‘Sleeping Prince Al Waleed’ Meninggal Dunia, Kisah Sabar dan Ikhlasnya Seorang Ayah

Saudi Arabia – 1miliarsantri.net: Akhirnya “Sleeping Prince”, Pangeran dan putra tertua Pangeran Khaled bin Talal Al Saud, seorang bangsawan Saudi terkemuka dan keponakan miliarder Pangeran Al Waleed bin Talal dinyatakan meninggal dunia hari ini waktu setempat, Ahad (Minggu-red) 20/7/2025. Al Waleed bin Khaled bin Talal Al Saud, yang lahir pada April 1990, lebih dari dua dekade terbaring dalam keadaan koma, menghabiskan sisa umurnya di atas tempat tidur rumah sakit, dalam pengawasan dan kasih sayang ayahnya yang meyakini anaknya akan sembuh pasca kecelakaan maut di London. Diusianya yang ke-15, tahun 2005 saat mengenyam pendidikan sebagai kadet militer, Al Waleed mengalami kecelakaan lalulintas yang sangat parah di London. Dia mengalami cedera otak parah dan pendarahan internal. Sabar dan Ikhlasnya Ayah Pangeran Al Waleed Meskipun sang anak dalam kondisi koma yang sebagian besar tidak responsif, Pangeran Khaled tetap optimis akan kesembuhan anaknya, sesekali Pangeran Al Waleed terlihat merespon gerakan tak sadar yang menumbuhkan harapan seorang ayah akan kesembuhan anaknya dengan keyakinan teguh akan kesembuhan dari Rabb-nya. Pangeran Khaled menolak mencabut alat bantu kehidupan yang terpasang pada tubuh anaknya, dia sangat yakin dan optimis atas kesembuhan, dengan keyakinan teguh akan kesembuhan dari Tuhannya. Kondisi tersebut diperlihatkan oleh kalangan keluarga “Sleeping Prince” melalui sebuah video yang memperlihatkan sang Pangeran merespon lantunan ayat suci Al-Qur’an, yang memantik empati dan kekaguman publik atas kondisinya. Kamar RS Menjadi Tempat Berhimpunnya Doa Dan Dukungan Kamar rumah sakit tempat Pangeran Al Waleed dirawat selama 20 tahun menjadi saksi bisu alunan do’a dan dukungan dari berbagai pihak, suasana spiritual begitu kental, juga empati dari mereka yang mengunjungi “Sleeping Prince.” Harapan kesembuhan dan kehidupan dari perjuangan medis dan ikhlasnya lantunan do’a keluarga menunjukan optimisme dan semangat keluarga yang melampaui segala-galanya. Tagar Pangeran Tidur dan Hari Berkabung Nasional Di Media Sosial Mengutip Gulf News, Berita tentang meninggalnya pangeran di fasilitas medis khusus di Arab Saudi memicu belasungkawa yang luas. Tagar “Pangeran Tidur” (#SleepingPrince) menjadi tren di media sosial ketika ribuan orang berduka atas simbol kesabaran, iman, dan cinta ayah. Cerita itu bergema dalam, dengan banyak yang tersentuh oleh citra seorang ayah yang setia di samping tempat tidur putranya dari tahun ke tahun.*** Penulis dan Editor : Thamrin Humris Foto istimewa gulfnews.com

