Malam Lailatul Qadar: Malam Penuh Kemuliaan yang Dinantikan Umat Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net: Bulan Ramadhan selalu membawa suasana spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Di antara malam-malam yang penuh keberkahan itu, terdapat satu malam yang sangat istimewa dan dinantikan oleh kaum muslimin, yaitu Malam Lailatul Qadar. Malam ini disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, sehingga setiap muslim berharap dapat meraihnya dengan memperbanyak ibadah. Hal ini tidak terlepas dari keutamaan besar yang dijanjikan Allah SWT bagi siapa saja yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan ibadah. Malam Lailatul Qadar adalah malam penuh kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Simak pengertian, waktu terjadinya, keutamaan, dalil Al-Qur’an dan hadits sahih, serta suasana ibadah umat Islam di berbagai belahan dunia. Pengertian Malam Lailatul Qadar Secara bahasa, kata “Lailatul Qadar” berasal dari bahasa Arab. Dengan demikian, Lailatul Qadar dapat diartikan sebagai malam kemuliaan atau malam penetapan takdir oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”(QS. Al-Qadr: 1-3) Ayat ini menunjukkan betapa agungnya malam tersebut. Nilai ibadah pada malam Lailatul Qadar bahkan melebihi ibadah selama seribu bulan (sekitar 83 tahun). Makna Spiritual Lailatul Qadar Bagi umat Islam, Lailatul Qadar memiliki beberapa makna yang sangat penting untuk diketahui: 1. Malam Turunnya Al-Qur’an Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup manusia mulai diturunkan pada malam yang penuh berkah ini. 2. Malam Penuh Rahmat dan Ampunan Pada malam ini Allah membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh beribadah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Malam Turunnya Malaikat Dalam Surah Al-Qadr dijelaskan bahwa malaikat, termasuk Malaikat Jibril, turun ke bumi membawa keberkahan hingga terbit fajar. “Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”(QS. Al-Qadr: 4) Malam Penuh Kedamaian Allah juga menyebut malam ini sebagai malam yang penuh keselamatan hingga terbit fajar. “Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.”(QS. Al-Qadr: 5) Kapan Terjadinya Malam Lailatul Qadar? Waktu pasti Lailatul Qadar tidak diketahui secara pasti. Namun, Nabi Muhammad SAW memberikan petunjuk untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadits lain juga menyebutkan: “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.”(HR. Bukhari) Sebagian ulama memiliki pendapat berbeda tentang tanggalnya. Pendapat Para Ulama Mayoritas ulama sepakat bahwa malam ini terjadi pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan dan dapat berpindah setiap tahun. Keutamaan Malam Lailatul Qadar Beberapa keutamaan besar dari malam ini antara lain: 1. Lebih Baik dari Seribu Bulan Ibadah satu malam pada Lailatul Qadar lebih baik dari ibadah selama lebih dari 83 tahun. 2. Turunnya Malaikat Membawa Rahmat Malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan keberkahan hingga fajar. 3. Pengampunan Dosa Orang yang beribadah dengan penuh keimanan akan mendapatkan ampunan dari Allah. 4. Malam Penuh Kedamaian Allah menyebut malam ini sebagai malam yang penuh keselamatan hingga terbitnya fajar. Suasana Malam Lailatul Qadar di Berbagai Belahan Dunia Keindahan Lailatul Qadar juga terasa di berbagai negara dengan tradisi ibadah yang berbeda. 1. Masjid-Masjid Dipenuhi Jamaah Di banyak negara Muslim seperti Arab Saudi, Turki, Indonesia, Pakistan, hingga Mesir, masjid-masjid dipenuhi jamaah yang melaksanakan shalat tarawih, tahajud, dan i’tikaf. 2. Membaca Al-Qur’an Sepanjang Malam Banyak umat Islam menghidupkan malam dengan membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa. 3. Suasana Haru dan Khusyuk Di kota-kota besar hingga desa kecil, malam Lailatul Qadar sering dipenuhi tangisan doa dan harapan akan ampunan Allah. 4. Sedekah dan Berbagi Sebagian umat Islam juga memanfaatkan malam ini untuk memperbanyak sedekah kepada yang membutuhkan. Hikmah Mengapa Waktu Lailatul Qadar Dirahasiakan Para ulama menjelaskan bahwa Allah tidak memberitahukan secara pasti kapan malam tersebut terjadi. Hikmahnya adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah pada setiap malam Ramadhan, bukan hanya satu malam saja. Malam Lailatul Qadar merupakan anugerah besar dari Allah SWT Malam Lailatul Qadar merupakan anugerah besar dari Allah SWT bagi umat Nabi Muhammad SAW. Malam ini mengajarkan bahwa satu malam yang diisi dengan iman, doa, dan ibadah dapat bernilai lebih besar daripada puluhan tahun ibadah. Karena waktunya dirahasiakan, setiap muslim dianjurkan untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta memohon ampunan kepada Allah. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang diberi kesempatan meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar.*** Penulis dan Editor : Thamrin Humris

Read More

Keutamaan Makkah: Mengapa Kota Suci Ini Menjadi Tempat Paling Mulia di Bumi Menurut Al-Qur’an dan Hadits

