Tentara Israel Tutup Kantor TV Aljazirah di Ramallah

Ramallah — 1miliarsantri.net : Tentara Israel menyerbu dan menutup kantor TV Aljazirah di kota Ramallah, Tepi Barat, pada Ahad (22/9/2024) pagi, dalam tindakan yang digambarkan sebagai keputusan militer yang sewenang-wenang. Kantor berita Palestina, Wafa, melaporkan pemerintah Israel memerintahkan staf Aljazirah untuk meninggalkan lokasi sebelum kemudian menutup kantor media tersebut. Penyerbuan terjadi di tengah peningkatan ketegangan di kawasan maupun pengawasan terhadap organisasi media yang meliput perang Israel di Gaza. Menurut Wafa, tentara-tentara Israel menyita dokumen dan perlengkapan dari kantor Aljazirah. Mereka juga memberlakukan larangan berkegiatan selama 45 hari terhadap saluran Aljazirah di wilayah tersebut dengan alasan masalah keamanan. Dilansir laman Anadolu, Serikat Jurnalis Palestina mengecam penggerebekan dan penutupan tersebut dan menyebutnya sebagai serangan baru terhadap jurnalisme dan kebebasan media. Serikat tersebut mendesak organisasi dan lembaga internasional pembela hak dan keselamatan jurnalis agar mengambil tindakan segera untuk mengecam dan memastikan keputusan tersebut dibatalkan. Serikat Jurnalis Palestina juga menyatakan solidaritas dengan Aljazirah dan beserta para jurnalisnya dengan menawarkan kantor pusat dan sumber daya untuk membantu kegiatan staf media tersebut selama masa penutupan paksa. Kendati demikian, belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan Aljazirah mengenai penggerebekan yang terjadi pada Ahad. Pemerintah Israel pada Mei memutuskan untuk melarang Aljazirah beroperasi di Israel. (zul) Baca juga :

Read More

Pemerintah Siap Kucurkan Aliran Dana Abadi Pesantren

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ada kabar menarik yang menggembirakan bagi dunia pesantren. Penyusunan peta Dana Abadi Pesantren (DAP) yang kini digarap Kemenag sudah hampir selesai. DAP adalah program strategis yang sangat penting dalam pengembangan pesantren, khususnya dalam meningkatkan kualitas santri di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Abu Rokhmad. Ia mengatakan inisiatif penyusunan peta jalan DAP ini menjadi prioritas strategis setelah disebutkan dalam Pilpres 2024, yang mencerminkan janji pemerintah untuk meningkatkan kapasitas pesantren dan pendidikan santri. “DAP adalah bukti keseriusan pemerintah dalam mengembangkan pendidikan pesantren,” terang Abu Rokhmad di Jakarta. Pesantren selama ini dikenal mandiri, namun dengan disahkannya Undang-Undang Pesantren No. 18 Tahun 2019, pemerintah semakin fokus mendukung peran pesantren dalam pengembangan sumber daya manusia. Alokasi anggaran DAP sebesar Rp250 miliar pada 2024 menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas akademik dan keterampilan praktis para santri. Koordinasi Program Dana Abadi Pesantren membahas dua hal utama, yaitu: 1)program degree, misalnya Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) yang diperuntukkan bagi mahasiswa S1, serta 2) program non-degree berupa pelatihan singkat di luar negeri. Dunia Pesantren Boleh Gembira, Siap Siap Dapat Aliran Dana Abadi Pesantren “Penting bagi kita memastikan bahwa para santri yang menerima beasiswa ini benar-benar memberikan kontribusi balik kepada pesantren yang merekomendasikan mereka,” tambah Abu Rokhmad. Pertemuan juga membahas perlunya transparansi dalam pengelolaan dan alokasi DAP, mengingat pertanyaan yang sering diajukan oleh mitra Kementerian Agama di Komisi VIII DPR. Abu Rokhmad menekankan bahwa penjelasan yang transparan sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman atau isu negatif terkait pengelolaan dana ini. Abu Rokhmad juga mengungkapkan kemungkinan memperluas kerja sama dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI) untuk menciptakan skema Dana Abadi Pendidikan Islam melalui wakaf tunai, yang dapat memperluas manfaat DAP, khususnya untuk mendukung pendidikan santri dan madrasah. Dengan peta jalan DAP, Abu Rokhmad berharap program ini mampu menjadi katalis perubahan besar bagi pengembangan pendidikan pesantren, termasuk penguatan kyai muda dan lembaga pesantren secara menyeluruh. “Inisiatif ini tentunya menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat pendidikan pesantren, menjadikan DAP sebagai sumber daya yang tidak hanya mendukung finansial, tetapi juga mendorong perkembangan yang signifikan bagi dunia pesantren di Indonesia,” imbuhnya. Sementara itu, Kasubdit Pendidikan Diniyah Ma’had Aly, Mahrus Elmawa, menyampaikan perkembangan penyusunan peta jalan Dana Abadi Pesantren. Menurut Mahrus, sekitar 80% peta jalan telah selesai dibahas, dan beberapa revisi sedang dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan program lain yang terkait dengan pengembangan pesantren. “Revisi ini akan memperkuat pengembangan pesantren secara keseluruhan, termasuk penguatan kyai muda dan lembaga pendidikan pesantren,” jelasnya. Mahrus juga menyampaikan bahwa salah satu tantangan dalam pengelolaan DAP adalah fluktuasi informasi terkait anggaran dari LPDP, yang menjadi pelajaran penting dalam menyusun program agar tidak terlalu idealis, namun tetap terstruktur dan tepat sasaran. “Kami berharap Pak Dirjen dapat memberikan arahan terkait bagaimana program degree dan non-degree ini bisa dioptimalkan,” tambahnya. Pada tahun kedua implementasi DAP ini, program degree sudah berjalan dengan baik, termasuk kolaborasi dengan LPDP. Namun, program non-degree masih membutuhkan perhatian lebih, terutama agar tidak ada pengulangan program yang kurang berdampak signifikan. Dengan arahan yang tepat, program ini diharapkan dapat lebih efektif dalam menjawab kebutuhan pesantren, baik dari segi pendidikan formal maupun pengembangan keterampilan non-akademis. “Kami harus memperkuat dan mempertajam jangkauan Dana Abadi Pesantren ini,” pungkas Mahrus. (wink) Baca juga :