Read More

Indonesia ‘Gagap’ Memasuki Perang Dagang Global Amerika Serikat

Saguling Kabupaten Bandung Barat – Babak baru klaim Presiden Trump atas keberhasilannya dalam negosiasi dengan Presiden Prabowo Subianto, mendapat reaksi sejumlah pihak yang menilai ini langkah blunder membuat bumi Indonesia diserahkan sepenuhnya untuk dieksploitasi Paman Sam. Sementara Indonesia masih dibebani pajak tinggi 19% saat Neraca Perdagangan Indonesia Surplus. HM Ali Moeslim kembali menyoroti kebijakan tersebut dalam sebuah catatan yang cukup tajam, sekaligus mengingatkan Pemerintahan Prabowo Subianto tentang bentuk penjajahan gaya baru dalam bentuk perang dagang global dengan tema : Indonesia ‘Gagap’ Memasuki Perang Dagang Global Amerika Serikat. Ali Moeslim mengajak kita membandingkannya dengan Politik Perdagangan Luar Negeri Dalam Islam. Tarif Dagang Adalah Daya Tawar Negara, Catatan Kritis Kesepakatan Indonesia Dan Amerika Serikat There Is No Such Free Lunch KAUM MUSLIM terpecah menjadi lebih dari lima puluh negara negara kecil yang terserak membentang luas dari bagian utara Prancis sampai ke bagian selatan yakni Madagaskar, membentang dari bagian barat yakni Maroko sampai bagian timur yakni Merauke. Negeri-negeri muslim tersebut kini sebagian besarnya tidak lagi dijajah secara fisik oleh para penjajah seperti Inggris, Prancis, Belanda, Spanyol, Italia maupun USA, namun saat mereka para penjajah itu pergi, mereka menyimpan atau memelihara para penguasa negeri negeri muslim tersebut untuk “menjamin” kepentingan mereka para penjajah itu tetap berjalan di negeri “jajahan” yang ditinggalkannya, “there is no such free lunch” (tidak ada makan siang gratis). Nampak jelas Indonesia “gagap” memasuki babak perang dagang global yang diinisiasi oleh Donald Trump sejak kembali menjabat sebagain presiden USA mulai januari 2025, kemudian pada april 2025 mengumumkan kebijakan “liberation Day tariff” menyasar 20 negara di dunia termasuk Indonesia. Sungguh mencengangkan di tengah surplusnya perdagangan Indonesia dengan USA pada periode awal tahun ini (Januari – Pebruari 2025) justru tarif dagangnya naik menjadi 32%, walaupun akhirnya diturunkan menjadi 19% tapi dengan syarat syarat. Kado Pahit 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia Sejumlah syarat disebutkan oleh Donald Trump dengan bangga seolah memperlihatkan kemenangannya (Amerika Serikat) atas Indonesia, dia menyebut sebagai bagian dari perjanjian, Indonesia harus membeli energi AS senilai US$15 miliar, produk pertanian Amerika senilai US$4,5 miliar, dan 50 pesawat Boeing. Bukan hanya pelepasan cadangan devisa secara signifikan dalam ratusan trilyun, kesepakatan tarif ini sangat tidak berimbang. Bagi Indonesia, hal ini bak’ kado pahit bagi 80 tahun kemerdekaan Indonesia dari penjajahan fisik, jatuhnya harga diri bangsa ke titik 0. Sementara bagi USA semakin menegaskan watak asli dari sistem ekonomi kapitalis. Negara kaya semakin kaya, negara miskin semakin melarat. Dalam paradigma sistem ekonomi kapitalisme, tarif ekspor/impor adalah bea cukai yang posisinya sama dengan pajak, bahkan sama-sama menjadi sumber utama kas negara (APBN). Keberadaan bea cukai dan pajak tidak ubahnya lahan bisnis penguasa terhadap rakyatnya. Ini menggambarkan hubungan rakyat dengan penguasa benar-benar seperti penjual dan pembeli. Dalam konteks perdagangan luar negeri (antarnegara), keberadaan tarif ekspor/impor bisa digunakan negara yang kuat untuk menekan negara yang lebih lemah. Timbangan Syariah Dalam Perdagangan Global Bagaimana timbangan Syariah Islam dalam perang dagang global? Sebelumnya mesti difahami bahwa ada perbedaan perdagangan dalam negeri dan luar negeri Perdagangan dalam negeri adalah aktivitas jual beli antar individu dalam umat umat yang sama, aktivitas berikut tidak perlu campur-tangan negara, negara memberikan pengarahan umum agar setiap individu terikat dengan hukum syariah, aturan dan sanksi akan diterapkan terhadap pelanggaran sebagaimana sanksi dalam pelanggaran muamalah yang lain. Perdagangan luar negeri adalah aktivitas jual antar bangsa dan umat, baik perdagangan antar dua negara maupun antar dua individu yang masing masing berasal dari negara yang berbeda beda. Negara secara mutlak harus campur tangan terhadap komoditas perdagangan dan pelaku bisnisnya secara rinci. Negara akan mengatur mana komoditas yang boleh “dikeluarkan” dan mana yang dicegah untuk dikeluarkan. Negara juga akan mengatur siapa warga negara asing yang boleh masuk dengan izin, berapa lama dan aktivitas saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Syaikh Taqiyuddin na-Nabhani menjelaskan tentang politik perdagangan luar negeri dalam Islam, termasuk di dalamnya terkait cukai atau usr sebagai berikut; Dalam kitab Muqadimah Ad-Dustur dijelaskan;“Perdagangan luar negeri berlaku menurut kewarganegaraan pedagang, bukan berdasarkan tempat asal barang dagangan. Pedagang yang berasal dari negara yang sedang berperang (at-tujjaar al-harbiyyuun) dilarang mengadakan aktivitas perdagangan di negeri kita, kecuali dengan izin khusus untuk pedagangnya ataupun barang dagangannya. Pedagang yang berasal dari negara yang terikat perjanjian (at-tujjaar al-mu’ahiduun) diperlakukan sesuai dengan teks perjanjian antara kita dan mereka. Para pedagang yang berasal dari warga negara (Khilafah) dilarang mengekspor bahan-bahan yang diperlukan negara (Khilafah), termasuk bahan-bahan yang akan memperkuat militer, industri dan perekonomian musuh. Para pedagang yang berasal dari warga negara (Khilafah) tidak dilarang mengimpor barang yang hendak mereka miliki. Dikecualikan dari hukum-hukum ini, negara yang antara kita dan penduduknya terjadi peperangan secara langsung, seperti Israel, maka ia diperlakukan sebagai negara kafir harbiy f’il[an] pada semua hubungan dengan negara tersebut, baik hubungan perdagangan maupun non perdagangan”. Paradigma perdagangan luar negeri negara Islam (Daulah Islam) itu khas dan berbeda secara prinsip dengan paradigma kapitalisme. Negara Islam akan membangun aktivitas perdagangannya secara mandiri dan berpihak kepada kemaslahatan Islam dan kaum muslimin, tidak sama sekali berpihak pada peningkatan kekayaan nasional sembari melakukan eksploitasi pada negara lain sebagaimana Trump mengeluarkan kebijakan tarif dalam kerangka Make America Great Again. Tapi, demi Islam rahmatan lil aalamiin.** Penulis : HM Ali Moeslim (seorang Penulis dan Pembimbing Haji & Umroh) Foto Istimewa : Kolase ilustrasi Editor : Thamrin Humris

Read More

RTO Opung Dan YAMI Selenggarakan Baksos Pemeriksaan Mata Gratis & Bantuan Kacamata Bersubsidi

Bekasi – 1miliarsantri.net: Mata salah satu organ penting manusia yang harus selalu terjaga kondisinya. Kesehatan mata sangat penting untuk kualitas hidup, karena mata memungkinkan kita berinteraksi dengan dunia visual. Melihat kondisi masyarakat umum yang masih mengabaikan kesehatan mata, Rumah Tahfidz Opung “RTO Opung” bersama Yayasan Amal Mata Indonesia “YAMI” (Charity Vision) mengadakan “Baksos Pemeriksaan Mata Gratis dan Bantuan Kacamata Bersubsidi.” Baksos Pemeriksaan Mata dan Bantuan Kacamata Bersubsidi kolaborasi RTO Opung dan YAMI di selenggarakan di Aula RTO Opung, mulai pukul 08.00 WIB, hari ini Sabtu 19 Juli 2025. Syafrizal yang berprofesi sebagai penjahit, warga RT.001 RW.012 merasa sangat senang, “saya bersyukur mendapatkan pelayanan pemeriksa mata gratis dari Yayasan Amal Mata Indonesia, dan terima kasih pada pengurus RTO Opung yang telah menyelenggarakan kegiatan baksos.” Sementara itu menurut Rere, salah satu santriwati Rumah Tahfidz Opung dan bersekolah di SDN Jatimulya 09 Tambun Selatan yang ikut memeriksakan matanya mengatakan, “tadi sudah diperiksa, sempat ngga kebaca, tapi setelah diganti lensanya, alhamdulillah bisa.” Rere melanjutkan, senang bisa periksa mata. “Selama ini di kelas selalu kebagian duduk di belakang, jadi sulit melihat tulisan di papan tulis, kadang minta teman bacain, baru aku nulis”, imbuh Rere. RTO Opung berdiri pada 2017 bernaung dibawah Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani yang dimotori Hajah Zuraedah (Hajah Ida) bersama keluarga besarnya konsisten mendidik dan melahirkan hafidz dan hafizah, yang dipimpin oleh Ustadz Fauzi Rahman. Menurut Hajah Ida, “RTO juga rutin menyelenggarakan kegiatan sosial untuk melayani masyarakat marginal, salah satunya Baksos Pemeriksaan Mata Gratis dan Bantuan Kacamata Bersubsidi.” “Kegiatan baksos kali ini menggandeng Yayasan Amal Mata Indonesia (Charity Vision), YAMI adalah badan amal yang bergerak dibidang pemeriksaan mata dan penyediaan kacamata bagi masyarakat marginal. Dan diharapkan akan berlangsung tiap tahun,” pungkas Hajah Ida.*** Penulis dan Editor : Thamrin Humris Foto istimewa: dok.1miliarsantri.net