Makkah — 1miliarsantri.net:  Keutamaan Makkah (Mecca, Mekah) dalam Islam menjadikannya kota paling suci di bumi. Simak penjelasan Al-Qur’an dan hadits tentang kemuliaan Mekah sebagai pusat ibadah haji, umrah, dan tempat kelahiran Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam. Dalam ajaran Islam, terdapat tempat-tempat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Di antara semua tempat di muka bumi, Makkah memiliki kedudukan paling istimewa. Kota ini bukan hanya menjadi arah kiblat umat Islam, tetapi juga menjadi pusat ibadah terbesar seperti haji dan umrah. Keutamaan Mekah disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, yang menegaskan kemuliaannya sebagai kota suci yang dipilih langsung oleh Allah. Allah SWT berhak memberikan kemuliaan kepada siapa pun dan apa pun yang Dia kehendaki. Sebagaimana Allah memuliakan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia terbaik, Ramadan sebagai bulan paling mulia, hari Jumat sebagai hari paling utama, serta Al-Qur’an sebagai kitab paling agung, demikian pula Allah memilih Mekah sebagai tempat paling mulia di bumi. Kota suci ini juga menjadi tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW, sekaligus lokasi berdirinya Ka’bah, rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia. Karena itulah, jutaan umat Islam dari seluruh dunia datang setiap tahun ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah dengan harapan meraih keberkahan serta ampunan dari Allah SWT. Makkah Dipilih Allah sebagai Tanah Haram Salah satu keutamaan Mekah adalah statusnya sebagai tanah haram yang dimuliakan Allah sejak dahulu kala. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT: “Sesungguhnya rumah yang pertama kali dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”(QS. Ali Imran: 96) Ayat ini menunjukkan bahwa Mekah merupakan tempat ibadah pertama yang diberkahi Allah dan menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Kota yang Dicintai Nabi Muhammad SAW Keutamaan Mekah juga ditegaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan betapa besar kecintaan beliau terhadap kota ini. Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya engkau (Mekah) adalah bumi Allah yang paling baik dan paling dicintai oleh Allah. Seandainya aku tidak diusir darimu, aku tidak akan keluar darimu.”(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah) Hadits ini menegaskan bahwa Mekah adalah tempat yang paling dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Tempat Dilipatgandakannya Pahala Ibadah Keutamaan Mekah lainnya adalah pahala ibadah yang dilipatgandakan dibandingkan tempat lain. Shalat di Masjidil Haram memiliki nilai pahala yang jauh lebih besar. Rasulullah SAW bersabda: “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama dari seribu shalat di masjid lain kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu shalat di masjid lainnya.”(HR. Ahmad dan Ibnu Majah) Keutamaan ini menjadi salah satu alasan utama umat Islam dari seluruh dunia berlomba-lomba datang ke Mekah untuk beribadah, apalagi di bulan Ramadhan yang mulia dan penuh berkah ini. Kota Aman yang Dijaga Allah Allah SWT juga menjadikan Mekah sebagai kota yang aman. Bahkan sejak zaman Nabi Ibrahim AS, kota ini telah didoakan agar menjadi negeri yang penuh keamanan dan keberkahan. Allah berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.’”(QS. Ibrahim: 35) Memahami Keutamaan dan Kesucian Mekkah Sebagai Simbol Persatuan Memahami keutamaan Mekah akan membuat setiap Muslim semakin menghargai kemuliaan kota suci ini. Mekah bukan sekadar tempat ibadah haji dan umrah, tetapi juga simbol persatuan umat Islam serta pusat spiritual yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Dengan mengetahui kemuliaan yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, diharapkan umat Islam semakin termotivasi untuk memperbanyak ibadah dan menjaga adab ketika berada di kota suci tersebut. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita semua untuk mengunjungi Mekah dan merasakan langsung keberkahan di kota yang paling mulia di muka bumi ini. Aamiin.*** Penulis dan Editor : Thamrin Humris

Read More

Pesantren Ramadhan Rumah Tahfidz Opung, Full Charge: Beriman Kepada Allah Subhanahu Wata’ala

Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum mengisi ulang iman — full charge menuju ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Bekasi — 1miliarsantri.net: Ramadhan selalu menjadi momentum istimewa untuk memperkuat iman, memperbanyak ibadah, dan memperdalam interaksi dengan Al-Qur’an. Semangat itulah yang kini terasa kuat di lingkungan Rumah Tahfidz Opung (RTO), sebuah lembaga pendidikan non-formal yang fokus pada pembinaan hafiz dan hafizah Al-Qur’an di wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Memasuki Ramadhan 1447 Hijriyah, Rumah Tahfidz Opung menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Pesantren Ramadhan Santriwan-Santriwati RTO”, yang berlangsung setiap hari Senin hingga Jumat, mulai 23 Februari hingga 10 Maret 2026, pukul 16.00 WIB. Program ini dirancang sebagai upaya “full charge” spiritual, yaitu mengisi kembali energi keimanan para santri agar semakin kokoh dalam beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala. “Full Charge: Beriman kepada Allah SWT” dengan : Full Charge Iman: Mengisi Ulang Energi Ruhani Tema “Full Charge: Beriman Kepada Allah Subhanahu Wata’ala” mengandung makna mendalam. Seperti halnya perangkat yang membutuhkan pengisian daya, hati manusia juga membutuhkan pengisian iman secara berkala. Ramadhan menjadi waktu terbaik untuk itu.Melalui interaksi intensif dengan Al-Qur’an, ibadah puasa, dan kebersamaan dalam lingkungan yang saleh, iman para santri diharapkan semakin kuat. Sebab, iman bukan sesuatu yang statis, melainkan harus terus dipupuk melalui ilmu, ibadah, dan amal saleh. Rumah Tahfidz Opung berkomitmen menjadikan Pesantren Ramadhan sebagai sarana pembinaan generasi Qur’ani yang tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga kokoh dalam akidah dan mulia dalam akhlak. Partisipasi dan Dukungan Rumah Tahfidz Opung berdiri sejak tahun 2017 yang diinisasi oleh Hajah Zuraedah (Hajah Ida) bersama keluarga besar almarhumah Opung Hj. Maryani Gani bt Haji M. Ali Ociem, didukung oleh Pimpinan RTO Ustadz Fauzi Rahman, Hajah Enny dan Zurdin Gani (Pendiri dan Pembina Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani), telah melaksanakan berbagai macam kegiatan rutin dalam membina para penghafal Qur’an dari usia balita, anak hingga remaja. Kegiatan Pesantren Ramadhan yang telah dibuka dan dimulai secara resmi pada Senin 23 Februari 2026 atau bertepatan dengan 5 Ramadhan 1447H memerlukan dukungan dari semua pihak, untuk itu eksponen Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani mengajak segenap Umat Islam, para donatur perorangan maupun kelembagaan untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Bantuan dapat dikirimkan melalui rekening: Bank BSI, No. Rekening : 1235101234, atas nama Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Pesantren Ramadhan ini menjadi bukti bahwa pendidikan Al-Qur’an tetap menjadi prioritas utama dalam membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dengan semangat Ramadhan, Rumah Tahfidz Opung mengajak seluruh santri untuk memanfaatkan bulan suci ini sebagai momentum perubahan, memperkuat hubungan dengan Allah, dan menjadi pribadi yang lebih baik.** Penulis dan Editor : Thamrin Humris Foto Istimewa

