Aliansi Forum Media Banten Ngahiji Desak Inspektorat Audit Fungsi Pengawasan Internal Diskominfo Kabupaten Tangerang

Aliansi Forum Media Banten Ngahiji Mendesak Inspektorat Kabupaten Tangerang Audit Fungsi Pengawasan Internal Diskominfo Terkait Dugaan Penyalahgunaan Anggaran Kabupaten Tangerang – 1miliarsantri.net: Aliansi Forum Media Banten Ngahiji (FMBN) secara tegas mendesak Inspektorat Kabupaten Tangerang untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap fungsi pengawasan internal Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Tangerang. Desakan ini mencuat setelah beredar dugaan adanya indikasi penyalahgunaan anggaran publik dan praktik korupsi dalam pengadaan bandwidth internet serta berbagai program digitalisasi yang dibiayai melalui APBD Tahun Anggaran 2021–2025. Ketua FMBN, Budi Irawan, Dalam Rilis Resmi “Aliansi Forum Media Banten Ngahiji” menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial insan pers terhadap prinsip transparansi, akuntabilitas, dan integritas dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. FMBN menilai lemahnya fungsi pengawasan internal Diskominfo dapat menimbulkan kerugian keuangan negara serta mencederai semangat good governance sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Lebih lanjut, FMBN menekankan pentingnya langkah cepat dan konkret dari Inspektorat untuk memastikan setiap program berbasis digital yang dijalankan oleh Diskominfo berjalan sesuai ketentuan, transparan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Tangerang. “Kami tidak menuduh, tetapi mendesak adanya audit transparan agar publik mengetahui bagaimana uang rakyat digunakan. Ini demi menjaga kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah,” tambah Budi. Langkah yang ditempuh FMBN ini diharapkan menjadi dorongan moral agar seluruh instansi pemerintah daerah menerapkan pengawasan berlapis, bukan hanya sebagai formalitas laporan, melainkan instrumen pencegahan terhadap segala bentuk penyimpangan dalam penggunaan anggaran publik. Legal Opini (Yuridis Normatif) Dasar Hukum dan Analisis Pasal 10 ayat (1) menegaskan bahwa setiap keputusan dan/atau tindakan pejabat pemerintahan harus berdasarkan pada asas umum pemerintahan yang baik (AUPB), termasuk asas akuntabilitas, keterbukaan, dan proporsionalitas. Jika Diskominfo terbukti melakukan penyimpangan dalam penggunaan anggaran tanpa dasar hukum yang sah, maka hal tersebut melanggar AUPB dan dapat dikategorikan sebagai perbuatan maladministrasi. Pasal 386–388 mengatur tentang pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah, di mana Inspektorat Daerah berperan sebagai Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang wajib melakukan audit, reviu, evaluasi, dan pemantauan atas pelaksanaan urusan pemerintahan daerah. SPIP mewajibkan setiap instansi pemerintah untuk menerapkan sistem pengawasan melekat guna menjamin tercapainya tujuan organisasi secara efektif dan efisien serta mencegah penyimpangan, termasuk potensi korupsi. Pejabat publik yang menyalahgunakan wewenang dalam penggunaan keuangan negara dapat dijerat dengan pasal 3 UU Tipikor (UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001), dengan ancaman pidana penjara maksimal 20 tahun. Kesimpulan Opini Hukum Secara yuridis normatif, Inspektorat Kabupaten Tangerang berkewajiban hukum untuk: Bila diabaikan maka kami dalam waktu dekat akan menempuh jalur audensi ke inspektorat dan pihak-pihak terkait. Bila tidak adanya kepastian maka langkah konstitusi yang berpotensi gelar Aksi di depan kantor Bupati, melibatkan rekan-rekan FORUM gabungan Media meminta jawaban secara terang kepada Diskominfo, Bupati, DPRD, inspektorat untuk menyikapi kondisi yang tidak baik saja, pungkas Budi Irawan.*** Sumber : Rilis Resmi FMBN, Hariri (Kaperwil BantenMore.Com) Foto Instagram Editor : Thamrin Humris

