dituntut untuk bisa menilai dan mengukur diri mereka sendiri apakah perjalanan hidup dan kehidupan yang mereka lalui selama ini sudah sesuai dan sejalan dengan yang dituntunkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah atau belum. Kalau belum, maka mereka harus berusaha dengan sekuat tenaga yang mereka miliki untuk bisa menyesuaikan diri dengan semua ketentuan Allah dan Rasul-Nya agar hidup mereka benar-benar beruntung tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Jika mereka bisa melakukan ini, maka tentu haji mereka akan bisa menjadi haji yang mabrur karena perilaku mereka setelah selesai haji benar-benar telah berubah. Cara berpikir, merasa, bertutur, dan berbuat mereka tidak lagi diwarnai oleh hawa nafsu, tapi telah disinari oleh firman-firman Allah dan sabda-sabda Rasul-Nya. Itulah yang memang menjadi doa dan harapan tidak hanya dari para hujjaj tersebut saja tapi juga dari kita semua. (rid) Baca juga :

Read More

Sapi Milik Warga Ponorogo Dibeli SBY Seharga Rp 100 juta

Ponorogo — 1miliarsantri.net : Danang Saputra (28), peternak asal Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur mengaku bangga dan terkesan karena dua ekor sapi peliharaannya dibeli dengan harga hampir Rp 100 juta oleh mantan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Saya tidak menyangka ternyata yang beli Pak SBY,” ucap Danang dengan nada bersemangat saat ditemui 1miliarsantri.net, Senin (17/6/2024). Sapi milik Danang dipilih karena memiliki bobot di atas 1 ton. Sapi tersebut berjenis limousine cross dan limousine full, serta diberi nama Werkudara dan Antasena. Wekudara memiliki bobot seberat satu ton lebih 35 kilogram dan satu ton lebih lima kilogram. Dua sapi yang dibeli SBY sudah ditandai. Walaupun sudah dibeli, Danang masih melakukan perawatan rutin. Termasuk memberikan makanan yang bernutrisi bagi sapi. Danang menceritakan bagaimana sapi miliknya dipilih SBY untuk dijadikan hewan kurban. Pada awal Juni lalu dirinya mendapatkan telepon dari salah seorang yang mengaku dari Pacitan, saat itu pria tersebut menanyakan harga sapi yang dijualnya. Dia menjelaskan bahwa dua sapinya dihargai nyaris Rp100 juta oleh SBY. “Nggak tahu kalau yang telepon itu utusan dari Pak SBY, baru dua hari kemarin dibayar dan baru tahu ternyata dibeli Pak SBY,” pungkasnya. (dik) Baca juga :

Read More

Tips Mendengarkan Khutbah Arafah di Radio

Mekah — 1miliarsantri.net : Jamaah haji yang berada di Padang Arafah dan ingin mendengarkan Khutbah Arafah tidak perlu khawatir tidak mengerti. Jamaah bisa mendengarkan Khutbah Arafah dalam bahasa Indonesia. Jamaah haji sekarang bisa membuka channel radio FM 96.200 MHz. Selain itu jamaah juga bisa mendengarkan khutbah Masjidil Arafah melalui link https://manaratalharamain.gov.sa/arafa/ Tips mendengarkan terjemahan khutbah Arafah: Konsultan Ibadah PPIH Arab Saudi Mahbub Maafi Ramadhan menyebutkan kegiatan jemaah haji saat di Arafah mengikuti kegiatan Rasulullah SAW ketika berhaji. Saat Rasulullah melakukan wukuf haji wada’, Rasul menyampaikan khutbah ketika waktu zawal tiba. Setelahnya, Rasul menjamak Sholat Dzuhur dan Ashar. Karena itu dengan meniru kegiatan wukuf nabi, jamaah haji akan mendengarkan khutbah wukuf di Arafah. Setelah itu, jamaah haji akan melaksanakan salat Dzuhur dan Ashar dengan jamak taqdim, yaitu melaksanakan Sholat Dzuhur dan Ashar pada waktu Dzuhur. ”Setelah mendengarkan khutbah wukuf, jamaah melaksanakan Sholat Dzuhur dan Ashar dengan cara jamak taqdim,” terang Kiai Mahbub. (drus) Baca juga :