Read More

Pohon Kamper Disebut Dalam Al-Qur’an, Ternyata Tumbuh Subur Di Indonesia

Bekasi – 1miliarsantri.net: Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Al-Qur’an yang diturunkan di Jazirah Arab ternyata menyebut tentang “kamper” atau kāfūr, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Insan ayat 5, Allah berfirman: اِنَّ الْاَبْرَارَ يَشْرَبُوْنَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُوْرًاۚ “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas yang campurannya adalah kāfūr.” (QS. Al-Insan: 5) Dalam tafsir, kafur digambarkan sebagai minuman surga yang sejuk dan harum. Namun yang menarik, pohon kamper—sumber kapur barus alami—justru tumbuh subur di Nusantara, bukan di tanah Arab. Kamper (kāfūr) Dari Ayat ke Fakta Disebutkan dalam Al-Qur;an, namun di Arab Saudi tidak ada pohon kamper, sementara di Indonesia “Pohon Kamper” dengan nama latin “Dryobalanops aromatica” tumbuh menjulang tinggi hingga 60 meter. Pohon ini menghasilkan kapur barus yang sejak ribuan tahun lalu jadi komoditas dagang. Sejarah perdagangan membuktikan bangsa Arab dan Persia berlayar jauh ke Sumatera dan Kalimantan untuk mencari kapur barus, menjadikannya salah satu rempah paling berharga di jalur perdagangan internasional. Hikmah Di Balik Ayat Tentang Kamper Universalitas Wahyu – Al-Qur’an menyebut tanaman yang tidak tumbuh di Arab, menegaskan pesan wahyu berlaku lintas geografi. Simbol Kesucian – Kamper dipakai dalam pemulasaraan jenazah karena aromanya yang suci dan menenangkan, selaras dengan gambaran minuman surga. Jejak Peradaban – Penyebutan kamper mengingatkan pada hubungan dagang kuno antara Timur Tengah dan Nusantara. Pesan Ekologi – Kini pohon kamper terancam punah. Ayat ini bisa dibaca sebagai pengingat untuk menjaga kelestarian alam. Barus atau kapur barus (Dryobalanops aromatica), biasa juga disebut kamper sumatra, kamper melayu, atau kamper borneo, adalah spesies tumbuhan yang sudah mulai langka yang termasuk dalam famili Dipterocarpaceae. Nama spesies aromatica diambil dari bahasa Latin: aromaticus yang berarti seperti rempah-rempah, dan mengacu pada bau damar (resin).  Pohon kamper adalah contoh nyata bagaimana ayat Al-Qur’an menyentuh realitas lintas budaya. Ia bukan sekadar tumbuhan tropis, melainkan simbol spiritual, sejarah perdagangan, dan pesan ekologis yang relevan hingga kini. Yuk ikuti terus rubrik khazanah dan bangkitkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber dan Foto : bing.com, wikipedia

Read More

Kisah Inspiratif dari Tenda Pengungsi Gaza ‘Empat Bersaudari Sukses Menghafal Al-Quran’ di Tengah Perang dan Kelaparan

