Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Jelang KTT APEC, Dunia Waspadai Ketegangan Baru di Asia Timur

Indramayu – 1miliarsantri.net: Korea Utara meluncurkan rudal balistik ke arah timur pada Rabu pagi, dalam uji coba pertama mereka dalam lima bulan terakhir. Informasi ini dilansir oleh Associated Press (AP News), mengutip pernyataan resmi dari Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) yang mengonfirmasi adanya peluncuran tersebut. Uji coba ini dilakukan hanya beberapa hari sebelum Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pasifik (APEC) diselenggarakan di Korea Selatan, sebuah forum tahunan yang berfokus pada kerja sama ekonomi dan perdagangan antarnegara di kawasan Asia dan Pasifik. Meskipun pertemuan ini tidak memiliki agenda militer, peluncuran rudal tersebut dipandang sebagai langkah provokatif yang berpotensi memperkeruh stabilitas kawasan. Rudal Balistik ke Arah Timur, Peringatan Politik Menjelang KTT APEC Dalam laporan AP News, militer Korea Selatan menyatakan bahwa rudal tersebut diluncurkan ke arah timur dan mendarat di perairan antara Semenanjung Korea dan Jepang, tanpa menimbulkan kerusakan pada negara tetangga. Namun, peluncuran ini tetap memicu reaksi diplomatik internasional, mengingat waktu peluncurannya yang bertepatan dengan persiapan KTT besar yang akan dihadiri oleh para pemimpin dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan untuk menghadiri serangkaian pertemuan bilateral menjelang KTT tersebut, termasuk dengan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Namun, menurut laporan dari pejabat Korea Selatan yang dikutip oleh AP News, Trump kemungkinan besar tidak akan hadir dalam sesi utama APEC yang dijadwalkan pada 30 Oktober hingga 1 November 2025. Para analis menilai bahwa peluncuran rudal ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari strategi politik Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, untuk mengirim pesan keras kepada komunitas internasional bahwa negaranya tetap menuntut pengakuan sebagai negara bersenjata nuklir. Baca juga: Dari Malang ke Wageningen University: Tim UB Tampil di Ajang Internasional Inovasi Pangan Ambisi Nuklir Kim Jong Un dan Tekanan terhadap Amerika Serikat Sejak perundingan denuklirisasi dengan Amerika Serikat gagal pada tahun 2019, Kim Jong Un diketahui mempercepat program pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik. Dalam beberapa bulan terakhir, Korea Utara menampilkan kekuatan militernya melalui parade besar di Pyongyang, yang juga dihadiri oleh pemimpin China dan Rusia. Dalam parade tersebut, Kim memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-20, yang diklaim sebagai sistem senjata strategis paling kuat yang pernah dimiliki Korea Utara. Menurut pengamat yang dilansir oleh AP News, rudal jenis ini dirancang untuk membawa beberapa hulu ledak nuklir sekaligus, sehingga mampu menembus sistem pertahanan rudal Amerika Serikat. Analis pertahanan memperkirakan bahwa uji coba rudal balistik kali ini bisa menjadi sinyal awal sebelum peluncuran Hwasong-20 dalam waktu dekat. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya Pyongyang untuk memperkuat posisi tawar mereka dalam potensi perundingan baru dengan Washington. Konteks Diplomasi Meskipun hubungan antara Washington dan Pyongyang sempat mencair pada masa pertemuan bersejarah antara Kim Jong Un dan Donald Trump, proses diplomasi tersebut berhenti total sejak 2019. Kim menuntut pencabutan sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan PBB, sementara Washington bersikeras agar Korea Utara terlebih dahulu melakukan langkah nyata menuju denuklirisasi. Menurut laporan AP News, Kim sempat menyatakan kesiapan untuk kembali ke meja perundingan, tetapi dengan syarat bahwa Amerika Serikat harus menghentikan tekanan ekonomi dan tuntutan denuklirisasi sepihak. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Korea Utara ingin diakui sebagai kekuatan nuklir permanen, seperti halnya India atau Pakistan. Namun, peluncuran rudal baru ini justru menunjukkan bahwa Kim lebih memilih jalur provokasi militer untuk memperkuat posisi negosiasinya di masa depan. Langkah ini juga menjadi ujian diplomatik bagi negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia yang memiliki kepentingan berbeda terhadap stabilitas Semenanjung Korea. Baca juga: Peringatan Hari Dokter Nasional 2025: Melihat Perjuangan Para Dokter di Desa Terpencil Kondisi Regional dan Dampak bagi Asia Timur Peluncuran rudal kali ini juga menimbulkan kekhawatiran di Jepang, yang selama ini menjadi sekutu utama Amerika Serikat di kawasan. Tokyo meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan jatuhnya puing rudal di wilayahnya, meskipun laporan awal menyebutkan tidak ada kerusakan yang terjadi. Selain itu, peluncuran ini berpotensi mengganggu suasana diplomatik di KTT APEC yang diharapkan menjadi ajang penguatan kerja sama ekonomi dan perdagangan internasional. Negara-negara peserta kini dihadapkan pada dilema baru, bagaimana menyeimbangkan kepentingan ekonomi kawasan dengan ancaman keamanan dari Korea Utara yang semakin tak terduga. Penulis: Durotul Hikmah Editor: Glancy Verona Gambar: Korea Utara luncurkan rudal balistik

Read More

Dari Malang ke Wageningen University: Tim UB Tampil di Ajang Internasional Inovasi Pangan