Read More

Kemenparekraf Fasilitasi Pelatihan Content Creator dan Digital Marketing

Surabaya — 1miliarsantri.net : Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengadakan pelatihan untuk menjadi content creator serta digital marketing bagi pelaku ekonomi kreatif di Banyuwangi, Jawa Timur. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan jumlah pengguna internet di Indonesia pada awal 2024 telah mencapai lebih dari 215 juta orang. Angka ini merupakan potensi yang harus dimaksimalkan oleh pelaku ekonomi kreatif Indonesia dengan pendekatan digital. Di mana para pelaku ekraf harus dapat melakukan promosi produk dengan cara yang kreatif, dan membangun komunitas yang loyal. “Kami menemukan korelasi yang sangat kuat antara konten-konten yang viral terhadap penjualan yang meningkat. Hampir semua bisa menjadi konten kreator dan hari ini 100 pelaku ekraf dari Banyuwangi sedang kami ikutkan dalam pelatihan tentang content creator dan digital marketing,” ungkap Sandiaga. Dia menekankan, konten yang harus disiapkan bukan hanya sekadar viral, tapi adalah konten yang menghibur juga inspiratif. Konten yang ada aspek religi juga bisa mendongkrak penjualan bukan hanya pariwisata tapi juga produk ekonomi kreatif. “Karenanya kita tingkatkan pelatihan seperti ini sehingga mereka bisa menciptakan konten-konten yang bisa sesuai dengan algoritma yang mampu mendapatkan view yang tinggi dan engagement yang luas,” terangnya. Pihaknya juga memiliki berbagai program yang dapat mendukung pengembangan kapasitas dan kapabilitas pelaku ekonomi kreatif di Banyuwangi. “Kami akan bantu dengan aspek pemasaran dan juga melalui aspek pembiayaan. Jadi pelatihan-pelatihan tentang pemasaran, juga permodalan akan terus kita tingkatkan,” pungkasnya. (nif) Baca juga :