Gaza – 1miliarsantri.net: Di tengah kecamuk perang yang tak henti-hentinya melanda Jalur Gaza, sebuah kisah inspiratif muncul dari tenda-tenda pengungsian yang panas dan sesak, membuktikan bahwa cahaya Al-Quran dapat bersinar bahkan dalam kegelapan yang paling pekat. Empat bersaudari dari keluarga Al-Masri, yang kini menjadi penghafal Al-Quran, telah mengukir prestasi luar biasa, dengan tiga di antaranya berhasil menghafal seluruh Al-Quran Di tengah deru konflik yang tak henti, ketiganya berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an, di bawah bimbingan saudari tertua mereka. Tim Al Jazeera Mubasher, yang melaporkan langsung dari salah satu tenda pengungsian keluarga Al-Masri, bertemu dengan keempat bersaudari ini. Mereka adalah Alma (17 tahun), Hala (20 tahun), Sama (15 tahun), dan Nada (22 tahun), sang pembimbing. Nada sendiri telah menyelesaikan hafalan Al-Qurannya pada September 2023. Perjalanan Menuju Hafalan di Tengah Cobaan Perjalanan menghafal Al-Quran ini jauh dari mudah. Alma mengungkapkan bahwa prosesnya sangat sulit dan penuh banyak kesulitan, termasuk pengalaman pengungsian, kelaparan, dan pengusiran. Namun, dengan ketekunan, ia berhasil menjadi hafizah dan merasakan perasaan indah yang tak terlukiskan. Hala mengidentifikasi panas yang sangat menyengat, tempat yang sempit, kurangnya ketenangan, dan suara bom yang dekat sebagai rintangan terberat yang mereka hadapi. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa mereka mengatasi kesulitan ini dengan tekad dan kesabaran. Motivasi mereka tak hanya datang dari keinginan pribadi, melainkan juga dari harapan untuk dapat memakaikan mahkota kepada orang tua mereka di Hari Kiamat. Sama, yang termuda di antara, menggambarkan perjalanannya sebagai sulit tapi manis. Ia juga menyoroti kondisi yang memburuk: pengungsian, pengusiran, kehilangan orang-orang terkasih, kelaparan, dan ketiadaan tempat yang layak untuk menghafal akibat pendudukan Israel yang menghancurkan semua masjid. Namun, ia menyatakan, “dengan tekad dan kegigihan kami, kami berhasil mewujudkan impian kami”. Nada, Sang Pembimbing dan Pelopor Cahaya Nada, sang pembimbing, memegang peran sentral dalam keberhasilan saudari-saudarinya. Nada sangat berterima kasih kepada ayahnya, Kamel Al-Masri, yang menjadi alasan utama di balik perjalanannya dan mendukungnya secara finansial serta moral. Nada adalah benih pertama yang, setelah menghafal Al-Quran, bertekad untuk membimbing saudari-saudarinya. Perjalanan hafalan bersama ini dimulai pada Januari 2024, di tengah masa pengungsian mereka ke Rafah. Nada menyusun jadwal yang ketat untuk hafalan dan muroja’ah. Seluruh tenda pengungsian mereka pun berubah menjadi halaqah tahfiz. Nada juga menegaskan bahwa penghancuran masjid, pusat pendidikan, dan impian mereka tidak menghalangi mereka untuk menghafal Al-Quran. Menyebarkan Cahaya Al-Quran di Tengah Krisis Bahkan di tengah pengungsian, semangat Nada untuk menyebarkan Al-Quran tak padam. Ketika mereka kembali ke Khan Younis, sebuah mushola sederhana didirikan dari terpal dan nilon. Mushola ini menarik sejumlah besar siswi, lebih dari 240 siswi, sebuah berkah dari Allah. Bersama sejumlah pengajar yang mumpuni, Nada mengembangkan program terpadu bekerja sama dengan “Dar Al-Itqan”. Program ini tidak hanya fokus pada hafalan Al-Quran, tetapi juga akidah, sirah nabawiyah, tajwid, dan pendidikan Islam. Tujuannya adalah untuk mencetak generasi Qurani. Pusat pendidikan mereka, “Fatayat Al-Quran,” telah berhasil meluluskan lebih dari 20 penghafal Al-Quran. Nada mengungkapkan bahwa Al-Quran adalah penghibur dalam hiruk pikuk kehidupan mereka, bahkan mushaf-mushaf ini mereka bawa serta saat mengungsi dari rumah mereka. Pesan Harapan dan Wajah Sejati Gaza Nada meneteskan air mata, perpaduan antara kebahagiaan dan kebanggaan, saat ia melihat impian ayahnya menjadi kenyataan. Baginya, hafalan Al-Quran “menguatkan kami, menguatkan rakyat kami,” dan akan melahirkan generasi Qurani. Pesan mereka untuk semua orang yang ingin menghafal Al-Quran sangatlah jelas: “Mulailah dengan niat yang tulus karena Allah SWT, dan jangan menyerah menghadapi kesulitan dan kondisi apapun, dan yakinlah bahwa Allah akan mempermudah jalanmu”. Nada menambahkan, “Tidak ada kondisi yang lebih sulit dari kondisi yang kami alami”. Kamel Al-Masri, sang ayah, menyatakan kebanggaan, kehormatan, dan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT yang telah membimbing putri-putrinya menghafal Al-Quran, menjadikan rumah mereka mercusuar Al-Quran. Ia menyoroti inisiatif Nada yang, di hari pertama mereka tiba di tempat pengungsian, langsung bertanya, “Ayah, di mana masjid terdekat? Aku ingin mendirikan halaqah tahfiz Al-Quran”. Ayah mereka dengan tegas menyatakan bahwa ini adalah wajah sejati Gaza. Di zaman di mana perilaku premanisme, pencurian, keserakahan, dan penimbunan marak, keluarga Al-Masri menunjukkan bahwa ini adalah wajah sejati Gaza: hafalan Al-Quran, tarbiyah, dan keteguhan. Ia menekankan bahwa Gaza tetap menghasilkan prestasi, meskipun berada dalam perang, kelaparan, kehancuran, dan pengeboman. Kisah empat bersaudari putri Al-Masri adalah bukti nyata ketahanan, harapan, dan tekad luar biasa yang dapat tumbuh bahkan di tengah kehancuran. Mereka adalah cahaya yang bersinar dari tenda-tenda pengungsian rakyat Palestina di Gaza, menunjukkan kepada dunia bahwa semangat Al-Quran dan pencarian ilmu takkan padam oleh kesulitan apapun.*** Penulis : Abdullah al-Mustofa Editor : Thamrin Humris Sumber : Kanal youtube Al Jazeera Mubasher Foto tangkapan layar Kanal youtube Al Jazeera Mubasher