Bondowoso – 1miliarsantri.net: Mahasiswa Indonesia kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Kali ini, tim mahasiswa dari Universitas Brawijaya (UB), Malang, berhasil lolos untuk berkompetisi dalam ajang International Food Innovation Competition 2025 yang diselenggarakan di Wageningen University & Research, Belanda. Ajang bergengsi ini mempertemukan para inovator muda dari seluruh dunia untuk menciptakan solusi kreatif dalam menghadapi tantangan global di bidang ketahanan pangan dan keberlanjutan. Prestasi yang Membanggakan dari Kampus Biru Universitas Brawijaya dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang konsisten mendorong mahasiswanya untuk berinovasi. Melalui berbagai program riset dan kewirausahaan, kampus ini melahirkan banyak karya kreatif di bidang pangan, pertanian, dan teknologi. Keikutsertaan tim UB dalam ajang internasional ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia mampu bersaing di level global. Tim UB yang beranggotakan lima mahasiswa lintas jurusan ini meneliti produk pangan fungsional berbasis bahan lokal Indonesia. Mereka memadukan inovasi teknologi dengan kearifan lokal, menciptakan produk yang tidak hanya bernilai gizi tinggi tetapi juga ramah lingkungan. Produk tersebut berhasil lolos tahap seleksi nasional dan regional sebelum akhirnya dipilih untuk mewakili Indonesia di Belanda. Ajang Bergengsi Dunia di Negeri Kincir Angin Wageningen University & Research (WUR) merupakan universitas ternama dunia dalam bidang pertanian, pangan, dan lingkungan. Kompetisi International Food Innovation yang digelar setiap tahun di kampus ini menjadi wadah bagi para inovator muda untuk mempresentasikan ide dan riset mereka. Peserta berasal dari berbagai negara seperti Belanda, Jerman, Jepang, Amerika Serikat, dan Indonesia. Tema kompetisi tahun ini adalah “Innovating for a Sustainable Food Future” atau “Inovasi untuk Masa Depan Pangan yang Berkelanjutan.” Fokus utamanya adalah menciptakan produk dan sistem pangan yang dapat menjawab tantangan global seperti perubahan iklim, keterbatasan sumber daya alam, dan ketahanan pangan. Tim UB menjadi salah satu finalis dari Asia Tenggara yang berhasil menembus ajang ini. Mereka akan mempresentasikan karya inovatif mereka di depan juri internasional yang terdiri dari akademisi, pelaku industri, dan pakar teknologi pangan. Selain presentasi, peserta juga mengikuti sesi workshop, pameran produk, serta forum kolaborasi lintas negara. Baca juga: Peringatan Hari Dokter Nasional 2025: Melihat Perjuangan Para Dokter di Desa Terpencil Inovasi Berbasis Bahan Lokal Produk yang diusung oleh tim UB mengangkat konsep “Local Resource for Global Impact.” Mereka menggunakan bahan dasar dari hasil pertanian Indonesia seperti sorgum, umbi-umbian, dan biji-bijian lokal. Melalui proses fermentasi dan teknologi pengolahan modern, bahan tersebut diolah menjadi produk pangan fungsional yang kaya serat, tinggi protein nabati, dan bebas gluten. Selain menonjolkan nilai gizi, inovasi ini juga memperhatikan aspek lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Tim UB bekerja sama dengan petani lokal di wilayah Malang untuk memastikan rantai pasok yang berkelanjutan. Dengan pendekatan sustainable farming dan zero waste production, produk mereka mencerminkan upaya konkret mahasiswa Indonesia dalam menciptakan sistem pangan yang ramah bumi. Dukungan dari Kampus dan Pemerintah Keberangkatan tim UB ke Belanda mendapat dukungan penuh dari pihak universitas dan berbagai lembaga terkait. Rektor Universitas Brawijaya menegaskan bahwa prestasi ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dan berani tampil di level global. Dukungan juga datang dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang menilai partisipasi mahasiswa Indonesia dalam kompetisi internasional sebagai langkah penting menuju kampus berkelas dunia. Selain bantuan finansial, tim juga mendapat bimbingan intensif dari dosen dan pakar teknologi pangan di UB. Mereka menjalani serangkaian uji produk, simulasi presentasi, dan pelatihan komunikasi internasional agar siap bersaing di hadapan juri global. Harapan dan Dampak ke Depan Partisipasi tim UB di Wageningen University bukan sekadar perlombaan, tetapi juga kesempatan untuk membangun jejaring global dan membuka peluang kolaborasi riset internasional. Ajang ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi mahasiswa Indonesia untuk terus mengembangkan inovasi di bidang pangan berkelanjutan. Selain itu, prestasi ini diharapkan dapat memperkuat citra positif Indonesia sebagai negara agraris dengan potensi sumber daya alam yang besar. Jika dikembangkan lebih lanjut, inovasi semacam ini bisa menjadi solusi nyata bagi ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal di pasar global. Baca juga: Stop Stigma! Hari Santri 2025 Jadi Momentum Bangkitnya Citra Positif Pesantren Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Gambar: Inovasi Sistem Pertanian UB Malang Masuk Top 6 Dunia di Kompetisi Pangan Internasional

Read More

Peringatan Hari Dokter Nasional 2025: Melihat Perjuangan Para Dokter di Desa Terpencil