Read More

Janji Palsu di Negeri Para Komisaris

Surabaya – 1miliarsantri.net: Pemerintah pernah mengumandangkan janji besar: menciptakan 19 juta lapangan kerja dalam sepuluh tahun. Janji ini menjadi salah satu harapan utama masyarakat, terutama generasi muda, di tengah tantangan ekonomi global yang semakin sulit. Namun kini, janji itu terasa seperti ilusi. Di banyak kota dan kabupaten, terlihat fenomena ribuan anak muda terpaksa antre panjang demi satu posisi lowongan kerja. Mereka membawa map coklat berisi ijazah, sertifikat, dan harapan. Tapi yang mereka temui hanyalah ketidakpastian dan frustrasi. Jumlah pelamar kerja, tidak berbanding lurus dengan daya serap industri. Realitas ini diperkuat oleh data Bank Dunia yang menunjukkan bahwa sekitar 60% penduduk Indonesia hidup dalam kategori rentan miskin. Artinya, mereka tinggal satu langkah dari jurang kemiskinan struktural. Ketimpangan ekonomi semakin nyata, tetapi narasi pembangunan terus diglorifikasi tanpa evaluasi jujur terhadap dampaknya terhadap rakyat kecil. Sementara itu, para pejabat publik justru sibuk mengumpulkan jabatan. Data dari berbagai media dan investigasi menyebutkan, setidaknya 30 Wakil Menteri merangkap jabatan sebagai Komisaris di berbagai BUMN. Jabatan publik yang seharusnya menjadi bentuk amanah dan pengabdian, justru dijadikan ladang kekuasaan dan kenyamanan finansial. Padahal, dalam prinsip tata kelola pemerintahan yang sehat, rangkap jabatan adalah bentuk konflik kepentingan yang mencederai integritas lembaga negara. Ironisnya, kerusakan tata kelola ini bukan muncul tiba-tiba. Ia adalah warisan dari sepuluh tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang secara sistematis menabrak prinsip-prinsip meritokrasi, menyalahgunakan kewenangan, dan memaksa regulasi tunduk pada kehendak pribadi maupun lingkaran kekuasaannya. Demokrasi prosedural dikerdilkan menjadi formalitas, dan lembaga-lembaga negara yang semestinya menjadi penjaga akuntabilitas justru disusupi oleh loyalis. Penempatan pejabat berbasis kedekatan politik, bukan kompetensi, menjadikan birokrasi kehilangan ruh profesionalismenya. Apa gunanya bicara efisiensi jika yang terjadi justru pemborosan di tingkat elit? Pejabat rajin menyuruh rakyat hidup sederhana, tetapi mereka sendiri menikmati gaji ganda, fasilitas mewah, dan kekuasaan yang tumpang tindih. Retorika efisiensi hanya menjadi kebijakan sepihak yang membebani rakyat, bukan mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Kita bisa belajar dari negara seperti Selandia Baru atau Swedia, di mana standar etik pejabat publik sangat tinggi. Di Selandia Baru, seorang menteri bisa mengundurkan diri hanya karena memberi informasi internal kepada kolega bisnisnya—tanpa perlu ada kerugian negara, apalagi korupsi. Di Swedia, pejabat publik dilarang keras merangkap jabatan karena itu dianggap membuka celah penyalahgunaan wewenang. Bandingkan dengan Indonesia, di mana rangkap jabatan justru dianggap “biasa saja”, bahkan dibenarkan dengan berbagai alasan politis atau administratif. Dalam sistem demokrasi yang sehat, praktik semacam ini adalah bentuk penyimpangan. Di negeri ini, kita justru menyaksikan pelembagaan kepalsuan di berbagai level pemerintahan. Di mana janji ditebar hanya untuk kampanye, tapi realisasi dan tanggung jawabnya tak pernah ditagih secara serius. Masalahnya bukan sekadar rangkap jabatan atau data kemiskinan, tetapi soal krisis integritas dan kehancuran etika pemerintahan. Sepuluh tahun terakhir telah mengubah arah birokrasi kita, dari yang semestinya berbasis prestasi dan pelayanan publik, menjadi sekadar alat kekuasaan yang dikendalikan oleh kepentingan politik jangka pendek. Dalam konteks ini, Prabowo Subianto sebagai presiden terpilih, menghadapi ujian besar. Ia harus menunjukkan secara nyata bahwa dirinya bukan bagian dari rezim Jokowi yang telah merusak fondasi meritokrasi dan keadilan sosial. Rakyat menaruh harapan agar Prabowo berani melepaskan diri dari bayang-bayang kroni dan cawe-cawe politik lama yang hanya melanggengkan oligarki. Ia harus memilih berdiri di sisi rakyat, bukan melanjutkan sistem rusak yang hanya menguntungkan segelintir elit. Jika Prabowo ingin dikenang sebagai pemimpin yang berpihak pada keadilan sosial, maka ia harus berani membongkar praktik rangkap jabatan, menghapus budaya bagi-bagi kursi, dan menghidupkan kembali semangat UUD 1945 Pasal 33: ekonomi disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Ia harus mengembalikan martabat birokrasi, bukan menjadikannya alat politik balas budi. Sudah saatnya bangsa ini bercermin dan menagih janji yang pernah dilontarkan. Negeri ini tidak kekurangan sumber daya. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk memutus rantai kemunafikan birokrasi, membebaskan lembaga negara dari belenggu politik kekuasaan, dan mengembalikan negara ini kepada prinsip meritokrasi, integritas, dan keadilan sosial.** Surabaya, 18 Juli 2025 Penulis : M.Isa Ansori *) Penulis adalah Pegiat Pendidikan dan Perlindungan Sosial. Aktif dalam isu-isu kebijakan publik dan kesejahteraan rakyat. Dosen di STT Multimedia Internasional Malang dan Wakil Ketua ICMI Jatim Serta Dewan Pakar LHKP PD Muhammadiyah Surabaya Foto ilustrasi Editor : Toto Budiman

Read More

Manfaat Sedekah Subuh, Untuk Dunia atau Akhirat?

