Kemenag Terus Lakukan Bimbingan Mencegah Pernikahan Dini

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Upaya pencegahan pernikahan dini terus dilakukan Kementerian Agama (Kemenag). Salah satunya menambah jumlah fasilitator Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin (Bimwin Catin) dan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) pada 2023. Menurut Kasubdit Bina Keluarga Sakinah, Agus Suryo Suripto, tahun ini Kemenag telah berhasil mencetak 3.200 fasilitator BIMWIN dan BRUS. “Ini merupakan peningkatan yang signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya, di mana pertahun kita hanya mencetak sekitar 400 fasilitator,” kata Suryo kepada 1miliarsantri.net, Jumat (20/10/2023). Keberhasilan ini merupakan hasil dari perubahan strategi bimbingan teknik (bimtek) fasilitator. Semula, bimtek hanya dilakukan terpusat di Jakarta, menjadi tersebar ke seluruh kantor wilayah. Dengan strategi ini, bimtek fasilitator dapat menjangkau lebih banyak calon fasilitator di seluruh Indonesia. “Bimtek fasilitator yang tersebar ke seluruh kantor wilayah ini merupakan upaya kami untuk meningkatkan kualitas Bimwin Catin dan BRUS di Indonesia,” ungkapnya. Hingga saat ini, Kemenag telah menggelar 64 kali bimtek fasilitator. Bimtek tersebut diikuti calon fasilitator dari berbagai latar belakang, mulai dari penyuluh agama, guru, hingga tokoh masyarakat. Suryo berharap, dengan adanya 3.200 fasilitator ini, Bimwin dan BRUS semakin berkualitas. “Dengan bimbingan yang berkualitas diharapkan dapat mencegah pernikahan dini dan perceraian,” pungkasnya. (yus) Baca juga :

Read More

Kemenag Mendorong Dana Wakaf Bisa Dimanfaatkan Untuk Membangun Fasilitas Kesehatan

Bandung — 1miliarsantri.net : Dana wakaf diharapkan bisa dimanfaatkan untuk membangun fasilitas kesehatan. Harapan ini disampaikan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Kementerian Agama Waryono Abdul Ghafur saat Silaturahim dan Pembinaan Nazhir di Ruang Rapat RS Salman Islam, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. “Selain untuk pengembangan ekonomi dan pendidikan, kita perlu mendorong pemanfaatan dana wakaf untuk penyediaan layanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat,” ungkap Waryono. Waryono mengungkapkan, pihaknya akan membangun roadmap bersama LAZ dan Nazir untuk pembangunan tersebut. Roadmap tersebut akan menjadi proyek mercusuar bagi filantropi Islam. “Saat ini terdapat sekitar 653 BAZNAS-LAZ dan 375 Lembaga Nazir di Indonesia. Jika dianalogikan masing-masing mencari dana dan menginvestasi Rp1 miliar, maka konsep rumah sakit akan terbangun, apalagi kebutuhan dana RS Salman Islam hanya sebanyak Rp210 miliar,” ungkapnya. Sementara itu, Nazir Wakaf RS Salman Islam, Hadi menyampaikan, saat ini di RS Salman baru terbangun masjid dan klinik healthcare untuk tahap awal. Tahap ini banyak melibatkan alumni ITB dalam hal operasional. “Saat ini program pembangunan RS Salman sedang proses tahap pengajuan pendanaan keuangan. Pendanaannya berkolaborasi dengan Awqaf Properties Investment Fund (APIF)-ISDB, sedang diajukan dan proses pengajuan pembiayaan dari APIF IsDB sejumlah $10 juta atau kurang lebih Rp150 miliar karena maksimal 75% dari total RAB,” pungkasnya. (den) Baca juga :

Read More

Nabila Gelar Pameran Lukisan Owah Gingsir dan Dibuka Wakil Rois Syuriah PWNU Jatim