Read More

Buya Yahya Soroti Fenomena Gelar Spiritual dalam Masyarakat

Jakarta — 1miliarsantri.net : Gelar “Pak Haji” telah lama menjadi simbol kehormatan di masyarakat Indonesia. Namun, fenomena pemberian gelar ini kepada mereka yang belum menunaikan ibadah haji memicu perdebatan. Buya Yahya, seorang ulama terkemuka, baru-baru ini angkat bicara mengenai isu sensitif ini. Dalam ceramahnya yang viral di media sosial, Buya Yahya memaparkan dua pandangan berbeda terkait penggunaan gelar “Pak Haji”. Sebagian kalangan berpendapat bahwa gelar tersebut seharusnya eksklusif untuk mereka yang telah melaksanakan rukun Islam kelima ini. Alasannya, ibadah haji membutuhkan pengorbanan besar, baik dari segi materi maupun waktu tunggu yang panjang. “Ada yang merasa tidak adil jika orang yang belum berhaji dipanggil ‘Pak Haji’. Mereka yang sudah menunaikan ibadah haji telah mengeluarkan banyak biaya dan menunggu bertahun-tahun,” urai Buya Yahya, mengutip perspektif kelompok pertama. Di sisi lain, pandangan kedua lebih moderat. Mereka menganggap pemberian gelar “Pak Haji” kepada yang belum berhaji sebagai bentuk motivasi dan doa. “Sebagian masyarakat memandang panggilan ini sebagai harapan agar seseorang bisa segera menunaikan ibadah haji,” tambah Buya Yahya. Menariknya, fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat umum. Buya Yahya mengisahkan kejadian unik di Cirebon, di mana seseorang yang mengenakan pakaian putih langsung diasumsikan telah berhaji. “Ini menunjukkan betapa kuatnya asosiasi antara penampilan dan gelar ‘haji’ di benak masyarakat,” ujarnya. Namun, Buya Yahya mengingatkan bahwa esensi ibadah haji bukan sekadar gelar. “Yang terpenting adalah bagaimana seseorang yang telah berhaji dapat menjaga perilakunya, seperti menjauhi riba dan perbuatan haram lainnya,” tegasnya. Polemik ini mencerminkan kompleksitas budaya dan agama di Indonesia. Di satu sisi, gelar “Pak Haji” mencerminkan penghormatan terhadap ibadah suci. Namun di sisi lain, penggunaannya yang meluas dapat menimbulkan dilema etis. Terlepas dari kontroversi, Buya Yahya menekankan pentingnya niat baik dalam penggunaan gelar ini. “Selama tujuannya untuk memotivasi dan bukan untuk kesombongan, maka tidak ada yang salah,” pungkasnya. (yan) Baca juga :

Read More

Nasihat Sayyidina Anas RA saat Gelap Gulita

Jakarta — 1miliarsantri.net : Syaikh Nadhr bin Abdullah Rahmotullah ‘alaih bercerita, “Pada waktu hidupnya Sayyidina Anas Rodhiyollohu ‘anhu, tiba-tiba siang menjadi gelap. Segera aku menjumpai Sayyidina Anas RA dan bertanya kepadanya, “Apakah kejadian seperti ini pernah terjadi pada zaman Baginda Nabi SAW?” Jawabnya, “Na’udzubilloh, jika angin bertiup sedikit kencang pada zaman Baginda Nabi SAW,kami segera pergi ke masjid karena takut akan terjadi Kiamat.” Sayyidina Abu Darda’ RA juga bercerita, “Jika terjadi angin ribut, biasanya Baginda Rasulullah SAW akan merasa takut dan segera pergi ke masjid.” Maulana Muhammad Zakariyya Al Khandahlawi dalam kitab Fadhilah Amal menjelaskan, belakangan ini, meskipun berbagai musibah besar melanda kita, siapakah yang ingat untuk datang ke masjid? Jangankan masyarakat awam, bahkan orang-orang berilmu pun sedikit yang mempedulikannya. “Silakan menjawab masalah ini dengan merenungkannya didalam hati masing-masing,” ujar Maulana Zakariyya. (jeha) Baca juga :