Surabaya – 1miliarsantri.net : Di saat dunia masih sunyi, dan manusia baru terjaga dari lelap, ada amalan ringan yang membuka pintu langit, yaitu sedekah subuh. Tak hanya membawa ketenangan batin, sedekah di waktu fajar dipercaya menjadi waktu yang paling mustajab untuk mendapatkan keberkahan rezeki dan dikabulkannya doa. Di antara rutinitas dunia yang melelahkan, sedekah subuh menjadi jembatan penghubung antara harapan dan pertolongan Allah. Tapi pertanyaannya, apakah manfaatnya hanya untuk dunia semata, ataukah juga menjadi tabungan berharga di akhirat? Sedekah subuh merupakan amalan ringan tapi mempunyai dampak besar. Banyak orang mungkin belum tahu di balik waktu subuh yang masih sunyi, ternyata ada keberkahan luar biasa ketika kita ingin berbagi. Manfaat sedekah subuh tidak hanya untuk urusan dunia, tapi juga untuk bekal di akhirat. Siapa tahu, ini bisa menjadi kebiasaan baru kamu yang diam-diam membawa banyak kebaikan. Sedekah merupakan suatu ibadah yang istimewa, tapi ketika dilakukan waktu subuh, ada keutamaan tambahan yang tidak bisa diremehkan. Yuk, kita simak lebih dalam kenapa sedekah subuh begitu istimewa dan manfaat apa saja yang bisa dirasakan. Apa Saja Manfaat Sedekah Subuh? 1. Pintu Rezeki Terbuka Lebar Sejak di Pagi Hari Waktu subuh adalah saat yang sangat spesial. Di mana para malaikat turun dan mendoakan orang-orang beribadah. Ketika bersedekah di pagi hari, berarti memulai hari dengan membuka pintu kebaikan. Salah satu manfaat yang dirasakan adalah dimudahkan rezekinya. Banyak orang yang mengaku setelah rutin sedekah subuh, rezeki mereka menjadi terasa lebih lancar baik dari segi materi, kesehatan, maupun ketenangan batin. Kamu tidak perlu sedekah besar. Yang penting rutin dan dari hati. Meskipun seribu rupiah jika diniatkan dengan ikhlas maka akan menjadi ladang pahala. 2. Membersihkan Hati dan Menumbuhkan Rasa Syukur Sebelum matahari terbit, kamu sudah memulai hari dengan memberi. Hal itu bukan hanya keren, tapi juga membuat hati lebih ringan. Salah satu manfaat sedekah subuh yang sering disepelekan adalah pengaruhnya terhadap hati dan mental. Saat kamu berbagi, sebenarnya sedang mengalahkan rasa egois dalam diri sendiri. Rasa syukur akan tumbuh lebih besar karena sadar masih bisa memberi meski dalam keterbatasan. Dengan begitu energi positif akan kebawa sepanjang hari, dan kamu lebih tenang dalam menghadapi masalah. 3. Menghapus Dosa-Dosa Kecil Secara Konsisten Katanya dengan bersedekah bisa menghapus dosa. Bayangkan jika dilakukan setiap hari saat subuh, maka setiap lembar uang yang dikeluarkan bisa menjadi penghapus dosa-dosa kecil yang sering tidak disadari. Ini salah satu manfaat sedekah subuh yang jarang disorot, tapi luar biasa penting. Kita semua pasti punya salah, baik disengaja maupun tidak. Sedekah subuh bisa menjadi bentuk taubat kecil-kecilan yang dapat dilakukan setiap pagi. Semacam “mulai ulang” harian, di mana kamu bersihkan dosa dan mulai hari dengan hati yang lebih bersih. 4. Menjadi Tabungan Amal Jariyah yang Terus Mengalir Salah satu bentuk amal jariyah yang mudah dilakukan adalah dengan sedekah subuh. Misalnya kamu sedekah untuk pendidikan, orang sakit, atau pembangunan masjid. Meskipun tidak tahu secara pasti siapa yang menerima, pahala dari kebaikan akan terus mengalir selama manfaatnya dirasakan oleh orang lain. Itulah kenapa manfaat sedekah subuh tidak hanya dirasakan di dunia, tapi jadi bekal  di akhirat. Mungkin kita tidak tahu kapan ajal tiba, tapi saat itu datang, pahala dari sedekah subuh yang konsisten bisa jadi penyelamat. 5. Mengundang Doa Para Malaikat dan Ridha Allah Manfaat saat satu ini sering dilupakan. Seperti sabda Rasulullah SAW setiap pagi ada dua malaikat yang turun. Satu mendoakan orang yang bersedekah agar diberi ganti lebih baik, sementara yang satunya mendoakan kebangkrutan bagi orang yang menahan hartanya. Salah satu manfaat sedekah subuh adalah mendapat dukungan spiritual yang tidak terlihat. Doa malaikat, ridha Allah, dan keberkahan hidup. Ini bukan janji kosong, tapi keyakinan yang dibangun lewat pengalaman banyak orang. Kamu bisa coba sendiri dan rasakan bedanya. Jadi, sudah tahu manfaat sedekah subuh, Jangan tunggu nanti-nanti. Justru dengan memulai hari dari subuh dengan sedekah, kamu sedang menanam benih kebaikan yang bisa berbuah di dunia dan akhirat. Ingat, sedekah tidak hanya soal jumlah, tapi ketulusan dan konsistensi. Sedekah subuh bukan hanya amalan untuk melapangkan rezeki atau mendatangkan keajaiban dunia, melainkan bentuk penghambaan yang penuh cinta kepada Allah. Ia adalah investasi spiritual yang menyentuh dua sisi kehidupan: dunia dan akhirat. Saat tangan kita memberi di waktu yang sunyi, malaikat mendoakan keberkahan, dan Allah mencatatnya sebagai amal luar biasa. Mungkin sekarang kamu merasa ini cuma amalan kecil. Tapi percayalah, kebiasaan kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa membawa perubahan besar dalam hidup kamu. Ayo dimulai dari besok pagi, sisihkan sedikit rezeki dan rasakan sendiri manfaat sedekah subuh yang luar biasa ini. Penulis : Iffah Faridatul H Editor : Toto Budiman

Read More

Tarif Dagang Adalah Daya Tawar Negara, Catatan Kritis Kesepakatan Indonesia Dan Amerika Serikat