Surabaya — 1miliarsantri.net : Pelukis Nabila Dewi Gayatri menggelar pameran tunggal 39 lukisan drawing karyanya di Surabaya, 18-23 Oktober 2023. Pameran yang akan berlangsung di Gedung DKS dan Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya itu diberi judul ‘Owah Gingsir’. Rencananya pameran dibuka Wakil Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur, Prof. KH Ali Maschan Moesa, Rabu (18/10/2023) pukul 16.00 WIB di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Jalan Gubernur Suryo Surabaya itu. Nabila menamai tema pamerannya ‘Owah Gingsir’ sebagai sebuah perenungan jiwa seni yang bergerak dari garis dan arsir menggambar zaman. Baginya, karya goresan yang dipamerkan ini adalah perenungan yang mendalam tentang situasi dan keadaan diri pribadi maupun lingkungan sekeliling, berupa endapan rasa, atau pun keintiman private tentang perjalanan dunia spiritual. Dari permenungan itulah, lanjutnya, setiap berkarya dalam suasana hening saya, banyak menemu gambaran yang berlintas, tak berbatas dalam imaji. “Situasi ini kemudian saya olah sesuai dengan kebutuhan berkarya yang tidak bisa tergesa-gesa,” tegasnya. Nabila lantas merangkainya satu persatu, mengalir dan beriak bersama nglangut hati yang sahaja, hingga lahirlah karya autokritik tentang keyakinan yang salah arah, ada juga bicara tentang socioculture dengan perubahan yang demikian cepatnya. Untuk merangkum semua itu. Dia memilih judul pameran drawing kali ini ‘Owah Gingsir’ yang kurang lebihnya berarti perubahan. “Saya menyadari betapa dinamika perubahan zaman terjadi silih berganti mewarnai dunia, karenanya dari gambar-gambar, saya ingin memberi tanda, mencatat peristiwa-peristiwa lewat bahasa visual garis dan arsir,” tukasnya. Goresan-goresan Ini, dia susun menjadi semacam kaleidoskop jangka zaman, Setidaknya begitulah peran seniman. Jika ada pujangga yang mencatat dan menulis lewat karya sastra, maka dia menganggap karya gambar bisa digunakan untuk kepentingan menandai zaman, meski dengan bahasa yang berbedam “Akhirnya, torehan hitam putih ini semoga mampu mewakili perasaan saya dan juga khalayak sebagai ‘pepiling’, tentang penggambaran jangka zaman yang selalu ‘owah gingsir’, aamiin,” harapnya. Kurator pameran tunggal Nabila kali ini adalah Dr. Agung Tatto, Msn, sementara penulisnya, Hari Prajitno Msn. Dari 39 lukisan yang akan dipamerkan ada 32 lukisan berukuran A3 (29×42 cm), 4 lukisan berukuran 150×150 serta 3 lukisan drawing berukuran 110×150. (har) Baca juga :

