Ramadhan 2003 dan Ramadhan 2026: Amerika Rusak Ketenangan Ramadhan dengan Menyerang Irak dan Iran, Ayatollah Khamenei Syahid
Jakarta — 1miliarsantri.net: Ramadhan 2026 kembali dinodai oleh tindakan provokatif Amerika Serikat dengan menyerang Negeri Para Mullah “Iran” pada Sabtu 28/2/2026, yang menyebabkan syahidnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Seyed Ali Khamenei beserta beberapa keluarganya. Bulan Ramadhan dikenal sebagai momen spiritual, puasa, dan refleksi bagi umat Islam di seluruh dunia. Namun sejarah modern mencatat dua periode mengejutkan ketika konflik militer besar melibatkan Amerika Serikat dan negara-negara Muslim saat Ramadhan berlangsung: Invasi Irak 2003 dan serangan terhadap Iran pada Ramadhan 2026. Kedua peristiwa ini memicu kontroversi global dan penderitaan, terutama ketika kekerasan terjadi di tengah bulan suci. Berikut ulasan komprehensif tentang serangan militer Amerika Serikat terhadap Irak pada Ramadhan 2003 dan serangan bersama AS–Israel terhadap Iran pada Ramadhan 2026, serta dampaknya terhadap kaum Muslim, dan reaksi internasional dan kontroversinya. Invasi Amerika Serikat ke Irak (2003) di Bulan Ramadhan Masih membekas dalam ingatan kaum muslim di Irak dan dunia, pada 19 Maret 2003, Amerika Serikat memimpin koalisi untuk menyerang Irak dalam operasi yang dikenal sebagai Operation Iraqi Freedom atau Invasi Irak 2003. Invasi ini dilatarbelakangi oleh klaim pemerintah AS tentang adanya senjata pemusnah massal (WMD) di bawah rezim Saddam Hussein — klaim yang kemudian tidak terbukti. Konflik ini berlanjut selama bertahun-tahun, menyebabkan jatuhnya pemerintahan Saddam, kekosongan kekuasaan, munculnya pemberontakan sektarian, dan dampak kemanusiaan yang besar. Banyak pihak mengkritik invasi tersebut karena tanpa mandat jelas dari Dewan Keamanan PBB dan karena terjadi saat Ramadhan, menambah kerapuhan sosial dan tragedi bagi warga Irak yang menjalankan ibadah puasa. Invasi militer ini menjadi awal dari periode ketidakstabilan panjang di Irak, dengan ribuan warga sipil tewas serta menghancurkan banyak infrastruktur, dan masih diperdebatkan sampai hari ini. Serangan pada Ramadhan 2026 memicu kecaman internasional, termasuk reaksi keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyebut agresi sebagai ancaman eskalasi besar di Timur Tengah, serta tekanan diplomatik agar kembali ke jalur negosiasi. Rusia dan beberapa negara kritis terhadap tindakan AS–Israel, menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan agresi terhadap negara berdaulat. Kedutaan Iran bahkan membandingkan serangan tersebut dengan pengalaman Irak dan menunjukkan bahwa narasi “membantu rakyat” yang dipakai untuk membenarkan intervensi sering kali berujung pada penderitaan dan kerusakan bagi masyarakat sipil. Dampak terhadap Umat Islam di Timur Tengah Kedua peristiwa ini — serangan ke Irak (2003) dan serangan bersama ke Iran (2026) — terjadi pada bulan suci Ramadhan, ketika umat Islam secara tradisional berharap damai dan keteraturan sosial. Banyak jamaah dan publik internasional melihat aksi militer tersebut sebagai “penghancuran ketenangan Ramadhan”, memperdalam trauma kolektif dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Bagi warga Muslim di Irak dan Iran, Ramadhan yang seharusnya menjadi waktu ibadah dan kedekatan spiritual berubah menjadi suasana konflik, kehilangan anggota keluarga, kerusakan harta benda, dan ketidakpastian masa depan. Duka Cita dari Ulama Irak dan Dunia Syiah di Baghdad Di ibukota Irak, tokoh-tokoh Syiah serta aliansi ulama setempat berkumpul untuk menyampaikan duka cita besar. Sebagaimana dilaporkan untuk wilayah Baghdad, sejumlah pemimpin dan kelompok Syiah menyatakan: “…dengan kesedihan dan duka yang mendalam, kami berkabung atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei… darahnya akan tetap menjadi sumber inspirasi bagi semua generasi dan kutukan bagi para Zionis pembunuh selamanya.” Beberapa ulama di Irak bahkan menetapkan periode tiga hari berkabung nasional sebagai bentuk penghormatan atas peran Khamenei dalam perjuangan politik dan keagamaan mereka. Amerika Tidak Menghormati Bulan Suci Ramadhan Serangan militer di bulan Ramadhan memang sering menimbulkan sensitivitas besar, karena Ramadhan adalah bulan suci bagi umat Islam yang identik dengan ibadah, kedamaian, dan solidaritas. Peristiwa invasi Irak 2003 dan serangan terhadap Iran pada Ramadhan 2026 adalah pengingat pahit bahwa konflik modern tidak menghormati waktu sakral dan sering kali membawa akibat jangka panjang bagi rakyat Irak dan Iran. Kedua peristiwa sama-sama terjadi di bulan suci, sehingga dianggap sebagai “penghancuran ketenangan Ramadhan.” Serangan yang dilakukan Amerika Serikat pada Sabtu, 28/2/2026 telah menyebabkan sekitar 200 orang tewas termasuk anak-anak di sebuah sekolah di Minab.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Toto Budiman Foto : Tangkapan layar ArabNews dari khamenei.ir