Cimahi – 1miliarsantri.net: Kesepakatan perdagangan antara Amerika dan Indonesia yang diklaim oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melalui media sosial miliknya Truth Social, mengejutkan berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri. Ada yang memuji diplomasi Presiden RI Prabowo Subianto, namun ada juga yang menyesalkan kesepakatan tersebut yang disinyalir merugikan posisi Indonesia. Berikut, 1miliarsantri.net menyajikan sebuah catatan kritis yang ditulis oleh HM Ali Moeslim dalam perspektfi Islam dengan judul : “Tarif Dagang Adalah Daya Tawar Negara.” Kesepakatan Perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat BENAR sebuah ungkapan “the beggars can’t be chooshers”, pengemis tidak bisa menjadi pemilih, berarti bahwa seseorang yang berada dalam posisi yang dibutuhkan atau meminta sesuatu dari orang lain tidak boleh pilih-pilih atau menuntut tentang apa yang mereka terima. Mereka harus berterima kasih atas apa pun yang ditawarkan kepada mereka. Baca juga : Presiden Prabowo Tegaskan Proyek Giant Sea Wall Akan Tetap dimulai Dengan Kekuatan Nasional Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (15/7) mengklaim telah mencapai kesepakatan perdagangan dengan Indonesia.Kesepakatan ia klaim tercapai setelah berbicara langsung dengan Presiden Prabowo Subianto. Satu-satunya detail yang diungkapkan Trump tentang kesepakatan tersebut adalah AS hanya akan mengenakan tarif impor atas produk Indonesia sebesar 19%, turun dari 32% sebelumnya. Tarif 19% Tidak Gratis Dinikmati Indonesia Namun, tarif 19 persen itu tidak gratis untuk bisa dinikmati Indonesia. Ada beberapa syarat yang harus dipatuhi Indonesia bila ingin menikmati tarif itu; Di sini kita bisa menilai, betapa lemahnya “daya tawar” Indonesia di mata Amerika Serikat. Daya tawar sebuah negara itu tidak muncul begitu saja, namun lahir dari usaha keras terukur membangun stabilitas dan integritas dalam negeri. Rasulullah Memelihara Dan Menjaga Urusan Kaum Muslimin Bagaimana dulu Rasulullah SAW mendirikan dan membangun stabilitas dan integritas negara Islam Madinah? Kita tahu Beliau berkedudukan sebagai kepala negara, Qadli dan Panglima Militer. Beliau memelihara dan menjaga berbagai urusan kaum Muslim dan penduduk lainnya, menyelesaikan perselisihan-perselisihan di antara mereka. Jadi, sejak tiba di Madinah, Beliau mendirikan Daulah atau Negara Islam. Negara tersebut dijadikan pusat pembangunan masyarakat yang berdiri di atas pondasi yang kokoh yakni aqidah dan syariah, di antaranya dengan membuat Piagam Madinah. Madinah saat itu merupakan pusat persiapan kekuatan yang cukup untuk melindungi negara dan menyebarkan dakwah. Setelah seluruh persoalan stabil dan terkontrol, Beliau mulai menghilangkan rintangan-rintangan fisik yang menghadang di tengah jalan penyebaran Islam. Rasulullah SAW bersabda; إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ “Sesungguhnya Allah akan memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al Quran) dan menghinakan yang lain.” Kondisi dalam negeri Madinah menjadi stabil, terutama setelah guncangan hebat yang dirasakan oleh penduduk Madinah atas kekalahan kaum muslimin dalam perang Uhud. Stabilisasi dan integralisasi tercapai “hanya” dalam waktu 5 tahun. Baca juga : Etika Pergaulan dalam Islam: Panduan Bijak di Era Modern Rasulullah SAW Melakukan Hubungan Luar Negeri Tahun ke 6 Rasulullah SAW melakukan hubungan luar negeri yakni dengan mengirim surat kepada para Raja yang besar yang menguasai beberapa belahan dunia, surat-surat tersebut dikirimkan setelah Nabi Muhammad SAW kembali dari Perjanjian Hudaibiyah. Tujuan utama pengiriman surat adalah untuk mengajak para penguasa dan raja-raja untuk memeluk agama Islam. Beberapa tokoh yang menerima surat dari Nabi Muhammad SAW antara lain; Heraclius (Kaisar Romawi Timur), Khosrau II (Kaisar Persia), Najasyi (Raja Habasyah), Muqauqis (Raja Mesir), Al-Harits bin Abi Syimr al-Ghassani (Gubernur Suriah), Munzir bin Sawa al-Tamimi (Penguasa Bahrain), dari sinilah tergambar bahwa hubungan luar negeri negara Islam itu adalah dakwah. Khalifah Umar bin Khatab pernah menanyakan tarif dagang atau cukai kepada para saudagar di madinah yang berdagang (ekspor) yang diterapkan oleh negara luar di luar wilayah kekhalifahan. Khalifah bertanya kepada para saudagar Muslim yang mendatangi negara Etiopia, tentang berapa banyak negara tersebut mengambil pajak dari mereka. Mereka menjawab, “Mereka mengambil 10 dari dagangan kami.” Mendengar jawaban ini, Khalifah Umar menyuruh kepada para pegawainya untuk menarik pajak 10% dari barang dagangannya non-Muslim. Khalifah Umar juga bertanya kepada Utsman bin Hanif, “Berapa banyak orang kafir harbi mengambil dagangan jika kalian sampai ke negara mereka?” Jawab dia, “10%.” Mendengar jawaban ini, Khalifah Umar menginstruksikan kepada para pejabatnya untuk menarik pajak 10% atas barang dagangannya non-Muslim. Pemberlakuan Cukai Untuk Barang-Barang Ekspor dan Impor Diterapkan Khalifah Dalam Buku The Great Leader of Umar bin Al Khathab, Dr. Muhammad Ash-Shalabi menuturkan bahwa pemberlakuan cukai untuk barang-barang ekspor dan impor zaman Khalifah Umar telah diterapkan. Nama petugas penarik cukai adalah Al-‘Asyir. Pajak model ini belum ada pada masa Nabi Muhammad SAW. dan Khalifah pertama Abu Bakar. Sebab, masa tersebut adalah masa penyebaran dakwah, jihad di jalan Allah dan proses pendirian Negara Islam. Pada masa Umar bin al-Khaththab, wilayah Negara Islam semakin bertambah luas ke arah Barat maupun ke arah Timur. Sehingga pertukaran barang Negara Khilafah dengan yang lain adalah merupakan suatu tuntutan. Hal ini harus dimanfaatkan untuk kepentingan umat. Khalifah Umar bin aI-Khaththab memiliki ide untuk menerapkan pajak atas barang yang masuk ke Negara Islam. Sebagaimana halnya negara-negara non-Islam menerapkan pajak terhadap para pedagang Islam yang datang ke tempat mereka. Tujuan lain dari Khalifah Umar adaIah untuk melakukan perlakuan yang sama, hal ini disampaikan kepada para sahabat, para sahabat setuju, maka cukai dari kaum kafir adalah ijma’.*** Penulis : HM Ali Moeslim (Penulis dan Pembimbing Hajj & Umroh) Foto istimewa Editor : Thamrin Humris