Read More

Perlunya Pembelajaran Gerakan Moderat Sejak Dini

Bogor — 1miliarsantri.net : Gerakan moderat sejak dini tidak hanya bergulir di kalangan siswa menengah saja, namun harus ditanamkan sejak Taman Kanak-Kanak (TK) dan madrasah. Gerakan moderat sejak dini juga bergulir di kalangan pesantren. Hal ini antara lain dilakukan Pesantren Tahfidz Al Kaukab, di Gunung Putri, Bogor. Pesantren ini diasuh oleh KH Khoirul Huda Basyir. Penguatan moderat sejak dini ini dikemas dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Hadir ratusan santri yang juga siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Sebagai narasumber, Pokja Moderasi Beragama Lukman Hakim Saifuddin mengenalkan kepada para santri tentang ajaran pokok (ushul) dan cabang (furu’) dalam agama. Perspektif tentang ushul dan furu’ penting, kata pria yang akrab disapa LHS ini, agar para santri bisa memahami dan menyikapi keragaman pemahaman dan pandangan secara baik dan moderat, tidak ekstrem atau berlebihan. LHS lalu menjelaskan sejumlah nilai pokok ajaran agama. Pertama, memanusiakan manusia. “Islam hadir agar harkat martabat manusia terjaga. Manusia punya tugas penting sebagai pengelola alam semesta,” tegas LHS di Bogor, Sabtu (14/10/2023) Nilai kedua, menegakkan keadilan danpersamaan di depan hukum. Menurut LHS, orang yang benar harus diapresiasi, sementara yang salah dihukum. “Tidak ada orang setuju praktik pembedaan perlakuan kepada seseorang berdasarkan perbedaan latar belakang (suku, agama, status sosial, dan lainnya). Ini tidak dikenal dalam agama,” sebut LHS. Nilai pokok agama yang lain adalah membangun kemaslahatan bersama. Karenanya, perilaku merusak harus dihindari. Sebab, inti Islam adalah membangun kemaslahatan bersama. “Kemaslahatan adalah kebaikan yang mengandung manfaat yang bisa dirasakan banyak orang. Banyak nilai pokok agama lainnya, antara lain mewujudkan perdamaian, melestarikan lingkungan, jangan menipu, jangan berbohong, jangan membunuh, dan lainnya,” lanjut LHS. Selain ajaran pokok, dalam agama juga ada nilai cabang (furu’). Pada tataran cabang, ditemukan banyak keragaman pandangan, tidak hanya antar agama bahkan dalam satu agama. Dalam Islam misalnya, ada ajaran tentang membaca qunut, memelihara jenggot, menentukan awal bulan dengan hisab atau rukyat, bilangan taraweh, ini semua bagian dari nilai cabang dalam Islam. Sehingga wajar, jika ada keragaman pandangan. “Jadi Islam satu, tapi cara orang memahami ajaran Islam bisa beragam. Itulah kenapa faham, madzhab bisa beragam. Sehingga amaliyah ubudiyahnya juga beragam. Perbedaan di level cabang itu sesuatu yang biasa saja, keniscayaan, tidak terhindarkan,” sambungnya. LHS lalu memberi penekanan tentang orang yang masuk kategori memiliki pemahaman yang melampaui batas. Misalnya, atas nama agama, di rumah ibadah justru mencaci maki dan menghujat orang lain. Hal itu menurut LHS adalah tindakan berlebihan. “Kita boleh tidak setuju atau mengoreksi kekeliruan sesama, tapi tidak boleh mencaci maki atau menghujat. Sebab itu merendahkan harkat manusia, tidak sejalan dengan inti pokok agama yang memuliakan harkat manusia,” pesan LHS. Contoh lainnya, kata LHS, perilaku orang yang atas nama agama justru melalukan perusakan. Misal, tindakan membakar rumah ibadah karena beda mazhab. Contoh lainnya adalah perilaku bully. “Kita boleh beragam dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang sifatnya cabang. Kita saling menghargai perbedaan di wilayah ini. Tapi terhadap ajaran yang inti, tidak boleh diingkari atas alasan apapun juga. Atas nama agama sekalipun. Jika ada orang yang melakukan sesuatu yang mengingkari keadilan, persamaan di depan hukum, itu berlebihan. Ini perlu dimoderasi,” pungkasnya. (yan) Baca juga :

Read More

Ketua MUI Beri Pembekalan Pengembangan Pesantren

Bekasi — 1miliarsantri.net : Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustaz Jeje Zaenudin menyampaikan tiga pilar yang menjadi fokus pengembangan pesantren. Pertama, pendidikan; kedua dakwah; dan ketiga, pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pernyataan ini disampaikan Ustaz Jeje di hadapan para asatidz pengasuh Pesantren An-Nahla Al-Islamiy di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (11/10/2023) lalu. “Dalam konteks pendidikan, kami terus mendukung para guru dan asatidz untuk terus meng-upgrade keilmuannya. Termasuk bagaimana menyelenggarakan program khas pesantren yang berbeda dengan madrasah pemerintah,” terang Ustaz Jeje. Hal ini untuk melestarikan tradisi pesantren yang fokus pada kitab-kitab turats dan ilmu-ilmu syariah secara mendalam. Sehingga diharapkan kualitas alumni pesantren jauh berbeda dengan lulusan madrasah umum. Sementara pada bidang dakwah dan sosial, Ustaz Jeje mendorong para guru dan asatidz untuk aktif menyelenggarakan pelatihan singkat untuk masyarakat sekitar. Di antaranya program pelatihan imam dan khatib, pemulasaran jenazah, tahsin Al-Qur’an, pengolahan air minum, dan pembuatan makanan siap saji. “Saya berharap masyarakat sekitar dapat merasakan kemanfaatan yang luas dari pesantren dengan program-program pemberdayaan. Jika masyarakat merasakan manfaat positif, tentu akan menambah trust mereka kepada pesantren,” tuturnya. Ustaz Jeje juga mengungkapkan bahwa kemajuan dan kemunduran suatu institusi pendidikan bukan hanya terletak pada aspek legal formal, tetapi aspek pengelolaan. Jika para guru dan asatidz fokus dalam mengelola pesantren, kata Ustaz Jeje, maka harapan terwujudnya generasi tafaqquh fid din akan terwujud. “Ibarat pepatah, jangan sampai semut di seberang lautan terlihat, tapi gajah di depan mata tidak terlihat. Maka bagaimana aset yang sudah ada ini dimaksimalkan untuk melahirkan kader-kader ulil albab dan muslim kaffah,” jelasnya. Profil Pesantren An-Nahla Al-IslamyMa’had An-Nahla Al-Islamy adalah lembaga pendidikan Islam yang berada di bawah naungan yayasan An-nahla Al-Islamy dan berlokasi di Kampung Karang sambung RT 001 RW 009 Desa Karang Satria Kecamatan Tambun utara kabupaten Bekasi. Ma’had An-Nahla Al-Islamy membuka beberapa program pendidikan antara lain ; TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), SMPIT (SMP Islam Terpadu) dan SMA Islam Plus. TPA beroperasi pada tahun 2014, SMPIT beroperasi pada tahun ajaran 2016-2017 serta SMA Islam Plus beroperasi pada tahun ajaran 2019-2020. (fat) Baca juga :