Read More

Spanyol Siapkan Pertemuan Bilateral dengan Palestina

Gaza — 1miliarsantri.net : Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, melakukan percakapan dengan rekan Bahrain-nya, Abdullatif bin Rashid Alzayani, membahas situasi di Palestina dan solusi dua negara sebagai langkah menuju perdamaian definitif di Timur Tengah. “Saya telah berbicara dengan rekan Bahrain saya, Abdullatif bin Rashid Alzayani, tentang hubungan bilateral yang erat dan situasi di Palestina. Spanyol berkomitmen pada solusi dua negara untuk mencapai perdamaian yang nyata di Timur Tengah,” ungkap Albares melalui akun resmi di media sosial X. Percakapan telepon ini terjadi beberapa hari sebelum Madrid menjadi tuan rumah pertemuan antara perwakilan negara-negara Eropa dan Arab yang membahas solusi untuk mengakhiri perang antara Israel dan Palestina. Pertemuan ini dijadwalkan berlangsung pada hari Jumat mendatang, dengan para menteri luar negeri dari berbagai negara Eropa dan Arab telah mengonfirmasi kehadiran mereka. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari pertemuan pertama yang diadakan pada 29 April di Riyadh, yang memanfaatkan acara Forum Ekonomi Dunia di ibu kota Saudi tersebut. Pertemuan sebelumnya dihadiri oleh menteri-menteri dari Arab Saudi, Qatar, dan Mesir, serta beberapa menteri Eropa, termasuk Spanyol, Inggris, dan Norwegia, bersama Josep Borrell, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Keamanan. Spanyol adalah salah satu negara Eropa yang baru-baru ini mengakui Negara Palestina, tepatnya pada 28 Mei. Menurut pengumuman terbaru dari Presiden Pemerintah, Pedro Sánchez, eksekutif sedang mempersiapkan untuk mengadakan pertemuan bilateral dengan Palestina di Madrid sebelum akhir tahun ini. (zul) Baca juga :

Read More

Ketua PBNU Minta Kurikulum Aswaja NU Segera Diluncurkan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Muhammad Faesal meminta agar Kurikulum Ahlussunnah wal Jamaah Nahdlatul Ulama yang disusun Lembaga Pendidikan Ma’arif NU bisa segera diluncurkan dan disebarkan. Hal tersebut disampaikan Faesal saat Puncak Harlah Ke-95 LP Ma’arif NU di Hotel Yuan Garden, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (19/9/2024) lalu. “Kami berharap kurikulum Aswaja Nahdatul Ulama tidak boleh berhenti, (segera) luncurkan dan sebarkan karena daerah-daerah menunggu Kurikulum Aswaja Nahdlatul Ulama ini,” terangnya kepada 1miliarsantri.net, Senin (23/9/2024). Ia juga meminta LP Ma’arif NU untuk mempercepat kurikulum Aswaja untuk meluruskan sejarah NU ke jalur yang benar dan mempersiapkan generasi muda yang kuat. “Kami minta segera (luncurkan) kurikulum Aswaja karena pelencengan-pelencengan sejarah sudah kita temukan. Oleh karena itu, dengan kurikulum Ahlussunnah wal Jamaah NU ini bisa mengembalikan sejarah NU kepada jalur yang benar dan paling tidak mempersiapkan generasi-generasi muda kita memiliki perisai kuat yaitu Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,” jelasnya. Faesal mengharapkan kurikulum ini dapat segera diimplementasikan, disosialisasikan, dan dijalankan. Ia juga mengapresiasi LP Ma’arif NU yang selalu menghidupkan kegiatan di bidang pendidikan. “LP Maarif PBNU luar biasa, hampir setiap bulan melaksanakan kegiatan di bidang pendidikan dan pengajaran dan saya kira ini tidak boleh berhenti, percayalah kalau LP Ma’arif NU berhenti, bubar pendidikan Nahdlatul Ulama,” lanjutnya. Faesal juga mengungkapkan rasa bangganya kepada seluruh pemenang Olimpiade Sains dan Matematika. “Yang kami banggakan seluruh pemenang Olimpiade Sains dan Matematika LP Ma’arif yang sungguh sangat luar biasa,” ungkapnya. Dalam kesempatan ini, ia juga menyampaikan pesan dari Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengenai fenomena yang dihadapi dalam perubahan peradaban saat ini. “Fenomena perubahan peradaban baru meliputi perubahan tatanan politik internasional, perubahan democratie dan keluarga, perubahan dalam standar norma-norma, dan perubahan globalisasi,” tegasnya. Dia mengungkapkan, kunci untuk menghadapi fenomena perubahan tersebut adalah pendidikan, dan NU berkewajiban menyiapkan generasi muda yang siap berhadapan dengan perubahan-perubahan. “Transformasi pendidikan tidak mungkin kita abaikan, transformasi teknologi tidak mungkin kita abaikan, karena jika kita abaikan percayalah kita pasti akan ketinggalan bahkan kita akan tergerus oleh perubahan,” pungkasnya. (rid) Baca juga :