Read More
Khazanah Pesantren

Khazanah Pesantren, Dari Kitab Kuning ke Ruang Siber

Malang – 1miliarsantri.net : Di antara menara-menara surau dan riuhnya lodak santri, khazanah pesantren telah lama menjadi benteng keilmuan Islam tradisional seperti kitab kuning, sorogan, bandongan, bahkan bahtsul masail. Kini, khazanah pesantren menghadapi era baru saat kitab kuning tak lagi terbatas di ruang kelas atau mushala, tetapi meluas ke jaringan siber (digital). Transformasi ini tidak hanya tentang digitalisasi teks atau arsip, namun tentang bagaimana nilai-nilai luhur pesantren tetap hidup dan relevan di zaman yang makin serba cepat dan layar menyala. Digitalisasi sebagai Wujud Kontemporer Khazanah Pesantren Khazanah pesantren sangat identik dengan kitab kuning, karya ulama klasik yang ditulis dalam bahasa Arab atau campuran Arab-Pegon, menyimpan ajaran tafsir, fikih, ushul, akhlak, dan tasawuf. Kini perubahan zaman membawa khazanah pesantren ke ruang siber. Pemerintah lewat Kementerian Agama (Kemenag) menginisiasi proyek seperti aplikasi Tarkib Digital, repository kitab kuning Nusantara, dan platform “Rumah Kitab” sebagai media pembelajaran online berbasis kitab kuning. Inovasi-inovasi ini membuktikan khazanah pesantren tidak stagnan, tetapi adaptif terhadap kebutuhan generasi kekinian yang ingin belajar agama lewat gadget. Pengajian kitab kuning secara daring sudah praktis dan menjangkau santri di pelosok, memungkinkan khazanah pesantren tetap menyala walaupun tanpa bangunan fisik. Tantangan Memelihara Khazanah Pesantren di Era Siber Tidak semua hal dalam digitalisasi khazanah pesantren berjalan mulus. Ada tantangan keilmuan, seperti kitab kuning kadang dipotong-potong atau disederhanakan agar cocok dengan format digital singkat, sehingga kedalaman teks atau konteks tradisional terabaikan. Ada pula tantangan teknis, yaitu akses internet di daerah terpencil masih bermasalah, koleksi kitab kuning asli belum semuanya terdigitalisasi, dan ada kendala hak cipta atau sanad ilmu. Selain itu, khazanah pesantren di ruang siber berpotensi kehilangan suasana spiritual pengajian tradisional seperti tatap muka, wudu, suasana kitab, bertanya langsung ke kiai. semua ini yang sulit diganti oleh layar. Peluang Memperkuat Khazanah Pesantren ke Depan Meskipun ada tantangan, ada pula peluang besar agar khazanah pesantren makin berkembang di ruang siber. Salah satunya dengan mengembangkan pendidikan pesantren hybrid, kombinasi tatap muka kitab kuning dan pendalaman digital melalui video, aplikasi, dan forum online. Metode blendedlearning ini memungkinkan pelestarian tradisi sekaligus penyebaran ilmu yang lebih luas. Selain itu, khazanah pesantren bisa diperkuat dengan peningkatan literasi digital bagi santri dan kiai, memahami cara menulis konten daring yang akurat, memilih teks yang sahih, dan menjaga sanad ilmu. Para pengelola platform digital pesantren dapat memberi pelatihan, membuat portal digital yang interaktif, menyediakan naskah digital serta audio kitab kuning dengan kualitas baik. Terakhir, peluang kolaborasi antar pesantren, lembaga pendidikan Islam, dan pemerintah sangat penting. Dukungan infrastruktur, misalnya internet cepat, server repository naskah, dan regulasi perlindungan teks tradisional, akan memperkuat posisi khazanah pesantren di Indonesia sebagai warisan budaya dan ilmu yang bernilai tinggi. Khazanah pesantren, dari kitab kuning ke ruang siber, bukan hanya soal memelihara teks lama dalam format baru. Lebih dari itu, khazanah pesantren adalah jembatan yang menjaga agar tradisi keilmuan, spiritualitas, dan karakter santri tidak hilang dalam gelombang digitalisasi. Dengan khazanah pesantren terus dijaga dengan kesungguhan, adaptasi inovatif, dan penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi, warisan ilmu yang disimpan di pesantren akan tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang khazanah pesantren. Penulis : Ramadani Wahyu Foto Ilustrasi Editor : Iffah Faridatul Hasanah dan Toto Budiman