Read More

Panji Gumilang : Tuhan Bosen Dengarkan Qunutmu

Gresik — 1miliarsantri.net : Sosok Pengasuh Pesantren Al Zaytun Indramayu Jawa Barat, Syekh Panji Gumilang yang saat ini tengah mendekam di penjara atas kasus penistaan agama, ternyata memang sudah terkenal nyeleneh sejak belajar agama di di Pondok Pesantren Moden Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahmah Jakarta, KH Syukron Makmun, menuturkan bagaimana sosok Panji Gumilang selama sama-sama nyantri di Pesantren tersebut. Bahkan, Kiai Syukron pernah menampar sook bernama lengkap Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang. Kisah ini diceritakan Kiai Syukron kepada pengusaha Muslim, Muhammad Lutfi saat silaturahim ke Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci, Manyar, Gresik, Jumat (13/10/2023) pagi. Kedatangan Kiai Syukron dan Lutfi diterima langsung oleh Pengasuh Pesantren Mambaus Sholihin, KH Masbuhin Faqih. Sebagai informasi, kedatangan Lutfi ke Pesantren Mambaus Sholihin merupakan rangkaian safarinya ke sejumlah pesantren di Jawa Timur. Lutfi bersama rombongannya tiba di pesantren ini sekitar pukul 06.24 WIB. Pada saat yang sama, Kiai Syukron pun datang ke pesantren ini untuk menemui Kiai Masbuhin. Dalam pertemuan itu, Kiai Syukron menceritakan bahwa ketika di Gontor Panji Gumilang masih lebih dikenal dengan nama Abdussalam. Suatu waktu, Kiai Syukron agak terlambat untuk mengimami sholat Subuh, sehingga digantikan Panji Gumilang. “Biasanya kan saya. Karena agak terlambat, Abdussalam jadi imam Subuh, tapi tidak baca qunut, begitu selesai langsung saya tarik lehernya, saya tempeleng,” ucap Kiai Syukron saat berbincang dengan Lutfi dan Kiai Masbuhin di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin. Setelah itu, Gontor pun menjadi ribut dan Kiai Syukron dilaporkan kepada Pendiri Pondok Pesantren Gontor, almarhum KH Imam Zarkasyi. “Saya dilaporkan kepada Kiai Zarkasyi kalau Pak Syukron itu menempeleng karena tidak membaca qunut, dianggap salah saya,” kenang Kiai Syukron. Setelah dipanggil, Kiai Syukron pum menjelaskan kepada Kiai Zarkasyi bahwa dirinya menampar Panji Gumilang bukan karena tidak baca qunut. Tapi, karena saat berdebat tentang qunut, Panji Gumilang menggunakan kata-kata yang tak pantas. “Terus saya bilang bukan karena qunutnya saya tempeleng kiai, tapi dia pernah bedebat di kelas, termasuk dengan Kiai Masbuhin ini. Berdebat-debat qunut, kemudian ada kata-kata kurang ajar dia, ‘Tuhanmu bosan mendengarkan qunutmu tiap pagi’. Jadi dari Gontor sudah nyeleneh dia. Cuma untungnya di Jakarta itu orang gak tahu kalau saya itu gurunya,” jelas kiai asal Pulau Madura ini. Dia menambahkan, setelah keluar dari Gontor Panji Gumilang kemudian sering bergonta-ganti nama, baik saat tinggal di Pandeglang maupun saat berada di Indramayu. “Jadi dulu itu dia di Gontor murid saya, namanya berubah-ubah. Ketika di Banten namanya Koko. Pindah ke Indramayu berubah menjadi Panji Gumilang. Aslinya anak Gresik. Orang sini dia, namanya Abdussalam. Kawan dengan Kiai Masbuhin ini, sekelas,” pungkas Kiai Syukron. (nas) Baca juga :