Bekasi – 1miliarsantri.net: Bulan Oktober menjadi bulan Istimewa bagi para Dokter di Indonesia, tepatnya tanggal 24 Oktober menjadi momentum memperingati Hari Dokter Nasional yang juga bersamaan dengan hari ulang tahun Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menginjak usia yang ke-75 tahun, Peringatan Hari Dokter Nasional 2025 menjadi momen refleksi bahwa tantangan yang dihadapi dokter di era modern semakin kompleks. Selain ancaman penyakit menular baru, lonjakan penyakit tidak menular (seperti diabetes dan hipertensi) serta berbagai isu kesehatan mental yang semakin menjadi perhatian. Kemajuan teknologi kedokteran menuntut para dokter untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengasah keterampilan agar tidak tertinggal. Tidak hanya itu, saat dunia dilanda pandemi atau bencana kesehatan, para dokter berdiri di garis terdepan, mempertaruhkan kesehatan dan keselamatan diri sendiri demi menolong orang lain. Pengorbanan para dokter, terutama yang berjuang di daerah terpencil dengan fasilitas terbatas, patut mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Di Indonesia, tantangan pemerataan dokter dan fasilitas kesehatan masih menjadi isu krusial. Masih banyak daerah di pelosok negeri yang kekurangan dokter, apalagi dokter spesialis. Oleh karena itu, Hari Dokter Nasional juga harus menjadi pengingat bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus berupaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan, memastikan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, serta menjamin kesejahteraan para tenaga medis. Berikut beberapa kisah pada dokter di pelosok negeri yang berjuang dalam memberikan pelayanan kesehatan: Kisah Perjuangan Dokter di Pedalaman Kalimantan Timur Kisah dr. Lisa Maria yang mengabdikan diri di sebuah desa terpencil di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur. Kisahnya menyoroti tantangan nyata dalam memberikan pelayanan kesehatan di wilayah dengan akses yang sangat sulit. Dr. Lisa Maria dan rekan sejawatnya, yang juga seorang dokter umum, harus berulang kali menghadapi medan yang sangat ekstrem untuk mencapai masyarakat di pedalaman. Untuk diketahui bahwa jalanan menuju desa tersebut didominasi oleh lumpur, jalan tanah, dan beberapa bukit sehingga sering kali harus berhenti untuk membersihkan lumpur dari roda kendaraan. Akibat medan yang sulit tersebut, dr. Lisa juga menceritakan bahwa pernah terpeleset dan terjatuh dari sepeda motornya hingga dua kali berturut-turut karena jalanan yang licin dan berlumpur. Bahkan, ketika mencoba menggunakan mobil, mobilnya sempat kandas dan rusak karena terkena lubang. Namun, meskipun harus berjuang melewati tantangan fisik dan keterbatasan sarana, dr. Lisa menunjukkan dedikasi yang tinggi untuk memastikan pelayanan kesehatan dapat menyentuh masyarakat di pedalaman. Kisahnya menjadi gambaran nyata bagaimana para tenaga kesehatan rela menempuh risiko demi misi kemanusiaan. Baca juga: Stop Stigma! Hari Santri 2025 Jadi Momentum Bangkitnya Citra Positif Pesantren Kisah Dokter yang Menjual Rumah Demi “Rumah Sakit Apung” Gratis Kisah ini adalah tentang dr. Lie Dharmawan, Sp.B, Sp.BTKV, seorang dokter bedah yang dikenal atas dedikasinya dalam menyediakan layanan kesehatan gratis untuk masyarakat di pulau-pulau terpencil dan terluar di Indonesia melalui konsep Rumah Sakit Apung (RSA). Berdirinya Rumah Sakit Apung (RSA) bermula ketika beliau mengoperasi seorang anak dari sebuah pulau terpencil yang datang dengan kondisi usus terjepit. Perjalanan untuk mencapai rumah sakit memakan waktu berhari-hari, membuat anak itu tiba dalam kondisi sangat terlambat. Kejadian ini membuatnya sadar bahwa sistem layanan kesehatan darat tidak mampu menjangkau secara efektif masyarakat di negara kepulauan seperti Indonesia. Akibat kejadian tersebut, Dr. Lie kemudian memiliki ide untuk membuat rumah sakit di atas kapal. Ketika beliau menceritakan gagasan ini, banyak orang meragukan dan bahkan menyebutnya “dokter gila” karena ide tersebut dianggap tidak mungkin terwujud. Namun, tekadnya bulat. Untuk mewujudkan mimpinya, dr. Lie mengambil keputusan besar untuk menjual rumah pribadinya dan menggunakan penghasilannya sebagai dokter bedah untuk memodifikasi sebuah kapal kecil menjadi rumah sakit apung yang lengkap. Sejak saat itu, melalui Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) yang didirikannya, dr. Lie dan timnya telah berlayar ke berbagai wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) di seluruh Indonesia, membawa fasilitas medis, ruang operasi, dan obat-obatan. Semua pelayanan, termasuk operasi besar dan minor, diberikan secara gratis kepada masyarakat yang kesulitan mengakses layanan kesehatan yang memadai. Kisah dr. Lie Dharmawan adalah simbol pengorbanan, cinta kasih, dan inovasi yang melampaui batas profesionalisme demi kemanusiaan. Selamat Hari Dokter Nasional untuk para dokter hebat di Indonesia! Baca juga: Hari Santri 2025: Pesantren Didorong Berdaya di Sektor Wisata Religi Penulis: Gita Rianti D Pratiwi Editor: Glancy Verona Sumber foto: AI Gemini

Read More

Stop Stigma! Hari Santri 2025 Jadi Momentum Bangkitnya Citra Positif Pesantren

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Peringatan Hari Santri 2025 diharapkan menjadi momentum penting untuk menghentikan berbagai stigma negatif terhadap pesantren dan santri. Selama ini, masih ada sebagian kalangan yang memandang pesantren secara keliru, dianggap tertutup, ketinggalan zaman, atau bahkan dikaitkan dengan isu-isu radikalisme. Padahal, faktanya pesantren merupakan benteng moral, pusat pendidikan karakter, serta penjaga nilai-nilai kebangsaan yang berperan besar dalam membangun peradaban Indonesia. Pesantren dan Santri: Pilar Pendidikan dan Kebangsaan Sejak awal berdirinya, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan nasionalisme. Para ulama dan santri telah berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan, menjaga keutuhan bangsa, serta memajukan masyarakat lewat dakwah, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan. Dalam konteks modern, pesantren telah berkembang menjadi lembaga pendidikan yang adaptif terhadap zaman. Banyak pesantren kini memiliki program teknologi digital, kewirausahaan, hingga pelatihan vokasional untuk membekali para santri dengan keterampilan abad ke-21. Hal ini membuktikan bahwa pesantren tidak tertinggal, tetapi justru terus berinovasi menjawab tantangan global. Menurut laporan dari Gagasan Kalbar, Hari Santri Nasional 2025 mengusung semangat baru: “Stop Stigma, Saatnya Pesantren Bangkit dan Bersinar.” Tema ini menegaskan pentingnya membangun citra positif pesantren di tengah masyarakat serta menepis segala bentuk kesalahpahaman yang selama ini berkembang. Baca juga: Hari Santri 2025: Pesantren Didorong Berdaya di Sektor Wisata Religi Melawan Stigma, Membangun Citra Baru Isu miring yang kadang muncul terhadap pesantren sering kali berakar dari ketidaktahuan. Beberapa kasus yang dilakukan oleh oknum individu kerap digeneralisasi, seolah mencerminkan seluruh dunia pesantren. Padahal, mayoritas pesantren di Indonesia berkomitmen kuat terhadap nilai moderasi beragama, toleransi, dan cinta tanah air. Melalui Hari Santri 2025, Kementerian Agama dan berbagai organisasi keagamaan berkomitmen memperkuat narasi positif tentang pesantren. Media dan masyarakat diajak untuk menyoroti kontribusi nyata santri dalam pendidikan, sosial, dan pembangunan ekonomi. Kegiatan seperti Festival Santri Nusantara, Pameran Ekonomi Pesantren, serta Santri Digital Camp menjadi ajang untuk menampilkan wajah pesantren yang modern, kreatif, dan berdaya saing tinggi. Ini sekaligus membuktikan bahwa santri bukan hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga mampu berkontribusi dalam bidang sains, teknologi, dan seni. Pesantren sebagai Ruang Inklusif dan Solutif Salah satu langkah penting dalam menghapus stigma adalah menunjukkan bahwa pesantren adalah ruang inklusif dan terbuka bagi semua kalangan. Di banyak pesantren, santri tidak hanya belajar kitab kuning, tetapi juga diajarkan nilai-nilai kewarganegaraan, dialog lintas iman, serta kepedulian sosial. Pesantren juga aktif dalam gerakan kemanusiaan, mulai dari tanggap bencana, pemberdayaan masyarakat, hingga ekonomi mikro berbasis syariah. Program-program seperti Pesantren Ramah Anak, Pesantren Hijau, dan Pesantren Digital adalah contoh nyata transformasi lembaga ini menuju arah yang lebih progresif dan solutif. Dengan pendekatan tersebut, pesantren semakin diakui sebagai pusat pendidikan yang menyeimbangkan antara spiritualitas, intelektualitas, dan produktivitas. Di era modern, citra santri bukan lagi sebatas orang yang tekun mengaji, tetapi juga pemimpin muda yang inovatif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Hari Santri 2025: Momen Kebangkitan Citra Pesantren Momentum Hari Santri tahun 2025 menjadi panggilan moral bagi seluruh elemen bangsa untuk melihat pesantren secara lebih adil dan objektif. Pemerintah, masyarakat, dan media diharapkan berperan aktif dalam menyebarkan narasi positif tentang dunia pesantren. Pesantren perlu terus didukung agar menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat, tempat lahirnya generasi berakhlak mulia sekaligus berdaya guna dalam pembangunan bangsa. Semangat “Dari Pesantren untuk Indonesia dan Dunia” menjadi pengingat bahwa nilai-nilai luhur yang tumbuh di pesantren, kejujuran, kerja keras, kesederhanaan, dan keikhlasan yang merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban. Hari Santri 2025 bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi ajakan reflektif untuk menghentikan stigma dan membangun optimisme baru. Saatnya pesantren berdiri tegak dengan citra positif: lembaga yang mendidik, menginspirasi, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Baca juga: Burkina Faso Klaim Raup US$ 18 Miliar dari Tambang Emas Sejak Traoré Memimpin Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Ilustrasi by AI Kata Kunci:

Read More
AI untuk UMKM Syariah

Apakah AI untuk UMKM Syariah Sudah Sesuai dengan Prinsip Agama? Ternyata Begini Penjelasan Faktanya!

Jakarta Timur – 1miliarsantri.net:  AI semakin maju dari tahun ke tahun. teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ini semakin merambah ke berbagai sektor, salah satunya sektor usaha kecil dan menengah (UMKM). Bagi para pengusaha Muslim, hadirnya AI untuk UMKM Syariah membuka peluang besar untuk mengembangkan UMKM syariah agar lebih efisien, kompetitif, dan mampu bersaing di pasar global. Namun, ada pertanyaan penting yang sering muncul, apakah penggunaan AI sesuai dengan prinsip syariat Islam? Topik ini menjadi perhatian karena sebagian pelaku usaha masih ragu. Mereka khawatir pemanfaatan AI dapat membawa praktik bisnis yang bertentangan dengan syariat, seperti manipulasi data, penggunaan algoritma yang merugikan pihak tertentu, hingga keterlibatan dalam transaksi non-halal. Oleh sebab itu, penting bagi pengusaha Muslim untuk memahami cara memanfaatkan AI untuk UMKM Syariah dengan tepat, agar bisa menikmati manfaat teknologi modern sekaligus menjaga keberkahan usaha. Mengapa AI Penting untuk UMKM Syariah? UMKM syariah memiliki tantangan tersendiri. Selain harus bersaing dengan bisnis konvensional, mereka juga dituntut untuk tetap berpegang pada prinsip halal dan etika Islam. Di sinilah AI hadir sebagai solusi yang bisa meringankan beban kerja, mulai dari beberapa hal seperti di bawah ini: 1. Efisiensi Operasional AI mampu mengotomatisasi tugas rutin seperti pencatatan transaksi, manajemen inventori, hingga layanan pelanggan. Dengan begitu, pelaku UMKM bisa menghemat waktu sekaligus mengurangi human error. 2. Pemasaran Digital yang Lebih Cerdas Teknologi AI dapat menganalisis perilaku konsumen Muslim dan membantu merancang strategi pemasaran yang sesuai, misalnya promosi produk halal menjelang Ramadan atau Idul Adha. 3. Keuangan yang Transparan AI juga bisa dipakai dalam aplikasi keuangan syariah untuk memantau arus kas, memastikan pencatatan transaksi bebas dari riba, serta memberi rekomendasi investasi halal. Dengan manfaat tersebut, jelas bahwa AI bukan hanya sekadar alat teknologi, tetapi juga partner strategis bagi pengusaha Muslim yang ingin mengembangkan usahanya dengan efisien. Prinsip Syariah dalam Pemanfaatan AI Agar penggunaan AI dalam UMKM syariah tidak melanggar syariat, ada beberapa prinsip yang harus dijadikan pedoman, seperti: Dengan memahami prinsip ini, pengusaha Muslim bisa lebih percaya diri dalam memanfaatkan teknologi tanpa takut melanggar syariat. Baca juga: Ramadhan 2026 Sudah Di Depan Mata! Ini Tips Biar Ibadah Tetap Jalan Meski Banyak Kerjaan Contoh Penerapan AI untuk UMKM Syariah Agar lebih konkret, berikut beberapa contoh bagaimana AI dapat dimanfaatkan dalam bisnis syariah: 1. Chatbot Islami untuk Layanan Konsumen UMKM syariah bisa menggunakan chatbot berbasis AI yang mampu menjawab pertanyaan seputar produk halal, cara pembayaran syariah, hingga jadwal promo Ramadan. 2. Sistem Rekomendasi Produk Halal Platform e-commerce syariah dapat memanfaatkan AI untuk memberikan rekomendasi produk halal sesuai kebutuhan konsumen Muslim. Selain itu AI dapat dimanfaatkan untuk membuat copywriting dari produk yang dijual. 3. Prediksi Penjualan Sesuai Musim Ibadah AI bisa membantu memprediksi lonjakan permintaan produk menjelang bulan Ramadan, Idul Fitri, atau Idul Adha sehingga stok barang dapat dikelola lebih baik. 4. Manajemen Keuangan Syariah Aplikasi keuangan berbasis AI dapat memisahkan laporan transaksi halal dan non-halal, serta memberi notifikasi jika ada aktivitas yang berpotensi melanggar syariat. Dengan penerapan ini, UMKM syariah bisa semakin kompetitif sekaligus konsisten dengan prinsip Islam. Baca juga: Boleh Nggak Sih Muslim Jadi Seniman? Ini Jawaban & Batasannya! Tantangan Penggunaan AI dalam Bisnis Syariah Meski menjanjikan, penerapan AI juga memiliki tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan pengetahuan pelaku UMKM dalam memahami teknologi ini. Banyak pengusaha Muslim masih menganggap AI rumit dan mahal. Selain itu, ada isu etika seperti privasi data konsumen yang harus dijaga agar tidak bertentangan dengan nilai Islam. Oleh krena itu, edukasi menjadi kunci. Pemerintah, lembaga keuangan syariah, dan komunitas bisnis Muslim perlu bekerja sama memberikan pelatihan tentang AI untuk UMKM syariah agar lebih mudah diakses oleh pelaku usaha. Selain itu, penting bagi pengusaha Muslim untuk melatih skill adaptasi agar tidak tertinggal zaman dan usaha semakin berkembang. Dengan memahami cara yang benar, pengusaha Muslim dapat menjadikan AI sebagai sarana untuk membangun bisnis yang tidak hanya sukses secara finansial, tetapi juga penuh keberkahan. Inilah bukti bahwa teknologi halal dan bisnis syariah bisa berjalan berdampingan, memberikan manfaat bagi umat sekaligus berkontribusi pada perkembangan ekonomi global. Penulis : Vicky Vadila Muhti Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
seniman