Read More

Sebanyak 27 Ribu Bus Disiapkan Untuk Transportasi Jamaah Haji

Mekah — 1miliarsantri.net : Kementerian Transportasi dan Logistik Arab Saudi menyiapkan sebanyak 27 ribu bus sebagai salah satu sarana angkutan darat bagi seluruh jamaah haji selama puncak Musim Haji 1445 Hijriah. “Kami punya transportasi darat dengan bus. Lebih dari 27.000 bus disiapkan untuk mengangkut jamaah ke Masjidil Haram,” terang Menteri Transportasi dan Logistik Arab Saudi Saleh bin Nasser Al-Jasser, di Makkah, Arab Saudi, Sabtu (15/6/2024). Dia memperkirakan, dalam satu waktu, puluhan ribu bus tersebut mampu mengangkut sekitar 1,2 juta jamaah sekaligus. “Jika seluruh armada ini dibariskan, maka (panjangnya) bisa dari Jeddah dan Makkah, itu berarti armada yang sangat besar,” lanjutnya. Selain bus, menurut Saleh Al-Jasser, kereta cepat Haramain yang menghubungkan kota suci Makkah dan Madinah melalui Jeddah juga siap mengangkut sekitar 3.000 penumpang sekali jalan dengan kecepatan 300 km per jam. Pemerintah Arab Saudi, kata Al-Jasser, telah menyiapkan berbagai moda transportasi dan layanan logistik mulai dari angkutan udara, laut, hingga kereta api dengan melibatkan lebih dari 47 ribu pekerja. “Transportasi udara memiliki persentase terbesar dalam pengangkutan jamaah haji luar negeri. Lebih dari 90 persen datang melalui udara dari berbagai negara di dunia,” sambungnya. Selain itu, kata Saleh Al-Jasser, kementeriannya juga menciptakan berbagai inovasi baru untuk meningkatkan kenyamanan jamaah haji, mulai dari jalan berbahan karet di Arafah, hingga sistem pemantau elektronik bus. “Sistem pemantauan elektronik untuk bus, agar bus tidak mogok dalam hitungan detik. Banyak ide-ide baru yang kami coba lalu evaluasi untuk melayani jamaah haji,” pungkasnya. (drus) Baca juga :