Read More

Hikmah Musibah dalam Pandangan Islam

Surabaya – 1miliarsantri.net : Tidak ada satu pun manusia yang ingin ditimpa musibah. Namun, dalam takdir Allah, musibah bukan sekadar ujian, melainkan juga jalan untuk menyadarkan, menguatkan, bahkan mengangkat derajat hamba-Nya. Islam mengajarkan bahwa setiap kesulitan yang menimpa bukan tanpa makna. Di balik rasa sakit dan air mata, ada pelajaran berharga yang Allah sisipkan: tentang sabar, tawakal, dan kembalinya hati kepada Sang Pencipta. Musibah sejatinya bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan menuju kedewasaan spiritual. Pahitnya cobaan hidup pastinya akan dirasakan semua orang. Ada yang diuji dengan kehilangan, sakit, kegagalan, bahkan rasa kecewa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tapi di balik setiap musibah, sebenarnya tersimpan pelajaran besar. Dalam Islam, hikmah musibah bagian dari kasih sayang Allah kepada hambanya. Meskipun terasa berat di awal, namun bila direnungi lebih dalam, banyak makna luar biasa yang bisa dipetik. Musibah bukanlah tanda bahwa kita sedang dijauhkan dari rahmatnya. Justru lewat musibah itu Allah ingin mendekatkan kita padanya. Maka tidak heran, banyak orang yang justru berubah menjadi lebih kuat dan lebih sadar akan tujuan hidup setelah melewati badai kehidupan. Di sinilah letak indahnya hikmah musibah dalam pandangan Islam. Apa Hikmah di Balik Musibah? Ketika musibah datang, wajar hati ini terasa berat, pikiran kacau, dan perasaan seperti tidak tahu harus ke mana. Tapi coba kita tarik napas sejenak, dan melihat dari sudut pandang yang berbeda. Musibah itu tidak datang begitu saja. Selalu ada maksud baik darinya, namun terkadang baru bisa kita pahami setelah semuanya berlalu. Ada beberapa hikmah di balik adanya musibah diantaranya: 1. Ujian yang Meningkatkan Derajat Dalam Islam, setiap musibah yang menimpa seorang Muslim bukanlah hukuman, tapi ujian. Bahkan Rasulullah SAW bersabda seseorang itu akan diuji sesuai dengan kadar keimanannya. Semakin tinggi iman, semakin besar pula ujian yang dihadapi. Ketika kita sedang tertimpa musibah atau kesulitan, dengan bersabar akan membawa kita kepada pahala yang besar dan akan meningkatkan kualitas iman kita. 2. Pembersih Dosa Setiap manusia pastinya pernah khilaf, baik disadari atau tidak. Dengan adanya musibah bisa menjadi sarana penghapus dosa. Dalam hadits dijelaskan tidaklah seorang Muslim tertimpa sakit, kesedihan, bahkan duri yang menusuk, kecuali Allah akan menghapus sebagian dosanya. Jadi, hikmah musibah ini jarang disadari padahal ia membersihkan diri kita dari dosa-dosa masa lalu. 3. Membangun Kekuatan dan Ketangguhan Musibah melatih kita untuk menjadi pribadi yang tangguh. Mungkin kita akan menangis di awal, tapi seiring waktu berjalan, kita belajar untuk bangkit. Kita jadi lebih peka terhadap orang lain, lebih sabar, dan lebih bersyukur terhadap hal-hal kecil. Di sinilah letak indahnya hikmah musibah, ia membawa jiwa kita agar tidak mudah rapuh. 4. Menumbuhkan Kesadaran dan Introspeksi Diri Biasanya kita terlalu sibuk mengejar dunia, sampai lupa arah tujuan hidup. Lalu datanglah musibah yang menghentikan langkah kita sejenak, dan mengajak kita untuk berpikir ulang. Dari situlah hikmah dibalik musibah paling penting. Ia menyadarkan kita untuk kembali ke jalannya. Banyak orang yang sudah tertimpa musibah menjadi lebih rajin ibadah, lebih bersyukur, dan lebih dekat dengan Al-Qur’an. 5. Mengajarkan Ketawakkalan yang Sebenarnya Ketika semua jalan sudah terasa buntu, ketika usaha tidak kunjung berhasil, dan ketika orang-orang terdekat tidak mampu membantu, maka hanya kepada Allah kita berserah. Di titik inilah ketawakkalan sejati lahir. Hikmah musibah adalah ketika kita belajar untuk menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT. Kita akan tersadar sekuat apapun manusia, tetap ada batasnya. Tapi kekuatan dan pertolongan Allah tidak akan ada batasnya. Musibah memang bukan hal yang kita harapkan. Tapi jika hal itu datang dan bisa memilih, apakah akan terus terpuruk, atau ingin menjadi yang lebih baik. Dalam Islam, tidak ada kejadian yang sia-sia. Semua sudah tertulis di Lauhul Mahfuz, jauh sebelum penciptaan alam semesta. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah: “Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya.” (QS. Al-Hadid: 22)  Allah mengetahui apapun yang akan dilakukan manusia karena ilmu-Nya meliputi segalanya. Namun, manusia tidak dipaksa. Manusia tetap memiliki kemampuan memilih dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pilih. “Barangsiapa mengerjakan amal saleh, maka itu untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri…”(QS. Fussilat: 46) Bila kita mau mengambil hikmah dari setiap kejadian yang hadir dalam episode kehidupan yang dialami, maka semua pasti membawa kebaikan jika kita mau untuk bersabar dan bersyukur. Hikmah musibah tidak hanya soal pahala atau derajat, tapi bagaimana kita memaknai hidup ini secara utuh. Tentang bagaimana Allah mendidik kita dengan caranya yang luar biasa. Maka, ketika musibah datang, jangan buru-buru mengeluh. Dan berprasangka buruk. Yakinlah, di balik setiap musibah, Allah sedang menyiapkan suatu kejutan yang lebih indah. Dan di balik air mata yang menetes, ada kekuatan baru yang sedang tumbuh dalam dirimu. Semoga kita semua bisa menjadi hamba yang tidak hanya sabar, tapi juga mampu melihat hikmah musibah sebagai bentuk cinta Allah yang paling dalam. Maka, janganlah larut dalam duka, tetapi bangkitlah dengan keyakinan bahwa di balik badai pasti ada pelangi. Karena setiap musibah yang kita lalui dengan sabar dan iman, akan menjadi cahaya yang menerangi langkah kita menuju ridha-Nya. Penulis : Iffah Faridatul H Editor : Toto Budiman