Boleh Nggak Sih Muslim Jadi Seniman? Ini Jawaban & Batasannya!

Jakarta Timur – 1miliarsantri.net: Pernah nggak kamu denger komentar kayak, “Ngapain sih jadi seniman, nggak ada manfaatnya buat akhirat!” atau “Muslim kok bikin musik?” Padahal, kalau kita lihat sejarah Islam, justru banyak tokoh yang berkarya dengan penuh estetika dan spiritualitas. Pertanyaannya, emang bener Muslim nggak boleh jadi seniman? Yuk kita cari tahu jawabannya melalui penjelasan ini. Islam Itu Cinta Keindahan Pertama, Islam nggak pernah menolak seni. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim) Keindahan itu bisa dalam bentuk apa pun, mulai dari suara, warna, tulisan, desain, atau gerak. Lihat aja kaligrafi di masjid, arsitektur megah Andalusia, atau syair-syair indah para ulama zaman dulu. Itu bukti nyata bahwa Islam menghargai seni, selama nggak melanggar syariat. Seni Itu Netral, Niat yang Menentukan Sama seperti uang, teknologi, atau waktu, seni itu netral. Yang membuatnya bernilai baik atau buruk tergantung siapa yang menggunakannya dan untuk apa. Kalau karya seni digunakan buat menyebarkan kebaikan, membangun empati, atau mengingatkan manusia pada Allah, maka itu bernilai ibadah. Tapi kalau dipakai buat maksiat, merusak moral, atau memprovokasi keburukan, jelas dilarang. Jadi, sebelum berkarya, tanya dulu ke diri sendiri: “Apa yang aku buat ini akan mendekatkan orang ke kebaikan, atau malah menjauhkan?” Baca juga: Hukuman Apa yang Pantas Bagi Pelaku Koruptor Dalam Pandangan Islam Jadi Seniman Bisa Jadi Jalan Dakwah Banyak orang belajar tentang Islam bukan dari ceramah, tapi dari karya. Ada yang tersentuh lewat film, lagu, puisi, bahkan ilustrasi. Dakwah nggak harus selalu lewat mimbar, bisa juga lewat seni. Misalnya: Seni bisa menyentuh hati, dan itulah kekuatannya. Jadi, jangan remehkan potensi seniman Muslim dalam menyebarkan pesan kebaikan. Seniman yang Baik, Tetap Ada Batasannya Tentu aja, semua hal ada batasnya. Jadi seniman bukan berarti bebas sebebas-bebasnya. Ada adab dan nilai yang tetap harus dijaga. Lalu di bawah ini, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, seperti: Bahkan dalam berkarya, niat dan cara tetap harus dijaga. Kalau bisa menghibur tanpa merusak, kenapa nggak? Kreativitas Sebagai Wujud Syukur Allah SWT ngasih bakat dan imajinasi bukan tanpa alasan. Kreativitas adalah amanah. Dengan berkarya, kamu sedang mensyukuri nikmat itu. Setiap ide yang muncul bisa jadi bentuk dzikir, kalau digunakan dengan niat baik. Misalnya, melukis keindahan alam sambil mengingat kebesaran Allah, atau menulis lirik lagu yang menenangkan hati pendengar. Seni yang bersumber dari hati yang ikhlas akan memancarkan kebaikan. Baca juga: Ngaji Online vs Ngaji Offline: Mana yang Lebih Efektif untuk Generasi Z Muslim?  Seniman Muslim, Pionir Dunia Modern Zaman sekarang, justru dunia butuh lebih banyak seniman Muslim. Dunia hiburan sering didominasi narasi yang jauh dari nilai spiritual. Nah, di sinilah peran kamu. Bayangin kalau makin banyak seniman Muslim yang menghadirkan karya keren tapi beradab, dunia kreatif akan jadi ruang yang menenangkan, bukan toxic. Seni bisa jadi cara untuk memperbaiki budaya, bukan sekadar hiburan. Karya yang Baik sama dengan Amal Jariyah Satu hal yang sering dilupakan, karya yang bermanfaat bisa jadi amal jariyah. Bayangin kalau ilustrasimu menginspirasi orang untuk berhijrah, atau lagu yang kamu tulis bikin orang semangat kembali berdoa. Selama karya itu terus memberi manfaat, pahala terus mengalir, bahkan setelah kamu nggak ada. Jadi, boleh banget Muslim jadi seniman asal tahu batas dan arah karyanya. Islam nggak menutup pintu kreativitas, malah mendukungnya selama tujuannya baik. Kuncinya adalah berkarya dengan niat ibadah. Seni yang indah bukan yang cuma enak dilihat, tapi yang membuat hati manusia semakin dekat dengan Sang Pencipta keindahan. Penulis : Vicky Vadila Muhti Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
Ramadhan

Ramadhan 2026 Sudah Di Depan Mata! Ini Tips Biar Ibadah Tetap Jalan Meski Banyak Kerjaan