Read More

Kiat Agar Niat Sedekah Jauh dari Riya

Surabaya — 1miliarsantri.net : Sedekah merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Allah SWT menjanjikan pahala besar bagi mereka yang bersedekah dengan ikhlas. Namun, dalam prosesnya bisa jadi muncul godaan riya, yaitu melakukan kebaikan agar dilihat atau dipuji orang lain. Riya adalah penyakit hati yang dapat menghapus pahala sedekah. Untuk menjaga agar niat sedekah tetap murni dan jauh dari riya, berikut adalah 6 kiat yang bisa dilakukan: Langkah pertama agar terhindar dari riya adalah dengan meluruskan niat sebelum melakukan sedekah. Niatkan sedekah semata-mata hanya untuk mendapatkan ridha Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pujian, penghargaan, atau pengakuan dari orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan niat yang ikhlas, sedekah yang dilakukan akan menjadi amal yang bernilai di sisi Allah SWT. Salah satu cara terbaik untuk menghindari riya adalah dengan menyembunyikan sedekah. Tidak semua sedekah harus dilakukan secara terbuka atau diketahui orang lain. Allah SWT memuji mereka yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi dalam Al-Qur’an: “Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al-Baqarah: 271). Dengan bersedekah secara tersembunyi, kita terhindar dari godaan untuk ingin dipuji atau diperhatikan oleh orang lain. Keikhlasan dalam beribadah adalah hal yang sangat penting dan memerlukan bantuan dari Allah SWT. Salah satu cara agar niat sedekah jauh dari riya adalah dengan selalu berdoa memohon keikhlasan. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk selalu memohon perlindungan dari riya. Terkadang, pujian dari orang lain bisa memicu munculnya rasa bangga diri dan riya. Untuk menjaga niat sedekah tetap murni, usahakan untuk menghindari atau tidak terlalu memperhatikan pujian dari orang lain. Jangan terlalu berfokus pada bagaimana orang lain menilai perbuatan kita. Sebaliknya, fokuskan perhatian pada bagaimana Allah SWT menilai amalan kita. Jika ada orang yang memuji, kembalikan pujian itu kepada Allah dengan mengucapkan “Alhamdulillah” dan tetap menjaga hati agar tidak terjerumus dalam riya. Mengendalikan hati merupakan tantangan besar, terutama ketika seseorang sudah terbiasa bersedekah secara terbuka. Godaan untuk merasa bangga dan senang dipuji akan selalu ada. Oleh karena itu, penting untuk selalu introspeksi dan mengamati diri sendiri. Jika ada perasaan bangga atau ingin dipuji, segera ingatkan diri bahwa tujuan sedekah adalah hanya untuk Allah SWT. Latih diri untuk selalu mengingat kematian dan akhirat, di mana segala amal hanya akan diterima jika dilakukan dengan ikhlas. Ini akan membantu mengatasi rasa ingin dipuji oleh manusia. Sedekah yang dilakukan secara konsisten, baik dalam jumlah kecil atau besar, akan membantu seseorang menjaga niatnya tetap lurus. Ketika bersedekah sudah menjadi kebiasaan yang konsisten, seseorang akan lebih fokus pada amal itu sendiri dan bukan pada bagaimana orang lain melihatnya. UCare Indonesia menyediakan platform sedekah online melalui bantusesama, sehingga dapat memudahkan sahabat untuk kontinu dalam bersedekah kapan saja dan dimana saja. Menjaga niat sedekah agar jauh dari riya memang memerlukan usaha, introspeksi, dan doa. Dengan meluruskan niat, menyembunyikan sedekah, berdoa untuk keikhlasan, serta konsisten dalam bersedekah, kita bisa menjaga amal ini tetap bersih dan diterima di sisi Allah SWT. Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita untuk selalu ikhlas dalam beramal, termasuk dalam bersedekah. (yat) Baca juga :