Read More

Etika Pergaulan dalam Islam: Panduan Bijak di Era Modern

Surabaya – 1miliarsantri.net : Di tengah gempuran budaya digital dan gaya hidup serba bebas, batas-batas dalam pergaulan kian kabur. Apa yang dulu dianggap tabu, kini mudah dianggap biasa. Dalam pusaran perubahan ini, Islam hadir membawa panduan abadi. Etika pergaulan yang tidak hanya menjaga kehormatan diri, tetapi juga membangun relasi yang sehat, bermartabat, dan penuh keberkahan. Di era modern serba terbuka, ajaran Islam tentang pergaulan justru semakin relevan, menjadi kompas moral yang menuntun kita tetap teguh di atas prinsip, tanpa kehilangan jati diri. Batasan interaksi sosial yang makin kabur di dunia digital, serta interaksi antar manusia terjadi tanpa sekat ruang dan waktu, mengingatkan kembali pentingnya etika pergaulan dalam Islam. Etika yang akan kita bahas disini bukan hanya soal batas-batas antara lawan jenis, tapi lebih luas lagi, yakni tentang bagaimana kita menjaga adab dalam berteman, berkomunikasi, bahkan dalam menyampaikan pendapat. Sebagai umat Muslim, kita memiliki pedoman yang jelas dan kaya akan nilai. Etika dibentuk bukan untuk menjadi pembatas melainkan untuk menjaga diri kita dan hubungan sosial yang kita bangun sehari-hari agar tetap terjalin dengan baik. Nah, pada artikel ini, kita akan membahas bagaimana etika pergaulan dalam Islam bisa menjadi panduan bijak di era yang modern ini. Menjaga Adab, Fondasi Etika Pergaulan dalam Islam Jika kita bertanya “apa sih inti dari etika pergaulan dalam Islam?”, jawabannya sederhana yaitu, adab. Adab atau sopan santun adalah kunci utama dalam bergaul. Dalam hal ini Rasulullah SAW sendiri adalah contoh terbaik. Bahkan orang-orang yang dulunya menentang Islam bisa dibuat luluh hatinya karena akhlak beliau yang luar biasa. Islam mengajarkan bahwa setiap interaksi harus dilandasi niat baik, rasa hormat, dan tanggung jawab. Baik itu saat ngobrol langsung, chat di grup WhatsApp, atau komentar di media sosial, etika tetap harus dijaga. Misalnya, jangan gampang menyakiti perasaan orang lain lewat kata-kata kasar, jangan menyebarkan aib, dan jangan menuduh tanpa bukti. Dalam Islam, menjaga lisan dan sikap adalah bagian penting dari iman. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hal Ini tentunya bisa menjadi pedoman, apalagi di masa sekarang yang mana kita bisa berkomunikasi atau mengobrol apa saja melalui media sosial. Etika pergaulan dalam Islam membantu kita memilah mana yang pantas dan mana yang harus kita hindari. Selain itu, Islam sangat menghormati privasi dan kehormatan orang lain. Kita diajarkan untuk tidak mengghibah, menguping, tidak menyebar rahasia, apalagi mengadu domba. Semua itu jelas bisa merusak hubungan sosial, dan sangat bertentangan dengan nilai etika dalam Islam. Etika Pergaulan di Era Digital dan Dunia Nyata Seperti yang kita ketahui bahwa pada masa ini interaksi tidak hanya terjadi secara langsung, tapi juga lewat layar. Seperti melalui media sosial, YouTube, Facebook dan Instagram, yang mana kita bisa melakukan komunikasi, saling berinteraksi dan berkomentar, semua itu tentunya memerlukan adab. Nah, di sinilah tantangan terbesar kita saat ini, bagaimana tetap menjaga etika pergaulan dalam Islam meski komunikasi terjadi secara virtual. Islam tidak membatasi teknologi, tapi mengarahkan kita untuk menggunakannya dengan tanggung jawab. Misalnya, dalam pergaulan dengan lawan jenis, kita diajarkan untuk menjaga pandangan dan menjaga jarak, baik secara fisik maupun dalam komunikasi. Ini bukan soal membatasi kebebasan, tapi justru melindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan. Banyak orang yang awalnya cuma chat ringan, tapi akhirnya terjerumus ke hal-hal yang tak sesuai dengan nilai Islam. Maka, etika pergaulan dalam Islam hadir sebagai rem sekaligus pelindung. Selain soal etika dengan lawan jenis, ada juga etika bergaul dalam organisasi atau lingkungan sosial. Yakni, Jangan gampang menghakimi. Jangan merasa lebih suci. Kita diajarkan untuk rendah hati dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Bahkan dalam perbedaan pendapat, Islam mendorong kita untuk berdiskusi dengan cara yang baik, bukan saling serang atau merendahkan. Islam juga mengajarkan kita untuk memilih lingkungan pergaulan sosial yang baik dan positif.   Rasulullah SAW pernah bersabda, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi…” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari sini kita paham bahwa siapa yang kita pilih sebagai teman dekat akan sangat mempengaruhi kualitas diri dan kehidupan kita. Di tengah kehidupan dunia yang terus berevolusi, tapi nilai-nilai etika pergaulan dalam Islam tetap relevan dengan zaman dan sangat dibutuhkan. Justru semakin bebasnya interaksi manusia hari ini, semakin penting kita berpegang pada pedoman yang kokoh. Etika yang diajarkan Islam bertujuan untuk menjaga agar hubungan antar manusia tetap sehat, penuh hormat, dan membawa keberkahan. Dengan menjaga adab, menjaga lisan, memilih teman yang baik, serta berhati-hati dalam interaksi baik secara langsung maupun digital, kita bisa menjalani pergaulan yang lebih berkualitas dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Semoga apa yang kita pelajari disini bisa menjadi pengingat dan bekal untuk kita dalam menjalani kehidupan yang lebih baik lagi kedepannya, lebih bermakna, dan tentu saja lebih Islami. Karena sejatinya, etika pergaulan dalam Islam adalah cahaya yang akan menuntun kita di tengah hiruk-pikuknya dunia modern. Yuk, sama-sama kita jaga dan amalkan. Penulis : Iffah Faridatul H Editor : Toto Budiman