Jakarta Timur – 1miliarsantri.net: Setiap kali Ramadhan datang, banyak dari kita punya niat besar, mulai dari mau khatam Al-Qur’an, rajin tarawih, ikut kajian, dan sedekah tiap hari. Tapi begitu minggu pertama lewat, semua rencana mulai kacau. Bukan karena malas tapi karena sibuk. Deadline kerjaan numpuk, tugas kuliah datang bareng sahur, bahkan buka puasa sering sambil ngetik laporan. Akhirnya, ibadah jadi disisipin di sela-sela waktu luang, bukan jadi prioritas utama. Pertanyaannya, gimana caranya tetap bisa maksimal beribadah meski hidup lagi padat banget? Nah, biar sama sama khusyuk dan fokus ibadah meski banyak pekerjaan, kita kasi tipsnya di artikel ini, biar bisa dipraktekkan bersama-sama. Yuk, langsung intip! 1. Pahami Dulu Jika Ramadhan Itu Bukan Penghalang, Tapi Penyembuh Banyak orang ngerasa Ramadhan bikin waktu kerja atau belajar jadi berantakan. Padahal, kalau dipikir-pikir, Ramadhan justru momen buat reset rutinitas hidup. Puasa bukan sekadar nahan lapar dan haus, tapi latihan buat ngatur waktu, nafsu, dan emosi. Kalau dijalani dengan niat benar, puasa malah bikin kita lebih fokus dan produktif. Contohnya, waktu makan jadi lebih teratur, waktu tidur lebih disiplin, dan waktu luang bisa diisi hal bermanfaat. Jadi, mindset-nya ubah dulu, Ramadhan bukan halangan buat produktif, justru motivasi tambahan buat jadi versi terbaik diri sendiri. 2. Bikin Jadwal Realistis, Bukan Perfeksionis Banyak yang niatnya bagus tapi kebablasan: bikin jadwal super padat yang ujung-ujungnya gagal. Misalnya, “Aku mau khatam Qur’an 3 kali bulan ini!”  padahal kerja dari pagi sampai malam. Akhirnya, hari ke-5 udah nyerah. Lebih baik realistis. Misalnya: Kuncinya bukan seberapa banyak, tapi seberapa konsisten. Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Muslim) 3. Atur Waktu Sesuai Golden Hour Ramadhan Ramadhan punya jam-jam emas yang sayang banget kalau dilewatin, bahkan buat orang sibuk. Biar gak bingung, kita kasi rinciannya juga di bawah ini: Kalau bisa memanfaatkan momen-momen ini, kamu nggak cuma dapat pahala besar, tapi juga mental recharge di tengah padatnya aktivitas. Baca juga: Hukum Khalwat Menurut Al Qur’an dan Hadist! Muslim Wajib Paham dan Waspada Diri!  4. Ubah Tempat Kerja Jadi Ruang Pahala Kalau kamu kerja kantoran atau kuliah, mungkin susah banget cari waktu buat ibadah. Tapi ternyata, kamu bisa tetap beramal tanpa meninggalkan tempat kerja. Contohnya: Senyum dan bersikap ramah ke rekan kerja, itu sedekah! Nahan emosi saat lagi stres, itu juga ibadah. Nggak curang dalam pekerjaan, nggak menunda tanggung jawab, itu bentuk takwa juga. Ingat, Islam nggak memisahkan dunia dan akhirat. Selama niatnya karena Allah, pekerjaan sehari-hari pun bisa bernilai ibadah. 5. Ibadah Bukan Kompetisi, Tapi Perjalanan Kadang kita merasa bersalah karena nggak seaktif orang lain. Teman bisa tarawih tiap malam, sedekah besar, sementara kita cuma sempat baca Qur’an selembar sebelum tidur. Tenang, Allah SWT nggak menilai dari seberapa banyak, tapi dari seberapa tulus. Setiap orang punya kondisi berbeda, dan Allah tahu batas kemampuan hamba-Nya. Daripada iri, lebih baik fokus pada peningkatan diri. Mungkin kamu nggak sempat tarawih di masjid, tapi kamu bisa bantu masak buat buka keluarga. Bisa jadi pahala kamu malah lebih besar karena dilakukan dengan ikhlas dan tulus. 6. Gunakan Teknologi untuk Kebaikan Zaman sekarang, alasan nggak sempat ngaji udah nggak valid lagi. Semua bisa kamu akses lewat HP. Teknologi bukan penghalang Ramadhan, justru bisa jadi alat bantu kalau digunakan dengan niat baik.Cuma hati-hati juga, jangan kebablasan scrolling media sosial sampai lupa waktu berbuka. Disiplin tetap penting. 7. Rawat Fokus & Niat Sibuknya aktivitas sering bikin niat ibadah bergeser dari “karena Allah” jadi “sekadar rutinitas.” Makanya, penting banget buat menjaga hati tetap terhubung dengan Allah, walau cuma lewat doa singkat di sela kerja. Kamu bisa mulai dari hal sederhana: Sebelum kerja: “Bismillah, semoga pekerjaanku hari ini jadi amal baik.” Saat capek: “Ya Allah, kuatkan aku menjalani Ramadhan ini dengan sabar.” Koneksi spiritual kecil seperti ini bisa menjaga semangat ibadah di tengah kesibukan. Baca juga: Anak Zaman Sekarang Susah Lepas HP? Yuk Terapkan Pola Parenting Islami di Era Digital 8. Libatkan Orang Sekitar Biar ibadah makin ringan, ajak orang lain bareng-bareng. Misalnya, ajak teman kantor buat sedekah kolektif, buka puasa bareng sambil kajian singkat, atau buat challenge “baca 1 juz bareng tiap minggu.” Selain nambah pahala, kamu juga nambah semangat dan rasa kebersamaan. Ramadhan itu momen membangun komunitas kebaikan, bukan dijalani sendirian. Nggak apa-apa kalau Ramadhan kamu nggak sempurna. Yang penting, kamu tetap berusaha mendekatkan diri pada Allah di tengah kesibukan yang luar biasa. Islam itu fleksibel dan penuh kasih. Kamu boleh punya banyak deadline, tapi jangan sampai lupa deadline terbesar, yakni akhirat. Ibadah nggak selalu butuh waktu lama dan yang penting, hati dan niatnya tetap hidup. Kalau Ramadhan kali ini terasa berat, ingat: Allah nggak minta kesempurnaan, Dia cuma minta kesungguhan. Penulis : Vicky Vadila Muhti Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More