Read More

Seluruh Jamaah Haji Sudah Diberangkatkan ke Arafah

Mekah — 1miliarsantri.net : Jamaah haji Indonesia mulai diberangkat secara bertahap ke Arafah untuk melaksanakan puncak haji, Jumat (14/6/2024). Jamaah dari sejumlah kloter sudah sampai di Arafah dan mulai memenuhi tenda-tenda sejak Jumat siang. PPIH Arab Saudi membuat skema perjalanan jamaah selama puncak haji pada 8 Zulhijah 1445 H/14 Juni 2024 hingga 13 Zulhijah/19 Juni 2024. Kepala Satuan Operasional Armuzna, Harun Ar-Rasyid mengatakan, ada tiga gelombang keberangkatan jamaah haji Indonesia dari Makkah ke Arafah pada 8 Zulhijah 1445 H atau 14 Juni 2024. “Skema dan skenario ini khusus untuk jamaah haji reguler yang tidak ikut dalam skema murur di Muzdalifah maupun safari wukuf. Trip pertama yakni pada pukul 07.00 – 11.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Lalu trip kedua pada pukul 11.30-16.00 WAS. Dan trip ketiga pada pukul 16.30 – 21.30 WAS,” terang Harun di Makkah, Sabtu (15/6/2024). Harun menjelaskan, saat jamaah akan naik ke bus akan ada petugas yang memindai smart card setiap jamaah. Setelah semua naik akan dihitung dan dipastikan jamaahnya sesuai dengan manifest. Baru kemudian pintu bus disegel dengan stiker dan diberangkatkan ke Arafah. Setibanya di Arafah, telah disiapkan tenda-tenda yang dibagi ke dalam 73 maktab. Segel di pintu bus baru dibuka di depan maktab. Jamaah menempati tenda-tenda yang telah disediakan sesuai dengan kloter dan rombongannya. Selanjutnya, jamaah akan menginap satu malam di Arafah. Pada 9 Zulhijah 1445 atau 15 Juni 2024, jamaah akan mengikuti wukuf. “Waktu wukuf di Arafah dimulai saat tergelincirnya matahari atau saat duhur hingga terbit fajar. Satuan Operasional Armuzna akan membimbing jemaah untuk bergerak ke Muzdalifah secara bertahap mulai 9 Zulhijah, setelah Magrib. Pergerakan jamaah dari Arafah ke Muzdalifah sudah diatur dimulai pukul 19.00 Waktu Arab Saudi,” lanjut Harun Jamaah akan menjalani mabit hingga melewati tengah malam di Muzdalifah. Pergerakan jamaah dari Muzdalifah ke Mina sudah dimulai pada pukul 23.30 WAS atau menjelang pergantian hari ke tanggal 10 Zulhijah 1445 H atau 15 Juni 2024. “Jamaah akan bergerak ke Mina menggunakan bus Taraddudi yang telah disediakan,” imbuhnya. Di Mina nantinya telah disiagakan petugas yang menyambut para jamaah yang tiba dari Muzdalifah. Jamaah langsung diarahkan ke tenda masing-masing sesuai dengan maktabnya. Prosedur pemeriksaan smart card tetap dilakukan setiap kali dilakukan pergerakan jamaah. Jamaah akan bermalam di Mina untuk persiapan lontar jumrah di Jamarat. “Kami membentuk pos-pos di rute Jamarat untuk memantau pergerakan jamaah yang akan melontar jumrah, baik itu di lantai 3 yang ada di Mina maupun di lantai bawah atau dasar yang menuju Makkah,” pungkasnya. (drus) Baca juga :