Read More

Pawai Obor Meriahkan Peringatan 1 Muharram 1447 H: Tradisi Bermakna dalam Menyambut Tahun Baru Islam

Surabaya – 1miliarsantri.net : Pada Jumat, 27 Juni 2025, umat Islam di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia, memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah. Momen ini bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriyah, tetapi juga peringatan atas peristiwa besar dan penuh makna dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW dari Kota Mekah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Setelah 12 tahun berdakwah di Mekah, Rasulullah Muhammad SAW dan para pengikutnya menghadapi penindasan dari kaum Quraisy. Pada tahun ke-13 kenabian, sekelompok penduduk Yatsrib (kelak dikenal sebagai Madinah) menawarkan perlindungan melalui Bai’at al-Aqabah. Malam hari, Rasulullah bersama sahabatnya, Abu Bakar As-Shiddiq, meninggalkan Mekah secara diam-diam dan berlindung di Gua Tsur selama tiga hari untuk menghindari pengejaran.Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju Madinah melalui rute yang tidak biasa. Setibanya di Madinah pada 12 Rabiul Awal 1 H (27 September 622 M), mereka disambut dengan penuh sukacita. Rasulullah memilih tempat tinggal di rumah dua anak yatim, Sahl dan Suhail bin Amr, yang menjadi lokasi pembangunan Masjid Nabawi. Di Madinah, beliau juga menyusun Piagam Madinah, sebuah konstitusi yang mengatur kehidupan masyarakat multikultural dan menjamin hak-hak setiap individu, termasuk non-Muslim. Peristiwa hijrah ini bukan hanya peristiwa fisik perpindahan tempat, melainkan menjadi titik balik kebangkitan peradaban Islam yang menjunjung tinggi nilai keadilan, keimanan, dan persaudaraan. Hari tersebut menjadi waktu yang istimewa dan bersejarah bagi umat Islam, karena selain memperingati momentum hijrah, juga dijadikan ajang introspeksi dan pembaruan diri. Banyak kegiatan bermanfaat dilakukan umat Islam pada hari itu, mulai dari pengajian, dzikir bersama, tausiyah, hingga aksi sosial dan spiritual. Semua itu bermuara pada satu tujuan: menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih beriman dalam menjalani kehidupan.  Salah satu tradisi khas masyarakat Islam Indonesia dalam menyambut Tahun Baru Islam adalah pawai obor. Tradisi pawai obor telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya keislaman yang hidup di berbagai daerah, dari desa hingga kota. Pawai obor biasanya digelar pada malam 1 Muharram, selepas salat Isya. Ratusan hingga ribuan masyarakat berkumpul di titik awal yang umumnya berada di sekitar masjid atau alun-alun kota, kemudian berjalan beriringan menyusuri jalan-jalan kampung atau kota sambil membawa obor menyala di tangan. Obor yang digunakan terbuat dari bahan sederhana—sebatang bambu sebagai pegangan, kain sebagai sumbu, dan minyak tanah sebagai bahan bakar. Saat dinyalakan, obor tersebut memancarkan cahaya kuning kemerahan yang menggugah suasana malam menjadi hangat, religius, dan penuh semangat. Obor-obor tersebut tidak hanya menjadi sumber penerangan, tetapi juga simbol harapan, semangat, dan petunjuk Ilahi yang menerangi perjalanan hidup umat manusia. Dalam arak-arakan pawai, peserta tak hanya berjalan membawa obor. Mereka juga melantunkan shalawat, zikir, doa-doa keselamatan, hingga menyanyikan lagu-lagu religi yang penuh semangat. Beberapa kelompok menghadirkan kesenian marawis, rebana, hingga drum band dari siswa madrasah dan sekolah-sekolah Islam. Alunan musik tradisional ini turut menghidupkan suasana dan menjadi sarana dakwah kultural yang efektif, terutama bagi generasi muda. Lebih dari sekadar perayaan seremonial, pawai obor sarat makna filosofis dan spiritual. Ia menjadi perwujudan semangat hijrah yang diajarkan Rasulullah—yakni berpindah dari kegelapan menuju cahaya, dari keburukan menuju kebaikan, dari kesesatan menuju jalan lurus yang diridai Allah SWT. Cahaya obor melambangkan petunjuk Tuhan yang senantiasa menyinari perjalanan hidup manusia, agar tidak tersesat dalam gelapnya dunia yang penuh tantangan dan cobaan. Tak hanya bernilai spiritual, tradisi ini juga memainkan peran penting dalam pelestarian budaya lokal. Pawai obor mencerminkan harmoni antara nilai-nilai ajaran Islam dan kearifan lokal masyarakat Indonesia. Dalam pelaksanaannya, sering kali masyarakat setempat memadukan unsur adat, budaya daerah, dan nuansa Islam dalam satu kesatuan kegiatan. Anak-anak dan remaja yang ikut serta dalam pawai sejak dini dikenalkan pada tradisi ini, sehingga nilai-nilai sejarah, estetika, dan identitas keagamaan serta kebangsaan dapat tertanam kuat dalam jiwa mereka. Kegiatan ini juga memperkuat solidaritas sosial dan mempererat tali silaturahmi antarwarga. Dalam semangat kebersamaan, seluruh lapisan masyarakat—baik anak-anak, remaja, orang tua, tokoh agama, hingga aparat pemerintah—turut serta dalam pawai dengan antusias. Tidak sedikit pula yang datang dari luar daerah untuk menyaksikan atau ikut berpartisipasi, menjadikan pawai obor sebagai ajang wisata religi yang layak dilestarikan.  Selain itu, banyak penyelenggara pawai obor yang menyisipkan kegiatan sosial seperti santunan anak yatim, pembagian makanan gratis, hingga kampanye kebersihan dan perdamaian. Hal ini menunjukkan bahwa pawai obor juga menjadi wahana aktualisasi nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin—Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kontributor : Misbah Harahap Editor : Toto Budiman

Read More