Hari Santri 2025: Pesantren Didorong Berdaya di Sektor Wisata Religi

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Menjelang peringatan Hari Santri 2025, Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan pentingnya pesantren untuk terus bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, termasuk dalam sektor wisata religi. Gagasan ini disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Agama bidang Media dan Komunikasi Publik, Wibowo Prasetyo, dalam rangkaian kegiatan Road to Hari Santri 2025. Ia menekankan bahwa pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai motor penggerak ekonomi dan budaya berbasis nilai-nilai Islam Nusantara. Pesantren Sebagai Penggerak Ekonomi dan Wisata Religi Menurut Wibowo, keberadaan pesantren yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia menjadi kekuatan strategis dalam mengembangkan wisata religi. Pesantren memiliki modal spiritual, sosial, dan kultural yang unik, kombinasi yang sangat potensial untuk menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara. “Pesantren bisa menjadi pusat pengembangan wisata religi yang mengedepankan nilai edukatif dan spiritual. Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, potensi ini bisa memberi manfaat ekonomi sekaligus memperkuat karakter bangsa,” ujarnya seperti dilansir dari Kemenag.go.id.  Dalam pandangannya, wisata religi tidak hanya berarti ziarah ke makam ulama atau tokoh Islam, tetapi juga mencakup kegiatan seperti tur edukasi pesantren, festival budaya Islam, dan wisata kuliner halal. Semua itu bisa menjadi daya tarik yang menonjolkan kearifan lokal pesantren sebagai bagian dari kebudayaan nasional. Baca juga: Burkina Faso Klaim Raup US$ 18 Miliar dari Tambang Emas Sejak Traoré Memimpin Potensi Besar Pesantren di Sektor Wisata Indonesia memiliki lebih dari 36 ribu pesantren, dengan jutaan santri yang tersebar di berbagai daerah. Banyak di antaranya berdiri di lokasi strategis yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi. Misalnya, pesantren-pesantren tua seperti Lirboyo (Kediri), Tebuireng (Jombang), dan Darul Ulum (Rejoso) yang sejak lama menjadi pusat ziarah dan studi keislaman. Kemenag menilai bahwa jika dikelola secara profesional, pesantren-pesantren ini dapat menjadi destinasi unggulan dalam paket wisata religi nasional. Tak hanya memberikan nilai tambah ekonomi bagi lingkungan sekitar, pengembangan wisata berbasis pesantren juga bisa memperkuat citra Islam Indonesia yang damai, terbuka, dan berperadaban. Selain itu, banyak pesantren kini sudah mulai berinovasi dengan mendirikan kafe santri, galeri produk halal, hingga homestay syariah. Langkah-langkah kreatif ini menjadi bukti bahwa pesantren memiliki potensi kewirausahaan dan kemandirian ekonomi yang besar. Dukungan Pemerintah untuk Pemberdayaan Pesantren Pemerintah, melalui Kementerian Agama, berkomitmen mendukung pesantren agar lebih berdaya di sektor wisata dan ekonomi kreatif. Dukungan tersebut mencakup pelatihan pengelolaan pariwisata, digitalisasi promosi, serta akses permodalan bagi unit usaha pesantren. Program seperti Santripreneur, Pesantren Go Digital, dan Pesantren Produktif menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam menjadikan pesantren sebagai pusat ekonomi umat. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ekosistem sosial-ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan. Wibowo menegaskan bahwa arah pembangunan pesantren ke depan harus sejalan dengan misi moderasi beragama dan kemandirian ekonomi. “Pesantren harus mampu menjadi model pembangunan berkelanjutan, mengajarkan nilai-nilai spiritual sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar,” tuturnya. Sinergi Santri, Pemerintah, dan Masyarakat Dalam momentum Road to Hari Santri 2025, kolaborasi antara pesantren, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci utama. Banyak daerah kini mulai mengangkat identitas pesantren sebagai bagian dari branding wisata lokal. Contohnya, di beberapa kota santri seperti Tasikmalaya, Kudus, dan Pekalongan, kegiatan keagamaan seperti haul, festival santri, dan ziarah wali telah menjadi agenda rutin yang menarik wisatawan. Dengan dukungan infrastruktur, promosi digital, dan kemitraan lintas sektor, pesantren dapat menjadi destinasi wisata yang bukan hanya menawarkan pengalaman religius, tetapi juga edukatif dan inspiratif. Baca juga: Sastra Santri: Merawat Tradisi Islam Nusantara Lewat Kata dan Karya Menyongsong Hari Santri 2025: Pesantren Sebagai Lentera Peradaban Peringatan Hari Santri ke-10 tahun 2025 menjadi momentum refleksi dan aksi nyata bagi dunia pesantren. Dari lembaga pendidikan tradisional, pesantren kini berkembang menjadi kekuatan sosial-ekonomi yang relevan dengan tantangan zaman. Dengan semangat “Dari Pesantren untuk Dunia”, pesantren diharapkan terus menjadi pusat inspirasi, tempat ilmu, iman, dan amal berpadu membangun peradaban. Dan melalui sektor wisata religi, pesantren dapat menunjukkan wajah Islam Indonesia yang sejuk, inklusif, dan berdaya guna bagi bangsa serta dunia. Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Ilustrasi by AI