Read More

BMH Programkan Pembangunan 1000 Masjid, Komunitas Vanilla Hijab Siap Dukung

Depok — 1miliarsantri.net : Bunda Aisah dan Keluarga Besar Vanilla Hijab menyalurkan bantuan pembangunan Masjid Ummul Qura, Pesantren Hidayatullah, Depok, Jawa Barat (13/10) sore. “Alhamdulillah, karunia Allah, akhirnya Bunda dan Vanilla Hijab bisa memberikan bantuan pembangunan masjid ini. Sekarang bisa bantu Rp. 100 juta. Semoga tepat Ramadhan sudah bisa digunakan untuk ibadah para santri dan jama’ah, untuk tahajjud dan tadarus Alquran,” ucap Bunda Aisah yang disambut seruan “aamiin” dari santri dan para Ustadz yang hadir di area pembangunan masjid itu. Direktur Marketing BMH Pusat, Tri Winarno menuturkan bahwa dukungan Bunda Aisah dan Vanilla Hijab terhadap kebaikan umat melalui BMH terus mengalir. “Bukan sekali dua kali, Bunda Aisah dan Vanilla Hijab terdepan dalam kebaikan umat bersama BMH. Bahkan di beberapa tempat Bunda Aisah dan Vanilla Hijab datang sendiri ke titik pedalaman yang di sana ada program pesantren dan keumatan lainnya dari BMH, seperti NTT dan Bengkulu,” tutupnya. (bun) Baca juga :