Read More

Kisah Al-Biruni Menghitung Keliling Bumi

Jakarta — 1miliarsantri.net : Menurut perhitungan modern, seperti dicatat Sigurd Humerfelt dalam “How WGS 84 Defines Earth” (2010), keliling bumi di area khatulistiwa adalah 40.075,017 km. Dengan memanfaatkan kalkulasi trigonometri, seorang saintis Muslim dari abad ke-11, al-Biruni, menemukan bahwa keliling bumi adalah 40.225 km. Angka itu bila dibandingkan dengan hasil temuan kini hanya menyimpang sekira 0,38 persen. Dengan perkataan lain, akurasi sang polymath Muslim sangat besar, yakni mencapai 99,62 persen. Al-Biruni menemukan pula radius bumi, yakni 6.339,6 km. Hingga abad ke-16 M, akademisi Eropa Barat belum mampu mengukur jarak demikian, seperti yang dilakukan Muslim genius tersebut. Maka, bagaimana metode yang diterapkan sang al-Ustadz fii al-‘Ulum (Gurunya Banyak Ilmu) untuk sampai pada hasil demikian? Heriyanto menjelaskan, pertama-tama al-Biruni—seperti halnya para ilmuwan Muslim terdahulu maupun sezamannya—berprinsip bahwa bumi ini berbentuk bulat seperti bola. Ia juga menunjukkan, planet ini berputas pada porosnya. Kemudian, al-Biruni mesti menemukan data penting, yakni jarak jari-jari bumi. Sebab, nilai pi sudah ditemukan oleh matematikawan sebelumnya, termasuk Muhammad bin Musa al-Khwarizmi (780-847). Selain itu, besaran tinggi gunung juga telah diketahui. Untuk menyederhanakan kalkulasi, bentuk bola itu dilukiskan dalam bentuk dua dimensi, yaitu lingkaran. Katakanlah, O adalah titik pusat bumi. Titik A adalah titik di permukaan Bumi yang menjadi kaki gunung yang tinggi. Titik P berarti titik puncak gunung. Titik B adalah titik di permukaan bumi yang merupakan titik singgung garis P dengan horizon bumi—titik S. Kedua titik P dan S membentuk garis PS. Titik A dan B berada pada bidang permukaan bumi yang ketinggiannya sama dengan permukaan laut (h = 0 meter). Garis AP adalah tinggi gunung. Garis OB tegak lurus dengan garis PS. Ini sesuai dengan dalil geometri, sebuah garis yang menyinggung lingkaran akan tegak lurus dengan jari-jari lingkaran yang melalui titik singgung garis tersebut dengan lingkaran (titik B). Al-Biruni lalu menentukan data sudut elevasi, yakni sudut penglihatan dari P ke arah permukaan laut (h = 0). Dengan perkataan lain, sudut itu adalah yang terbentuk antara garis PS dan garis OAP. Adapun sudut elevasi yang ditemukannya, tutur Heriyanto, disimbolkan dengan huruf “α” (alpha). Garis AP adalah tinggi gunung (h). Al-Biruni mengadakan observasi di banyak tempat, khususnya kawasan Pegunungan Himalaya dan Hindukush. Gunung-gunung di sana rata-rata memiliki ketinggian puncak antara 6.000–7.000 m. Dengan mengetahui data (h) dan sudut elevasi, al-Biruni dapat menghitung jari-jari bumi (R). Ia menggunakan Dalil Sinus, yakni “panjang sisi a : panjang sisi b : panjang sisi c = sin A : sin B : sin C.” Karena itu, “garis OB : garis OP = sin OPB : sin OBP.” Garis OB adalah R. Adapun OP adalah R ditambah (h). Lambda adalah sudut OPB. Sedangkan sudut OBP adalah 90 derajat, yang memiliki sin sama dengan 1. Karena tinggi (h) dan sudut elevasi sudah diketahui, nilai R pun dapat dicari. Dari sana, keliling bumi pun bisa ditentukan dengan rumus “keliling = 2.π.R.” Hasilnya, al-Biruni mengatakan, jarak keliling bumi adalah 25 ribu 2/7 mil atau setara 40.225 km. (jeha) Baca juga :