Read More

Gaya Hidup Muslim di Era Modern: Antara Nilai, Gaya, dan Makna

Surabaya – 1miliarsantri.net: Umat muslim tengah menghadapi tantangan serius di era modern seperti saat ini. Mulai dari derasnya arus informasi digital, gejolak ekonomi global, badai PHK, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, gaya hidup muslim atau muslim lifestyle kini bukan lagi sekadar tentang rutinitas ibadah, tapi telah berkembang menjadi identitas yang mencerminkan prinsip hidup, pilihan konsumsi, cara berpakaian, hingga cara bersosialisasi di era modern. Tantangan untuk menyeimbangkan antara mengikuti perkembangan zaman dan menjaga identitas keislaman, menjadi hal yang patut dipertimbangkan. Artikel ini mengajak kita menelusuri bagaimana gaya hidup Muslim kini bukan sekadar mengikuti mode, tetapi juga menjadi cerminan nilai dan makna yang lebih dalam. Lebih dari Sekadar Tren Muslim lifestyle kini bukan hanya istilah populer di kalangan anak muda terkhusus Gen Z. Hal itu menjadi wujud dari cara hidup yang seimbang antara nilai spiritual (Akhirat) dan kebutuhan modern (Dunia). Di Indonesia, fenomena ini dapat dilihat dari maraknya komunitas hijrah, berkembangnya bisnis halal, hingga menjamurnya konten-konten dakwah di media sosial. Kini, gaya hidup muslim bahkan merambah ke berbagai aspek: mulai dari pakaian syar’i yang tetap stylish, tren skincare halal, wisata halal, hingga literasi keuangan syariah. Hal tersebut menunjukkan bahwa hidup dengan berpegang teguh pada ajaran Islam tidak harus membatasi ruang gerak, justru membuka jalan baru untuk mengaktualisasi diri secara lebih bermakna. Makanan Halal: Gaya Hidup Konsumtif yang Lebih Etis Konsumen muslim masa kini tidak hanya mencari makanan enak, tetapi juga yang jelas status kehalalannya. Halal tidak lagi diartikan hanya sebagai “boleh dimakan”, tetapi mencakup etika dalam proses produksi, distribusi, hingga niat dalam mengonsumsinya. Tren healthy halal food kini juga sedang tren di masyarakat luas. Banyak muslim-muslimah khususnya anak muda mulai menyadari pentingnya menjaga tubuh sebagai amanah dari Allah S.W.T, sehingga gaya hidup sehat menjadi bagian dari ibadah. Mereka mulai memilih makanan organik, menghindari makanan instan, serta mengatur pola makan berdasarkan anjuran Rasulullah S.A.W seperti makan secukupnya dan tidak berlebihan. Digitalisasi dan Dakwah Online Tak bisa dipungkiri, teknologi terus berkembang dari waktu ke waktu. Namun menariknya, generasi muslim muda justru memanfaatkannya sebagai wadah untuk memperdalam keimanan dan ilmu agama. Sekarang, menyebar kebaikan dan berdakwah dapat dilakukan di media sosial atau online, seperti lewat reels Instagram, thread Twitter, hingga video TikTok. Banyak konten kreator muslim yang membagikan ilmu-ilmu agama Islam dengan unik dan relatable. Topik seperti self-healing dalam Islam, menjaga hati, hingga tips menjadi muslim produktif menjadi favorit. Ini menunjukkan bahwa muslim lifestyle juga menyentuh aspek psikologis dan spiritual, bukan hanya yang tampak di permukaan. Keseimbangan Dunia dan Akhirat Sejatinya, inti dari gaya hidup muslim sejatinya adalah keseimbangan. Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berlebihan, baik dalam ibadah, pekerjaan, hingga percintaan. Prinsip wasathiyah atau moderat menjadi pegangan yang relevan di zaman penuh distraksi ini. Menjadi muslim bukan berarti tidak boleh mendapatkan dunia. Justru, Islam mengajarkan untuk menjadi pribadi yang unggul di dunia namun tetap berorientasi pada akhirat dan selalu menjaga ibadah dan akhlak. Seorang muslim bisa sukses sebagai pebisnis, ilmuwan, akademisi, kreator digital, dan profesi lainnya selama tetap menanamkan nilai-nilai Islam dalam setiap langkah dan kehidupannya. Muslim Lifestyle adalah Jalan Hidup Gaya hidup muslim bukanlah topeng semata atau tren sesaat. Ia adalah perjalanan panjang dalam mencari makna hidup, menjaga hubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan juga alam. Dalam kehidupan sehari-hari, gaya hidup ini mengingatkan kita untuk terus menata dan meluruskan niat, memperbaiki akhlak, dan menjadikan setiap aktivitas sebagai ibadah. Pada akhirnya, menjadi Muslim di era modern bukan berarti meninggalkan kemajuan, melainkan menjadikannya sebagai sarana untuk memperkuat nilai-nilai keimanan. Gaya hidup yang Islami bukan soal kaku atau kuno, tapi tentang bagaimana setiap aspek kehidupan, dari penampilan hingga keputusan digital berlandaskan pada ajaran yang penuh hikmah. Di tengah gempuran tren dan budaya instan, Muslim masa kini ditantang untuk tetap elegan dalam gaya, kuat dalam prinsip, dan bijak dalam makna. Inilah identitas sejati yang perlu terus dijaga dan diwariskan. Ia mengajarkan bahwa menjadi muslim yang sukses tidak harus kehilangan arah, karena Islam selalu memberi pedoman, yaitu rendah hati, sederhana, seimbang, dan penuh keberkahan. Kontibutor : Vicky Vadila Muhti Editor : Toto Budiman

Read More