Read More

Usaha Syariah ‘Meraih Laba’ Tanpa Kehilangan Berkah

Tegal – 1miliarsantri.net: Di era perdagangan bebas saat ini persaingan usaha semakin dinamis, pelaku bisnis berlomba mengejar profit maksimal. Namun bagi seorang muslim, arah usaha tidak sekadar menuju keuntungan duniawi. Ada cita-cita yang lebih tinggi daripada itu, yakni mencari ridha dan meraih keberkahan dari Allah SWT dalam setiap rupiah yang dihasilkan. Maka, mengelola keuangan usaha dengan prinsip syariah bukan sekadar menambah nilai islami, tapi juga menjadi fondasi untuk membangun bisnis yang jujur, adil, dan berkelanjutan. Prinsip-prinsip ekonomi Islam mengajarkan bahwa bisnis yang sehat bukan hanya soal untung rugi saja, tapi juga soal tanggung jawab moral. Baca juga: Sistem Koperasi Syariah Dan Ikhtiar Membangun Ekonomi Umat Yang Berkeadilan Keuangan Syariah untuk Menjaga dari yang Haram, Menguatkan yang Halal Dalam Islam, harta adalah titipan. Maka pengelolaan keuangan tak bisa dilakukan semaunya, melainkan harus mengikuti nilai-nilai syariat. Ada tiga hal pokok yang dihindari dalam sistem keuangan syariah, seperti riba (bunga), gharar (ketidakjelasan), dan maysir (spekulasi atau perjudian). Larangan riba disebutkan secara tegas dalam QS. Al-Baqarah [2]: 275–279. Dalam ayat-ayat itu, Allah SWT menegaskan bahwa praktik riba merusak tatanan ekonomi dan menimbulkan ketidakadilan sosial. Sebaliknya, Islam menekankan pentingnya transparansi, keadilan, dan saling ridha dalam bermuamalah. Usaha yang Diberkahi Ketika Dunia dan Akhirat Bertemu Sering muncul anggapan bahwa usaha syariah akan menghambat laju keuntungan. Faktanya justru sebaliknya. Bisnis yang dikelola dengan prinsip Islam cenderung lebih stabil dan dipercaya, karena dilandasi oleh kejujuran dan tanggung jawab. Adapun ciri-ciri usaha yang diberkahi antara lain: Dengan membangun reputasi yang bersih, usaha pun menjadi ladang keberkahan yang mengalir bukan hanya untuk pemiliknya, tapi juga untuk banyak pihak. 5 Langkah Praktis Mengelola Keuangan Usaha secara Syariah Agar bisnis tetap berada di jalur yang halal dan berkah, berikut beberapa tips praktis yang bisa langsung diterapkan oleh para pelaku usaha muslim: 1. Catat Semua Transaksi dengan Jujur Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah: 282 mewajibkan pencatatan utang-piutang. Ini menunjukkan pentingnya dokumentasi dalam kegiatan ekonomi. Maka setiap pemasukan dan pengeluaran, sekecil apa pun, perlu dicatat secara transparan. Ini bukan hanya mencegah sengketa, tapi juga memudahkan evaluasi usaha. 2. Gunakan Akad yang Sesuai Syariah Transaksi dalam Islam harus didasari oleh akad yang jelas dan disepakati. Adapun beberapa akad yang umum dipakai: Pemilihan akad yang tepat menjadi pagar hukum dan moral bagi transaksi usaha. 3. Tolak Sumber Pendapatan yang Tidak Halal Pendapatan dari hasil suap, penipuan, riba, atau praktik haram lainnya harus ditolak. Jika terlanjur masuk, dana tersebut sebaiknya disalurkan untuk kemaslahatan umum tanpa niat mengambil manfaat pribadi. Membersihkan sumber pendapatan adalah syarat penting agar usaha tetap berkah. 4. Jangan Lupa Zakat dan Infaq Zakat bukan sekadar bentuk kewajiban religius, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan sosial. Ketika usaha telah memenuhi syarat nisab dan haul, maka zakat atas harta atau perusahaan perlu ditunaikan. Di samping itu, membiasakan diri berinfaq dan bersedekah juga merupakan bentuk kontribusi nyata terhadap masyarakat. Sedekah bisa membuka pintu rezeki yang tak disangka dan menjadi penolong saat usaha menghadapi kesulitan. 5. Bijak Menghadapi Dunia Digital Era digital menawarkan banyak kemudahan, mulai dari pencatatan keuangan syariah lewat aplikasi, transaksi digital halal, hingga kerja sama dengan fintech dan bank syariah. Namun hati-hati, ada juga jebakan, seperti: Tetaplah selektif. Niat baik harus diiringi dengan kehati-hatian agar tidak tergelincir dalam praktik yang melanggar syariat. Baca juga: Travel Umrah: Usaha Jasa Berbasis Syariah Yang Menguntungkan Dan Berkah Usaha sebagai Jalan Ibadah Dalam Islam, bekerja bukan hanya mencari nafkah, tapi juga bentuk ibadah. Maka saat kita mengelola usaha dengan niat yang lurus dan cara yang benar, setiap aktivitas bisnis bisa menjadi ladang amal. Setiap rupiah yang halal, setiap transaksi yang jujur, setiap zakat yang ditunaikan, semuanya bernilai ibadah. Bahkan dalam kesederhanaan, jika dilakukan dengan benar, usaha kita bisa menjadi sebab turunnya rahmat Allah. Mulailah dari yang Sederhana Tidak perlu menunggu jadi pengusaha besar untuk menerapkan keuangan syariah. Bisa dimulai dari: Pelan tapi pasti, sistem keuangan Islami dalam usaha akan terbentuk. Dan insyaAllah, bisnis pun bukan hanya mendatangkan cuan, tapi juga keberkahan. Yang penting bukan seberapa besar omzet yang dihasilkan, tapi seberapa halal dan berkah setiap rupiah yang dijalankan.** Penulis : Satria S Pamungkas (Tegal, Jawa Tengah) Foto ilustrasi Editor : Ainun Maghfiroh dan Thamrin Humris

Read More

Sholat Kafarat Adakah Dalilnya? Bagaimana Pandangan 4 Madzhab?, Ini Penjelasan Singkatnya