Read More

Ahmad Soffa, Pelaku UMKM Rembang Populerkan Sirop Buah Kawista

Tuban — 1miliarsantri.net : Tren minuman kekinian dengan berbagai rasa, mendorong Ahmad Soffa (40 tahun), pegiat UMKM asal Rembang mengembangkan usaha sirop dari buah kawista. Usaha Ahmad ini didukung Rumah BUMN (RB) Rembang yang dikelola PT Semen Gresik, anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG). Ahmad Soffa berhasil menjual ribuan botol sirop buah kawista ke wilayah Rembang, Blora, Pati hingga Tuban, Jawa Timur. Menurut pria yang akrab disapa Soffa ini, buah kawista yang dikenal dengan aroma dan rasa uniknya, kian sulit ditemukan. “Saya melihat potensi di sini, bukan hanya dari sisi bisnis, tapi juga bagaimana menjaga warisan Rembang. Pohon penghasil buah kawista di Rembang sekarang mulai sulit ditemukan karena jarang ada pihak yang membudidayakan, sementara buah kawista adalah salah satu identitas daerah ini, dan saya ingin masyarakat tetap bisa menikmatinya,” ungkap Ahmad Soffa kepada 1miliarsantri.net, Senin (22/9/2024). Soffa mengisahkan, ia memulai usaha produksi sirop kawista dengan merk Sonaya pada Agustus 2023 lalu dengan dorongan dari kerabat dekat serta orang tua. Berbekal resep turunan dari orang tuanya yang diproduksi untuk konsumsi pribadi, kini Soffa mampu menjual hingga 4.000 botol sirop kawista dalam setahun, dengan harga Rp19.000 per botol sirop. “Berawal dari produksi dengan porsi kecil 10 botol yang dijual ke kerabat, sampai akhirnya meningkat seiring permintaan kerabat dari pembeli-pembeli sebelumnya. Alhamdulillah, sekarang ada kemajuan, selain karena peran reseller juga, banyak dari orang lokal Rembang membeli dalam jumlah banyak untuk dijadikan oleh-oleh keluarga di luar kota, terutama pada momen Ramadan kemarin,” ujar Soffa. Dia menambahkan, produk siropnya dibuat dengan fokus pada kualitas dan keaslian rasa. Tanpa menggunakan bahan pengawet buatan, Soffa memastikan bahwa setiap botol sirop diproses dengan komposisi yang tepat. Ia berharap produknya dapat dinikmati masyarakat sebagai bentuk pelestarian buah khas Rembang. “Sirop kawista Sonaya diproduksi tanpa bahan pengawet pabrikan, pencampuran komposisi yang pas dengan menggunakan gula tebu premium. Saya berusaha menjaga cita rasa asli kawista setelah melalui beberapa kali eksperimen resep, agar masyarakat bisa menikmati rasa sirop kawista yang autentik,” jelas Soffa. Keberhasilan Soffa tidak terlepas dari peran Rumah BUMN Rembang PT Semen Gresik. Sejak bergabung pada bulan Januari 2024 lalu, Soffa merasakan berbagai manfaat, antara lain ilmu untuk melakukan pembukuan keuangan yang efektif, peningkatan omzet, hingga desain kemasan. Produknya juga masuk dalam program Hampers Berkah UKM Rembang pada Idul Fitri 1445 H lalu. “RB Rembang banyak membantu saya dalam mengembangkan usaha ini, mulai dari pelatihan hingga dukungan pasar melalui display produk di workshop RB Rembang. Sekarang, produk kami lebih dikenal dan permintaan terus meningkat. Saya berharap, dengan dukungan berkelanjutan dari RB Rembang, akan lebih banyak pelaku usaha lokal yang bisa mengembangkan potensi bisnis dan menjaga nilai lokal yang ada.” tambah Soffa. Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni mengatakan, sebagai perusahaan BUMN, SIG berkomitmen untuk terus mendukung kemajuan dan pengembangan UMKM melalui berbagai program pembinaan, untuk menggerakkan perekonomian daerah. Karena sejak dulu, UMKM telah terbukti menjadi salah satu penyokong perekonomian. “UMKM memegang peranan penting dalam perekonomian karena mendukung pemberdayaan masyarakat dalam hal pengentasan pemasalahan sosial seperti pengangguran dengan membuka lapangan pekerjaan. Kami berharap, dengan pendampingan yang berkelanjutan, akan lebih banyak UMKM dapat berkembang, berdaya saing, mandiri dan mampu menembus pasar nasional hingga global, sehingga mampu memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi bangsa dan negara,” tutur Vita Mahreyni. Selama empat tahun, RB Rembang telah membantu lebih dari 400 mitra UMKM dan mencatatkan transaksi senilai Rp3,9 miliar. Melalui pelatihan dan pendampingan, RB Rembang terus menjadi mitra strategis bagi para pengusaha lokal yang ingin mengembangkan usahanya, seperti yang dialami Ahmad Soffa. (lau) Baca juga :

Read More