Read More

Burkina Faso Klaim Raup US$ 18 Miliar dari Tambang Emas Sejak Traoré Memimpin

Ouagadougou – 1miliarsantri.net : Pemerintah transisi Burkina Faso menyatakan bahwa negara tersebut telah memperoleh pendapatan sekitar US$ 18 miliar dari sektor tambang emas sejak Kapten Ibrahim Traoré naik ke tampuk kekuasaan pascakudeta tahun 2022. Klaim ini diproses sebagai bagian dari upaya rezim militer untuk menegaskan kedaulatan sumber daya alam dan memperkuat arus kas negara di tengah tekanan ekonomi dan keamanan yang berat. Namun, sejumlah analis dan kelompok masyarakat sipil mengingatkan bahwa angka tersebut harus ditinjau ulang dalam konteks transparansi, biaya operasional, dan manfaat sosial bagi rakyat. Klaim Pemerintah & Konteks Kebijakan Pemerintah transisi menyebutkan bahwa sejak Traoré menggulingkan rezim sebelumnya, pertambangan emas telah menjadi “komponen utama” dalam arus pemasukan negara. Menurut laporan media Afrika Briefing, klaim itu juga disampaikan melalui Kementerian Tambang sebagai bagian dari strategi untuk melegitimasi kebijakan nasionalisasi dan reformasi industri pertambangan. Seiring dengan klaim pendapatan tinggi, pemerintah telah mengambil langkah-langkah struktural seperti revisi undang-undang pertambangan (mining code), peningkatan saham negara dalam proyek pertambangan, hingga nasionalisasi tambang industri. Misalnya, pemerintah menaikkan kepemilikan negara dalam proyek emas dari 10 % menjadi 15 %. Perdana Menteri Jean Emmanuel Ouédraogo menyatakan bahwa “SOPAMIB telah menguasai dua tambang industri, Boungou dan Wahgnion, dan proses akan dilanjutkan.” Pemerintah juga berencana menasionalisasi lebih banyak tambang industri asing untuk memperbesar bagian pendapatan negara dari ekstraksi sumber daya. Langkah-langkah ini dilatarbelakangi oleh lonjakan harga emas global (lebih dari 25 % dalam beberapa tahun terakhir) dan kebutuhan Burkina Faso untuk memperbaiki situasi fiskal serta mengurangi ketergantungan pada pinjaman luar negeri. Realitas Produksi & Tantangan Keamanan Meskipun klaim pendapatan tinggi tersebut menarik perhatian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa produksi emas Burkina Faso menghadapi hambatan nyata. Pada 2023, produksi emas negara itu dilaporkan sekitar 57 ton, menurun dari puncak yakni 67 ton pada 2021. Menurut laporan Mining.com, produksi dari operasi skala besar diperkirakan akan meningkat 4 % pada tahun 2025 menjadi sekitar 55,7 ton, setelah sejumlah tambang yang sempat tertutup kembali dioperasikan. Bila tambang besar berada di wilayah rawan, ongkos pengamanan, logistik, dan kerusakan infrastruktur bisa menggerus margin keuntungan. Selain itu, sebagian besar produksi emas beroperasi melalui tambang artisanal dan semi-mekanis, yang seringkali terjadi di luar regulasi dan menyulitkan pendataan penuh. Untuk meningkatkan kontrol terhadap sektor ini, pemerintah junta sempat menangguhkan izin ekspor emas artisanal dan semi-mekanis pada Februari 2024, sebagai langkah untuk merapikan pasar emas domestik. Baca juga: Sastra Santri: Merawat Tradisi Islam Nusantara Lewat Kata dan Karya Kritik, Transparansi & Manfaat Sosial Beberapa pengamat memandang bahwa angka US$ 18 miliar adalah klaim politis yang perlu diverifikasi lebih lanjut. Misalnya, laporan Garowe Online menyebutkan bahwa meskipun pemerintah menyampaikan angka itu, kelompok masyarakat sipil dan analis meminta audit publik serta pelaporan independen agar penggunaan dana dapat dipantau. Analisis dari platform EITI Burkina Faso juga menunjukkan bahwa selama periode 2012–2021, aliran keuangan ilegal (illicit financial flows, IFFs) sektor pertambangan diperkirakan mencapai US$ 4,93 miliar, dengan emas menyumbang sebagian besar dari angka ini. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pendapatan tinggi diklaim, kebocoran dan praktik tidak transparan sebelumnya telah menggerus potensi manfaat yang bisa dinikmati pemerintah dan masyarakat. Juga, apabila pendapatan besar hanya mengisi kas negara atau membiayai proyek pemerintahan pusat tanpa secara langsung meningkatkan infrastruktur lokal, lapangan pekerjaan, akses kesehatan, dan layanan publik, maka dampak positif terhadap rakyat kecil bisa sangat terbatas. Dengan tantangan keamanan, resistensi investor asing, dan kompleksitas teknis pengelolaan tambang, realisasi penuh klaim pendapatan tersebut tidak akan mudah. Meski demikian, langkah klaim dan nasionalisasi sumber daya emas mencerminkan perubahan paradigma dalam pengelolaan sumber daya alam di Burkina Faso, dari sekadar penghasil komoditas menjadi pengendali dominan atas cara penambangan dan distribusinya. Baca juga: Hari Dokter Nasional 2025: Sejarah hingga Bentuk Peringatan Penulis: Faruq Ansori Editor: Glancy Verona Gambar: Reformasi Séktor Pertambangan Ibrahim Traoré: Burkina Faso Ngahasilkeun $18 Miliar Tina Pertambangan Emas

Read More

Speak English with Elegance: Mastering Polite Conversations with Purpose

Bondowoso – 1miliarsantri.net: Mastering a language is more than memorising grammar rules or expanding vocabulary. True fluency blossoms when we learn how to communicate kindly, naturally, and respectfully. In English-speaking cultures, conversation is almost an art form—one that shows not only what we know, but who we are. In this article, we’ll explore essential English-conversation etiquette so that even beginners can interact with confidence and courtesy in everyday life. Begin with a Warm Greeting Every meaningful conversation starts with a friendly opening. Simple phrases like “Hello,” “Hi,” or “Good morning” help set a positive tone. A polite greeting reveals openness and respect for the other person—which is especially valued in English-speaking contexts. You might follow with: Add a genuine smile and pleasant tone—because first impressions carry weight, especially when speaking English. Practice Active Listening Speaking well is only half of communication; the other half is listening. Active listening means giving your full attention to someone without interrupting. Gestures such as nodding, maintaining eye contact, and saying: …show you are engaged. Avoid distractions like checking your phone or looking around. By listening attentively you show empathy and respect, which helps your conversation become meaningful rather than superficial. Read more: Speak with Grace: Islamic Etiquette in Every English Conversation Use the “Magic Words”: Please, Thank You, and Sorry Politeness is the foundation of good English communication. There are three simple words that carry big impact: please, thank you, and sorry. For example: These words soften your tone and show you value the other person. In English-speaking cultures, these expressions are common not only in formal situations but in everyday talk. Avoid Sensitive or Controversial Topics In many casual English conversations, it’s wise to steer clear of topics that can make others uncomfortable—such as politics, religion, money, or deeply personal issues. Instead, focus on light, neutral subjects like the weather, hobbies, movies, and travel. Examples: These simple prompts create a friendly, relaxed atmosphere—ideal for both social and professional interactions. Mind Your Tone and Body Language Your words carry weight, but your tone, expression, and posture matter just as much. Speak in a calm, friendly voice, don’t shout or mumble, and keep an open, relaxed posture. In English-speaking cultures, non-verbal cues like eye contact, nodding, and smiling signal sincerity and interest. Keep your personal space, be mindful of gestures, and adapt your body language so that your speech feels authentic and kind. End the Conversation Gracefully A conversation that ends well leaves a lasting good impression. Use closing phrases such as: These simple words show you valued the interaction—and help ensure others remember you positively. Conclusion The art of English conversation blends language skills with social awareness and genuine respect. By practising simple etiquette rules—warm greetings, active listening, polite phrases, respectful tone and body language—you’ll not just communicate better, you’ll build stronger connections. Whether you’re chatting with friends, speaking with colleagues, or talking to strangers, mastering English conversation etiquette will help you express yourself with confidence and courtesy. Remember, being polite is always in style. Read more: Speak English with Character: 5 Moral Habits Every Beginner Should Practice Writer: Glancy Verona Editor: Abdullah Al-Mustofa Ilustrasi by AI

Read More