Bondowoso – 1miliarsantri.net: Setiap manusia pasti pernah berbuat khilaf, termasuk dalam hal meninggalkan ibadah wajib seperti sholat. Lalu muncul pertanyaan, adakah cara untuk menebus sholat yang pernah ditinggalkan? Salah satu amalan yang sering dibicarakan adalah tata cara sholat kafarat. Sholat ini diyakini sebagian kalangan sebagai ibadah penghapus dosa sholat fardhu yang tertinggal. Namun, benarkah hal itu dibenarkan dalam Islam? Dan bagaimana pandangan empat madzhab besar dalam fiqih terhadap praktek ini? Pada artikel ini, kami akan membahas secara menyeluruh tata cara sholat kafarat, lengkap dengan dalil, perbedaan pendapat ulama, hingga panduan pelaksanaannya menurut referensi klasik dan kontemporer. Jangan lewatkan uraian penting ini, karena bisa jadi Anda sedang berada di persimpangan antara amalan sunnah dan sesuatu yang justru terlarang. Apa Itu Sholat Kafarat? Sholat kafarat, juga dikenal sebagai sholat al-bara’ah, adalah bentuk ibadah tambahan yang diyakini sebagian kalangan sebagai sarana untuk menebus atau mengganti sholat wajib yang ditinggalkan. Nama “kafarat” berasal dari kata kufr yang berarti menutupi. Dalam konteks ini, maksudnya adalah menutupi kesalahan masa lalu dengan amal kebaikan. Beberapa kelompok melaksanakan sholat kafarat khususnya pada Jumat terakhir bulan Ramadhan. Mereka percaya bahwa sholat ini bisa menggantikan sholat-sholat fardhu yang luput dikerjakan atau dilakukan secara tidak sah. Namun, praktik ini mengundang perbedaan pendapat tajam di kalangan ulama. Tata Cara Sholat Kafarat dan Doanya Sebelum membahas pendapat ulama, penting untuk memahami tata cara sholat kafarat secara umum sebagaimana dipraktikkan sebagian masyarakat. Dan berikut adalah langkah-Langkah pelaksanaannya: Pandangan Ulama, Boleh atau Haram? Pembahasan mengenai tata cara sholat kafarat tidak lengkap tanpa mengetahui pendapat ulama mengenai keabsahannya. Berikut pandangan dari empat madzhab besar dalam Islam: 1. Madzhab Hanafi Ulama Hanafiyah pada umumnya tidak menyebutkan sholat kafarat secara eksplisit dalam kitab-kitab fiqih mereka. Namun, mereka mewajibkan qadha atas setiap sholat fardhu yang ditinggalkan, tanpa menyebut adanya ibadah khusus seperti sholat kafarat. 2. Madzhab Maliki Ulama Maliki juga tidak mengenal praktik sholat kafarat sebagai ibadah tersendiri. Mereka lebih menekankan kewajiban qadha sholat secara langsung dan segera setelah sadar atau mampu melaksanakannya. 3. Madzhab Syafi’i Dalam madzhab Syafi’i, qadha sholat adalah wajib. Namun, mengkhususkan ibadah tertentu pada waktu dan cara yang tidak disyariatkan, seperti sholat kafarat pada Jumat terakhir Ramadhan, dianggap tidak memiliki dasar. Beberapa ulama Syafi’iyah bahkan menyebut praktik ini sebagai bid’ah. 4. Madzhab Hanbali Pandangan Hanabilah juga sejalan dengan ketiga madzhab lainnya. Mereka menolak konsep sholat kafarat sebagai pengganti sholat fardhu dan mengharuskan qadha satu per satu atas setiap ibadah yang tertinggal. Hukum Sholat Kafarat Menurut Ulama Sejumlah ulama memperbolehkan sholat kafarat sebagai bentuk ihtiyath (kehati-hatian) dalam beribadah, terutama bagi yang ragu apakah pernah meninggalkan sholat. Namun, kelompok lain dengan tegas menyatakan haram, bahkan ada yang menyebutnya mendekati kufur karena membuat-buat ibadah tanpa dalil sahih. Menurut Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, praktik sholat kafarat yang dikhususkan pada Jumat terakhir Ramadhan dengan keyakinan menggugurkan dosa selama setahun adalah bid’ah yang sangat tercela. Demikian pula dalam pandangan Buya Yahya, sholat kafarat tidak memiliki dasar yang kuat, baik dari Al-Qur’an maupun hadits. Beliau menekankan pentingnya mengqadha sholat satu per satu, bukan dengan ritual kolektif yang tidak dikenal dalam syariat. Menyikapi Tata Cara Sholat Kafarat dengan Bijak Dari uraian di atas, jelas bahwa tata cara sholat kafarat bukanlah praktik yang disepakati oleh para ulama. Meskipun ada sebagian yang membolehkannya sebagai bentuk ihtiyath, mayoritas ulama, khususnya dari kalangan madzhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, menyatakan bahwa praktik ini tidak memiliki dasar syariat yang kuat dan bahkan dapat tergolong ibadah yang tidak sah. Daripada mengandalkan sholat kafarat, lebih baik setiap Muslim yang pernah meninggalkan sholat segera melakukan qadha sesuai jumlah yang ditinggalkan. Taubat nasuha, memperbanyak ibadah yang disyariatkan, dan konsistensi dalam menjaga sholat wajib jauh lebih dianjurkan dalam Islam. Semoga pembahasan tentang tata cara sholat kafarat ini bisa memberikan panduan dan pemahaman yang mendalam bagi umat Islam. Selalu landaskan setiap ibadah pada dalil yang shahih agar ibadah kita bernilai di sisi Allah SWT.** Penulis : Ainun Maghfiroh Foto Ilustrasi Editor : Thamrin Humris

Read More

‘Sleeping Prince Al Waleed’ Meninggal Dunia, Kisah Sabar dan Ikhlasnya Seorang Ayah

Saudi Arabia – 1miliarsantri.net: Akhirnya “Sleeping Prince”, Pangeran dan putra tertua Pangeran Khaled bin Talal Al Saud, seorang bangsawan Saudi terkemuka dan keponakan miliarder Pangeran Al Waleed bin Talal dinyatakan meninggal dunia hari ini waktu setempat, Ahad (Minggu-red) 20/7/2025. Al Waleed bin Khaled bin Talal Al Saud, yang lahir pada April 1990, lebih dari dua dekade terbaring dalam keadaan koma, menghabiskan sisa umurnya di atas tempat tidur rumah sakit, dalam pengawasan dan kasih sayang ayahnya yang meyakini anaknya akan sembuh pasca kecelakaan maut di London. Diusianya yang ke-15, tahun 2005 saat mengenyam pendidikan sebagai kadet militer, Al Waleed mengalami kecelakaan lalulintas yang sangat parah di London. Dia mengalami cedera otak parah dan pendarahan internal. Sabar dan Ikhlasnya Ayah Pangeran Al Waleed Meskipun sang anak dalam kondisi koma yang sebagian besar tidak responsif, Pangeran Khaled tetap optimis akan kesembuhan anaknya, sesekali Pangeran Al Waleed terlihat merespon gerakan tak sadar yang menumbuhkan harapan seorang ayah akan kesembuhan anaknya dengan keyakinan teguh akan kesembuhan dari Rabb-nya. Pangeran Khaled menolak mencabut alat bantu kehidupan yang terpasang pada tubuh anaknya, dia sangat yakin dan optimis atas kesembuhan, dengan keyakinan teguh akan kesembuhan dari Tuhannya. Kondisi tersebut diperlihatkan oleh kalangan keluarga “Sleeping Prince” melalui sebuah video yang memperlihatkan sang Pangeran merespon lantunan ayat suci Al-Qur’an, yang memantik empati dan kekaguman publik atas kondisinya. Kamar RS Menjadi Tempat Berhimpunnya Doa Dan Dukungan Kamar rumah sakit tempat Pangeran Al Waleed dirawat selama 20 tahun menjadi saksi bisu alunan do’a dan dukungan dari berbagai pihak, suasana spiritual begitu kental, juga empati dari mereka yang mengunjungi “Sleeping Prince.” Harapan kesembuhan dan kehidupan dari perjuangan medis dan ikhlasnya lantunan do’a keluarga menunjukan optimisme dan semangat keluarga yang melampaui segala-galanya. Tagar Pangeran Tidur dan Hari Berkabung Nasional Di Media Sosial Mengutip Gulf News, Berita tentang meninggalnya pangeran di fasilitas medis khusus di Arab Saudi memicu belasungkawa yang luas. Tagar “Pangeran Tidur” (#SleepingPrince) menjadi tren di media sosial ketika ribuan orang berduka atas simbol kesabaran, iman, dan cinta ayah. Cerita itu bergema dalam, dengan banyak yang tersentuh oleh citra seorang ayah yang setia di samping tempat tidur putranya dari tahun ke tahun.*** Penulis dan Editor : Thamrin Humris Foto istimewa gulfnews.com

Read More

Tidak Ada Riba Dalam Koperasi Simpan Pinjam, Jika Dijalankan Sesuai Nilai Dan Prinsip Koperasi