Read More

Mahasiswa Indonesia yang Jadi Penerjemah Khutbah Jumat di Masjid Nabawi

Madinah — 1miliarsantri.net : Empat Warga Negara Indonesia (WNI) dipercaya Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menjadi penerjemah khutbah Sholat Jumat di Masjid Nabawi, Madinah. Dzakwan Aisy Fajar Azhari salah seorang di antaranya yang sudah tiga tahun menjadi penerjemah di Masjid Nabawi. Ditemui di sela-sela aktivitasnya di Masjid Nabawi, pria beristri tersebut menuturkan, jamaah haji dan umroh dari Indonesia tidak perlu khawatir tidak mengerti arti dari khutbah Jumat di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram. Sebab, jamaah bisa mendengarkan khutbah tersebut dalam bahasa Indonesia secara live melalui melalui radio, aplikasi, dan website. Jamaah bisa mendengarkan khutbah Jumat di Masjid Nabawi lewat radio di frekuensi 99.0 FM dan di Masjidil Haram di frekuensi 90.50. Sementara untuk aplikasi ada Mixir dan website di alamat https://manaratalharamain.gov.sa. Mahasiswa asal Indonesia di Universitas Islam Madinah (UIM) ini mengungkapkan, tiga rekannya yang juga menjadi penerjemah di Masjid Nabawi adalah Haris Hermawan (mahasiswa S3 Jurusan Manajemen Pendidikan), Hanif Husin Achmad (mahasiswa S2 Jurusan Usul Fikih), dan Hirzi Sasmaya (mahasiswa S2 Jurusan Fikih). “Yang di Makkah ada 1 orang yang non mahasiswa,” ujar Dzakwan kepada 1miliarsantri.net, Jumat (14/6/2024). Program translator khutbah Jumat ini sudah berlangsung selama 10 tahunan, tetapi untuk untuk Bahasa Indonesia dimulai 7 tahun lalu. Mahasiswa S2 Jurusan Ilmu Hadis ini bercerita, awalnya khutbah tersebut menjadi satu bagian dengan pengisi kajian berbahasa Indonesia. Ustadz Firanda Andirja juga merupakan salah seorang yang pernah menjadi pengisi kajian berbahasa Indonesia sekaligus penerjemah khutbah Jumat. Saat menerjemahkan khutbah, Dzakwan berada di salah satu ruangan di dekat pintu 9 Masjid Nabawi yang dipakai sebagai ruang translator. Ruangan lantai pertama untuk Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Hausa, Bahasa Mandarin, dan Bahasa Persia. Sedangkan ruangan di lantai dua untuk Bahasa Urdu, Bahasa Prancis, Bahasa Turki, Bahasa Bangali, dan Bahasa Rusia. “Setiap ruangan berukuran 15×15 meter. Di dalam ruangan itu dibuat kubikel seperti ruangan kerja redaksi di sebuah media massa,” papar pria asal Karanganyar, Jawa Tengah ini. Masing-masing penerjemah mendapat satu bagian kubikel. Biasanya, kata dia, para penerjemah sudah mendapat naskah khutbah satu hari sebelumnya atau pada Kamis. Mereka lalu membuat naskah versi terjemahan. Namun sering pula mereka mendapatkan salinan revisi khutbah Jumat beberapa jam sebelum Sholat Jumat berlangsung. Di Masjid Nabawi ada 10 khatib tetap yang sekaligus menjadi imam sholat fardhu. Khatib Jumat di Masjid Nabawi memang selalu membawa teks, tetapi disebut Dzakwan, terkadang ada improvisasi dari khatib. “Jadi yang disampaikan tidak ada di naskah. Ada yang puitis juga,” sambungnya. Saat bertugas, Dzakwan menggunakan laptop dan mikrofon serta memakai headset. Laptop, kata mahasiswa yang sudah 7 tahun tinggal di Madinah itu, dipakai untuk mencari ayat yang kadang-kadang tidak ada dalam teks tapi dibaca oleh khatib. “Bisa jadi ada improvisasi, khatib mengutip ayat yang tidak ada dalam naskah khutbah. Saya harus segera searching agar tidak salah dalam menerjemahkan ayat,” lanjut bapak satu anak itu. Pria berusia 27 tahun ini kuliah S1 dan S2 jurusan hadits di UIM. Pria 27 tahun itu berasal dari Karanganyar, Jawa Tengah. Orang tuanya wiraswasta dan sangat peduli pendidikan. Ayah dan ibunya pernah sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA). Ayahnya juga lulusan UIN Walisongo, Semarang. Setelah menyelesaikan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Karanganyar, Dzakwan dikirim orang tuanya ke Pondok Pesantren Imam Bukhori, Karanganyar. Setelah lulus Madrasah Aliyah, Dzakwan mendaftar ke UIM. Tugas Dzakwan dan tiga mahasiswa lainnya tidak hanya menerjemahkan khutbah Jumat, tetapi juga menerjemahkan khutbah Sholat Idul Fitri, Sholat Idul Adha, dan pernah juga khutbah Sholat Istisqa (minta hujan). “Kami juga menerjemahkan buklet dan pengumuman-pengumuman di Masjid Nabawi,” terang Dzakwan. Di dalam masjid juga ada layar informasi yang berbahasa Indonesia yang juga hasil kerja Dzakwan dan kawan-kawan. Ia kini terdaftar sebagai karyawan Direktorat Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Lembaga itu di bawah badan independen di bawah Kerajaan Arab Saudi yang bertugas mengurus Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Setiap bulannya mereka mendapatkan gaji. Namun, dia enggan menyebutkan jumlahnya meskipun lebih besar daripada uang sakunya sebagai mahasiswa. “Lumayanlah,” kata Dzakwan yang tinggal di daerah Al Iskan, Madinah. Berkah berkuliah di Madinah juga mengantarkannya menemukan belahan jiwa. Dzakwan menikahi istrinya, Intan Prameswari yang juga bekerja di Masjid Nabawi. “Istri saya awalnya kuliah di Institut Nabawi, setelah lulus dia bekerja di Masjid Nabawi. Tugasnya menerima setoran (hafalan quran) dari santri secara online,” pungkas Dzakwan. (dul) Baca juga :

Read More