Read More

Begini Cara Memperlakukan Orang Tua Menurut Islam

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Dalam laporan American Psychological Association, setiap tahun diperkirakan 2,1 juta lansia Amerika menjadi korban kekerasan fisik, psikologis, atau bentuk-bentuk pelecehan dan penelantaran lain. Statistik tersebut mungkin tidak menceritakan keseluruhan cerita. Untuk setiap kasus pelecehan dan penelantaran lansia yang dilaporkan kepada pihak berwenang, para ahli memperkirakan sebanyak lima kasus yang belum dilaporkan. Bahkan, di negara-negara yang dikenal dengan struktur keluarga yang relatif lebih kuat, para lansia semakin tidak diperhatikan. Menurut Help Age India, sebagian besar lansia diperlakukan dengan buruk oleh anak-anak mereka sendiri, yang telah muncul sebagai kelompok pelaku terbesar, yaitu 47,3 persen dari semua kasus penganiayaan. Meskipun Islam menekankan penghormatan kepada semua orang yang lebih tua dalam masyarakat, anak-anak memiliki tanggung jawab khusus terhadap orang tua mereka. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS Al-Isra: 23-24) Dalam ayat-ayat ini, kebaikan terhadap orang tua disebutkan bersama dengan kepercayaan kepada Allah Swt.. Kedua ayat ini mencerminkan kasih sayang, rasa hormat, dan rasa tanggung jawab yang diwajibkan oleh Islam kepada orang-orang yang beriman terhadap orang tua mereka. Pernah suatu ketika seorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah! Siapakah di antara manusia yang paling layak untuk menjadi teman baikku?” Nabi berkata, “Ibumu.” Pria itu berkata, “Lalu siapa?” Nabi berkata, “Kemudian ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Nabi berkata, “Kemudian ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Nabi berkata, “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi menyatakan, orang tua memiliki hak untuk ditaati oleh anak-anak mereka. Dalam salah satu riwayatnya, Nabi menyatakan, dosa-dosa besar adalah meyakini bahwa Allah memiliki sekutu, tidak menaati orang tua, melakukan pembunuhan, dan memberikan kesaksian palsu (Al-Bukhari dan Muslim). Islam mewajibkan anak-anak untuk bertanggung jawab atas nafkah orang tua mereka ketika mereka sudah mandiri. Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan perhatian internasional terhadap nasib para lansia. Banyak konferensi dan simposium yang menekankan, seringkali para lansia tidak mendapatkan penghormatan dan martabat yang dibutuhkan oleh setiap manusia, meskipun mereka diberikan perawatan dasar. Belas kasih dan rasa hormat terhadap para lansia merupakan elemen penting dalam perilaku Islam. Rasulullah SAW menyatakan dengan jelas, “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menunjukkan kasih sayang kepada yang muda dan tidak menghormati yang lebih tua. (HR. At-Tirmidzi). Jauh dari pelecehan dan pengabaian yang kita lihat di masyarakat saat ini, para lansia memiliki status yang dilindungi dan bermartabat dalam Islam. Secara tradisional, umat Islam telah memberikan status yang tinggi kepada orang tua mereka, dan penurunan dalam praktik ini yang kita lihat di beberapa negara Muslim sejalan dengan penurunan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip Islam secara keseluruhan. Dalam siklus kehidupan, masa muda dan masa tua hanyalah masalah waktu, karena seseorang yang masih muda pasti akan menjadi tua suatu hari nanti. Islam mengingatkan kaum muda akan kebenaran dasar dari kondisi manusia ini, melalui sebuah riwayat dari Nabi bersabda: “Jika seorang pemuda menghormati orang tua karena usianya, maka Allah akan menunjuk seseorang untuk menghormatinya di masa tuanya.” (HR. At-Tirmidzi). (yus) Baca juga :