Jakarta – 1miliarsantri.net: Di tengah kegelisahan umat terhadap sistem keuangan berbasis riba, muncul harapan besar pada sistem koperasi simpan pinjam sebagai alternatif lembaga keuangan yang lebih adil, bersih, dan sesuai nilai-nilai Islam. Namun, seringkali muncul keraguan: Apakah koperasi benar-benar bebas riba? Jawaban atas keraguan ini bergantung pada bagaimana koperasi tersebut dijalankan. Jika koperasi simpan pinjam dikelola dengan benar, sesuai prinsip dan nilai-nilai dasar koperasi, maka ia bebas dari praktik riba. Bahkan, koperasi bisa menjadi instrumen ekonomi yang menyelamatkan umat dari jeratan sistem keuangan ribawi yang merusak. Prinsip “Dari, Oleh, dan Untuk Anggota”: Uang Kita, Kembali kepada Kita Salah satu keistimewaan koperasi dibandingkan lembaga keuangan lainnya adalah prinsip utamanya: Artinya, dana yang dikelola dalam koperasi adalah hasil simpanan para anggota sendiri, bukan dana investor luar, bukan dari sistem perbankan ribawi. Kegiatan pinjam meminjam dalam koperasi bukanlah hubungan antara pihak luar yang mencari keuntungan, melainkan bentuk solidaritas antar anggota untuk saling bantu dan memberdayakan. Baca juga : Koperasi Menjadi Ladang Amal Jariyah Yang Tak Terputus Dalam Islam, dasar hubungan keuangan seperti ini sangat kuat. Al-Qur’an mengajarkan prinsip: Prinsip saling ridho inilah yang menjadikan transaksi keuangan dalam koperasi bukan riba, melainkan akad tolong-menolong yang disepakati secara sukarela. Kenapa Koperasi Tidak Riba? Ini Pertimbangannya: 1. Uang Dikelola secara Kolektif dan Transparan Dalam koperasi, tidak ada pemilik modal tunggal yang mengambil keuntungan dari bunga. Dana adalah milik kolektif anggota. Ketika dana disalurkan dalam bentuk pinjaman, itu merupakan bentuk pelayanan kepada anggota yang membutuhkan. Keuntungan yang dihasilkan pun bukan untuk memperkaya segelintir orang, tetapi untuk kesejahteraan semua anggota. 2. Akad Berdasarkan Musyawarah dan Kesepakatan Bersama Besaran jasa pinjaman atau biaya administrasi dalam koperasi disepakati melalui forum demokratis seperti Rapat Anggota Tahunan (RAT). Tidak ada pemaksaan, tidak ada ketidakjelasan. Semua terang, terbuka, dan disepakati bersama. Hal ini berbeda dengan riba yang mengandung unsur kezaliman dan penindasan. 3. Bukan Transaksi Eksploitatif, Tapi Saling Bantu Riba muncul ketika ada pihak yang memanfaatkan kebutuhan orang lain untuk meraup keuntungan berlebih. Dalam koperasi, semangatnya adalah tolong menolong—anggota yang lebih mampu membantu yang sedang membutuhkan. Itulah yang disebut dengan ta’awun dalam ajaran Islam. 4. Keuntungan Kembali ke Anggota Jika ada kelebihan dari hasil usaha simpan pinjam (dikenal sebagai Sisa Hasil Usaha/SHU), maka kelebihan itu dibagikan kepada anggota sesuai partisipasi, bukan disedot oleh investor atau pemilik modal. Ini sangat sesuai dengan prinsip keadilan dalam Islam. Baca juga : Semangat Koperasi Membangun Dunia yang Lebih Baik Antara Bunga dan Jasa Pinjaman: Jangan Disamakan Salah satu kesalahan umum dalam menilai koperasi adalah menyamakan “jasa pinjaman” dengan “bunga bank”. Padahal secara filosofi dan struktur, keduanya sangat berbeda: Bunga Bank bersifat mengikat, ditentukan sepihak oleh lembaga keuangan, tidak transparan, dan mengejar keuntungan maksimal. Jika terlambat, bunganya bertambah. Unsur gharar (ketidakjelasan) dan riba (penambahan atas pinjaman tanpa dasar) sangat kental di sini. Jasa Pinjaman Koperasi adalah kesepakatan bersama, tidak ditentukan sepihak, digunakan untuk menutup biaya operasional dan menjaga keberlanjutan koperasi. Dalam RAT, anggota sendiri yang menyetujui besarannya. Bahkan, dalam banyak koperasi syariah, skema ini diganti dengan akad murabahah, qardhul hasan, atau sistem margin syariah. 5 Fase Penulisan Al-Qur’an Sejak Masa Rasulullah Hingga Saat Ini Koperasi: Wujud Konkret Ekonomi Tanpa Riba Koperasi adalah lembaga yang secara konseptual paling memungkinkan untuk meninggalkan riba secara total. Dengan asas: Koperasi mewakili wajah sistem keuangan yang adil, sehat, dan sejalan dengan maqashid syariah (tujuan-tujuan hukum Islam). Islam Memerintahkan Menjauhi Riba dan Membangun Ekonomi Berkeadilan Al-Qur’an dengan tegas melarang riba dan menyuruh menegakkan keadilan dalam muamalah. Riba adalah bentuk pemerasan terhadap yang lemah. Islam menolak sistem yang menindas satu pihak demi keuntungan pihak lain. Dalam koperasi, yang terjadi adalah kebalikannya: kekuatan dikumpulkan bersama untuk mengangkat yang lemah. Menjawab Tantangan dan Membangun Solusi Namun, idealisme koperasi tidak akan berarti jika tidak dikelola dengan nilai dan prinsip koperasi yang benar. Beberapa tantangan yang sering muncul antara lain: Solusinya? Penguatan akhlak pengurus dan pengawas, pelatihan berkala bagi anggota, peningkatan sistem pelaporan, dan—yang terpenting—mengembalikan koperasi kepada ruhnya: dari, oleh, dan untuk anggota; serta dijalankan dengan ridho dan tanggung jawab. Baca juga : Sertifikasi Halal Gratis Bagi ‘UMK’, Ini Dasar Hukumnya Membangun Koperasi yang Bebas Riba adalah Jalan Iman dan Perjuangan Mendirikan dan mengelola koperasi simpan pinjam tanpa riba bukanlah sekadar pilihan teknis, tetapi perjuangan iman. Umat Islam membutuhkan wadah keuangan yang selaras dengan syariat, dan koperasi menawarkan itu. Tentu, dengan catatan nilai dan prinsip koperasi dijaga, serta seluruh operasionalnya dilandasi niat tolong-menolong dan semangat menegakkan keadilan. Koperasi simpan pinjam yang benar bukanlah lembaga riba terselubung, melainkan benteng umat dari sistem ekonomi zalim. Maka, membina, mengembangkan, dan bergabung dalam koperasi yang sehat adalah bagian dari ibadah sosial dan perjuangan ekonomi umat.** Koperasi Jaya, Rakyat Sejahtera Penulis : Ki Ageng Sambung Bhadra Nusantara) Foto Istimewa Editor : Thamrin Humris

Read More

5 Fase Penulisan Al-Qur’an Sejak Masa Rasulullah Hingga Saat Ini

Bekasi – 1miliarsantri.net: Al-Qur’an adalah kalam Allah, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui Malaikat Jibril. Al-Qur’an bukanlah ciptaan manusia, melainkan wahyu illahi yang menjadi pedoman hidup bagi umat manusia, khususnya seluruh umat Islam. Banyak yang bertanya, apakah Al-Qur’an saat ini sama dengan Al-Qur’an saat diterima Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam ataukah berbeda? Baca juga : Investasi Akhirat ‘Bantu Bebaskan Lahan’ Untuk Pondok Pesantren Al Quran Fajar Ashshiddiq Patut diketahui, secara prinsip Isi Al-Qur’an sejak Rasulullah menerima wahyu pertama hingga saat ini adalah sama. Firman Allah yang diterima Nabi Muhammad selama 23 tahun itu tercatat dengan baik dari masa ke masa dan dalam pemeliharaan Allah. “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9). 5 Fase Penulisan Al-Qur’an Sejak pertama kali Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad, terdapat 5 (lima) fase penulisan kitabullah yang perlu dipahami. Tidak ada perbedaan isi Al-Qur’an, yang berbeda hanya cara penulisannya. Fase Pertama: Penulisan Langsung, yang mana penulisan setiap potongan ayat saat itu juga ketika wahyu diturunkan, Rasulullah ﷺ kemudian memanggil para sahabat untuk menuliskan dihadapannya. Ada 4 sahabat nabi yang menuliskan ayat-ayat Allah yang diterima oleh Nabi Muhammad, diantara mereka ada yang merupakan penghafal Al-Qur’an. Para sahabat itu, Zaid bin Tsabit, Muawiyah Ibn Abi Sufyan, Ubaid bin Ka’ab (penghafal qur’an) dan Zubair Nawab. Baca juga : ‘Spirit Mencetak Pemimpin Qurani Menuju Indonesia Emas 2045’, Dipilih Jadi Tema ‘Wisuda Akbar Ke-XI’ Ponpes Darul Hijrah se Jawa Timur Zaid bin Tsabit mengatakan, Rasul mendiktekan Al-Qur’an dan meminta sahabat membaca sesudahnya, lalu Rasulullah mengkoreksi bacaannya/tulisannya. Lalu diijinkan untuk disampaikan kepada sahabat-sahabat dan kaum muslimin Madinah saat itu. Pada fase tersebut, ayat-ayat Qur’an ditulis dalam bentuk potongan pada media seperti pelepah kurma, papan, batu, kulit binatang dan lainnya, belum dalam bentuk buku yang tersusun rapi seperti saat ini. Fase Kedua: Pengumpulan tulisan-tulisan sebelumnya dalam 1 shuhuf, kemudian ditulis ulang dalam lembaran kertas dikumpulkan menjadi satu / mushaf induk. Kegiatan penulisan tersebut dilakukan zaman Abubakar Siddik Radhiyallahu’Anhu (atas saran Umar Bin Khattab Radhiyallahu’Anhu). Baca juga : Ikatan Keluarga Minangkabau ‘IKM’ Ende Buka Taman Pendidikan Al-Qur’an ‘Al Istiqomah’ Fase Ketiga: Disalin Ulang, Mushaf induk zaman Abubakar, mushaf induk tersebut disalin ulang, atau diperbanyak istilah sekarang dicopy menjadi mushaf-mushaf yang banyak. Kegiatan tersebut berlangsung pada masa sahabat Utsman Bin Affan Radhiyallahu’Anhu. Kemudian mushaf-mushaf dikirim atau disebar ke negeri-negeri atau kota-kota kaum muslimin bersama qari yang mutkin (mumpuni keilmuannya). Seperti kota Makkah, Syam, Basyrah, Kuffah dan lainnya. Fase Keempat: Kaum Muslimin Menulis Ulang / Memperbanyak Mushaf. Mushaf yang dikirim dari Madinah bersama qari yang mutkin, misal ketika ada di Syam kemudian diperbanyak lagi / ditulis ulang (disalin) dan berlanjut seterusnya, namun tetap terjaga keasliannya. Baca juga : Gratis! ‘Pelatihan Guru Ngaji’ Pusat AlQuran Indonesia, Terbatas Untuk 100 Orang Fase Kelima: Muncullah Kitab-kitab yang ditulis para Ulama yang memberikan penetapan tentang kekhususan-kekhususan penulisan Qur’an (Ilmu Rasmil Masail). Mushaf meskipun dalam bahasa Arab ada pembahasan kaidah-kaidah antara penulisan dan pembacaannya. misalnya ayat “Maalikiyaumiddin” dalam penulisan tidak ada alif (hanya Mim, Lam, Kaf), namun mim dibaca panjang, ada yang juga yang dibaca pendek. inilah yang disebut kaidah-kaidah penulisan mushaf. Inilah lima fase penulisan Al-Qur’an, semoga artikel ini menjadi salah satu literasi bagi kaum muslimin bahwa Al-Qur’anul Karim ditulis dalam beberapa fase hingga saat ini.** Sumber: Catatan Pribadi Redaksi Dalam Kelas Khusus Tajwid Mushawwar Batch 4, Qothrunnadaa Learning Center (https://qothrunnadaa.id/). Penulis dan Editor : Thamrin Humris Foto : Ilustrasi

Read More