Read More

Mengenal Pergerakan Intifadah

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Penyebab langsung munculnya gerakan Intifadah adalah serangan yang dilakukan Israel terhadap para warga Palestina pada 8 Desember 1987.Intifadah merupakan sebuah istilah yang mengingatkan kita akan perjuangan kemerdekaan Palestina. Dalam histori, Infifadah merujuk pada gerakan perlawanan rakyat Palestina, terutama di Jalur Gaza, untuk melepaskan diri dari penindasan Zionis. Mereka pun menyuarakan tuntutan akan hak-hak mereka yang hilang selama ini. Menurut Ensiklopedi Islam, penyebab langsung munculnya gerakan Intifadah adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada 8 Desember 1987. Ketika itu, para buruh Palestina baru saja kembali dari tempat kerjanya. Tiba-tiba, muncul sebuah truk yang berisikan tentara Israel, melaju ke arah jalan raya dan menghantam mobil yang dikendarai orang-orang Palestina tersebut. Dalam peristiwa ini, tentara Israel melukai sembilan orang dan menewaskan empat orang Palestina. Tiga dari empat buruh Palestina yang terluka kemudian meninggal di rumah sakit. Pemakaman orang-orang Palestina yang gugur itu diiringi sekitar 100 ribu warga. Awal gerakan Intifadah terjadi usai upacara pemakaman tersebut. Kaum Muslimin yang terdiri atas berbagai lapisan menyerang para serdadu Israel dengan batu dan bom bensin (molotov). Ensiklopedia Islam merangkum, sistem perjuangan Intifadah terbagi ke dalam beberapa kelompok. Pertama, Al-Majmu‘ah al-Muraqibah, yakni kelompok pengintai yang umumnya diisi kaum remaja. Tugasnya menyelidiki kedatangan tentara Israel. Kedua, Al-Majmu‘ah al-Mutadarrijah, yakni kelompok pengumpan, yang bertugas memancing tentara Israel agar memasuki perkampungan orang Palestina. Ketiga, Al-Majmu‘ah ar-Ramiyah, yaitu kelompok pelempar, bertugas melempar tentara Israel setelah memasuki perkampungan Palestina. Dalam aksinya, mereka menggunakan miqlah, yakni alat pelempar berisi batu, telur busuk, dan bom molotov. Keempat, Al-Majmu‘ah al-Musyagilah dan Al-Majmu‘ah al-Ish’ab; masing-masing bertugas memicu kerusuhan agar mengalihkan fokus serdadu Israel dan menyelamatkan para pejuang Palestina yang terluka. Dua kelompok yang disebut terakhir itu baru beraksi bila terjadi penangkapan terhadap warga Palestina. Masjid al-Aqsa sering kali digunakan sebagai tempat musyawarah kaum Muslimin. Di sana, mereka menyusun strategi perlawanan menghadapi tentara pendudukan Israel. Intifadah itu mulai mereda kala memasuki tahun 1990. Dua negara adidaya, Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet, mendesak Israel dan Palestina berunding. Spanyol menjadi tuan rumah Konferensi Madrid yang digelar pada 1991. Akan tetapi, Israel tidak menghormati Palestina. PM Israel saat itu, Yitzhak Shamir, berasal dari Partai Likud yang radikal menolak eksistensi Negara Palestina. Jatuh bangun perundingan Menjelang perundingan itu, dia menolak perwakilan PLO atau unsur-unsur Palestina di luar Gaza dan Tepi Barat. Akhirnya, delegasi Palestina di Madrid mengikuti desakan itu, meski pada praktiknya tetap mengadakan komunikasi yang rutin dengan PLO di Tunisia. Hasil dari Madrid tidak begitu meyakinkan tetapi setidaknya membuka jalan bagi pengakuan timbal balik (mutual recognition) pertama antara Palestina dan Israel. Seiring dengan melemahnya Partai Likud di pemerintahan Zionis, pada awal 1993 PLO mengadakan komunikasi rahasia dengan Israel untuk menjajaki pertemuan. Yasser Arafat mulai berkirim surat kepada Yitzhak Rabin, perdana menteri dari Partai Buruh. Isinya memuat komitmen untuk tidak mengutamakan kekerasan serta mengakui hak-hak Israel akan kedamaian dan keamanan. Pada 13 September 1993, Arafat dan Rabin meratifikasi perjanjian di Washington DC, AS. Keduanya berjabat tangan, sementara Presiden AS Bill Clinton berdiri merangkul mereka. Momentum historis itu menandakan dimulainya Perundingan Oslo I yang bertempat di Norwegia. Barulah dua tahun kemudian, hasil konferensi ini tercapai. Untuk Palestina, Oslo I membuatnya diakui sebagai otoritas yang berwenang penuh mengatur Gaza dan Tepi Barat. Namun, Hamas sebagai faksi dominan di Gaza menolak keputusan Perjanjian Oslo I. Di pihak Israel, gejolak muncul dari kelompok Yahudi radikal. Puncaknya, Rabin dibunuh pemuda Yigal Amir di tengah pawai perdamaian di Tel Aviv. Pada 1996, ketua Partai Likud Benjamin Netanyahu menang tipis di pemilihan umum sehingga menjadi perdana menteri (PM) Israel. Sejak awal, dia menolak perundingan Oslo I. Visinya tidak lain terus dan terus membangun permukiman Yahudi, termasuk di Tepi Barat yang de facto teritori Palestina. Netanyahu juga terus mendesak Yasser Arafat agar meredam faksi Hamas yang berpusat di Gaza. Menurut Martin Bunton dalam The Palestinian-Israel Conflict: A Very Short Introduction, desakan itu menimbulkan kesan buruk dari rakyat Palestina, seakan-akan Arafat adalah petugasnya Israel. Pada Juli 1999, pemimpin Partai Buruh Ehud Barak memenangi pemilu sehingga menggantikan Netanyahu sebagai PM Israel. Setahun kemudian, dia dan Arafat memenuhi undangan Presiden Clinton untuk menjajaki perundingan damai Camp David II. (Sebelumnya, Camp David I merupakan kesepakatan damai antara Mesir dan Israel pada 1978.) Hingga Juli 2000, Camp David II menemui jalan buntu. Pada 28 September tahun yang sama, tokoh Partai Likud Ariel Sharon dengan dikawal ratusan aparat polisi Israel berupaya memasuki kompleks Masjid al-Aqsha. Kunjungan ini memprovokasi puncak kemarahan penduduk Palestina. Sehari kemudian, aksi protes terjadi. Aparat Zionis menanggapinya secara membabi-buta. Sebanyak 18 warga Palestina gugur. Tidak menunggu waktu lama, riak itu membesar menjadi Intifada Kedua. Hingga tahun 2003, tidak kurang dari 2.400 orang Palestina meninggal dunia, sedangkan 800 tentara Israel tewas dalam peristiwa tersebut. Di sisi Palestina, insiden itu memperbesar rivalitas antara Fatah dan Hamas. Sementara itu, bagi Israel, ada dinamika politik di mana Partai Buruh lagi-lagi dikalahkan Partai Likud. Per Maret 2001 pemimpin Likud, Ariel Sharon, naik sebagai PM Israel. Pensiunan militer Zionis itu membangkitkan lagi mimpi Israel Raya yang mencakup penjajahan atas daerah-daerah antara Sungai Nil di Mesir dan Sungai Efrat di Irak. Karenanya, Sharon terus memborbardir wilayah Palestina, termasuk menyasar penduduk sipil tak bersenjata. Sejak tragedi Menara Kembar WTC 9/11, dia merasa didukung penuh negara-negara Barat, utamanya AS, yang menggelorakan propaganda Perang Melawan Teror. Sejak Juni 2002, tokoh fundamentalis Yahudi ini membangun tembok pemisah di perbatasan Tepi Barat. Dengan panjang mencapai 708 km dan tinggi rata-rata delapan meter, dinding ini praktis mengisolasi akses 25 ribu warga Palestina. Sampai saat ini, bangunan tersebut menyimbolkan Israel sebagai rezim rasis dan apartheid di tengah komunitas internasional. Sementara itu, Yasser Arafat meninggal dunia saat dirawat di sebuah rumah sakit di Paris, Prancis, pada 11 November 2004. Hingga kini, kematiannya dicurigai sebagai hasil operasi intelejen Israel yang telah berkali-kali menjadikannya target buruan. Pada Januari 2005, Mahmoud Abbas terpilih menjadi presiden Palestina. Setahun kemudian, dunia dikejutkan kemenangan Hamas atas Fatah dalam pemilu legislatif Palestina. Akan tetapi, Fatah menolak bergabung dengan pemerintahan yang hendak dibentuk Hamas. (mif) Baca juga :

Read More

Pemerintah Terus Pacu Kemandirian Pesantren, Agar Dapat Dirasakan Manfaat nya Oleh Masyarakat

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pemerintah terus mendorong implementasi kemandirian pesantren. Untuk mewujudkan hal tersebut, Kementerian Agama (Kemenag) memberikan stimulan atau rangsangan untuk mendorong ekonomi pesantren. Hal itu ditegaskan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas. Dia menyebut program kemandirian pesantren menjadi amanah Presiden Joko Widodo. “Beberapa hari lalu saya bertemu Presiden Joko Widodo, mengamanahkan untuk lebih memperhatikan ekonomi pesantren,” ujar Menag Yaqut saat “Sarasehan Kyai Muda Pesantren” di Pondok Pesantren Krapyak, Bantul, Yogyakarta. Yaqut juga berharap, program kemandirian pesantren dapat dirasakan seluruh warga pesantren hingga masyarakat luas. “Saya ingin masyarakat merasakan manfaat yang lebih dari program pemerintah, terlebih pondok pesantren dan banyak pihak,” lanjut Menag. Yaqut menilai dengan ekonomi pesantren yang kuat, maka dakwah akan lebih mudah tersampaikan di tengah masyarakat. Kementerian Agama bisa memberikan stimulan/rangsangan untuk mengembangkan sekaligus mendorong ekonomi pesantren. “Di sinilah titik penting program ekonomi pesantren. Ekonomi pesantren harus dikembangkan mulai dari pelatihan hingga pemasaran hasil produk untuk memakmurkan lingkungan pesantren. Maka dari itu, harus ada kegiatan produktif di lingkungan pesantren,” pungkas Yaqut. (mif) Baca juga :

Read More